Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Saling Menginginkan


__ADS_3

"Jadi berapa lama lagi aku bisa memindahkan Zaline ke kota ini?" tanya Zionel.


Setelah makan, Zionel langsung menghubungi dokter Mark seperti janjinya pada Stevani.


"Jika perkembangan nona Zaline terus bagus, setidaknya 2 sampai 3 minggu lagi ia bisa dipindahkan tuan Zio." jawab dokter Mark.


"Apa ada prosedur yang harus diurus?"


"Tentu saja ada, tapi anda tak perlu khawatir, aku akan membantu anda untuk menyelesaikan prosedurnya disini."


"Ah... syukurlah... anda tenang saja dok, aku akan mengirimkan uang bonus untuk anda."


"Anda tak perlu sungkan tuan Zio, biaya sebelumnya saja masih banyak. Jadi soal bonus..."


"Tolong jangan menolaknya, ini bukan uang suap tapi anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah merawat Zaline dengan baik di rumah sakit." potong Zionel.


"Kalau begitu terima kasih banyak tuan, aku akan terus merawat nona Zaline walaupun sebenarnya itu memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai seorang dokter."


"Terima kasih dok, aku akan menunggu kabar baik anda lagi." jawab Zionel seraya menutup teleponnya.


Zionel menghela nafas lega, ia menatap kamar tidur. Tidak ada tanda tanda apapun dari dalam kamar.


"Van... apa kau masih hidup?" ejek Zionel sedikit mengeraskan suaranya.


"Menurutmu?" balas Stevani.


"Akhirnya ada suara, mendengar kau bisa membalas dengan keras, tentu saja kau masih hidup." ejek Zionel lagi.


Terdengar umpatan keluar dari mulut Stevani membuat Zionel terkekeh geli.


"Keluarlah... mengapa kau terus di dalam kamar? Ada kabar baik dari dokter Mark." pinta Zionel.


Mendengar ucapan Zionel, tentu saja Stevani langsung keluar dari kamar. Wanita itu langsung mendekati Zionel penuh semangat.


"Apa ada kabar tentang Zaline lagi? Apa ia sudah membuka matanya?" tanya Stevani.


Zionel menggelengkan kepalanya. "Responnya masih sama seperti yang dokter Mark sampaikan padamu, hanya saja setidaknya kita bisa segera memindahkan Zaline ke kota ini."


"Butuh berapa lama lagi?"


"Dua sampai tiga minggu lagi." jawab Zionel.

__ADS_1


Stevani menghela nafasnya.


"Jangan bersedih, itu kemungkinan terlama. Jika Zaline terus menunjukkan tanda tanda yang lebih baik, mungkin saja minggu depan kita bisa membawanya kemari." imbuh Zionel.


"Aku berharap seperti itu." jawab Stevani.


"Sejak kita sampai di kota ini, aku belum mengajakmu berkeliling kota. Apa kau mau pergi denganku malam ini?" tanya Zionel.


Wajah Stevani sontak berubah menjadi bahagia. "Benarkah kau mau mengajakku berkeliling?"


"Jika kau mau."


"Tentu saja aku mau. Aku benar benar bosan di dalam apartemen. Aku juga ingin melihat kegiatan di kota ini saat malam hari." kata Stevani bersemangat.


Zionel menahan senyumnya. "Kegiatan di kota ini tidak jauh berbeda dengan kotamu. Bersiaplah, kita akan pergi jam 7 malam. Setidaknya kau memiliki waktu 3 jam untuk bersiap-siap."


"Aku akan mandi terlebih dahulu, tidak perlu waktu selama itu untuk bersiap-siap. Aku bukan wanita pesolek." jawab Stevani.


"Bukankah hal yang wajar jika seorang wanita bersolek. Dan kau harus terbiasa tampil rapi dan cantik setelah menikah denganku. Aku tak ingin orang lain memandang rendah penampilanmu. Bukannya aku memperdulikan kata kata orang, tapi aku tak ingin istriku direndahkan."


"Ck... cerewet sekali... aku akan menuruti permintaanmu tuan Zionel Cruise." ejek Stevani.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Stevani.


"Coba katakan lagi aku cerewet jika kau berani." ujar Zionel.


"Tidak tidak..." jawab Stevani sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ternyata kau tak memiliki nyali." ejek Zionel.


Stevani mengerucutkan bibirnya. "Siapa bilang aku tidak berani, kau memang pria yang cerewet. Sekarang apa maumu?"


Zionel terbelalak setelah mendengar tantangan itu, pertahanan dirinya sontak saja runtuh. Pria itu menarik leher Stevani lalu mencium bibirnya. Stevani memelototkan matanya, ia berusaha menolak namun tubuhnya berkata lain.


Jantung keduanya terdengar berdebar kencang saling bersahutan. Zionel terus menggoda bibir Stevani dan tidak ada penolakan dari wanita itu. Ia justru ikut merespon sentuhan lembut itu sampai akhirnya ia memejamkan matanya.


Mendapat respon positif dari wanita itu, Zionel memberanikan diri menerobos masuk ke dalam mulutnya. Mencicipi manisnya rongga mulut Stevani, menelusuri gigi putih wanita itu dengan lidahnya. Ketika lidah Zionel bertemu dengan lidah Stevani, seketika pria itu menarik lidah tersebut dan menghisapnya.


Suara lenguhan tertahan keluar dari mulut Stevani. Zionel semakin menarik punggung Stevani hingga tubuh keduanya saling menempel. Keduanya hampir kehabisan nafas, kedua payudara Stevani terlihat naik turun dengan cepat karena hasrat yang menggebu-gebu.


Zionel memberanikan diri menyentuh kedua gundukan itu membuat Stevani akhirnya tersadar. Seketika wanita itu mendorong tubuh Zionel dan melepaskan diri. Wajah Stevani memerah dan nafasnya terlihat masih tidak beraturan. Ia seketika berdiri menjauhi Zionel.

__ADS_1


"Jangan lakukan ini." pinta Stevani seraya membelakangi Zionel.


"Kenapa? Bukankah kita sama sama menginginkannya?" tanya Zionel sambil mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jarinya lalu pria itu ikut berdiri.


"Tidak... aku tidak menginginkannya. Kita tidak dalam hubungan seperti itu." jawab Stevani.


"Hubungan seperti apa yang kau inginkan Van. Bukankah kita manusia normal yang memiliki hasrat. Kau juga memiliki itu saat aku mulai menciummu." kata Zionel lalu menyentuh kedua bahu Stevani dari belakang.


Pria itu membalikkan tubuh Stevani hingga keduanya kembali saling bertatapan.


"Katakan padaku jika kau tidak menginginkannya, tatap mataku Van." pinta Zionel.


Stevani memalingkan wajahnya. "Tidak."


Zionel menarik dagu wanita itu agar ia kembali menatap Zionel. "Katakan dengan menatapku."


"Zio..." ujar Stevani lirih.


"Jika kau tidak menginginkannya, akulah yang menginginkan itu." kata Zionel seraya menundukkan kepalanya dan kembali memanggut bibir Stevani. "Kau boleh menolaknya." imbuhnya di sela ciuman itu.


Tapi Stevani justru semakin mendekatkan tubuhnya pada Zionel. Pria itu menyunggingkan senyumnya karena merasakan kemenangan. Zionel kembali menarik punggung Stevani hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka. Keduanya saling membelit lidah, melenguh kenikmatan.


Zionel mulai membuka kancing baju Stevani namun Stevani kembali menahan tangannya. Wanita itu menghentikan ciuman itu.


"Maaf..." ujar Stevani seraya melepaskan diri dan berlari masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Zionel yang masih tercengang.


Zionel menghela nafas panjang, ia menyisir rambutnya dengan jari karena frustasi.


"Sialan... aku benar benar menginginkan lebih dari ini. Tahanlah ponakan kecilku, akan ada waktu yang tepat untuk melampiaskan kemarahanmu. Sekarang tidurlah lagi, kita tidak bisa memaksanya." pikir Zionel.


Zionel menghempaskan tubuhnya ke sofa lagi sedangkan Stevani terus menyenderkan tubuhnya di dinding kamar sambil mengatur nafasnya yang masih memburu.


"Ingatlah Stevani, kau tidak boleh bermain hati dengan Zionel. Ia hanya membutuhkanmu selama satu tahun. Kau akan dibuang begitu saja oleh pria itu jika sudah tidak diperlukan. Ingatlah Zaline, kau harus sadar diri." pikir Stevani.


Namun air mata wanita itu tiba tiba merebak keluar dengan sendirinya. Ada rasa sakit yang luar biasa di dalam hatinya saat tahu ia akan terbuang setelah satu tahun. Ia tidak boleh jatuh cinta pada Zionel Cruise karena pria itu bukanlah jangkauannya. Ia tak mungkin pantas menjadi pendamping seorang Cruise selamanya.


Ia akan dihina, dicaci maki dan diasingkan jika keluarga Cruise tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Rasa sakit itu semakin menusuk hatinya, Stevani merosot ke lantai, ia menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang ingin meledak keluar. Ia memeluk lututnya sendiri dan terisak disana.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2