Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kekecewaan Rumi


__ADS_3

Sore hari...


Derap langkah kaki beberapa orang membuat Alex terbangun, tanpa sadar ia benar benar ketiduran di depan ruangan Zionel dan Stevani. Pria itu melihat ke arah datangnya suara, ternyata dokter Julius dan dua perawat mendekati ruangan.


"Anda masih disini pak Alex?" tanya dokter.


Alex menganggukkan kepalanya. "Tugasku hari ini memang menjaga bos dok."


"Sudah waktunya mereka di cek, aku akan masuk ke dalam." imbuh dokter Julius.


Alex beranjak dari tempat duduknya lalu menganggukkan kepalanya, ia membuka pintu ruangan hingga dokter dan para perawat itu bisa masuk ke dalam. Alex mengikuti mereka masuk dan langkah mereka seketika terhenti saat melihat pasien masih terlelap dalam satu ranjang sambil berpelukan.


"Ya Tuhan... kedatanganku kurang tepat." kata dokter sambil terkekeh geli.


Alex menatap ke arah pandangan dokter lalu ikut terkejut. "Baru kali ini melihat pasien yang lupa dimana mereka berada."


Setelah mengatakan itu Alex pun terkekeh geli.


"Aku mendengar ucapan kalian, sudah aku katakan jangan datang jika belum aku panggil." ujar Zionel tanpa menoleh ke belakang. "Lex... apa kau sudah tidak menginginkan bonusmu lagi?" ancamnya.


"Hah..." jawab Alex terkejut. "Dok... lebih baik anda datang lagi nanti, aku tidak ingin kehilangan bonusku." pintanya pada dokter Julius.


Dokter Julius menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tuan muda silahkan lanjutkan istirahat anda, tapi perawat tetap akan menyuntikkan obat pada infus anda dan nona Stevani. Anggap saja mereka tidak ada." ujarnya seraya berpamitan keluar.


"Singkirkan satu ranjang ini dari sini, aku tidak membutuhkannya." pinta Zionel saat perawat mulai mendekati mereka.


"Baik tuan muda." jawab salah satu perawat yang sedang menyuntikkan obatnya.


"Emm..." gumam Stevani dalam tidurnya.


"Ssstttt..." ujar Zionel sambil menepuk punggung Stevani agar wanita tertidur lagi.


Setelah perawat selesai, mereka juga keluar sambil mendorong ranjang yang tidak terpakai dengan perlahan. Sedangkan Alex masih berdiri di belakang Zionel.


"Pak Zio..."


"Ssstttt... nanti saja. Biarkan istriku beristirahat lebih lama Lex." potong Zionel.


"Baik pak, kalau begitu aku keluar lagi." pamit Alex.


Zionel tak menjawab, ia kembali memejamkan matanya.


*****


Roxy sudah kembali saat Alex keluar dari ruangan, ia melihat Alex menghela nafas panjang.


"Apa abang memarahi anda lagi?" tanya Roxy.


"Kau darimana saja baru kembali?" tanya Alex balik.


"Mencari makanan, menghirup udara segar dan membawakan anda makan juga pak. Apa yang terjadi di dalam?"


"Jangan banyak tanya. Bisakah kau berjaga disini sebentar, aku tak mungkin makan makananmu disini. Aku akan menuju taman rumah sakit." pinta Alex. "Tapi ingat, jangan masuk atau membiarkan orang lain masuk ke dalam jika kau masih ingin kartu kreditmu." imbuhnya.


"O... ow... demi Tuhan aku semakin penasaran dengan apa yang mereka lakukan di dalam." jawab Roxy.


"Ckckck... masuk saja jika kau berani."

__ADS_1


Roxy langsung menggelengkan kepalanya. "Jika hanya kartu kredit yang ditarik mungkin aku bisa membujuk abang lagi walaupun dengan susah payah, tapi bagaimana jika aku harus kehilangan salah satu anggota tubuhku, hiiiih..." ucapnya seraya bergidik.


Alex terkekeh. "Bagus jika kau tahu." jawabnya seraya mengambil makanan yang Roxy bawa. "Jangan sampai lengah Roxy, ini menyangkut dua nyawa sekaligus. Aku tidak akan lama." imbuhnya.


Roxy menganggukkan kepalanya, sedangkan Alex meninggalkan Roxy.


*****


Varisa terus mondar-mandir di kamarnya, ia tak bisa menghubungi ponsel orang suruhannya. Rasa takut akan tertangkap mulai menghampiri pikirannya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Varisa.


Tok tok tok...


Seketika Varisa terkesiap saat mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Si...si...siapa?" tanya Varisa tergagap.


"Ini mama sayang, si mbok bilang kau tidak makan siang. Apa yang kau lakukan seharian di kamar?" tanya Rumi.


Varisa menghela nafasnya lalu membuka pintu kamarnya. Rumi terkejut saat melihat wajah putrinya yang memucat, wanita itu seketika memeriksa dahi Varisa.


"Apa kau sakit? Mengapa wajahmu pucat sekali Ris?" tanya Rumi panik.


Varisa memaksakan senyumnya lalu menggelengkan kepalanya. "Aku baik baik saja ma."


"Kau yakin nak?"


Varisa mengangguk lalu duduk di tepi ranjangnya. "Apa arisannya sudah selesai? Dimana papa?"


"Tidak ada nafsu makan ma."


Rumi memegang tangan Varisa, wanita itu kembali terkejut saat merasakan tangan putrinya yang sangat dingin.


"Ada apa sebenarnya? Wajahmu pucat dan tanganmu sangat dingin Ris. Katakan pada mama nak." ujar Rumi sambil duduk di samping putrinya.


Varisa langsung memeluk Rumi, ia terisak di pelukan ibunya membuat Rumi terus terkejut.


"Apa kau masih memikirkan masalah Zio? Lupakan saja nak, papa akan menarik sahamnya dari perusahaan Cruise. Kita tidak bisa dipermalukan oleh mereka. Kau putri kami yang sangat cantik, pria yang lebih dari Zio sangat banyak. Mama akan mengenalkanmu pada salah satu diantara mereka."


"Apa yang harus aku katakan pada mama, jika mama dan papa tahu aku sudah melakukan perbuatan yang fatal, mereka pasti akan marah besar padaku. Mengapa aku harus mengikuti perintah Cecil dan bekerjasama dengan wanita itu. Jika aku masuk penjara bagaimana? Ya Tuhan... ampuni dosaku. Aku benar benar takut." pikir Varisa.


"Ris... mama tahu kau sangat menyukai Zio. Tapi pria itu sudah menghamili wanita lain, ia sudah tidak pantas untukmu nak." imbuh Rumi.


"Ma... maafkan aku. Aku bodoh..." jawab Varisa terus terisak.


Rumi melepaskan pelukan putrinya. "Siapa bilang kau bodoh, putriku cantik dan cerdas."


"Ma... bolehkah aku pergi ke Amerika saja?"


"Hah... apa maksudmu nak? Kau berniat meninggalkan mama hanya karena pria seperti itu."


"Aku mohon ma, izinkan aku tinggal di luar negeri untuk melupakan semuanya. Jika aku sudah bisa melupakan Zio, aku janji akan pulang. Ma..." rengek Varisa.


Rumi beranjak dari ranjang, ia melangkahkan kakinya menuju jendela kamar lalu menatap matahari yang mulai terbenam.


"Kau adalah putriku satu satunya, hanya karena cinta tak terbalas, kau akan meninggalkan mama nak. Apakah harus seperti itu karena seorang pria? Saat kau kuliah di Inggris saja, mama sangat kesepian selama bertahun-tahun. Tak bisakah kau bertahan dan melupakan pria itu disini tanpa harus pergi lagi." ujar Rumi.

__ADS_1


"Ma... sebenarnya aku takut. Aku takut masuk penjara." jawab Varisa semakin melepaskan tangisannya dan merosot ke lantai.


Rumi terbelalak, ia membalikkan tubuhnya lalu menatap putrinya di lantai. "Penjara apa nak?"


Rumi melangkahkan kakinya mendekati Varisa lagi, ia memegang kedua lengan putrinya.


"Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan?" tanya Rumi sedikit berteriak.


Varisa meraung keras. "Maafkan aku ma, maaf..."


Ucapan Varisa semakin membuat Rumi kebingungan. Ia memeluk putrinya agar lebih tenang.


"Aku hampir membunuh Zio, aku hampir membunuhnya." ucap Varisa.


"Varisa... apa yang kau lakukan? Katakan pada mama yang sebenarnya."


"Varisa bekerjasama dengan Cecil untuk membunuh wanita itu. Tapi orang yang aku bayar justru menusuk Zio." jawab Varisa.


Rumi seketika melepaskan putrinya, ia nyaris terserang jantung saat mendengar perbuatan putrinya.


"Siapa Cecil?" bentak Rumi.


Varisa menatap ibunya. "Ma... maafkan aku."


"Siapa Cecil? Siapa yang menyuruhmu melakukan perbuatan seperti ini?" bentak Rumi lagi.


"Cecil sepupu Zio, ia juga tak menyukai wanita itu. Kami berencana membunuh wanita itu, aku membayar seseorang untuk melakukannya. Tapi ia justru menusuk Zio."


Rumi terduduk di lantai, air matanya tumpah setelah mendengar perbuatan putrinya.


"Ma..." rengek Varisa sambil memegang tangan ibunya.


Seketika Rumi menepis tangan Varisa.


"Ma... maaf..."


"Dosa apa yang telah aku perbuat hingga putriku menjadi seorang pembunuh. Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Rumi.


Rumi segera bangun, ia membuka lemari putrinya, mengeluarkan koper yang ada disana, melemparkan pakaian Varisa keluar.


"Ma..." ujar Varisa seraya mendekati ibunya dan bersimpuh di kakinya. "Ma..."


Rumi terus melemparkan pakaian putrinya keluar sambil terisak, ia tak bisa berkata apapun saat ini.


"Ma... ampuni aku ma... ma..."


Rumi berhenti, ia menangis dengan keras karena merasa kecewa atas perbuatan putrinya.


"Pergilah dari sini, anggap saja aku tidak pernah memiliki putri sepertimu." ucap Rumi sambil melepaskan tangan Varisa dari kakinya dengan kasar.


"Ma...!!!" teriak Varisa.


Namun Rumi terus meninggalkan putrinya keluar dari kamar sambil terisak.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2