
3 bulan kemudian...
Reputasi keluarga Cruise yang sebelumnya sempat hancur karena ulah Gilbran dan Nile Cruise, perlahan lahan mulai kembali bangkit seiringnya perusahaan Cruise Grup yang semakin maju dalam bisnis di kota D. Seperti angin berlalu, kekecewaan warga kota D sebelumnya seketika menghilang. Keluarga Cruise kembali menjadi panutan untuk warga kota D.
Gilbran dan Nile Cruise menerima hukuman penjara seumur hidup, atas keputusan di pengadilan. Itu lebih ringan dari tuntutan sebelumnya yang memvonis mereka hukuman mati. Keduanya tidak menolak keputusan, namun dengan syarat putri mereka Cecil tidak dilibatkan dalam kasus tersebut. Keluarga besar Cruise masih memiliki hati, sehingga mereka mengabulkan permintaan mereka dan tetap membantu pendidikan Cecil di Amerika.
Namun saham kepemilikan Nile Cruise akhirnya disumbangkan ke sebuah yayasan agar tidak adalagi campur tangan Cecil dalam perusahaan yang akan menjadi boomerang bagi keluarga Cruise. Itulah kesepakatan mereka bersama dengan menukarkan kebebasan Cecil.
Di balik semua penyelesaian masalah dalam keluarga Cruise, ada seseorang yang sedang dilanda masalah besar. Siapa lagi kalau bukan Zionel Cruise. Setelah Zaline dinyatakan sembuh dan bisa kembali ke rumahnya, gadis kecil itu menjalankan rencananya untuk menghukum kakaknya.
Sudah dua hari, Zionel tidak diperbolehkan adiknya untuk bertemu Stevani. Hukuman yang ia dapatkan cukup lama yaitu selama satu minggu. Itu benar benar sudah membuat Zionel gila. Zaline sama sekali tidak bisa dibujuk oleh kakaknya, gadis itu tetap saja menghukum Zionel sedemikian rupa.
Karena suasana hatinya yang begitu buruk, ia pun terus melampiaskannya pada orang orang yang ada didekatnya. Bahkan karyawan yang ada di perusahaan ikut mendapatkan pelampiasan kemarahannya.
"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik? Proposal apa yang kalian ajukan ini?" bentak Zionel di ruang rapat.
Pria itu melempar semua proposal yang ada di depannya begitu saja.
"Kerjakan ulang." teriak Zionel lalu meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Alex menghela nafas panjang, ia menatap semua staf yang ketakutan.
"Suasana hatinya sedang tidak baik, kalian buat saja ulang." ujar Alex pelan seraya ikut keluar dari ruangan.
Mereka hanya bisa menghela nafas panjang saat Zionel dan Alex sudah meninggalkan ruang rapat. Mereka pun satu per satu mulai meninggalkan ruang rapat untuk kembali bekerja. Namun tentu saja, perilaku Zionel Cruise menjadi perbincangan di perusahaan karena ini pertama kalinya CEO mereka kehilangan kendali. Sebelumnya jika ia marah, hanya menunjukkan wajah dinginnya saja.
*****
Zionel dan Alex masuk ke dalam ruang kantor Zionel. Pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya.
"Mengapa mereka semakin bermalas-malasan bekerja, lihatlah hasil kerja mereka. Tak ada satupun yang dikerjakan dengan baik." ujar Zionel kesal.
"Baru dua hari saja anda seperti kebakaran jenggot pak Zio." ejek Alex.
"Aku sedang membicarakan pekerjaan Lex."
"Aku sedang membicarakan suasana hati anda pak."
"Sialan kau...!!"
__ADS_1
"Proposal tadi memang tidak bagus, tapi anda tidak biasanya kehilangan kendali seperti tadi pak Zio. Anda nyaris membuat mereka jantungan." kata Alex.
"Ya Tuhan Zaline... ia benar benar membuatku tak bisa berbuat apapun Lex. Aku benar benar tidak bisa menemui istriku. Seharusnya kau yang disalahkan atas semua ini."
"Walaupun aku diam, ia akan tetap tahu cerita anda. Oh ayolah pak Zio, hanya seminggu."
"Hanya seminggu kepalamu. Dua hari saja aku sudah menjadi gila." bentak Zionel.
Alex menahan tawanya. "Bukankah anda masih bisa menghubungi nona Stevani, setidaknya anda masih diperbolehkan mendengar suaranya."
"Kau pikir setelah mendengar suaranya aku akan lega Lex. Semakin aku mendengar suara Stevani, semakin aku merindukannya. Ini membuatku benar-benar gila. Lebih baik aku dihukum dengan cara lain, daripada harus seperti ini. Sialan...!!"
Akhirnya Alex melepaskan tawanya membuat Zionel semakin murka, pria itu melemparkan sebuah berkas di mejanya pada Alex dan seketika Alex menangkap berkas tersebut.
"Tertawalah sepuasnya, kau harus merasakan apa yang aku rasakan." ancam Zionel.
"Maka aku akan membuat nona Zaline menambah harinya." ancam Alex balik.
Zionel kembali melemparkan sebuah buku pada Alex, namun kali ini Alex menghindarinya hingga buku tersebut jatuh ke lantai.
"Kau sebenarnya asistenku atau asisten adikku Lex. Demi Tuhan... kau membuatku semakin kesal saat ini."
"Sepertinya aku bisa mendapatkan keuntungan juga jika berpihak pada nona Zaline, bagaimanapun ia calon Presdir di perusahaan ini." goda Alex.
*****
Stevani terus membujuk adiknya agar menghentikan hukumannya pada Zionel, namun gadis kecil itu justru tertawa setiap kali Stevani memintanya untuk mengakhiri keusilannya.
"Kau tahu bagaimana sikap abangmu Zaline. Hukumanmu ini bisa membuatnya melampiaskan kemarahannya pada orang lain." ujar Stevani.
"Dan itu baru saja terjadi." jawab Zaline seraya menunjukkan ponselnya sambil tertawa.
"Pasti pak Alex yang memberi kabar. Apa aku bilang, abangmu pasti mulai kehilangan kesabarannya."
Zaline menganggukkan kepalanya. "Semua staf perusahaan menjadi pelampiasan kemarahannya. Dan aku justru sangat senang mendengarnya."
"Ya Tuhan... kau menyiksa mereka sayang."
"Ayolah kak, ini baru dua hari. Aku belum puas menyiksa bang Zi."
__ADS_1
"Tapi yang kau lakukan ini membuat yang lain ikut merasakannya Zaline. Mengapa kau iseng sekali dengan abangmu. Bagaimana bisa kau memisahkan suami istri seperti ini." ujar Falera seraya bergabung bersama mereka.
"Abang juga melakukan hal yang sama padaku. Saat aku koma, ia membawa kakak meninggalkan kota X. Ditambah lagi ia membuat kak Vani bersedih selama aku tak ada, ini baru dua hari ia tidak bertemu dengan kak Vani. Aku bahkan harus berminggu-minggu dipisahkan mom."
"Ya ampun anak nakal, itu beda ceritanya. Walaupun kakak tetap di kota X, kakak juga tidak bisa menemuimu. Tanya saja bu Yoyoh, apa kau tahu saat kau koma bu Yoyoh selalu ada di dekatmu." kata Stevani.
"Ayolah kak, mom... aku sudah lama tidak mengerjai bang Zi. Bertahan 5 hari lagi oke..."
"Satu hari lagi." ujar Stevani dan Falera bersamaan.
"Ciiiih... kalian kompak sekali. Tapi aku tetap tidak akan mengubah hukumannya."
"Abangmu baru dua hari saja sudah membuat staf perusahaan kesusahan, jika kau melakukannya 5 hari lagi, maka perusahaan Cruise akan dibakar olehnya." kata Falera.
Stevani terkekeh geli. "Mommy benar sayang, percayalah... bang Zi mu akan melakukan hal itu."
"Itu tidak akan terjadi. Karena perusahaan bukan hanya milik abang seorang. Haih... aku tahu sekarang. Kakak juga sudah tidak tahan ingin bertemu dengannya kan?" goda Zaline.
"Mana mungkin... kakak baik baik saja." jawab Stevani dengan wajah yang memerah.
"Jika baik baik saja, mengapa kakak terus membawa ponsel kakak. Saat makan, mandi, bahkan saat mau tidur, kakak terus memegang ponsel itu."
"Ya karena..."
"Berhentilah menggoda kakakmu. Wanita hamil itu butuh suaminya yang terus siaga di sampingnya. Berhenti jahil putriku, kau juga menyiksa calon keponakanmu." potong Falera.
Seketika Zaline mendekati Stevani lalu menunduk ke perut kakaknya dan berbicara seperti biasanya dengan keponakannya membuat siapapun terkekeh melihatnya.
"Ia tidak keberatan aku menghukum ayahnya, jadi jangan berdebat lagi denganku. Aku mendapat dukungan penuh dari Zeze kecil." kata Zaline.
"Zeze kecil?" tanya Stevani dan Falera bersamaan.
Zaline melepaskan tawanya. "Kakak dan abang harus memberinya nama Zeze."
"Kenapa?" tanya keduanya bersamaan lagi.
"Zionel Zaline... gabungan dari inisial nama kami ZZ jadi Zeze."
Seketika Stevani dan Falera tertawa keras. Bagaimana bisa Zaline memikirkan ide nama seperti itu.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...