Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Tidur Satu Ranjang


__ADS_3

Stevani bergeming, ia memang sudah terlambat untuk mundur dari semua ini. Tapi dengan status yang palsu seperti itu, ia justru takut akan mempermalukan Zionel di depan keluarganya.


"Tidurlah... sudah waktunya kau beristirahat. Aku tak ingin memaksamu lagi, semua pilihan ada padamu Stevani." sambung Zionel.


"Maaf... aku terlalu banyak berpikir. Ini terlalu mendadak buatku."


"Aku tahu itu. Tapi hanya kau yang bisa membantuku saat ini. Kita sama sama saling membantu, tidak ada yang dirugikan."


"Kau benar, selamat malam." jawab Stevani seraya membalikkan tubuhnya.


Wanita itu ingin melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Tapi sial baginya, kaki Stevani tersandung karpet dan ia jatuh tepat di pangkuan Zionel.


"Ah...!!!" teriak Stevani.


Seketika Zionel menangkap tubuhnya, keduanya sama sama terkejut. Mereka saling bertatapan. Zionel terpaku pada bibir wanita itu. Nafas mereka sama sama memburu karena jantung yang berpacu tidak beraturan. Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu. Zionel lah yang tersadar lebih dulu.


"Ehm... kau tidak apa apa?" tanya Zionel.


Seketika Stevani bangun, wajahnya memerah dan ia begitu terlihat canggung.


"Aku... tidak apa apa." jawab Stevani seraya berlari menuju kamar.


Zionel terkekeh melihatnya. "Gadis bodoh..." gumamnya.


Stevani langsung menyembunyikan dirinya ke dalam selimut. Ia terus mengumpat di dalam hati.


"Sungguh memalukan, ya Tuhan... apa aku sudah gila? Mengapa aku terjatuh di pangkuannya dan tidak segera bangun?" pikir Stevani.


Stevani terus menyembunyikan dirinya karena sangat malu. Zionel melihatnya sekilas lalu menggeleng, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Benar saja, kakinya harus ia tekuk sedikit karena sofa itu lebih pendek dari ukuran tubuhnya.


"Sepertinya aku harus membeli sofa baru." pikir Zionel.


Keduanya sama sama berkutat dengan pikiran masing masing, sampai akhirnya keduanya pun tertidur.


*****


Antara nyata dan mimpi, itulah yang dirasakan Stevani saat dipeluk oleh seseorang dari belakang. Ia merasa nyaman seperti sedang di peluk oleh Zaline seperti kebiasaannya setiap tidur di kontrakannya.


Kehangatan itu semakin terasa saat orang yang memeluknya dari belakang semakin erat.


"Zaline... kakak hampir tak bisa bernafas." gumam Stevani masih memejamkan matanya.


Alih alih dilepaskan, justru ia semakin di peluk. Nafas orang yang di belakangnya semakin terasa di belakang leher Stevani. Wanita itu mengerjapkan matanya, kesadarannya berangsur angsur pulih. Matanya terbuka lebar saat mengingat semuanya. Adiknya masih di rumah sakit di kota X.


Stevani melihat tangan besar dan kokoh yang melingkar di perutnya. Dengan ragu ia menolehkan kepalanya perlahan.


"Aaaaaaaaaaa......!!!!"


Teriakan Stevani tentu saja membuat Zionel terkejut lalu duduk di atas ranjang. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang linglung.


"Ada apa?" tanya Zionel tanpa sadar.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan???" teriak Stevani lalu turun dari ranjangnya sambil melipat tangannya di dada.


Zionel akhirnya tersadar, ia menggaruk kepalanya dengan bodoh. "Aku kedinginan, jadi..."


"Apa kau sudah gila?" celetuk Stevani kesal.


"Oh ayolah... aku tidak melakukan apa apa, aku hanya mencari tempat tidur yang lebih hangat."


"Tapi kau tadi... Sudahlah... kau tidur saja di ranjang, biar aku yang tidur di sofa." kata Stevani seraya melangkahkan kakinya menuju sofa sambil membawa selimutnya.


"Tunggu Van..." ujar Zionel hingga membuat Stevani menghentikan langkahnya. "Kita bisa berbagi tempat tidur, aku janji tidak akan menyentuhmu. Kita akan membatasi tempat tidur ini dengan guling." imbuhnya.


"Tidak apa apa, aku bisa..."


"Disana sangat dingin, kau bisa sakit." potong Zionel. "Tolong percaya padaku kali ini." imbuhnya lagi.


Stevani menghela nafas panjang. Ia lelah berdebat di tengah malam seperti ini.


"Baiklah... jika kau melewati batas lagi, aku akan keluar dari sini." ancam Stevani.


Zionel mengangkat kedua jarinya, ia segera mengatur tempat tidur sedemikian rupa sehingga ada batasan disana.


"Sudah selesai, tidurlah..." pinta Zionel.


Dengan ragu Stevani naik lagi di atas ranjangnya. Keduanya kembali merebahkan tubuh mereka saling membelakangi.


"Kita bahkan pernah melakukannya berkali kali, aku masih ingat setiap senti tubuhmu. Malam itu kita sama sama menikmatinya, tapi saat kau penuh kesadaran, kau tidak terjangkau Stevani. Aku bahkan tanpa sadar naik ke ranjang ini dan memelukmu, apa aku benar benar menginginkanmu?" pikir Zionel.


Keduanya kembali terhanyut dalam pikiran pikiran mereka. Perlahan lahan, keduanya tertidur dengan lelap hingga menjelang pagi.


*****


Keesokan harinya...


Zionel terbangun dari tidurnya, ia menatap ranjang yang sudah kosong dan mendengarkan suara dentingan alat alat memasak di dapurnya. Pria itu turun dari ranjangnya dan mendekati asal suara itu. Ia terbelalak saat melihat Stevani yang sedang berkutat di dapur. Wanita itu sudah rapi dan rambutnya diikat ke atas.


Glekkk...


Zionel menelan saliva nya saat melihat leher putih dan mulus Stevani dengan jelas. Ingin sekali ia memeluk wanita itu dan mengecup lehernya dengan mesra sambil mengucapkan kata "selamat pagi".


Stevani seperti merasa ada yang memperhatikannya, ia membalikkan tubuhnya dan tersenyum dengan cantik saat menatap Zionel.


"Selamat pagi..." sapa Stevani.


"Ya Tuhan... inikah wanita yang selalu berdebat denganku kemarin. Mengapa ia sangat cantik dan lembut sekarang?" pikir Zionel.


Stevani menyipitkan matanya karena tak mendapat ucapan balasan dari Zionel.


"Apa kau marah aku memakai dapurmu? Aku sudah terbiasa membuat sarapan sendiri di rumah, jadi aku sekalian membuatkan sarapan untukmu." kata Stevani lagi.


"Ah... selamat pagi juga. Aku hanya sedikit terkejut, ini pertama kalinya di apartemenku ada orang lain. Pakailah dapur ini sesukamu asal kau tidak membakar apartemenku. Aku mandi dulu..." jawab Zionel seraya meninggalkan Stevani.

__ADS_1


Stevani menghela nafas, ia kembali melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan mereka. Setelah selesai, wanita itu menatanya di atas meja makan sambil menunggu Zionel selesai. Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi. Lagi lagi Zionel hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


Pria itu tanpa segan berjalan ke arah ruang ganti. Stevani merasa sangat canggung, ia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mengetukkan sendoknya di atas meja makan.


"Apa yang ia ucapkan dengan kata terbiasa benar benar ia lakukan. Pria ini benar benar melakukan keinginannya sendiri." pikir Stevani.


Cukup lama Stevani menunggu, pria itu akhirnya keluar juga dari ruang ganti. Penampilannya sangat santai namun justru itu membuatnya semakin terlihat tampan. Kaos oblong yang digunakannya memperlihatkan otot otot di tubuhnya yang kekar dengan sangat jelas.


Stevani kembali memalingkan wajahnya saat Zionel mendekatinya.


"Wow... sarapan yang mewah." kata Zionel seraya duduk disana.


"Aku tak tahu apa kebiasaanmu saat sarapan, jadi aku membuat semuanya." ujar Stevani.


"Aku sarapan apapun, aku bukan orang yang pemilih. Hanya saja aku biasa minum kopi setiap pagi." jawab Zionel.


"Kopi tidak baik untuk lambung jika pagi hari, jadi aku ganti dengan susu. Bukankah kita akan tinggal bersama selama satu tahun, jadi aku rasa lebih baik ikut menjaga kesehatanmu. Tapi jangan terlalu percaya diri, aku melakukan ini..."


"Aku tahu... terima kasih." potong Zionel.


"Aku tak ingin kau sakit dan membuatku merawatmu, itu membuatku semakin tidak nyaman." pikir Stevani.


"Bolehkah aku memakannya sekarang?" tanya Zionel.


"Ah... tentu saja... silahkan."


Zionel mulai mencicipi masakan Stevani, pria itu menganggukkan kepalanya karena merasa masakan Stevani enak.


"Apa sesuai seleramu?" tanya Stevani.


"Lumayan." jawab Zionel datar.


"Ciiiih... menyebalkan sekali. kau membalas ucapanku semalam." pikir Stevani.


Wanita itu mengerucutkan bibirnya karena kesal. Ia bahkan terus mengaduk aduk makanannya tanpa memakannya. Zionel menyunggingkan senyumnya saat melihat itu.


"Kau pintar memasak, makananmu sangat enak. Aku akan sering memintamu membuat sarapan untukku." ujar Zionel.


Seketika wajah Stevani berubah menjadi lebih ceria, wanita itu langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu mulai ikut sarapan bersama Zionel. Tentu saja Zionel Cruise sangat senang melihatnya, itulah perasaan yang ia rasakan saat ini.


*****


..."MERRY CHRISTMAS, SELAMAT HARI NATAL 25 DESEMBER 2021"...


...TERUTAMA UNTUK YANG MERAYAKANNYA, SEMOGA TUHAN YESUS SELALU MEMBERKATI KALIANπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»...


...πŸ’SALAM TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMAπŸ’πŸ€πŸ€πŸ€...


Happy Reading All...


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2