
Stevani masih memikirkan ucapan Zionel, apa yang ia inginkan memang terwujud namun ia kembali memikirkan status sosialnya dengan keluarga Cruise.
"Jika aku menerima Zio, bagaimana kehidupanku selanjutnya. Aku mungkin bisa menahan penderitaan diejek oleh keluarga Cruise, tapi bagaimana dengan Zaline. Aku tak ingin melibatkan masalah ini dengannya. Aku tak ingin membuat Zaline bersedih karena aku. Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Mengapa aku terlibat perasaan seperti ini? Ini bukan keinginan awalku, seharusnya aku tetap menjaga jarak dengan Zio, kami hanya melakukan kesepakatan." pikir Stevani sedih.
Stevani terus terlarut dalam lamunannya, bahkan perawat masuk pun ia masih tak menghiraukannya.
"Bagaimana keadaan nona sekarang?" tanya perawat membuyarkan lamunannya.
"Puji Tuhan sudah lebih baik sus, terima kasih." jawab Stevani.
"Kalau begitu kita bersiap siap pindah ruangan nona."
"Hah? Memang kenapa dengan ruangan ini? Apa tidak ada yang membayar administrasinya? Aku janji akan melunasi semuanya, tapi beri aku waktu sus."
Perawat tersebut tertawa. "Bukan seperti itu nona, tapi suami anda ingin anda berada di ruangannya."
"Hah... suami? Suami siapa sus?"
Stevani semakin terkejut mendengar ucapan perawat itu.
"Tuan Zionel Cruise mengakui anda sebagai istrinya, tentu saja anda harus mengakuinya sebagai suami anda nona."
"Zio benar benar sudah gila, kami belum resmi menikah."
"Anda sungguh beruntung, kami yang mendengarnya sungguh iri pada anda. Tuan Zio itu salah satu pemegang saham rumah sakit ini, dan sejak dulu ia sudah menjadi rebutan para perawat dan dokter jika datang mengantarkan ayahnya check up. Setelah mendengar ia akan menikah, rumah sakit ini sangat heboh dibuatnya. Untung saja wanita yang menjadi pilihannya sangat cantik, jadi kami tidak terlalu kecewa. Selamat nona."
"Jadi pria itu sudah terkenal di rumah sakit ini, penggemarnya juga begitu banyak, pantas saja ia sangat arogan. Beruntung apanya, aku akan menghadapi keluarga besar Cruise yang hanya memandang latar belakang saja. Jika aku harus memilih, sebenarnya lebih baik tidak mengenalnya. Tapi mengapa Tuhan justru mempertemukan kami." pikir Stevani.
"Nona, kami akan membawa anda pindah ruangan sekarang." imbuh perawat yang lain.
"Tunggu sus, tak bisakah aku tetap disini saja? Aku menolak permintaan Zio, tolong katakan padanya aku lebih nyaman tinggal di ruangan ini." pinta Stevani.
Para perawat itu saling bertatapan lalu keduanya sama sama menggelengkan kepala mereka.
"Dokter Julius sudah menyetujuinya, permintaan tuan Zio tidak bisa ditolak nona."
"Tolong sampaikan pada Zio, aku tak ingin satu ruangan dengannya sus." ujar Stevani lagi.
"Sayangnya anda tak bisa menolak nona." sahut Alex seraya memasuki ruangan.
"Pak Alex... please..."
Alex menggeleng. "Aku yang harus meminta tolong pada anda, jika anda menolak pindah maka pekerjaanku yang menjadi taruhannya."
"Tapi..."
__ADS_1
"Anda tenang saja, pak Zio tidak akan membiarkan anda disakiti siapapun selama berada di sampingnya. Sus... pindahkan sekarang, pak Zio sudah menunggunya." kata Alex.
"Baik pak." jawab perawat.
Stevani hanya bisa menghela nafas panjang saat perawat mulai mendorong bed nya. Alex mengikuti mereka sampai akhirnya masuk ke dalam ruangan Zionel. Di dalam ruangan, Zionel dan Roxy sudah menunggu kedatangannya.
"Selamat datang sayang." sambut Zionel.
"Selamat datang kakak ipar, bagaimana keadaanmu sekarang?" sahut Roxy.
"Apa yang kau lakukan Zio? Mengapa aku harus dipindahkan kemari?" tanya Stevani lalu ia menatap Roxy. "Aku sudah baik baik saja Roxy, terima kasih." imbuhnya.
"Kau jangan marah, ini semua salah dokter. Aku tidak diizinkan turun dari ranjang ini untuk melihatmu. Jadi satu satunya cara agar aku bisa melihatmu dengan memindahkan ruanganmu Van." jawab Zionel. "Hei sus, dekatkan lagi ranjangnya." perintahnya.
Kedua perawat itu tertawa geli, namun mereka menuruti permintaan Zionel, mereka justru menempelkan ranjang Stevani dengan ranjang Zionel.
"Nah ini baru benar, aku bisa menjagamu 24 jam selama disini, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyakitimu karena kau sekarang wanitaku." ujar Zionel.
"Kapan aku setuju menjadi wanitamu Zio, apa kau sudah tidak waras?" ucap Stevani kesal.
Zionel menggeser tubuhnya mendekati wanita itu. "Sejak di kota X, kau memang sudah menjadi wanitaku, apa kau sudah lupa?" bisiknya.
Seketika wajah Stevani memerah, ia menjauhi Zionel dan menatap mereka semua yang sedang memperhatikannya dengan tersenyum.
"Tuan Zio, tugas kami sudah selesai. Kami akan memeriksa kalian setiap satu jam." ujar salah satu perawat.
"Ehm... kami juga keluar pak Zio. Roxy... ayo kita cari udara segar." ajak Alex.
"Kau paling mengerti aku Lex." kata Zionel.
Mereka semua tertawa lagi lalu akhirnya keluar meninggalkan Zionel dan Stevani.
*****
Stevani terus menghindari Zionel. Ia tak ingin pria itu berbuat yang tidak tidak saat berada di rumah sakit. Sedangkan Zionel terus saja melihat tingkah wanita itu yang semakin canggung.
"Van... lihat aku." pinta Zionel.
Stevani justru semakin memalingkan wajahnya. "Ini tidak benar Zio, bagaimana jika keluargamu datang."
"Van... bukankah saat berbicara kau harus menatap lawan bicaramu. Lihatlah aku..." pinta Zionel lagi.
Stevani menghela nafasnya lalu melihat ke arah Zionel.
Cup...
__ADS_1
Seketika Zionel mengecup bibirnya lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kau sudah gila?" bentak Stevani sambil mendorong tubuh Zionel.
"Entahlah... sejak aku mengungkapkan isi hatiku, aku semakin tergila-gila padamu." jawab Zionel seraya menyeringai.
"Ciiiih... benar benar sudah gila." gumam Stevani.
Zionel merebahkan tubuhnya ke ranjangnya lagi karena sedikit nyeri di bagian lukanya. "Aku sudah tahu apa yang terjadi padamu, maaf untuk kakimu dan maaf atas perbuatan mommy. Aku sudah berjanji akan melindungimu, tapi aku justru membiarkanmu terluka." ucapnya sambil menatap langit langit ruangan.
"Kau salah besar Zio, justru aku harus berterima kasih padamu. Aku sudah berhutang nyawa padamu. Jika kau tidak menyelamatkanku, mungkin akulah yang tertusuk pisau itu. Dan soal ibumu, aku sama sekali tidak menyalahkannya. Ia seorang ibu, wajar saja jika berbuat seperti itu karena sangat mengkhawatirkan anaknya. Dan ia juga benar, akulah yang membuatmu seperti ini." jawab Stevani.
"Omong kosong. Kau sama sekali tidak salah, dan aku sama sekali tidak membenarkan perbuatan mommy. Ia tidak pernah berbuat sekonyol ini sebelumnya. Aku mohon maafkan mommy Van."
"Aku sudah bilang tidak menyalahkannya, artinya aku sudah memaafkannya. Jangan pikirkan lagi Zio, kau harus segera sembuh agar ibumu tidak semakin khawatir. Tapi seharusnya aku tidak berada disini sampai kemarahan ibumu mereda."
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, pelaku penusukan itu belum tertangkap, aku tak ingin kau berada dalam bahaya. Hanya disisiku lah kau bisa aman. Kau tak perlu khawatir soal mommy, ia tidak akan berani menyentuhmu di depanku. Tapi jika ia masih nekat, aku juga bisa marah dengannya."
"Kau tidak boleh seperti itu, ia ibumu Zio."
Zionel tertawa. "Sebenarnya aku dan mommy sudah biasa berdebat, itu terjadi setelah Haena menghilang. Jadi kau tak perlu khawatir, perdebatan kami hanya sesaat."
"Aku tidak ingin kalian berdebat karena aku. Aku tidak pantas..."
"Jangan membuatku marah dengan kata kata tidak pantas itu Van karena kau sudah melebihi segalanya." potong Zionel. "Van... jadi apa jawabanmu?" imbuhnya.
"Jawaban?"
"Oh ayolah Stevani Yunsu, kau pasti tahu maksudku."
"Zio... aku..."
"Setelah kau tahu perasaanku, artinya pernikahan yang ingin aku lakukan denganmu bukanlah kontrak semata. Aku benar benar ingin bersamamu Van. Tolong pikirkan baik baik tentang masalah ini, aku berjanji akan melindungimu seumur hidupku. Aku serius dengan kata kataku ini." potong Zionel.
"Apa ini sebuah lamaran? Apa ia benar benar sadar mengatakannya?" pikir Stevani.
Zionel memaksakan diri duduk di ranjangnya lalu menatap Stevani. Wanita itu pun ikut duduk lalu menatap Zionel.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku harus tetap melakukannya sebelum kita menikah. Stevani Yunsu terlepas dari masalah kontrak yang kita sepakati sebelumnya, maukah kau menjadi istriku yang sesungguhnya?" ujarnya seraya mengeluarkan kotak cincin dari balik bantalnya dan membukanya di depan Stevani.
Stevani terbelalak saat melihat cincin berlian tersebut. Air matanya seketika tumpah karena itu adalah sebuah lamaran. Lamaran yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Namun kali ini berbeda dari yang lain, lamaran tersebut dilakukan di dalam rumah sakit saat keduanya sedang menerima perawatan.
*****
Akankah Stevani menerima lamaran Zionel?
__ADS_1
Next tomorrow...🙏🏻🤣
Happy Reading All...