
Stevani ikut membantu seorang pelayan yang dikirimkan oleh Zionel, walaupun wanita paruh baya itu sudah melarang Stevani namun Stevani tetap tak ingin berhenti. Hanya dengan cara menyibukkan diri, ia bisa melupakan kerinduannya pada adiknya.
"Sudah berapa lama ibu membersihkan apartemen Zio?" tanya Stevani.
"Sekitar 3 tahun non. Ini pertama kalinya ibu melihat ada orang lain di apartemen ini. Tadi ibu kira maling, tapi maling kok cantik seperti non." ujar pelayan tersebut seraya tertawa.
Stevani ikut tertawa. "Maaf aku mengejutkan ibu. Oh ya, aku hampir lupa menanyakan nama ibu."
"Panggil saja bu Ema non."
"Salam kenal bu Ema, aku Stevani bisa panggil Vani."
"Jadi non pacarnya tuan Zio ya?"
"Pacar palsu bu, lebih tepatnya istri yang dibayar." pikir Stevani.
"Aku dan Zio akan menikah minggu ini bu." jawab Stevani.
Bu Ema terkejut. "Wah calon nyonya Zio."
"Haisssss bu Ema, jangan panggil aku nyonya. Terdengar seperti sudah tua." kata Stevani menyeringai.
"Non jangan bantu ibu lagi, nanti tuan marah. Ini sudah tugas ibu sehari hari disini non. Sebenarnya tadi pagi ibu sudah kemari, tapi sepertinya tuan Zio belum bangun, makanya ibu pulang lagi dan baru datang siang ini." ujar bu Ema.
"Bagaimana ibu bisa tahu jika Zio belum bangun?" tanya Stevani.
"Sebelum naik kesini, ibu selalu menemui satpam di bawah. Biasanya satpam ada pesan dari tuan Zio, tapi tadi pagi satpam bilang tuan belum turun."
"Oh... jadi seperti itu." kata Stevani sambil menganggukkan kepalanya. "Tapi bu, sepertinya nanti ibu akan jarang datang kemari lagi. Maaf bukannya aku menghentikan pekerjaan bu Ema, tapi aku biasa bekerja membersihkan rumah, jadi..."
"Jangan khawatir non, ibu juga pelayan panggilan tuan. Walaupun jarang datang, tuan Zio tetap memberi upah penuh." potong bu Ema.
"Wah... benarkah?"
Bu Ema mengangguk. "Tuan Zio adalah orang paling baik yang pernah ibu kenal. Sejujurnya ibu jarang sekali bertemu tuan, selama 3 tahun ini bisa dihitung non. Tuan ada disini jika ingin memberikan upah saja."
"Baik... Yang aku tahu ia pria arogan, dan selalu mengintimidasi orang lain. Selalu menggunakan uang demi mendapatkan sesuatu." pikir Stevani.
"Bu Ema akan memasak, non pasti belum makan."
"Tidak perlu bu, masih banyak bubur yang belum dimakan. Zio mengirimkannya sekitar 2 jam yang lalu."
"Apa non lagi sakit? Kok makan bubur?"
"Hanya sedikit radang jadi susah menelan makanan keras."
"Kalau begitu, biar ibu hangatkan saja buburnya. Tolong jangan menolak non." pinta bu Ema.
"Oh baiklah, terima kasih bu."
__ADS_1
Ponsel Stevani kembali berdering, ia segera menuju meja untuk mengambil ponselnya. Panggilan masuk dari rumah sakit kota X. Stevani langsung ketakutan, ia segera mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar.
"Halo..." ujar Stevani
"Halo nona Stevani, apa aku mengganggu anda?" tanya dokter Mark.
"Tentu saja tidak dok, apa yang terjadi pada Zaline? Ia baik baik saja kan?" tanya Stevani panik.
"Nona tenang dulu, aku menghubungi anda karena ada kabar baik."
Stevani menghela nafas lega, rasa takutnya seketika menghilang mendengar ucapan dokter Mark.
"Jadi apa kabar baik itu dok?"
"Nona Zaline sempat memberikan respon saat kami memeriksa keadaannya hari ini. Walaupun ia belum membuka matanya, tetapi nona Zaline sudah menggerakkan jarinya saat kami memanggil namanya."
"Puji Tuhan... apa artinya itu dok?"
"Keadaan nona Zaline semakin membaik, jika ia terus memberikan respon positif, maka kita bisa segera memindahkannya ke kota D."
Air mata Stevani mengalir saat mendengar hal itu, ia sungguh bahagia ada perubahan yang baik pada adiknya.
"Nona Vani... masih mendengarkan aku?"
"Iya dok, maaf. Aku terlalu bahagia sampai tak bisa berkata apa apa."
"Selamat nona Vani, tolong sampaikan kabar ini pada tuan Zio."
Stevani menatap ponselnya lalu kembali menangis, walaupun respon Zaline baru sedikit namun bagi Stevani itu hal yang besar untuknya. Bu Ema memperhatikan Stevani yang sedang terisak, wanita paruh baya itu terkejut lalu menghampiri Stevani.
"Non... baik baik saja kan?" tanya bu Ema.
Seketika Stevani memeluk bu Ema membuat wanita itu terkejut.
"Apa non sakit?"
Stevani menggelengkan kepalanya.
"Ada apa non? Apa ibu bisa bantu?"
Stevani melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata yang menetes di pipinya sendiri.
"Maaf membuat ibu khawatir, aku baik baik saja. Sebenarnya aku memiliki adik di kota X yang sedang dirawat di rumah sakit setelah operasi jantung. Tadi aku mendapat kabar baik dari dokter kalau adikku sudah mulai ada respon, aku menangis karena terlalu bahagia." ujar Stevani.
"Ya Allah non, adik non punya penyakit jantung?"
Stevani menganggukkan kepalanya. "Operasinya berhasil namun sampai saat ini masih dalam keadaan koma. Puji Tuhan dokter mengatakan sudah ada gerakan jari tangannya saat dokter memanggil namanya."
"Syukur Alhamdulillah non. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan buat adik non."
__ADS_1
"Aamiin... terima kasih bu."
"Sudah jangan bersedih lagi non, ibu yakin non orang baik. Tuhan pasti akan membantu orang baik seperti non."
Stevani tersenyum. "Terima kasih bu, ucapan ibu menguatkan hatiku."
"Sama sama non. Oh ya, buburnya sudah hangat, lebih baik non makan lagi biar makin sehat."
Stevani mengangguk, ia beranjak dari sana menuju ruang makan. Bu Ema benar benar sudah menyiapkan bubur yang dihangatkan tadi. Stevani pun harus makan lagi agar tetap sehat dan kuat apalagi setelah mendengar kabar baik dari dokter Mark tentang Zaline.
*****
"Tante Fal... boleh aku masuk?" tanya Varisa di depan pintu kamar Falera Cruise.
Seketika Falera menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya pada bu Kukum.
"Masuklah sayang." jawab Falera.
Varisa membuka pintu kamar itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Wanita cantik itu tersenyum saat melihat Falera di atas ranjang.
"Maaf tante aku baru bisa menjenguk sekarang. Bagaimana keadaan tante?"
"Aku sudah lebih baik, terima kasih kau sudah mau datang kesini. Tapi mengapa kau datang bersama orang tuamu?"
"Apa tidak boleh?" tanya Varisa.
"Tentu saja boleh, hanya saja terlalu merepotkan. Aku sudah tidak apa apa. Bu Kukum ambilkan minum untuk Varisa." pinta Falera pada pelayannya.
"Baik nyonya." jawab bu Kukum seraya keluar dari kamar.
Varisa mendekati Falera lalu duduk di tepi ranjang. Wanita itu menarik tangan Falera lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Tante tak perlu khawatir, aku akan tetap menjadi menantu tante. Aku sudah bilang pada mama dan papa untuk segera mengatur pernikahan kami." ujar Varisa membuat Falera terkejut.
"Varisa dengarkan tante. Zio harus menikah dengan wanita yang dihamilinya sayang, keluarga Cruise harus belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Tante minta maaf karena..."
"Tante tak perlu minta maaf. Aku yakin wanita jelek itu yang sudah menggoda Zio. Wanita itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga Cruise. Tante tenang saja, Zio pasti akan menikahiku dan meninggalkan wanita murahan itu."
Falera terbelalak mendengar ucapan kasar dari mulut Varisa. "Sayang... masalahnya Zio..."
"Sudah tante jangan banyak pikiran, urusan Zio biar aku yang menanganinya." potong Varisa. "Ini bubur tante ya, biar aku yang menyuapi tante." imbuhnya.
Falera menggelengkan kepalanya. "Tante sudah kenyang, bawa tante keluar saja untuk menemui orang tuamu." pintanya.
Varisa menganggukkan kepalanya lalu membantu Falera turun dari ranjang. Keduanya keluar dari kamar menuju ruang tamu.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1
Next...