Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Aku Mau


__ADS_3

"Ya Tuhan... sudah berapa kali kau menangis nona. Apa air matamu seperti mata air yang tak ada habisnya? Atau seperti air keran?" goda Zionel agar wanita itu tertawa.


Dan apa yang ia lakukan benar benar berhasil, Stevani terkekeh sambil mengusap air matanya sendiri.


"Kau benar benar menyebalkan. Aku tidak menangis berkali kali." ucap Stevani disela tangis dan tawanya.


"Ck... kau tak bisa membohongiku. Bukankah kau sudah menangis sebelum kita keluar jalan jalan?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku hanya..."


"Maaf aku terlalu terburu-buru." potong Zionel.


"Sudah lupakan saja Zio." pinta Stevani.


"Kau benar aku harus melupakan hal kemarin. Jadi apa jawabanmu nona?" tanya Zionel.


"Bolehkah aku menolaknya."


"Hah... Apa kau tahu seperti apa harga diriku saat memberanikan diri melamarmu. Jika kau menolaknya sama saja kau membunuhku, lebih baik kau biarkan saja aku kehabisan darah saat tertusuk. Apa kau tak menyukaiku? Apa aku bukan tipe pria yang kau inginkan?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu."


"Lalu kenapa? Bukankah kita akan menikah juga. Aku melakukan ini agar pernikahan yang kita sepakati sebelumnya menjadi pernikahan sungguhan. Apa aku terlalu cepat mengungkapkan isi hatiku padamu?"


"Zio... tidak ada yang salah denganmu. Kau adalah pria yang sempurna, tapi apakah aku benar benar pantas untukmu. Aku bukan wanita dari keluarga terhormat, aku wanita miskin yang bekerja di sebuah bar, pendidikanku... kau sudah tahu itu. Kita bagaikan langit dan bumi. Perbedaan kita sangat jauh, walaupun aku juga mencintaimu tapi..."


Zionel seketika menarik Stevani ke dalam pelukannya untuk menghentikan ucapan wanita itu.


"Kau mencintaiku saja sudah cukup untukku sayang. Tidak ada perbedaan kasta di dalam cinta, tidak ada perbedaan harkat dan martabat di mata Tuhan, tidak ada cinta bersyarat dalam hidupku. Cinta itu satu jiwa yang menghuni dua tubuh. Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup ini yaitu mencintai dan dicintai. Ucapanmu yang terakhir sudah memberikan jawaban atas semua pertanyaanku. Jadi tidak ada alasan lain yang bisa menghentikan kita. Jadilah istriku yang akan menemaniku seumur hidup ini." ujar Zionel.


Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku mau... aku mau menjadi istrimu."


Zionel terbelalak, ia melepaskan pelukannya dan langsung mencium wanita itu. Setelah itu Zionel langsung menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Stevani dan mengecup tangannya.


"Zio..."


"Hm..."


"Kapan kau menyiapkan cincin ini?"


Zionel menyeringai. "Setelah aku menyadari perasaanku padamu, aku langsung membelinya dan selalu aku bawa kemanapun. Sebenarnya semalam aku berniat mengatakannya saat di taman, tapi sialnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


"Kapan kau menyadari perasaanmu?"


"Setelah kita berdebat soal isi kontrak pernikahan itu."


"Kontrak itu..."


"Sebenarnya sejak perdebatan itu aku langsung menemui pengacara untuk membatalkannya sayang, karena aku ingin kontrak kita tidak hanya setahun."


"Jadi hak asuh itu..."


"Mengapa kau masih memikirkannya? Kau akan melahirkan banyak anak untukku, dan tentu saja kau tidak bisa kemanapun. Kontrak kita seumur hidup."

__ADS_1


Stevani justru murung, ia teringat kembali dengan adiknya. Jika Zaline tersadar, apakah adiknya akan menerima keputusan Stevani menikah dengan Zionel. Adiknya pasti akan menyalahkannya karena saat di kota X Zaline pernah mengatakan ingin menjadi pengiring pengantin saat ia menikah.


"Apa yang mengganggumu? Jika kau tidak yakin, aku akan membuat kontrak yang baru untuk pernikahan kita." ujar Zionel lagi.


"Kau bilang cintamu tanpa syarat, tapi kau selalu saja ingin mengajukan kontrak pernikahan." kata Stevani kesal.


Zionel tersenyum. "Seharusnya kau tahu aku melakukan hal ini karena sebenarnya sejak awal aku tidak berniat melepaskanmu. Sayangnya aku terlambat menyadari akan hal itu dan mencari alasan dengan membuat isi kontrak yang tidak masuk akal itu."


"Zio... jika Zaline tahu aku menikah tanpanya, mungkin ia..."


"Kau tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab menjelaskan semua ini padanya. Jangan terus memikirkan hal yang belum terjadi Van. Adikmu akan menjadi adikku juga, jadi kita hadapi masalah nanti bersama. Sekarang fokus dengan kesembuhan kita, karena aku sama sekali tidak berniat mengundur pernikahan kita. Jika kau tetap tak bisa berjalan, maka bersiaplah aku menggendongmu menuju altar."


"Kau juga masih terluka, mana mungkin bisa mengangkat tubuhku."


"Kau ingin bukti? Bahkan aku bisa melakukannya sekarang."


"Jangan keras kepala Zio, lukamu benar benar serius."


Zionel turun dari ranjangnya membuat Stevani terkejut.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Stevani.


Zionel memindahkan infusnya ke samping ranjang Stevani. "Bisakah kau menggeser tubuhmu sedikit?"


"Hah..." Tapi walaupun terkejut, Stevani tetap menggeser tubuhnya.


Seketika Zionel naik ke atas ranjang Stevani.


"Tidur... aku lelah." jawab Zionel lalu membaringkan tubuhnya di samping Stevani.


"Zio..."


Zionel menarik Stevani hingga wanita itu ikut berbaring.


"Zio..."


"Diamlah... biarkan aku tidur." ujar Zionel sambil memeluk Stevani.


"Tapi..." Stevani menghentikan ucapannya saat melihat Zionel benar benar memejamkan matanya.


"Bagaimana jika dokter, perawat atau keluarganya datang? Bukankah ini pose yang memalukan. Ya Tuhan... ia benar benar tidak bisa ditolak." pikir Stevani.


"Jangan banyak bergerak sayang, aku bisa berbuat lebih dari ini jika kau membangunkan sesuatu." gumam Zionel tanpa membuka matanya.


"Aku kira setelah tertusuk kau tidak menjadi pria mes*m, ternyata semakin parah." jawab Stevani.


Zionel hanya tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. Pria itu perlahan lahan terlelap di pelukan Stevani.


*****


Di luar ruangan, Alex mendapatkan telepon dari pihak kepolisian. Pria itu terus mengangguk anggukkan kepalanya saat menerima panggilan tersebut.


"Terima kasih pak." ujar Alex di akhir percakapannya.

__ADS_1


Roxy mendekati Alex dan langsung bertanya pada pria itu.


"Hasil rekaman cctv sudah ada, pelaku sudah teridentifikasi. Pihak kepolisian sedang bergerak mengejar pelaku." kata Alex.


"Wow... keren... kerja mereka cepat sekali." jawab Roxy.


"Pelaku termasuk bodoh, ia melakukannya di tempat umum yang penuh cctv. Aku harus memberitahu pak Zio, tapi..."


"Apa pak Alex berpikiran sama denganku, di dalam mungkin saja mereka sedang..."


"Apa yang kau pikirkan anak kecil? Kemungkinan mereka sedang beristirahat, itu maksudku."


"Bang Zio terlihat berbeda di depan kakak ipar, sebenarnya apa yang dilakukan kakak ipar sampai abang tergila gila seperti itu?"


"Ada seseorang yang mengatakan padaku jika terlalu banyak ingin tahu akan memperpendek umur. Jadi lebih baik kau diam daripada masa mudamu semakin berkurang." ujar Alex.


Roxy bergidik. "Mengerikan sekali ucapan itu, sepertinya aku tahu siapa yang mengatakan hal sekejam itu."


Alex melepaskan tawanya. "Sudahlah, lebih baik kita tunggu beberapa jam lagi sebelum masuk ke dalam. Biarkan mereka beristirahat terlebih dahulu."


"Ck... mengapa aku merasa sekarang justru menjadi penjaga pintu."


"Memang itulah yang kita lakukan sekarang. Menurut saja daripada kartu kreditmu dihentikan." jawab Alex.


"Dan bonus anda dipotong dan disumbangkan untuk donasi." ejek Roxy.


Seketika Alex mengumpat, kali ini Roxy yang melepaskan tawanya.


"Pak Alex... aku dengar kakak ipar punya adik. Dimana ia sekarang? Jika adiknya secantik kakak ipar, mungkin saja ada kesempatan aku..."


"Mimpi saja Roxy. Mana mungkin pak Zio mengizinkanmu mendekati adik iparnya." potong Alex.


"Tapi kenapa?"


"Karena kau pria manja yang masih mengandalkan kartu kredit dari abangmu."


"Ciiiih... bukankah hal yang wajar aku mengandalkan keluargaku. Lagian uang abang tidak akan habis untuk membayar tagihannya."


"Ckckck... kau akan mengerti setelah dewasa nanti."


"Pak Alex... aku sudah dewasa. Aku bahkan sekarang bertugas untuk menjaga kakak ipar. Bukankah artinya bang Zio sudah menganggapku dewasa?"


Alex menyenderkan tubuhnya ke dinding lalu memejamkan matanya. "Biarkan aku tidur sebentar, jangan banyak bicara Roxy. Kau membuatku semakin pusing saja." gumamnya.


"Aku bikin pusing? Haisssss... sudahlah... lebih baik aku keluar cari makanan dulu. Pak Alex selamat menjaga kedua pengantin." ejek Roxy.


Alex membuka matanya. "Sialan..." umpatnya.


Roxy kembali tertawa, ia pun meninggalkan Alex sendirian di depan pintu ruang perawatan Zionel dan Stevani.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2