
Peluh keringat membasahi wajah dan tubuh Stevani, wanita itu bahkan berkali-kali mengeluarkan air matanya karena kesakitan. Zionel mendampingi istrinya dengan kecemasan dan rasa takut yang luar biasa, pria itu juga berkali-kali meneteskan air matanya karena tak tega melihat istrinya yang meringis kesakitan.
Ya... 4 bulan telah berlalu, kini Stevani sedang berada di rumah sakit untuk melahirkan anak pertamanya. Wanita itu ingin melahirkan dengan normal dan menolak Zionel dengan keras saat suaminya menyarankannya operasi Caesar karena tak ingin istrinya kesakitan.
Keluarga besar Cruise sudah berkumpul di depan ruangan persalinan menunggu persalinannya. Zaline bahkan terus menangis di pelukan ibunya karena merasa khawatir.
Dokter dan beberapa perawat terus membantu Stevani, wanita itu berusaha kuat saat mendorong bayinya keluar ketika kontraksi terjadi. Zionel terus menggenggam tangan istrinya dan berkali-kali mengecup kening wanita itu, ia tak tahu harus berbuat apa saat istrinya berjuang untuk melahirkan secara normal.
"Bertahanlah sayang... kau pasti bisa." ucap Zionel sambil terisak di samping istrinya.
Stevani mengatur nafasnya lagi, dan kontraksi hebat kembali terjadi, wanita itu berteriak keras sambil mendorong bayinya keluar. Tak sadar kukunya bahkan menusuk tangan Zionel hingga berdarah. Tapi pria itu tak keberatan dengan rasa sakit yang ia terima, karena rasa sakit itu tidak ada apa apanya dibandingkan penderitaan Stevani saat ini.
Stevani kembali berteriak lalu akhirnya sosok bayi laki laki mungil pun keluar dengan tangisannya yang keras. Stevani terkulai lemas saat akhirnya berhasil melahirkan bayi tampan itu dengan perjuangannya. Air matanya tumpah begitu juga dengan Zionel yang tak kuasa menahan tangisannya sambil memeluk Stevani. Bayi itu diletakkan langsung di dada Stevani. Air mata mereka pun kembali tumpah saat melihat sosok mungil tersebut.
"Terima kasih sayang, terima kasih atas perjuanganmu. Aku sangat mencintaimu Vani, sangat mencintaimu." ujar Zionel seraya mengecup wajah Stevani tanpa henti.
"Selamat tuan dan nyonya, bayi kalian laki laki, ia sangat tampan dan memiliki tubuh yang sempurna tanpa cacat. Kami akan membersihkannya terlebih dahulu." ujar dokter kandungan yang menangani persalinan Stevani.
"Terima kasih dok." jawab Zionel. "Sayang kita memiliki jagoan." imbuhnya.
Stevani menganggukkan kepalanya sambil terisak. Keduanya memang belum tahu jenis kelamin bayi mereka, karena saat melakukan USG, mereka sepakat agar dokter merahasiakannya agar menjadi kejutan untuk semuanya. Perawat mengambil bayi tersebut untuk dibersihkan.
Zionel menghapus air mata Stevani sambil menggelengkan kepalanya. "Ini sudah berakhir istriku. Jangan menangis lagi, kau salah satu wanita hebat di dunia ini."
Stevani kembali mengangguk lalu ingat saat menusukkan kukunya ke tangan Zionel. Wanita itu segera menarik tangan suaminya dan memeriksanya. Sontak Zionel menarik tangannya.
"Aku baik baik saja sayang." ujar Zionel.
"Maaf aku menyakitimu." kata Stevani.
Zionel kembali mengecup kening Stevani. "Ini tidak seberapa. Kaulah yang lebih menderita. Aku benar-benar baik baik saja sayang."
Perawat membawa kembali bayi mereka dalam keadaan bersih. Bayi tersebut diletakkan di samping Stevani. Dengan naluri keibuannya, Stevani langsung memberikan asi pertamanya. Bayi laki laki itu langsung mengisap pu ting payu dara Stevani dengan kuat membuat semuanya tersenyum lebar.
Zionel mendekati istri dan anaknya. "Hei Zeze kecil, sisakan untuk papa." godanya dengan berbisik.
"Ya Tuhan... Zio..." ujar Stevani.
Zionel pun tertawa. Kebahagiaan mereka pun bertambah dengan hadirnya keturunan baru dalam keluarga besar Cruise.
*****
Semua keluarga besar Cruise masih menanti Stevani keluar dari ruang persalinan. Akhirnya Zionel lah yang lebih dulu keluar dari sana. Pria itu tersenyum lebar namun kembali meneteskan air matanya saat berhadapan dengan keluarga besarnya. Mereka semua mendekati Zionel.
__ADS_1
"Aku jadi seorang ayah, aku berhasil memiliki seorang jagoan. Stevani dan bayi kami dalam keadaan sehat." ujar Zionel sambil terisak.
Semuanya bernafas lega, Falera langsung memeluk putranya.
"Selamat nak." ujar Nicholas.
Ucapan itu disahuti oleh keluarga yang lain, mereka tak henti hentinya mengucapkan selamat dan rasa syukur itu untuk Zionel. Pintu ruang persalinan terbuka, beberapa perawat mendorong ranjang Stevani keluar, sontak mereka semua mendekati Stevani.
Namun Zaline langsung memeluk kakaknya sambil melepaskan tangisannya dengan keras. Mereka ikut terharu saat melihat itu.
"Zaline tenanglah sayang, kakak baik baik saja. Lihatlah Zeze..." ujar Stevani.
Zaline melepaskan pelukannya seraya menatap bayi mungil yang tertidur di samping Stevani.
"Kau... berani sekali menyakiti kakakku. Jika sekali lagi kau berani membuatnya kesakitan, aku akan mencubitmu Zeze." ujar Zaline.
Seketika semuanya tertawa dengan keras mendengarnya.
"Kau berani mencubit putraku, aku yang akan membalasnya." sahut Zionel membuat semuanya kembali tertawa.
Perawat kembali mendorong ranjang Stevani, mereka semua mengikutinya sampai menuju ke ruang perawatan.
*****
3 hari kemudian...
Rumah Zionel sudah dihias dengan cantik, tinggal menunggu kepulangan Zionel dan istrinya dari rumah sakit.
"Akhirnya selesai juga, ini benar benar cantik." ujar Kirana sambil menatap semua hiasan itu.
Alex ikut menatap rumah Zionel, lalu tatapannya terpaku pada sosok Kirana. Alex baru menyadari jika sekertaris Zionel itu benar benar cantik.
"Kau memang cantik." ucap Alex.
Kirana terkejut lalu menatap Alex. "Anda bicara apa pak?"
"Apa kau sudah memiliki pacar?" tanya Alex.
"Hah...?"
"Apa kau mau menikah denganku?" tanya Alex lagi.
"Hah...?"
__ADS_1
Kirana terus terkejut dengan ucapan Alex yang tiba tiba seperti itu. Wanita itu akhirnya melepaskan tawanya karena merasa Alex sedang bermain main dengannya.
"Ya Tuhan... anda biasa menjahili pak Zio, kini aku yang jadi korbannya." ujar Kirana.
Alex mendekati Kirana. "Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Kirana menatap Alex. Pria yang diam diam ia sukai mendadak melamarnya tanpa persiapan apapun. Kirana memang selama ini sangat menyukai Alex. Ia mengangumi sosok asisten Zionel yang tampan dan cerdas itu. Tapi ia hanya bisa diam diam menyimpan perasaan itu karena tak mungkin baginya menggapai Alex Rudiart.
Tapi kali ini seperti sedang bermimpi, tiba tiba Alex melamarnya di rumah CEO mereka tanpa adanya bunga ataupun cincin lamaran. Tentu saja ia berpikir semua itu hanya candaan saja.
"Jawab pertanyaanku Kirana, apakah kau memiliki pacar?" tanya Alex membuyarkan lamunan Kirana.
Kirana menggelengkan kepalanya.
Alex tertawa dengan keras saat tahu Kirana masih sendiri. Ia tak mungkin memiliki waktu untuk mencari seorang kekasih di luar, Kirana adalah sosok wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya.
Mendengar suara tawa Alex membuat Kirana sangat kecewa, ia merasa dikerjai oleh pria itu. Dalam hati terus saja mengumpat dan menyalahkan diri sendiri karena terlalu banyak berharap.
"Anda keterlaluan." ujar Kirana kesal seraya membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Alex.
Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang, tentu saja Alex yang melakukannya hingga wanita itu berhenti melangkah. Kirana kembali membalikkan tubuhnya, namun seketika Alex menarik kepalanya dan menciumnya. Kirana terbelalak, ia mendorong tubuh Alex dengan keras.
"Apa yang kau..."
Alex menghentikan ucapan wanita itu dan kembali menciumnya. Kali ini Kirana menyerah, keduanya saling membalas ciu man itu. Cukup lama keduanya saling memanggut, sampai akhirnya kesadaran mereka berangsur-angsur pulih. Keduanya menghentikan ciu man itu dan saling bertatapan.
"Aku tahu ini sangat tiba tiba dan tanpa persiapan, bahkan aku tidak menyiapkan apapun untukmu." ujar Alex. "Tunggu sebentar." pintanya.
Alex berlari mengambil setangkai bunga, ia juga mengambil satu bunga yang lain lalu dibentuknya seperti sebuah cincin. Pria itu kembali ke hadapan Kirana yang masih terpaku disana. Alex menghela nafas panjang saat sudah berada di hadapan Kirana lagi. Pria itu langsung berlutut dengan satu kakinya.
"Kirana Helvetia, maukah kau menikah denganku?" pinta Alex sambil menyodorkan cincin bunganya.
Kirana kembali terbelalak, tak terasa air matanya menetes. Ini bukan mimpi, tapi inilah kenyataan untuknya. Pria yang ia sukai benar benar melamarnya. Tanpa ragu Kirana pun menganggukkan kepalanya. Alex tersenyum lebar lalu memakaikan cincin bunga itu ke jari Kirana. Alex juga menyerahkan setangkai bunga itu pada Kirana. Keduanya saling berpelukan.
Tapi ternyata keluarga besar Cruise sejak tadi sudah tiba dan diam diam memperhatikan mereka.
"Yeeee... selamat..."
"Selamat..." "Selamat..."
"Selamat Lex, Kirana..." teriak Zionel.
Teriakan mereka semua membuat keduanya terkejut. Acara penyambutan bayi Zionel, justru menjadi acara lamaran bagi Alex. Mereka semua tertawa dengan bahagia.
__ADS_1
*****
THE END...