
Bu Yoyoh menghela nafas panjang. Ia lega mendengar ucapan Zionel. Pria di sampingnya terlihat ragu namun ucapannya terdengar sangat tulus.
"Syukurlah... ibu harap tuan bisa menjaga neng Vani juga neng Zaline. Ibu mohon jangan membuat mereka hidup sengsara lagi tuan. Ibu lega bisa menyerahkan mereka pada tuan Zio. Hanya itu yang ingin ibu bicarakan. Ibu sudah dua hari tidak pulang ke rumah, karena neng Zaline juga tidak bisa dijenguk. Bisakah bu Yoyoh menitipkan neng Vani?" pintanya.
"Baiklah, aku akan mengantarkannya pulang jika keadaannya sudah lebih baik. Bu Yoyoh pulanglah dengan asistenku." jawab Zionel.
Bu Yoyoh menggelengkan kepalanya. "Terima kasih banyak tuan, tapi tak perlu repot-repot. Ibu bisa pulang dengan ojek."
"Jangan menolaknya bu, ini sebagai ucapan terima kasihku karena sudah menjaga mereka."
"Ada apa dengan mulutku ini? Mengapa aku mengatakan hal hal yang ada di luar pikiranku. Sejak kapan aku ingin terlibat lebih dalam dengan kehidupan orang lain. Oh ya Tuhan, sepertinya Stevani sudah merasukiku." Zionel terus berdebat dengan dirinya sendiri.
Zionel beranjak dari tempat duduknya, begitu juga dengan bu Yoyoh. Keduanya menghampiri Alex lagi.
"Lex... Antarkan bu Yoyoh pulang, aku akan menunggumu disini." pinta Zionel.
Alex terkejut tapi ia segera menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi terima kasih banyak tuan Zio." kata bu Yoyoh.
"Sama sama bu." jawab Zionel lalu mendekati Alex. "Buatkan surat perjanjian nikahku Lex, kau pasti tahu apa saja yang aku inginkan dalam surat itu. Bawakan suratnya setelah mengantar bu Yoyoh pulang." bisik Zionel.
Alex mengangguk, ia pun membawa bu Yoyoh pulang ke rumahnya sedangkan Zionel kembali masuk ke dalam ruang perawatan Stevani.
*****
Cukup lama Zionel duduk di samping Stevani sambil menatap wanita itu.
"Apa aku pernah berhutang budi padamu di kehidupan sebelumnya? Mengapa aku tiba-tiba terlibat denganmu, bahkan aku terus berperang dengan diriku sendiri. Egoku hanya ingin melakukan tanggung jawab atas perbuatanku, tapi hatiku mengatakan harus membantumu sampai akhir. Sebenarnya apa yang diinginkan Tuhan saat ini, mengapa sejak pertemuan pertama kita, aku selalu ingin tahu kehidupanmu. Aku tidak akan mundur lagi sekarang, jika kau menyetujui pernikahan kontrak ini, maka aku akan segera membawamu ke kota D untuk menemui daddy dan mommy." pikir Zionel.
Stevani mengerjapkan matanya lalu terbangun, ia terkejut saat melihat Zionel berada di sampingnya sedang menatapnya.
"Apa tidurmu sangat nyenyak nona?" tanya Zionel.
"Mengapa anda masih disini?"
__ADS_1
"Lalu aku harus berada dimana?"
"Dimana bu Yoyoh?"
"Ia sudah pulang, ia menyerahkanmu padaku."
"Apa maksud anda dengan kata menyerahkan?"
Zionel menyeringai, ia senang berdebat dengan wanita itu. "Ia seperti ibumu kan? Ia sudah menyetujui pernikahan kita."
"Apa aku sudah mengatakan iya?"
"Harus... hanya itu pilihanmu saat ini. Pikirkanlah adikmu yang butuh perawatan lebih baik. Kau tak mungkin menyia-nyiakan operasi yang sudah ia jalani kan? Aku membantumu dan kau membantuku, bukankah itu adil." kata Zionel tegas.
"Kau belum menyetujui 3 syaratku tuan Zio. Aku tidak mau menikah denganmu tanpa syarat itu."
"Bukan belum tapi TIDAK." tegas Zionel. "3 syaratmu itu tidak mungkin." imbuhnya.
"Mengapa tidak mungkin? Aku tak ingin disentuh, aku ingin tetap bekerja dan kita tak perlu ikut campur urusan masing-masing."
"Baiklah untuk syarat yang pertama dan ketiga, tapi tidak lagi untuk bekerja. Aku Zionel Cruise pengusaha kaya raya, bagaimana aku bisa membiarkan istriku mencari uang sendiri. Tidak ada tawar menawar lagi, setelah kau menyetujuinya kita akan segera terbang ke kota D. Semuanya biarkan asisten dan pengacara Cruise yang akan mengurusnya." jawab Zionel tanpa bisa dibantah lagi.
"Zaline, maafkan kakak. Ini semua demi kesembuhanmu. Setidaknya pria ini lebih baik dari mas Dani." pikir Stevani.
"Aku tak perlu dilindungi, tapi aku mohon lindungi adikku setelah aku menyetujuinya. Zaline segalanya untukku, jika anda bisa melindunginya dengan baik, aku bisa tenang. Dan satu lagi, aku mohon rahasia pernikahan kontrak ini dari adikku." pinta Stevani.
Zionel tersenyum penuh kemenangan. "Tentu saja, setelah kau menyetujuinya kau dan semua yang berkaitan denganmu akan aku lindungi dari siapapun. Kau tak perlu khawatir soal adikmu juga. Karena kau banyak permintaan, aku juga meminta satu hal padamu. Jangan panggil aku dengan formal lagi, panggil aku Zio."
Stevani menarik nafas dalam-dalam lalu menganggukkan kepalanya. "Kita lakukan." ujarnya seraya mengulurkan tangannya.
Zionel mengembangkan senyumnya lebih lebar lalu menyambut uluran tangan Stevani. "Deal."
"Setelah masalah perjodohan yang selalu menggangguku ini selesai, aku akan fokus kembali mencari keberadaanmu Haena." pikir Zionel.
"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Zionel.
__ADS_1
"Aku akan menjawabnya jika perlu aku jawab." ujar Stevani datar.
"Bu Yoyoh bilang kau sebelumnya hidup sendirian setelah orang tuamu tiada. Lalu mengapa kau memiliki seorang adik?"
"Mengapa kau ingin tahu?"
"Kau akan menjadi istriku selama satu tahun, tentu saja aku harus tahu semua tentangmu. Setidaknya aku bisa mencari alasan untuk kedua orang tuaku."
"Bu Yoyoh tak mengetahui semuanya tentangku, Zaline memang adikku. Apa anda mulai khawatir tentang keluarga anda karena anda menikahi wanita sepertiku?" tanya Stevani.
"Aku bilang panggil aku Zio, berhentilah bersikap formal padaku. Aku tak perduli pendapat keluargaku tentangmu, tapi aku juga harus melindungimu selama kau bekerja sama denganku. Untuk berbagai alasan, aku akan memberikan identitas baru untukmu." jawab Zionel.
"Identitas baru? Apa maksudmu?"
"Namamu tidak akan berubah, tapi pendidikan, asal dan juga orang tuamu akan aku palsukan. Kau harus mengingat semuanya sebelum ke kota D. Bersikaplah seperti wanita terhormat di depan keluargaku untuk melindungi dirimu sendiri dan juga adikmu."
"Tidak... itu sama saja memberitahu Zaline jika pernikahan ini palsu. Aku tidak ingin adikku terkejut dan membuatnya..."
"Adikmu akan mengerti setelah ia sadar dan sehat kembali. Ia akan tahu mengapa kau memalsukan identitas aslimu." sergah Zionel.
"Tidak... aku bilang tidak. Selama ini aku menyukai hidupku, aku tak ingin menjadi orang lain Zio. Aku ingin menjadi Stevani apa adanya." kata Stevani keras kepala.
Zionel menghela nafas panjang, percuma ia terus berdebat dengan wanita di depannya. Wanita itu benar benar keras kepala, sangat sulit dihadapi.
"Ini demi kebaikanmu juga adikmu, tapi jika kau siap menerima konsekuensi dari apa adanya dirimu, maka aku akan menyerah. Pikirkanlah matang matang Vani. Aku akan mengurus kepulanganmu dan bertanya prosedur pemindahan adikmu pada dokter yang menanganinya. Aku tak ingin menunda lebih lama lagi kepulanganku ke kota D dan mendengar rengekan mommy soal perjodohan lagi. Ia harus menyerah karena aku akan menikahi kekasih pilihanku."
Zionel beranjak dari tempat duduknya, ia keluar dari ruangan lagi untuk mengurus semuanya. Stevani hanya bisa tercengang dengan apa yang ia dengar dari mulut pria itu. Pria itu benar benar bisa mengintimidasi seseorang hingga tak bisa berkata apa apa lagi. Ia berharap pilihannya saat ini akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk kehidupannya bersama Zaline.
*****
Happy Reading All...
See you next time...
Bersambung...
__ADS_1