
Alex berbicara dengan Zaline soal kondisi perusahaan jika rapat pemegang saham besok dimenangkan oleh Gilbran setelah Zionel meninggalkan mereka.
"Aku tidak ingin perusahaan kakek jatuh di tangan pria seperti itu pak Alex. Aku harus menyelematkan daddy dan bang Zio." ucap Zaline.
"Nona Zaline, mengapa pemikiranmu lebih dewasa dari usiamu?"
"Pengalaman hidup bersama kak Vani mengajarkan segalanya. Aku benar benar menjadi dewasa saat bersamanya. Kak Vani adalah cerminan pribadi yang luar biasa untukku."
"Beruntung sekali kau bertemu dengannya. Saat aku bertemu dengannya, aku bisa melihat prinsip hidupnya yang kuat. Ia benar benar wanita yang luar biasa."
"Jangan berharap untuk menyukai kak Vani. Bang Zio tidak akan melepaskannya." ujar Zaline sambil tertawa.
Alex ikut tertawa. "Mana mungkin aku bisa bersaing dengan abangmu. Tapi apa abangmu cerita bagaimana ia memperlakukan nona Vani saat pertama kali bertemu?"
Zaline menggelengkan kepalanya. "Jadi seperti apa?"
"Acuh tak acuh, tapi ia terus menganggu wanita itu. Itu pertama kalinya aku melihat abangmu melakukan itu pada seorang wanita, sebelumnya jika ia didekati seorang wanita ia akan menolaknya dengan tegas. Sejak saat itu aku sudah bertaruh dengan diriku sendiri jika ia menyukainya."
"Bertaruh dengan diri sendiri, bagaimana ceritanya? Dasar pak Alex aneh." ejek Zaline.
"Aku serius, aku bertaruh jika abangmu tidak menyukai nona Stevani maka aku akan mengganti namaku dengan Alexa."
Seketika Zaline melepaskan tawanya mendengar ucapan Alex. Ia membayangkan seperti apa jika Alex benar benar menjadi Alexa.
"Ya Tuhan konyol sekali." ucap Zaline.
"Aku berani bertaruh karena aku sudah yakin dengan jawabannya. Jadi aku tidak akan kalah."
"Anda sama sekali tidak berubah pak Alex, anda selalu percaya diri dalam bertindak."
"Tentu saja." jawab Alex dengan bangga.
"Ceritakan bagaimana bang Zio dan keluargaku setelah tahu aku menghilang?" tanya Zaline.
"Sangat kacau..."
Alex mulai menceritakan semuanya pada Zaline. Bagaimana Zionel dan kedua orang tuanya mati matian mencari keberadaannya. Namun saat Alex mengatakan Zionel keluar dari rumah besar Cruise membuat gadis kecil itu sangat terkejut. Seketika Zaline tak bisa menahan air matanya saat mendengar penderitaan yang dialami kakaknya saat kehilangannya. Bahkan mimpi buruk yang dialami Zionel benar benar menyiksa pria itu.
__ADS_1
"Aku bersalah pada semuanya." ucap Zaline sambil terisak.
"Ya Tuhan nona, jangan menangis. Aku bisa dipecat oleh abangmu karena membuatmu menangis." pinta Alex.
"Lalu bagaimana kondisi abang setelah bertemu kak Vani?"
"Aku tak pernah lagi mendengarnya bermimpi buruk, bahkan aku melihatnya sangat bahagia walaupun masih terus berusaha mencarimu. Jalan cinta mereka juga tidak mudah, banyak kesalahpahaman terjadi. Nona Zaline, ada satu kejadian yang nyaris membuat abangmu kehilangan nyawanya."
"Hah... apa maksud pak Alex?"
"Setelah bu Presdir mengatur beberapa kencan buta untuk pak Zio. Bu Presdir sangat ingin nona Varisa menjadi istri pak Zio. Namun pak Zio sudah jatuh cinta pada nona Stevani dan perjodohan itu tentu saja ditolaknya. Tindakan itu ternyata membuat wanita itu tidak terima, setelah tahu pak Zio bersama nona Stevani, ia justru bekerjasama dengan nona Cecil untuk membunuh nona Stevani. Tapi pisau itu justru menusuk perut pak Zio."
"Kak Cecil? Maksud pak Alex sepupuku putri dari tante Nile?"
Alex menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mereka semua ternyata orang orang jahat yang selalu menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan sesuatu. Terima kasih Tuhan karena Kau sudah melindungi kak Vani dan bang Zio." kata Zaline.
"Kau benar, mereka sudah diluar batas. Tapi Tuhan menyayangi keluarga kalian. Pak Zio dan nona Stevani bisa melewati ini satu per satu. Jika saja pisau itu benar benar menusuk nona Stevani, maka mereka berhasil membunuh dua orang sekaligus."
Alex mengangguk. "Nona Stevani saat itu sudah mengandung anak pak Zio."
"Hah? Walaupun aku tidak terlalu paham soal kehamilan. Tapi bukankah mereka baru saja menikah, bagaimana... sebenarnya apa yang terjadi pada mereka saat aku tidak sadarkan diri pak Alex?"
Alex menelan saliva nya, ia tak sengaja mengungkapkan masalah itu pada Zaline. Melihat dari wajah gadis kecil itu yang terkejut, artinya Zionel belum menceritakan semuanya.
"Maaf nona Zaline, aku tidak bisa mengatakannya. Kau bisa bertanya langsung pada pak Zio dan nona Stevani."
"Mengapa kalian terus saja menghindari pertanyaanku ini. Apakah pertemuan mereka ada hubungannya denganku? Apa aku melakukan kesalahan pada kak Vani? Katakan pak Alex, apa yang sebenarnya terjadi? Aku benar-benar penasaran."
"Maaf nona Zaline."
"Aku pemegang saham terbesar di perusahaan Cruise, jadi aku tidak akan membiarkan pak Alex dipecat oleh bang Zio. Katakan apa yang terjadi pada mereka?"
Alex menghela nafas panjang, ia mengangguk dan mulai menceritakan semuanya pada Zaline. Gadis kecil itu kembali tak bisa menahan air matanya saat mendengar penderitaan Stevani yang berusaha mencari uang untuk biaya operasi jantungnya.
Zaline menggertakkan giginya menahan amarah ketika tahu Stevani dinodai Zionel.
__ADS_1
"Abang Zio... aku akan menghukumnya." ujar Zaline geram.
"Jangan menyalakan pak Zio, tapi seharusnya kau mengambil hikmah dari kejadian ini. Pak Zio sama sekali tidak lepas tanggung jawab, setelah kejadian malam itu, ia terus berusaha mengikat nona Stevani. Walaupun alasannya masih tidak masuk akal, tapi sebenarnya aku tahu jika pak Zio sudah jatuh cinta pada nona Stevani."
"Bang Zio sangat keras kepala. Kak Vani pasti sangat menderita saat tahu kesucian yang ia jaga selama ini dinodai oleh pria yang tidak ia kenal. Walaupun mereka sekarang saling mencintai, tapi aku akan tetap memberikan hukuman pada bang Zio. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sampai berbuat hal seperti itu."
Alex terkekeh, ia benar benar terkejut dengan pemikiran Zaline. Di usianya yang masih belia, ucapan dan tindakannya seperti sudah sangat dewasa.
"Apa yang lucu?" tanya Zaline membuat Alex seketika menghentikan tawanya.
"Nona Zaline, kau benar benar lebih dewasa dari usiamu. Sepertinya pak Zio tidak bisa diselamatkan lagi." jawab Alex.
"Biar tahu rasa, salah sendiri berani menyakiti kak Vani."
"Pak Zio melakukan itu karena menyukai nona Stevani."
"Ia berlebihan. Ia harus tetap dihukum."
"Baiklah, aku setuju saja dengan pendapatmu. Tapi hukuman apa yang akan kau berikan pada pak Zio?"
Zaline menyunggingkan senyumnya. "Hukuman yang akan membuatnya menggila. Apa pak Alex tidak bisa menebak apa yang ingin kulakukan?"
Alex mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Zaline. "Jangan bilang kau ingin memisahkan nona Stevani dengan pak Zio."
"Anda benar benar cerdas, aku akan memisahkan mereka beberapa hari. Itulah hukuman yang paling berat untuk bang Zio."
Seketika Alex melepaskan tawanya membuat Zaline ikut tertawa.
"Ya Tuhan... ide yang brilian nona manis. Aku tak sabar melihat ekspresi wajahnya." ujar Alex disela tawanya.
"Sepertinya anda memiliki dendam terpendam pak Alex." kata Zaline.
Alex kembali tertawa mendengar ucapan Zaline. Bukan dendam bagi Alex, tapi lebih pada hiburan untuknya saat melihat wajah Zionel kesal. Walaupun ia akan menjadi sasaran utama kemarahan pria itu, tapi setidaknya ia bisa melihat Zionel seperti kebakaran jenggot dalam beberapa hari. Alex benar benar sangat menantikan hukuman Zaline untuk kakaknya.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1