Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Stevani terus terdiam. Alex memperhatikan wanita itu dari kaca spion.


"Ehm... nona... mengapa sangat murung?" tanya Alex.


"Tidak ada Zio disini Lex, panggil aku Vani saja. Aku merasa jauh jika kau memanggilku nona dan aku memanggilmu pak. Aku tidak memiliki teman disini. Jujur saja, aku sangat kesepian." ujar Stevani.


"Maaf... Tapi kau kan tahu temperamen pak Zio. Ia sangat cemburu jika kau dekat dengan pria lain, walaupun itu aku."


"Omong kosong... Zio bukannya cemburu tapi arogan."


"Ckckck... Aku yakin dengan ucapanku Van. Zio diam diam menyukaimu."


Stevani tertawa. "Leluconmu itu tidak lucu, tidak ada perasaan diantara kami. Kami hanya bertukar bantuan."


Alex menghela nafasnya, ia sangat yakin jika Zionel benar benar menyukai Stevani, namun wanita yang ada di belakangnya tidak mempercayainya.


"Apa kau sedang memikirkan masalah hari ini?" tanya Alex.


"Aku sangat takut, aku yakin mereka menyalahkan aku karena kejadian ini."


"Kau tidak perlu takut. Pak Zio akan melindungimu, ia tidak akan membiarkanmu disakiti siapapun termasuk keluarganya sendiri. Aku sudah belasan tahun bersamanya, aku sangat tahu sikapnya itu. Orang yang berada dibawah perlindungannya, sampai kapanpun akan terus dilindungi."


"Pertemuan kemarin baik baik saja, mereka menyambutku dengan ramah. Tetapi mengapa pagi ini seketika berubah?"


"Apa pak Zio tidak menceritakannya padamu jika ia berdebat dengan kedua orang tuanya soal pernikahan kalian?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Hanya saja aku sudah bisa menebaknya, sebelum kami pulang, ibunya sempat berbicara denganku soal pernikahan tapi Zio langsung memotong pembicaraan kami."


"Keluarga Cruise bukan keluarga sembarangan, mereka memiliki standar yang tinggi. Walaupun kau menggunakan identitas baru, mereka tidak akan langsung mempercayainya. Dan aku yakin pak Presdir sudah mulai bertindak untuk menyelidiki asal usulmu. Sementara menunggu informasi yang akurat, bu Presdir berusaha mengubah pendirian pak Zio. Ia sangat menyukai nona Varisa." ujar Alex.


"Sebenarnya aku lebih mendukung wanita itu. Ia sangat cantik dan keluarganya tentu saja sebanding dengan keluarga Cruise. Zio sangat aneh justru lebih memilih menikah kontrak dengan wanita sepertiku." kata Stevani.


Alex justru tertawa mendengarnya. "Mengapa kau tidak memiliki kepercayaan diri Van? Kau tak kalah cantik terlepas dari masalah keluargamu. Dan satu hal lagi, kau berhasil menarik perhatian pak Zio. Percayalah padaku, pernikahan yang diinginkan pak Zio ini bukan sekedar meminta bantuan padamu."


"Aku tahu, ia hanya ingin bertanggung jawab."


"Aku sulit mengatakannya padamu jika kau tidak percaya dengan penilaianku karena kau merasa rendah diri."


"Apa tante Falera akan baik baik saja?" tanya Stevani.


"Percayalah... bu Presdir sangat sehat." jawab Alex.


"Apa benar kejadian ini pernah terjadi?"


Alex kembali tertawa sambil menganggukkan kepalanya.


"Ceritanya sangat panjang, yang jelas kau harus percaya pada pak Zio jika ia sudah mengatakannya." kata Alex.


"Apakah harus sampai seperti itu untuk mendapatkan simpati putranya sendiri. Bukankah justru terlihat aneh untuk wanita sekelas tante Falera."


"Bukankah beberapa hari ini kau sudah tahu bagaimana kerasnya sifat pak Zio. Hanya dengan cara aneh bisa meluluhkannya. Namun aku rasa kali ini pak Zio tidak akan tertipu. Buktinya ia tetap menyuruhku menjemputmu menuju butik baju pengantin."


"Apa Zio yakin akan tetap melakukannya walaupun tanpa restu orang tuanya?"

__ADS_1


"Dengan sifatnya, aku rasa iya." jawab Alex.


Alex menghentikan mobilnya tepat di sebuah gedung bridal.


"Kita sudah sampai, kau masuk dan katakan pada pelayan butik kau kekasih Zionel dan ingin menemui Seira. Mereka pasti mengerti dan membawamu menemui wanita itu." ujar Alex.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Stevani.


"Apa kau ingin aku menemanimu memilih gaun pengantin dan membuat pak Zio murka lalu memecatku?"


"Oh ya Tuhan... baiklah... Terima kasih Lex dan hati hatilah di jalan." jawab Stevani seraya keluar dari mobilnya.


Alex tersenyum, ia membuka kaca jendela mobilnya. "Kau punya nomor ponselku, jika membutuhkan sesuatu namun tak berani memintanya pada pak Zio, kau bisa diam diam menghubungiku."


"Terima kasih." jawab Stevani seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik.


*****


Benar saja, setelah ia menemui pelayan butik. Ia langsung dibawa ke lantai dua untuk menemui Seira, wanita itu adalah manager butik tersebut.


Stevani terkejut saat melihat beberapa gaun pengantin yang sudah disiapkan untuknya.


"Silahkan nona mencobanya, ini semua desain terbaik bridal kami. Dan semua ini sudah dipesan oleh tuan Zionel Cruise." ujar Seira.


"Apa aku bisa menunggu Zio datang saja?" tanya Stevani.


"Anda bisa mencobanya terlebih dahulu lalu memilih gaun yang paling anda sukai nona."


Stevani mengikuti pelayan butik ke ruang ganti, setiap ia memakai satu gaun itu, pelayan butik tersebut mengabadikannya dengan tablet yang ia pegang.


"Dan ini gaun terakhir nona." ujar Seira.


"Tak bisakah disudahi saja, aku sudah mencoba setidaknya 10 gaun. Dan semuanya sangat indah." jawab Stevani.


"Gaun yang terakhir ini adalah gaun pilihan pak Zio yang paling terbaik. Nona harus mencobanya. Aku janji ini gaun yang terakhir."


Stevani menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya. Ia pun kembali mengikuti pelayan butik berganti gaun. Kali ini setelah ia memakai gaunnya, ia juga didandani layaknya seorang pengantin. Jadi cukup memakan waktu melakukannya.


Setelah semuanya siap, tirai pun kembali terbuka. Namun kali ini Stevani terbelalak saat dihadapannya sudah ada Zionel sedang berdiri menatapnya dengan tercengang. Pria itu menatapnya tanpa berkedip sama sekali.


"Tuan Zio, bagaimana yang terakhir ini?" tanya Seira.


Zionel bergeming, ia tetap terpaku pada Stevani.


"Ya Tuhan... ia cantik sekali. Apakah ini wanita keras kepala yang biasa bersamaku?" pikir Zionel.


"Tuan Zio..." panggil Seira lagi.


"Ah iya... Mengapa semua foto yang kalian kirimkan padaku tidak ada satupun yang terlihat jelek?" tanya Zionel tanpa mengalihkan tatapannya dari Stevani.


"Itu karena calon istri anda sangat cantik tuan, ia cocok dengan gaun gaun pengantin itu." jawab Seira.


Wajah Stevani seketika memerah karena mendengar ucapan mereka. Zionel mendekati Stevani.

__ADS_1


"Sangat cantik." ujar Zionel membuat Stevani kembali malu.


"Bukankah ini berlebihan, kau menyuruh mereka agar aku mencoba banyak gaun." jawab Stevani.


"Aku tak tahu yang mana gaun yang kau sukai, tapi ini yang terbaik. Aku harap kau memilihnya." ujar Zionel.


Stevani mendekati telinga Zionel. "Ini sangat mahal, kau tidak perlu..."


"Seira... aku ingin gaun yang terakhir ini." Zionel seketika memotong ucapan Stevani. "Tambahkan beberapa mutiara di bagian dadanya agar semakin terlihat cantik." imbuhnya.


"Baik tuan." jawab Seira.


"Tapi Zio..."


"Tidak ada kata tapi sayang, aku menyukainya." potong Zionel lagi.


"Sayang... berani sekali kau memanggilku seperti itu di depan mereka." pikir Stevani.


"Tuan Zio, sudah saatnya anda mencoba toksedonya." ujar Seira.


"Baiklah..." jawab Zionel. "Nona, abadikan satu gaun ini lagi lalu biarkan ia mengganti pakaiannya." perintah Zionel pada pelayan yang lain.


"Baik tuan." jawab pelayan butik.


"Jadi foto foto itu untuknya, apa yang ia ingin lakukan dengan foto foto itu?" pikir Stevani.


"Nona... nona..." panggil pelayan butik membuyarkan lamunan Stevani.


"Ah iya... silahkan ke ruang ganti lagi."


Stevani menganggukkan kepalanya lalu kembali mengikuti pelayan butik. Setelah ia selesai mengganti pakaiannya, ia pun menunggu Zionel mencoba toksedonya.


Beberapa menit kemudian...


Zionel keluar dari ruang ganti, pria itu melangkahkan kakinya mendekati Stevani. Stevani terbelalak saat melihat pria itu yang terlihat sangat tampan mendekatinya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Zionel.


Stevani terpaku dengan tubuh pria itu, ia terus menatap Zionel dengan terpaku. Zionel merundukkan tubuhnya semakin mendekati wajah Stevani.


"Apa aku terlihat sangat tampan?" goda Zionel.


Seketika Stevani menjauhkan wajahnya. "Kau percaya diri sekali tuan."


"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Zionel lagi.


Stevani hanya menganggukkan kepalanya, ia tak ingin membuat Zionel semakin tinggi hati.


*****


Happy Reading All...


Next...

__ADS_1


__ADS_2