Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Aku Tak Bisa Menahannya


__ADS_3

Kepulangan Zionel dan Stevani membuat Falera Cruise sangat bahagia. Wanita itu seketika memeluk Stevani saat mereka baru turun dari mobilnya. Stevani terkejut mendapat perlakuan seperti itu, mertuanya berubah seketika setelah ia menikah dengan putranya.


"Apa yang terjadi? Mengapa kalian memutuskan untuk pulang kesini?" tanya Falera.


"Mom... biarkan mereka masuk dulu." sahut Nicholas.


"Ya Tuhan... aku sampai lupa." ujar Falera seraya membimbing Stevani untuk masuk.


Mereka semua masuk ke dalam rumah menuju ruangan keluarga. Dua orang pelayan mengambil koper mereka dan membawanya ke kamar Zionel yang lama. Setelah mereka duduk disana, Falera mulai menghardik mereka lagi.


"Varisa datang ke hotel." jawab Zionel setelah mendengar pertanyaan ibunya.


"Varisa?" tanya Falera dan Nicholas bersamaan dengan terkejut.


"Apa yang wanita itu lakukan? Bukankah nyonya Yudistira sudah setuju untuk membawa putrinya ke luar negeri?" imbuh Falera.


"Ia beralasan ingin berpamitan. Yang menjadi pertanyaanku, bagaimana wanita itu bisa tahu keberadaan kami?" tanya Zionel.


"Kau benar, hanya keluarga besar Cruise yang tahu. Apa mungkin..."


ucapan Nicholas terhenti saat melihat keberadaan Stevani. Pria itu menatap Falera dan Zionel bergantian.


"Ia sekarang istriku dad. Apapun masalah keluarga ini, ia berhak tahu." ujar Zionel.


"Jika kalian tidak nyaman berbicara karena ada aku, lebih baik aku ke kamar saja." sahut Stevani.


Zionel menggelengkan kepalanya. Pria itu ingin istrinya tetap berada di sampingnya.


"Apa kalian berpikiran sama denganku? Aku rasa ini perbuatan tante Nile." kata Zionel.


Falera dan Nicholas saling bertatapan lalu mengangguk.


"Bukan hanya itu saja Zio, sebenarnya beberapa hari ini kami sedang memikirkan masalah Haena. Setelah kami pikirkan ulang, mungkin saja hilangnya Haena ada hubungannya dengan keluarga kita." jawab Nicholas.


"Kalian mencurigai orang yang sama?" tanya Zionel.


"Ini hanya dugaan kami saja Zio, kami berharap tidak benar." jawab Falera.


"Mengapa aku tidak berpikir seperti itu sejak awal. Selama ini aku hanya fokus dengan pencarian Haena, tapi aku sama sekali tak memikirkan penyebab hilangnya Hae. Mom, dad... apakah ini karena masalah saham?"


Nicholas menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku mengerti perasaan daddy, tapi jika masalah hilangnya Hae benar benar ada hubungannya dengan keluarga ini. Siapapun itu, kali ini aku tidak akan melepaskannya." ujar Zionel.


"Lebih baik kita bicarakan ini nanti, Stevani... kau terlihat sangat lelah nak, lebih baik kau beristirahat terlebih dahulu di kamar. Tidurlah terlebih dahulu, lalu kita akan berkumpul saat makan malam nanti. Zio... bawa istrimu beristirahat nak." ujar Falera.


"Mommy mu benar, kalian beristirahat saja terlebih dahulu. Kita akan lanjutkan pembicaraan ini nanti." sahut Nicholas.


Zionel menghela nafasnya lalu mengangguk. Ia mengajak Stevani ke kamarnya. Stevani pun berpamitan pada mereka.

__ADS_1


*****


Stevani terpesona dengan desain kamar Zionel, ini pertama kalinya ia melihat dan memasuki kamar suaminya yang sudah lama ditinggalkan. Tapi berbeda dengan Zionel, pria itu terus saja melamun.


"Zio..."


"Ah iya sayang."


"Kau masih memikirkan soal adikmu?"


Zionel mengangguk. "Mungkinkah mereka yang membuat Hae menghilang? Mereka keluargaku Vani, apakah harta bisa membutakan hati mereka."


"Zio... bukankah orang tuamu bilang ini hanya dugaan mereka saja. Mungkin saja ini tidak benar."


"Aku sangat mengenal daddy dan mommy, mereka tidak akan menduga-duga jika tidak yakin. Tapi kenapa harus tante Nile? Aku paling dekat dengannya dibandingkan keluarga Cruise yang lain. Apakah ia tega memisahkan aku dengan adikku? Cukup Cecil saja yang membuatku kecewa sayang, aku tidak berharap tante Nile ikut melakukan kesalahan."


"Aku belum mengerti masalah keluargamu Zio. Aku tak bisa memberikan pendapat apapun untukmu."


Zionel tersenyum. "Kau tidak perlu memikirkan masalah ini sayang. Aku hanya ingin menghukummu sekarang."


"Menghukumku?"


Zionel mengangguk. "Apa kau lupa dengan ucapanku di lobi hotel?"


"Kau masih saja..."


Seketika Zionel menghentikan ucapan istrinya dengan melahap bibirnya. Pria itu menci umnya penuh ha srat. Keduanya saling memanggut hingga akhirnya Stevani terjatuh tepat di atas ranjang besar Zionel.


"Tapi Zio... ada mommy dan daddy. Bagaimana jika mereka mendengar kita?"


"Aku akan menyuruh mereka berpura pura tidak mendengar apapun sayang, berhentilah mencari alasan. Aku belum selesai menghukummu." jawab Zionel seraya kembali melahap bibir Stevani.


Zionel mulai meraba seluruh tubuh istrinya, ia mulai membuka riseleting gaun Stevani. Tangannya dengan mahir langsung menyentuh kedua gundukan sintal milik istrinya. Stevani melenguh saat Zionel mulai meremas payu daranya. Zionel terus mengecup wajah Stevani hingga menuruni lehernya dan berlama lama disana. Saat keduanya mulai terhanyut dalam gai rah, ponsel Zionel berdering.


Awalnya Zionel ingin mengabaikan ponselnya, tapi suara dering itu semakin keras membuat Zionel seketika mengumpat. Pria itu mengambil ponselnya di atas meja lalu kembali mengumpat saat melihat nama orang yang menghubunginya.


"Gajimu, bonusmu, insentifmu... semuanya habis aku potong bulan ini." bentak Zionel saat mengangkat teleponnya.


Tentu saja Alex terkejut, ia sama sekali tak mengerti mengapa atasannya begitu marah saat ini.


"Pak Zio... salahku dimana?" tanya Alex.


"Kau masih saja bertanya, sialan..."


"Oh ya Tuhan... anda sedang... maaf pak Zio, tapi aku sudah menangkap pelaku. Ia sudah berada di dalam apartemen anda pak."


"Kau mengabariku disaat yang tidak tepat Lex. Tapi baiklah, aku akan segera kesana." jawab Zionel seraya menutup teleponnya.


"Ada apa Zio?" tanya Stevani.

__ADS_1


Zionel menatap istrinya. "Maafkan aku sayang, ada urusan mendesak. Aku ingin keluar sebentar."


"Pergilah... tapi tetap berhati-hati Zio."


"Oh ya Tuhan, haruskah aku meninggalkan istriku sekarang."


Stevani terkekeh. "Kita masih punya banyak waktu tuan me sum."


"Tidak bisa, Alex bisa menunggu tapi milikku tidak bisa." ujar Zionel lalu kembali naik ke atas ranjangnya dan memerangkap tubuh Stevani.


Zionel dengan cepat melepaskan semua pakaiannya, ia menyingkap gaun milik Stevani dan menarik celana da lamnya. Dengan gerakan cepat, pria itu menyarangkan rudalnya ke lubang goa kenikmatan Stevani.


"Aaarrrgghhh..." de sah Stevani saat Zionel menusuknya.


"Ooohhh... kau benar benar membuatku gila sayang." ujar Zionel sambil menarik dan mendorong miliknya.


Permainan itu tidak seperti sebelumnya, karena Zionel melakukannya langsung dengan kecepatan tinggi. Zionel mengangkat kedua kaki Stevani lebih tinggi lagi, dengan cara seperti itu ia mampu memasukkan seluruh rudalnya. Kembali menarik dan mendorongnya dengan cepat.


Keduanya saling memanggil nama, suara rintihan dan de sahan mereka saling bersahutan. Zionel terus mempercepatnya, pria itu mengangkat tubuh Stevani hingga istrinya berada dalam posisi terduduk. Namun keduanya sama sekali tidak menghentikan permainan itu. Zionel melahap puncak gunung kembar milik Stevani secara bergantian.


"Zio... aaarrrgghhh..."


"Sayang... ya Tuhan ini luar biasa... ooohhh..."


keduanya sama sama menggila, mereka tidak perduli lagi jika suara mereka terdengar keluar kamar. Mereka terus saling melenguh, semakin cepat Zionel menggoyangkan pinggulnya. Saat miliknya mulai terjepit di dalam goa tersebut, saat itulah Zionel berteriak memanggil nama Stevani dan menyemburkan cairan hangatnya. Stevani merasakan kehangatan itu, ia pun akhirnya mencapai puncaknya seraya memeluk tubuh Zionel dengan erat.


Keduanya saling mengatur nafas mereka yang masih memburu. Zionel menenggelamkan wajahnya tepat di tengah gunung kembar tersebut.


"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu begitu saja tadi jika aku sangat menginginkanmu sayang? Aku mencintaimu Stevani Yunsu." ujar Zionel.


"Aku juga mencintaimu Zionel Cruise. Tapi Alex masih menunggumu." ujar Stevani.


Zionel mengangkat kepalanya lalu menatap Stevani, pria itu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Dalam keadaan seperti ini, kau justru mengingatkan aku soal pekerjaan nona. Tak inginkah kita melakukannya lagi?"


"Zio... aku tak ingin menjadi istri yang menghalangi pekerjaan suami. Bukankah kau bilang ada urusan mendesak?"


"Kau lebih mendesak sayang." jawab Zionel lalu menghela nafas panjang.


Perlahan Zionel merebahkan tubuh istrinya lalu menarik rudalnya yang masih bersarang. Pria itu kembali mengecup kening Stevani.


"Tidurlah... aku janji akan kembali sebelum makan malam." ujar Zionel.


Stevani mengangguk. "Kabari aku jika ada sesuatu."


"Tentu sayang." jawab Zionel seraya menarik selimutnya untuk menutupi tubuh Stevani.


Zionel turun dari ranjangnya, ia berjalan tanpa pakaian menuju kamar mandi. Pria itu tentu membersihkan dirinya dengan cepat sebelum pergi menemui Alex. Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandinya seraya tersenyum saat melihat Stevani yang tertidur dengan lelap. Zionel tak ingin mengganggu Stevani, ia segera berpakaian rapi dan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2