Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Apartemen Zionel


__ADS_3

Stevani terus membelalakkan matanya saat melihat gedung besar di depannya. Kawasan apartemen elite itu terlihat sangat mempesona. Hari semakin malam, lampu lampu yang menghiasi gedung tersebut menambah keindahannya.


"Selamat datang di apartemenku." ujar Zionel.


Stevani terus saja menatap gedung itu tanpa menghiraukan ucapan Zionel. Sedangkan Alex sibuk mengambil barang barang yang dibawa Stevani.


"Apa aku akan tinggal disini?" tanya Stevani.


"Tentu saja, apa kau berharap langsung tinggal di rumah besar Cruise?" ujar Zionel.


"Kapan aku mengatakannya? Lalu dimana kau akan tinggal?"


"Tentu saja disini juga."


Stevani terkejut. "Apa maksudmu?"


"Apa kau masih tidak mengerti, ini apartemenku. Aku sudah lama tinggal disini, dan kau tentu saja tinggal bersamaku."


"Jangan mimpi Zio, aku tidak akan tinggal satu rumah denganmu."


"Ya Tuhan... apa kau lupa jika kau akan menjadi istriku selama satu tahun?"


"Tapi itu hanya diatas kertas."


"Persetan dengan perjanjian itu, yang jelas selama satu tahun kau akan menjadi istriku yang sah. Kau akan tinggal bersamaku dan mengikuti semua ucapanku, itupun jika kau masih ingin adikmu tetap mendapatkan perawatan terbaik."


"Sialan... Ia terus saja menggunakan Zaline sebagai kelemahanku." pikir Stevani.


Zionel melangkahkan kakinya masuk ke gedung apartemen diikuti oleh Alex yang membawa barang barang Stevani. Stevani menghentikan langkah Alex.


"Biar aku saja pak Alex."


"Tidak perlu nona, aku bisa melakukannya. Cepatlah masuk, hari semakin gelap."


Stevani menghela nafas panjang lalu mengangguk. Ia pun mengikuti Zionel menuju pintu lift. Ketiganya masuk ke dalam lift menuju lantai 14 tempat Zionel tinggal.


Zionel menatap barang yang dibawa Alex sambil mengangkat sebelah alisnya. "Seharusnya kau meninggalkan semua barang barangmu, karena aku yakin semua yang kau bawa tidak akan digunakan disini."


"Kenapa?"


"Karena aku akan membawamu ke butik, kau harus berpenampilan menarik dan berkelas. Jangan mendebatku Stevani, ini aku lakukan untuk melindungimu dari keluargaku." kata Zionel sebelum Stevani angkat bicara.


Wanita itu menatap penampilannya sendiri, ia menghela nafas panjang kembali karena memang penampilannya tidak pantas bersanding dengan Zionel Cruise saat ini.


"Aku tidak mempermasalahkan penampilanmu sekarang. Hanya saja sedia payung sebelum hujan. Tolong mengerti, aku tidak ada maksud lain." imbuh Zionel.


Stevani sangat lelah untuk bertengkar lagi, ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Zionel terkejut mendapat respon seperti itu, ia menatap Alex penuh tanya. Alex hanya menyunggingkan senyumnya seraya mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


"Apa aku sudah gila? Mengapa aku lebih suka wanita ini berdebat denganku daripada menjadi penurut seperti sekarang? Ayolah Zio, bukankah kau sudah lelah perang dingin dengannya." pikir Zionel.


Pintu lift terbuka, ketiganya keluar dari lift. Zionel menekan beberapa angka untuk membuka pintu apartemennya. Setelah terbuka, pria itu membuka pintunya lebar lebar.


"Masuklah..."


Stevani ragu, ia melihat ke dalam ruangan yang masih gelap. Zionel lebih dulu masuk lalu menekan sakelar lampu, ruangan itu seketika terang.


"Masuklah nona, barangmu lumayan berat." pinta Alex yang masih ada di belakang Stevani.


"Oh maaf..." jawab Stevani seraya masuk.


Stevani kembali terkejut melihat isi apartemen Zionel, ruangan itu benar benar mewah lengkap dengan barang barangnya.


"Mengapa kau masih berdiri, duduklah... Kau pasti lelah. Jika kau ingin mandi, kamar mandi ada di sebelah kamar itu. Tapi sekarang aku akan mandi lebih dulu. Lex... bereskan barang barang Stevani di ruang ganti, kau bisa mengaturnya." pinta Zionel.


"Baik pak." jawab Alex.


Zionel meninggalkan mereka menuju kamar mandinya.


"Lex... biar aku saja, kau tunjukkan saja ruang gantinya. Aku lebih nyaman memanggil namamu, jadi aku akan memanggil pak hanya di depan Zio saja." kata Stevani.


Alex terkekeh. "Anda harus terbiasa nona, pak Zio tak bisa dibantah. Ia benar benar akan memecatku jika anda kembali memanggil namaku. Suatu hari anda akan tahu mengapa ia tak suka anda memanggil namaku."


"Ia pria arogan, mengapa aku harus mengikuti ucapannya?"


"Nona harus membaca kontrak pernikahan lagi, disana tertera dengan jelas."


"Kita ke ruang ganti dulu, ayo..." ajak Alex.


Stevani mengikuti Alex menuju ruang ganti. Mulut wanita itu seketika ternganga saat melihat pakaian, dasi, jam tangan dan berbagai aksesoris milik Zionel yang tertata rapi disana. Perlahan lahan Alex mengambil beberapa pakaian Zionel untuk memberi ruang sedikit.


"Gantunglah pakaian anda disini." ujar Alex.


"Hah? Pakaianku tak pantas bersanding dengan pakaian mahalnya."


Alex tertawa. "Lakukan saja nona, ini juga adalah pekerjaanku, tolong jangan membuatku kesulitan. Aku sebenarnya sudah lapar."


"Maafkan aku telah menahan dan merepotkanmu. Baiklah..."


Stevani mulai menyusun pakaian pakaiannya, saat ia mengambil pakaian dalamnya, ia kebingungan harus meletakkan dimana. Mana mungkin ia membiarkan Zionel melihatnya. Alex tahu yang sedang Stevani pikirkan, pria itu membuka satu laci yang masih kosong.


"Anda bisa meletakkan yang rahasia disini." kata Alex.


Seketika wajah Stevani memerah. "Aku..."


"Tidak apa apa nona, pak Zio pasti tidak akan menyentuh laci ini. Aku akan memberitahunya."

__ADS_1


Stevani menganggukkan kepalanya. "Cepat katakan, apa saja isi kontrak itu. Aku benar benar menyesal tidak membacanya terlebih dahulu."


Alex menghela nafasnya. "Seharusnya aku tidak memberitahu anda langsung, anda bisa membacanya nanti. Tapi untuk mengobati rasa penasaran anda, aku akan menyebutkan beberapa syarat yang diajukan pak Zio. Pertama, kalian bisa saling bersentuhan jika itu diperlukan dalam keadaan mendesak."


"Tapi aku sudah bilang jangan menyentuhku selama kontrak." celetuk Stevani.


"Tapi syarat yang diajukan pak Zio masuk akal nona, jika kalian sedang melakukan pertemuan keluarga, bagaimana kalian bisa berdiri saling berjauhan. Kalian harus terlihat seperti suami istri sungguhan." jawab Alex.


"Haaaaahhh... baiklah. Lanjutkan..."


"Kedua, selama satu tahun anda tidak diperkenankan dekat dengan pria lain kecuali pak Zio." lanjut Alex.


Karena Stevani tak memberi respon, Alex pun melanjutkan. "Ketiga, anda harus menuruti semua perkataan pak Zio. Jika tidak ya tidak, jika iya ya harus."


"Ya Tuhan... aku tak memiliki kebebasan lagi. Apa aku akan berada seperti dalam penjara selama satu tahun ke depan." keluh Stevani membuat Alex tertawa. "Ada berapa syarat yang ia ajukan?" tanyanya.


"Selanjutnya anda akan melihatnya sendiri nona, aku tak bisa mengatakannya lagi." jawab Alex.


Stevani mengerutkan keningnya. "Sepertinya syarat itu semuanya merugikanku. Bagaimana jika aku melanggar kontraknya?"


"Maka anda akan membayar denda 10 kali lipat dari pengeluaran pak Zio selama pengobatan nona Zaline."


"Ya Tuhan... bukankah itu pemerasan?"


"Maka bertahanlah selama satu tahun. Setelah anda bertemu keluarga Cruise, kemungkinan pernikahan anda akan dilaksanakan minggu depan. Semuanya sudah diatur oleh pak Zio. Anda tak perlu khawatir, walaupun pernikahan ini hanya kontrak satu tahun namun segalanya diatur semewah mungkin. Zionel Cruise tidak akan menikah dengan sederhana, pernikahan kalian benar benar nyata dan sah dihadapan Tuhan." ujar Alex.


"Aku tidak ada pilihan lagi, terima kasih telah memberitahu semuanya." jawab Stevani.


"Jika anda sudah selesai, sebaiknya kita keluar sekarang. Aku tak ingin pak Zio berpikiran yang macam macam karena kita berdua berada di ruangan ini."


Stevani menganggukkan kepalanya, ia meninggalkan tas besarnya di pojok lemari lalu keluar dari ruangan mengikuti Alex. Stevani duduk di sofa sambil menunggu Zionel yang begitu lama berada di dalam kamar mandi.


Saat pria itu selesai mandi, ia pun keluar dari sana, Stevani seketika berteriak karena Zionel dengan percaya diri hanya menggunakan handuk kecil yang melingkari pinggang kebawah saja, sedangkan dada kokoh dan bidangnya terlihat dengan jelas.


"Kau bisa membangunkan isi gedung ini Stevani." kata Zionel sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang lain.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Stevani.


"Ckckck... tentu saja aku akan ke kamar ganti." jawab Zionel.


Pria itu dengan percaya diri melewati Stevani menuju ruang ganti. Sebelum masuk kedalam, ia menghentikan langkahnya lalu kembali membalikkan tubuhnya.


"Kau akan terbiasa nantinya, jadi jangan terus berteriak seperti di dalam hutan." kata Zionel seraya masuk ke ruang ganti.


Alex tak bisa menahan tawanya, sedangkan Stevani dengan kesal masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Dasar pria mesum yang gila." keluh Stevani.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2