Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Terkuak


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Sudah beberapa hari Zionel sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan Stevani sering ditinggalkan pria itu sendirian di rumah barunya. Pagi hari, pria itu pergi bekerja sebelum Stevani terbangun dari tidurnya.


Sudah berkali-kali Stevani memuntahkan makanannya hari ini, ia semakin merasa tidak sehat akhir akhir ini hingga merasakan tubuhnya sangat lelah, padahal Zaline akan datang besok ke kota D.


"Ya Tuhan... mengapa tubuhku seperti ini? Apa mungkin aku..."


Stevani menghentikan ucapannya, ia segera keluar dari rumahnya menuju apotek terdekat. Beruntung kompleks perumahan itu memang lengkap dengan jajaran ruko yang menyediakan berbagai macam penjual. Wanita itu membeli alat tes kehamilan karena sejak dari kota X, ia belum juga datang bulan.


Saat ia kembali ke rumahnya, pelayan barunya terkejut. "Loh nyonya darimana?" tanya bu Sofi.


"Aku hanya berjalan jalan sebentar bu." jawab Stevani.


"Wajah nyonya pucat sekali, lebih baik kita ke rumah sakit jika nyonya sakit."


"Aku hanya lelah, aku hanya butuh istirahat sebentar."


"Tapi nyonya belum makan lagi setelah muntah tadi."


"Tidak apa apa bu, aku tidur saja pasti akan membaik."


"Kalau ada apa apa cepat panggil ibu ya nyonya."


"Terima kasih bu Sofi, aku akan memanggil ibu jika butuh sesuatu." jawab Stevani seraya kembali ke kamarnya.


Stevani langsung menuju kamar mandi, ia sangat ingin tahu apakah ia benar benar sedang hamil atau tidak. Wanita itu melakukan tes pack dan akhirnya menangis setelah melihat hasilnya. Terlihat dengan jelas dua garis berwarna merah disana. Ia menangis karena sangat bahagia bisa mewujudkan keinginan suaminya.


"Aku benar benar hamil. Aku akan segera menghubungi Zio, ia pasti senang mendengar kabar ini." gumam Stevani seraya keluar dari kamar mandinya.


Baru saja ia ingin menghubungi suaminya, ponselnya berdering terlebih dahulu. Pria yang ingin ia beritahu kabar kehamilannya justru menghubunginya terlebih dahulu.


"Halo Zio..."


"Sayang... aku sangat terburu-buru tadi pagi karena klien dari Jepang datang. Karena kecerobohanku, aku meninggalkan dompetku. Jadi..."


"Aku akan mengantarkannya ke kantormu. Tunggu aku sayang, aku punya kabar baik untukmu." jawab Stevani.


"Kau tetaplah di rumah, minta saja bu Sofi naik taksi dan mengantarkannya."


"Tidak apa apa, aku juga ingin segera bertemu denganmu."


"Apa ini soal Zaline? Kau terdengar sangat bahagia sayang."


"Kejutan tuan muda Cruise. Aku akan segera kesana."

__ADS_1


"Baiklah... maafkan aku merepotkanmu. Berhati hatilah di jalan sayang."


Stevani menutup ponselnya, ia tersenyum lebar. Wanita itu mencari dompet suaminya dan menemukannya tepat di atas meja samping tempat tidur. Ia terburu buru mengambil dompet itu hingga dompetnya terjatuh ke karpet lantai kamar.


"Astaga aku ceroboh sekali." gumam Stevani seraya menundukkan kepalanya untuk mengambil dompetnya.


Ia seketika berhenti saat melihat sebuah foto terselip di dalam dompet suaminya. Wanita itu mengerutkan keningnya seperti pernah melihat gadis kecil yang ada dalam foto itu. Stevani segera mengambil dompetnya dan mengambil foto tersebut. Ingatan demi ingatan terus berputar di kepalanya.


Gadis kecil itu sama persis seperti Zaline saat pertama kali ia temukan. Stevani membalikkan foto itu dan tertera nama Haena Cruise disana. Ia terbelalak, tangannya gemetar, kepalanya mulai berputar, pandangannya tiba tiba gelap dan akhirnya jatuh pingsan.


*****


Zionel nyaris menabrak semua kendaraan yang menghalangi jalannya. Ia sangat panik saat menerima telepon dari pelayannya jika Stevani masuk ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Zionel berlari dengan panik mencari istrinya.


Zionel menemukan ruangan Stevani, pria itu segera menghampiri istrinya dan menggenggam tangannya. Ia sangat menyesal karena akhir akhir ini terus sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperhatikan istrinya.


Cukup lama Stevani tidak sadarkan diri, Zionel terus mengkhawatirkan wanita itu sambil menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.


"Aku benar benar minta maaf sayang, ini semua salahku. Bu Sofi sudah mengatakannya padaku jika akhir akhir ini kau selalu memuntahkan sarapanmu. Mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku jika kau sakit? Vani... bangunlah sayang, jangan menakutiku." ujar Zionel.


Stevani tetap bergeming, wanita itu dengan wajah pucatnya masih tidak sadarkan diri sampai akhirnya dokter pun masuk ke dalam ruangan.


"Dokter Julius, bagaimana keadaan istriku?" tanya Zionel tidak sabaran.


"7 minggu?" Zionel terkejut lalu menghitung pernikahannya, ia terbelalak lalu tersenyum. "Sudah kuduga, ia sudah mengandung anakku sejak kejadian malam itu. Terima kasih dok." imbuhnya bahagia.


Dokter Julius menganggukkan kepalanya.


"Tapi kenapa ia belum sadarkan diri dok?" tanya Zionel.


Dokter Julius melihat jam tangannya. "Seharusnya sebentar lagi juga tersadar, tuan muda lebih perhatikan istri anda, masa kehamilan tri semester pertama akan sulit untuknya, apalagi ini adalah kehamilan pertamanya."


"Tentu dok, sekali lagi terima kasih." jawab Zionel.


Dokter Julius kembali mengangguk seraya meninggalkan mereka kembali. Zionel mendekati Stevani, ia mengecup kening wanita itu dengan lembut.


"Sayang... bangunlah... jangan biarkan aku terus mengkhawatirkanmu. Apakah kejutan yang ingin kau katakan di telepon tadi masalah kehamilanmu? Istriku... katakan sesuatu." pinta Zionel.


Stevani akhirnya mengerjapkan matanya, jarinya bergerak membuat Zionel terkejut.


"Sayang... kau sudah sadar... Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Zionel semakin mendekati istrinya.


Stevani menatapnya dan mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Air matanya seketika mengalir dengan deras. Zionel terkejut dan panik saat wanita itu terisak semakin keras.


"Katakan mana yang sakit sayang, aku akan panggil dokter." ujar Zionel panik.

__ADS_1


Stevani menggelengkan kepalanya sambil menangis, ia berusaha bangun, dengan sigap Zionel membantu istrinya. Pria itu menghapus air mata Stevani.


"Aku memang salah karena terlalu sibuk sampai melupakanmu sayang, tapi jangan menangis. Terima kasih karena kau telah mengandung anakku, anak kita."


"Zio... foto siapa yang ada di dompetmu?" tanya Stevani kembali terisak dan mengabaikan semua ucapan suaminya.


Zionel mengerutkan keningnya. "Ya Tuhan... apa kau cemburu dengan foto itu hingga kau menangis seperti ini sayang?" tanyanya seraya terkekeh geli. "Aku tidak akan menyimpan foto wanita lain, itu foto adikku Haena." imbuhnya.


Stevani justru melepaskan tangisannya membuat Zionel semakin kebingungan. Pria itu segera memeluk istrinya.


"Ada apa Vani? Jangan membuatku bingung seperti ini. Jika ada yang sakit katakan padaku sayang, jika ada yang tidak nyaman katakan atau perutmu bermasalah atau..."


Stevani menggelengkan kepalanya sambil terus terisak. Gadis kecil yang selama ini ia rawat seperti adiknya sendiri adalah adik Zionel yang selama ini menghilang. Zionel melepaskan pelukannya, ia memegang kedua lengannya dengan lembut.


"Lalu apa yang terjadi padamu? Jangan membuatku tersiksa dengan air matamu Vani. Apa kau tidak bahagia karena mengandung anakku?"


"Zaline... hiks... hiks... Zaline..." ucap Stevani terbata bata.


"Zaline? Ia baik baik saja sayang, besok kita akan menyambutnya di bandara. Kau jangan mengkhawatirkannya, aku sudah menghubungi dokter Mark, keadaannya..."


"Zaline itu adikmu Zio." potong Stevani seraya menangis semakin keras.


Zionel terkejut, jantungnya berdegup kencang saat mendengar ucapan Stevani. Pria itu mematung disana sambil mencerna ucapan istrinya.


"Zio... maafkan aku..." ucap Stevani disela isakannya.


"Katakan padaku apa maksudmu Vani. Zaline... aku masih tidak mengerti."


Stevani merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia takut kehilangan Zaline setelah mengetahui kebenarannya. Ia takut Zionel dan keluarganya marah karena selama ini ia yang menyembunyikan keberadaan Haena. Ia takut mereka memisahkannya dengan Zaline.


"Stevani Yunsu... katakan apa yang terjadi? Apa maksud ucapanmu?" ujar Zionel mulai lepas kendali sambil mencengkram lengan Stevani semakin erat.


Stevani meringis. "Zio... kau menyakitiku."


Zionel tersadar seraya melepaskan cengkramannya. Pria itu beranjak dari sana, membalikkan tubuhnya sambil menarik nafas dalam-dalam agar ia bisa lebih tenang.


"Zio... sepertinya Zaline adalah adikmu yang menghilang. Aku jatuh pingsan karena melihat foto yang ada di dompetmu. Aku..."


Suara barang terjatuh terdengar keras di lantai. Stevani dan Zionel melihat ke arah suara. Disanalah Falera dan Nicholas Cruise sedang tercengang. Suara itu berasal dari jatuhnya keranjang buah yang dibawa oleh Falera. Wanita itu akhirnya jatuh pingsan setelah mendengar ucapan Stevani. Suasana pun menjadi tak biasa di ruangan itu.


*****


Cukup membuat jantung kalian anu kanπŸ‘‰πŸ»πŸ‘ˆπŸ»


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2