Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Pikiran Pikiran Alex


__ADS_3

"Kita harus menghentikan perdebatan kita tadi, bagaimanapun kau masih tidak sehat. Kembalilah ke ruanganmu Stevani." pinta Zionel.


"Tak perlu, aku sudah lebih baik sekarang. Aku harus ke klub."


"Ke klub? Aku sudah bilang padamu, kau sudah berhenti dari sana."


"Apa aku juga tidak punya hak untuk berpamitan dengan teman temanku?" tanya Stevani mulai kesal lagi.


"Oh baiklah, tapi kita harus menunggu asistenku terlebih dahulu. Kita akan ke klub bersama." jawab Zionel.


"Apa aku memintamu untuk mengantarku?"


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, maksudku kau kan belum sepenuhnya sehat."


"Tak perlu khawatir tuan Zionel, aku adalah wanita yang sekuat baja. Jangan khawatir aku akan kabur juga, karena aku tak ingin membuat adikku berhenti dirawat, kau lah yang memegang kendali atas semuanya saat ini." celetuk Stevani.


Zionel terkejut mendengar ucapan wanita itu. Kemarahan Stevani belum juga reda, wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya melewati Zionel.


"Tunggu Stevani..."


Stevani pun menghentikan langkahnya.


"Berhentilah memanggilku tuan, aku sudah katakan padamu panggil namaku saja." pinta Zionel.


"Pria brengsek, itukah yang lebih penting dari kata maaf. Bukankah seharusnya kau meminta maaf padaku atas apa yang kau lakukan padaku saat ini." pikir Stevani kesal.


Stevani melanjutkan langkahnya tanpa menjawab maupun menoleh ke belakang. Ternyata Alex pun kembali, pria itu mencari mereka dan akhirnya menemukan keduanya di depan ruang perawatan intensif Zaline. Alex terkejut saat Stevani melewatinya dengan wajah penuh kemarahan.


"Pak Zio..."


"Kau lama sekali Lex, wanita itu sudah pergi."


"Aku tahu, aku bertemu dengannya tadi. Tapi apa yang terjadi? Wajahnya seperti singa kelaparan yang siap memangsa siapapun yang ada di depannya."


"Kita ikuti sampai ke klub." ajak Zionel seraya melangkahkan kakinya.


Alex mengikuti Zionel.


"Bukankah masalah pekerjaannya sudah selesai?" tanya Alex sambil terus mengikuti langkah Zionel.


Zionel mengangguk. "Namun itulah yang membuatnya marah saat ini."


"Apa maksud anda?"


Zionel menceritakan semuanya pada Alex. Alex justru tertawa mendengar cerita Zionel sampai akhir, seketika Zionel menendang tulang kering Alex hingga pria itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Apa menurutmu ini lucu?"


"Sedikit." ejek Alex membuat Zionel semakin kesal. "Wanita itu tidak salah pak Zio, anda memang bersikap seenaknya tanpa bertanya padanya terlebih dahulu. Dan setelah anda membuatnya kesal, anda meminta ucapan terima kasih bukan anda yang meminta maaf padanya." imbuhnya sambil terkekeh geli.


"Apa yang salah dengan apa yang aku lakukan, mengapa aku harus meminta maaf padanya. Aku sedang membantunya Lex."


"Anda membantunya demi keuntungan anda pak Zio."


"Kami saling menguntungkan." sergah Zionel.


"Ya Tuhan... aku tak bisa berkomentar lagi. Silahkan anda pertahankan sikap anda ini." kata Alex sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Sialan..." umpat Zionel. "Cepatlah, kita ikuti wanita keras kepala itu." imbuhnya.


"Anda lah yang keras kepala pak Zio. Anda sangat menyukai nona Stevani, tapi harga diri anda begitu tinggi. Anda akan secepatnya menyadari bagaimana perasaan anda yang sebenarnya pada wanita itu. Zionel Cruise yang aku kenal tak pernah peduli pada seorang wanita, tapi sekarang anda bahkan sangat mengkhawatirkannya. Jika anda sudah menyadarinya, anda harus bersiap siap menghadapi keluarga anda yang terhormat. Jika keluarga Cruise tahu siapa nona Stevani sebenarnya, bukan hanya nyonya Falera Cruise yang akan menolaknya, tapi tuan Nicolas Cruise yang selalu diam akan ikut menentang anda pak Zio." pikir Alex.


"Mengapa kau malah diam Lex?"


"Ah tidak apa apa pak Zio, ayo kita ke klub. Sepertinya nona Stevani sudah naik taksi." jawab Alex.


Keduanya menuju parkiran rumah sakit lalu masuk ke dalam mobilnya. Alex menyerahkan surat perjanjian nikah pada Zionel lalu menyalakan mobilnya dan membawa Zionel menuju klub.


"Apa kau yang memberitahu mommy kalau kita membatalkan penerbangan besok?" tanya Zionel sambil membaca perjanjian itu.


"Bagaimana aku tak mengatakannya pak Zio. Nyonya Presdir selalu menghubungiku." jawab Alex.


"Lalu apa pendapat nyonya Falera?" tanya Alex.


"Ia terkejut namun juga penasaran dengan wanita itu. Ia akan berhenti mengganggu kita sampai kita kembali. Aku sudah meminta Stevani untuk memalsukan identitasnya, tapi wanita itu menolak Lex." jawab Zionel.


"Ternyata anda sudah memikirkannya sejauh ini."


"Aku hanya ingin melindunginya dari keluarga Cruise."


"Anda benar pak Zio, tapi apa alasan nona Stevani menolaknya?"


"Ia tak ingin menjadi orang lain, ia percaya diri dengan identitasnya sendiri dan ia juga takut jika adiknya syok dengan semua ini. Apa yang harus aku lakukan Lex?"


"Kali ini aku tak bisa berpendapat pak Zio. Anda dan nona Stevani sama sama di posisi yang benar. Tapi jika keluarga Cruise tahu siapa wanita itu sebenarnya, jangankan pernikahan, wanita itu muncul di depan rumah besar Cruise saja mungkin akan dicegah." jawab Alex.


"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi Lex. Apa yang aku inginkan, tidak ada satupun yang bisa mencegahnya."


"Termasuk nyonya Falera Cruise?"


"Aku akan berusaha meyakinkannya. Tapi aku berharap wanita itu berubah pikiran, ia hanya melakukan sandiwara ini selama satu tahun."

__ADS_1


"Anda yakin akan melepaskannya setelah satu tahun? Bagaimana jika ia benar benar mengandung anak anda pak Zio?"


"Perjanjian yang kau buat sangat memuaskan Lex, aku harap wanita itu segera menandatanganinya. Jika masalah ini sudah selesai, kita segera terbang ke kota D." ujar Zionel mencari pembahasan yang lain.


Karena sebenarnya ia sama sekali belum memikirkan apa yang akan ia lakukan jika Stevani benar benar hamil. Memikirkan wanita itu mengingatnya malam itu saja, ia belum yakin jika Stevani tidak akan lari darinya.


Alex tahu atasannya tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut. Ia berhenti untuk bertanya soal hubungan mereka lagi.


"Bagaimana dengan nona Zaline Yunsu?" tanya Alex.


"Ah... aku lupa mengatakannya padamu. Aku sudah bertanya pada dokter yang menanganinya. Zaline tak bisa dipindahkan ke rumah sakit karena perjalanan yang cukup jauh, dokter menyarankan agar memindahkannya setelah keadaannya stabil Lex. Tapi kepulangan kita tak bisa ditunda lagi mengingat bagaimana sikap mommy. Aku juga memaksa Stevani untuk tetap ikut ke kota D dan menunggu Zaline disana. Aku akan membayar beberapa orang ahli kesehatan untuk menjaga Zaline disini dan tetap meminta bu Yoyoh untuk mengawasinya." jawab Zionel.


"Apa nona Stevani setuju?"


"Tidak ada pilihan, aku mengancamnya. Ya Tuhan... bukan maksudku sengaja melakukannya Lex. Jangankan hanya amarah, aku juga akan menerima kutukan dari wanita itu karena perbuatanku."


Alex tersenyum, baru kali ini ia mendengar Zionel Cruise menyesal atas apa yang ia lakukan pada orang lain.


"Dugaanku benar benar tidak akan meleset, aku akan taruhan dengan diriku sendiri. Aku yakin jika hanya beberapa bulan ke depan pak Zio akan menyadari perasaannya dan semakin takut kehilangan nona Stevani, jika aku salah maka jangan ada yang memanggilku Alex Rudiart. Panggil saja aku Alexa, cukup adil kan dengan nama seorang wanita." pikir Alex.


Tanpa sadar Alex justru terkekeh saat pikiran itu melintas di kepalanya. Zionel mengerutkan keningnya mendengar suara tawa Alex.


"Sepertinya kau ingin kehilangan gaji bulan ini Lex." ancam Zionel.


"Maaf pak Zio, aku sedang memikirkan hal lain." jawab Alex.


"Aku sudah bilang, aku selalu tahu apa yang sedang kau pikirkan Lex. Aku tahu beberapa detik yang lalu kau sedang mengejekku."


Alex mengumpat dalam hati. "Tidak pak Zio, aku benar benar memikirkan hal lain."


"Sayangnya aku sama sekali tidak mempercayaimu." celetuk Zionel.


Alex kembali melepaskan tawanya, keduanya sampai di klub. Alex memarkirkan mobilnya di depan klub tersebut.


"Apa kita masuk ke dalam pak Zio?" tanya Alex.


Zionel menggelengkan kepalanya. "Kita tunggu saja disini sampai wanita itu keluar. Aku hanya ingin tahu apa yang ia lakukan disini setelah aku membantunya keluar dari pekerjaan ini."


"Baiklah..." jawab Alex.


Keduanya pun tetap berada di dalam mobil. Zionel memejamkan matanya, sedangkan Alex terus bersiaga disana agar tidak kehilangan Stevani.


*****


To Be Continue...

__ADS_1


See you next time...


__ADS_2