
Mereka akhirnya sampai juga di bandara, di parkiran ternyata sudah ada pak Rohman supir perusahaan yang sebelumnya menjemput mereka. Pak Rohman memang menunggu kedatangan mereka di bandara untuk mengambil mobil perusahaan.
Setelah Alex menyerahkan mobil tersebut, mereka pun segera melakukan check-in. Pesawat mereka akhirnya mendarat, setelah mendengar pemberitahuan mereka segera melakukan boarding pass dan kembali menunggu sampai pintu terbuka untuk menunju landasan.
Stevani terus menatap ruang tunggu penumpang. Ia baru kali ini berada di tempat seperti itu, jantungnya berdebar kencang saat melihat pesawat secara langsung seperti itu. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
Zionel memperhatikan wajah Stevani yang memucat, tanpa ragu ia menggenggam tangan wanita itu.
"Jangan takut, kau akan duduk di sampingku di dalam pesawat. Anggap saja seperti sedang naik mobil." ujar Zionel.
Stevani langsung menganggukkan kepalanya. Ia ingin menarik tangannya namun ia membutuhkan kehangatan dan ketenangan dari tangan pria itu. Zionel semakin menggenggam tangannya dengan erat untuk menenangkan wanita itu sampai akhirnya pintu itu pun terbuka.
Para penumpang beranjak dari tempat duduk mereka untuk menuju landasan. Zionel bangun seraya menarik tangan Stevani. Pria itu terus menggandeng tangan Stevani hingga menuju pesawat membuat Alex terus tersenyum.
Tentu saja Zionel dan Stevani menuju kelas bisnis, sedangkan Alex lebih nyaman duduk di kelas ekonomi. Stevani benar benar kebingungan, namun sikap Zionel sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu. Pria itu tiba tiba sangat melindungi, perhatian dan baik pada Stevani.
Zionel membantu Stevani memakai sabuk pengaman. "Apa kau lapar?"
Stevani menggelengkan kepalanya.
Zionel membuka tas kecil miliknya lalu mengambil sebuah headset, pria itu memasangkan headset di ponselnya dan memutar lagu klasik yang bisa membuat pikiran tenang. Tanpa di duga, Zionel justru memasangkan headset tersebut ke telinga Stevani.
Stevani terkejut saat Zionel menyentuh telinganya. Keduanya begitu dekat, keduanya saling bertatapan.
Deg... Deg... Deg... Deg... Deg... Deg...
Entah suara jantung siapa yang berdebar kencang saat ini. Seketika Zionel berdeham lalu menarik diri.
"Tidurlah, perjalanan kita lumayan lama. Jika kau lapar katakan saja, pramugari akan melayanimu." ujar Zionel.
Stevani menganggukkan kepalanya lagi, ia tak menyangka akan diperlukan sangat baik oleh pria itu. Padahal sebelumnya, mereka terus saja saling berdebat. Stevani memejamkan matanya, sedangkan Zionel mulai sibuk dengan laptopnya.
*****
Sudah dua jam mereka terbang dengan pesawat itu, perjalanan masih sekitar 4 jam lagi. Zionel menatap Stevani yang masih tertidur, namun ia melihat peluh yang berlebihan membasahi wajah wanita itu.
"Disini sangat dingin, mengapa wanita ini berkeringat?" pikir Zionel.
Zionel memberanikan diri menyentuh kening wanita itu dan terkejut saat merasakan suhu tubuh Stevani yang panas tinggi.
"Ya Tuhan... kau demam rupanya. Seharusnya kau tetap di rumah sakit saat ini. Aku malah membawamu melakukan perjalanan jauh." ujar Zionel.
Zionel mengambil sapu tangannya lalu mulai mengelap keringat di wajah Stevani, ia dengan panik memanggil pramugari dan meminta pertolongan untuk membantu mencari dokter di dalam pesawat. Beruntung sekali, di dalam pesawat benar benar ada dokter yang melakukan perjalanan.
Alex ikut masuk ke kelas bisnis untuk melihat keadaan Stevani. Ternyata dokter sedang memeriksa keadaan wanita itu namun wajah Zionel benar benar terlihat panik sama halnya saat pria itu kehilangan adiknya.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Zionel.
"Anda tak perlu khawatir pak, ia hanya kelelahan dan sepertinya terlalu tegang dalam melakukan perjalanan ini. Demamnya memang tinggi, untuk sementara aku akan memberikan suntikan pereda demam, semoga saja demamnya akan segera turun. Namun jika ini terus berlanjut, maka sebaiknya anda membawa nona ini ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan." jawab dokter tersebut.
"Syukurlah... terima kasih dok, tolong lakukan yang terbaik."
Zionel menatap kursi penumpang yang masih kosong disana. Ia segera berbicara pada pramugari untuk memindahkan tempat duduk dokter itu di dekat mereka. Ia ingin selama perjalanan, Stevani terus diperiksa keadaannya dengan dokter. Setelah pramugari menyetujuinya, ia pun berbicara dengan dokter tersebut dan akhirnya dokter itu pun setuju.
"Lex... kau juga pindah kesini. Aku takut membutuhkan sesuatu." ujar Zionel.
Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengangguk. Zionel membeli dua kursi penumpang disana untuk mereka. Ia kini semakin tenang karena di kelilingi oleh orang orang yang bisa dipercaya.
Sepanjang perjalanan, Zionel terus merawat Stevani dengan baik. Pria itu semakin mengkhawatirkan keadaan wanita itu walaupun demamnya semakin turun. Ia bahkan dengan cerewet berkali-kali meminta dokter untuk memeriksanya.
Satu jam kemudian...
Stevani mengerjapkan matanya, wanita itu akhirnya terbangun.
"Dokter..." panggil Zionel cepat cepat saat melihat Stevani terbangun.
Dokter itu kembali menghampiri mereka lalu segera memeriksa keadaan Stevani membuat wanita itu kebingungan.
"Syukurlah... Keadaannya membaik pak." ujar dokter.
Zionel menghela nafas panjang. "Syukurlah... terima kasih dok." sahutnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Stevani.
"Kau demam tinggi beberapa jam yang lalu, bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku hanya pusing sedikit, sepertinya hanya mabuk perjalanan."
Zionel kembali menyentuh keningnya dengan punggung tangannya untuk memastikan keadaan wanita itu sendiri, namun seketika Stevani menepiskan tangan Zionel.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menyentuhku?" tanya Stevani.
Zionel menggertakkan giginya, bukan saatnya ia berdebat atau bertengkar dengan wanita yang sedang sakit. Pria itu menarik diri lalu duduk kembali dengan benar di kursinya.
"Apa semalam kau tidur dengan nyenyak?" tanya Zionel.
Stevani terdiam, ia memang tak bisa tidur semalaman. Ia terus memikirkan semua yang terjadi antara dirinya dengan Zionel. Saat baru saja ia tertidur justru Angga datang membuat keributan. Walaupun ia sempat tidur sambil menunggu kedatangan Lukas, namun itu belum cukup ia beristirahat.
"Sudah kuduga. Jika tubuhmu itu lemah, seharusnya kau banyak beristirahat." imbuh Zionel.
"Aku tidak lemah, hanya saja..."
__ADS_1
"Kau lah yang membuatku tidak bisa tidur, walaupun aku tak mengingat apa yang kita lakukan malam itu hingga aku kehilangan kesucianku, tapi aku tetap memikirkannya sepanjang malam. Kau bukannya minta maaf malah menyalahkanku. Aku berusaha mengingat semuanya, tapi selalu saja samar samar." pikir Stevani.
"Perjalanan kita masih sekitar dua jam setengah lagi. Beristirahatlah lebih banyak jika tidak ingin aku membawamu ke rumah sakit lagi." ujar Zionel.
Stevani menatap ruangan itu, ia terkejut saat melihat Alex disana sambil menyunggingkan senyumnya. Ia menatap Zionel penuh tanya, namun pria itu justru mulai sibuk dengan laptopnya.
Kruuukkkk...
Suara perut Stevani terdengar keluar, sontak wanita itu memegang perutnya dan wajahnya memerah karena malu. Zionel menatapnya lalu tersenyum. Pria itu segera memanggil pramugari untuk menyiapkan makanan untuk Stevani.
"Katakan saja jika lapar." ejek Zionel.
"Aku tidak..."
Kruuukkkk...
Seketika Zionel terkekeh mendengarnya. "Wanita keras kepala."
"Ya Tuhan... memalukan sekali..." pikir Stevani.
Pramugari membawakan makanannya dan menyerahkannya pada Stevani.
"Terima kasih." ujar Stevani.
"Semoga lekas sembuh nona, kekasih anda sangat mengkhawatirkan anda." jawab pramugari itu.
"Ke... kekasih?"
Pramugari itu hanya tersenyum lalu meninggalkannya.
"Makanlah pelan pelan nanti kau tersedak, setiap satu suap yang kau masukkan ke dalam perutmu, proses dengan pelan agar nyaman dan tidak membuatmu mabuk." kata Zionel tanpa menatapnya.
Stevani tak mengomentari perkataan pria itu, ia sudah cukup malu dengan ulah perutnya sendiri. Untuk pertama kalinya ia membiarkan seorang pria mendengarkan suara perutnya yang kelaparan.
*****
..."SELAMAT HARI IBU, 22 DESEMBER 2021"...
...BUAT SEMUA IBU HEBAT DI DUNIA INI, KHUSUSNYA BUAT MAMI AKU YANG SELALU MENDUKUNG AKU DALAM MELAKUKAN HAL APAPUN YANG POSITIF...
...JASA SEORANG IBU TIDAK AKAN PERNAH BISA KITA BALAS SAMPAI KAPANPUN, MAKA JANGANLAH PERNAH MEMBUAT SEORANG IBU MENETESKAN AIR MATANYA...
...SETETES AIR MATA YANG IA KELUARKAN KARENA KITA, MAKA AKAN MENJADI SEGUNUNG DOSA YANG KITA DAPATKAN...
...LOVE YOU MOM...😘😘😘...
__ADS_1
Happy Reading All...