
Sepanjang perjalanan, Nile terus memukul pundak Cecil hingga Cecil semakin menangis dengan keras.
"Apa kau bodoh, hah? Kami sudah mengatakannya padamu agar kau lebih bersabar. Kau malah bekerjasama dengan wanita yang tergila-gila dengan Zio. Ya Tuhan Cecil apa yang kau pikirkan hah?" bentak Nile.
"Maaf ma..." jawab Cecil sambil terisak.
"Apa kata maafmu bisa mengubah semua ini Cecil? Kita bersusah payah menyingkirkan Haena, sekarang justru kau lah yang tersingkir." sahut Gilbran.
"Pa... bantu aku... aku tidak mau ke Amerika. Aku tidak mau jauh dari kalian." pinta Cecil.
"Apa sekarang kita punya pilihan?" tanya Nile sambil memukul pundak Cecil lagi.
"Ampun ma, sakit...!"
"Berhentilah memukul putri kita ma, kau menambah rasa sakitnya." kata Gilbran.
"Aku semakin tak tahan dengan semua ini. Tinggal beberapa langkah lagi kita bisa mengambil alih perusahaan, tapi ia justru menghancurkannya. Apa kita punya pilihan setelah kak Ram bertindak? Anak bodoh... menyebalkan..." jawab Nile.
Cecil hanya bisa terisak di dalam mobil sambil mendengarkan omelan dari ibunya.
"Kita tidak ada cara lagi, biarkan Cecil pergi terlebih dahulu ke Amerika. Setelah itu kita akan mencari solusi lagi agar putri kita cepat kembali dan membuat keluarga kakakmu melepaskan perusahaan Cruise." ujar Gilbran.
Cecil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau...!" teriaknya.
"Seharusnya kau tidak bertindak bodoh Cecil. Ini akibat ulahmu yang tidak sabaran. Apa kau juga ingin kehilangan mama dan papa seperti yang dialami Varisa." kata Nile kesal.
"Mama jangan bicara seperti itu. Maafkan aku, aku memang salah ma. Tapi biarkan Cecil tetap disini, aku tidak ingin ke Amerika."
"Terlambat nak... om Ram sudah mengambil keputusan. Jika kau menolak hukuman ini, maka bersiaplah mendekam di dalam penjara. Apa kau lebih memilih seperti ini?" tanya Gilbran.
Cecil menggelengkan kepalanya lalu kembali menangis. Nila pun akhirnya memeluk putrinya dan menenangkannya.
"Anak bodoh... mama tahu kau bermaksud membantu kami. Tapi tindakanmu sungguh salah sayang. Jika sampai ada korban jiwa, maka kau bisa saja tidak akan dihukum seperti ini, kemungkinan kau menghabiskan sisa umurmu di dalam penjara. Beruntung Tuhan masih melindungimu, jadi terima keputusan om Ram. Walaupun sebenarnya mama juga tidak sanggup jauh darimu, tapi setidaknya ini lebih baik daripada masuk penjara Cecil. Kami tidak akan tinggal diam, kami akan membuatmu segera kembali lagi. Percayalah nak..."
"Mamamu benar Cecil, papa tidak akan membiarkanmu sendirian di negara lain. Kau pasti akan segera kembali. Jadi ikuti dulu keinginan mereka agar masalah ini mereda." sahut Gilbran.
Cecil menganggukkan kepalanya dalam pelukan ibunya. "Aku akan menganggap ini untuk berlibur dan setidaknya aku tidak harus memakai gaun rancangan wanita sialan itu."
"Anak pintar... itulah yang harus kau sadari. Ambil hikmah dari perbuatan bodohmu." ujar Nile.
Cecil pun akhirnya mulai tenang, ia menghapus air matanya. "Ini semua gara gara wanita jelek itu, bang Zio yang selalu sayang padaku akhirnya kini membenciku. Tunggu saja Stevani, aku akan membuatmu menyesal karena membuatku seperti ini." pikir Cecil.
*****
__ADS_1
"Jadi kau takut Stevani disakiti hingga memindahkannya ke ruanganmu. Ini tidak benar Zio, kau bahkan memintanya tidur di atas ranjangmu. Bagaimana kalian bisa memulihkan kesehatan kalian jika tidur saja berhimpitan?" kata Falera.
"Mommy salah, ini bukan ranjangku tapi ranjang Stevani. Aku lah yang pindah tidur disini." jawab Zionel seraya menyeringai.
"Ck... apa bedanya itu."
Zionel terkekeh. "Kami akan segera sembuh jika terus bersama."
"Sudah mom biarkan saja. Zio... kau harus ingat ini rumah sakit. Kau harus bersikap sopan tanpa harus mencoreng nama baik Cruise lagi." sahut Nicholas.
"Ya Tuhan... kalian pikir aku akan berbuat apa?"
Wajah Stevani merah padam karena sangat malu.
"Kalian jangan berlebihan. Zio sudah dewasa, ia bahkan akan menjadi seorang ayah, tentu saja ia tidak akan berbuat macam macam di rumah sakit." kata Ramirez.
Stevani berbisik. "Zio... katakan yang sebenarnya pada mereka. Aku..."
"Tak perlu, walaupun kau tidak hamil sekarang, kau akan aku buat hamil sesegera mungkin." potong Zionel.
Stevani mencubit lengan Zionel hingga pria itu meringis.
"Kak Ram, kak Nicho, kak Fal... ini semakin larut. Karena masalah ini sudah terselesaikan, kami ingin pamit pulang." ujar Andreaz.
"Kalian pulang saja lebih dulu, masih ada yang ingin kami bicarakan dengan mereka." jawab Nicholas.
"Dad... ini sudah sangat larut. Kita bisa bicarakan lagi besok." kata Zionel. "Mommy juga harus banyak beristirahat." imbuhnya.
"Sebentar saja Zio." jawab Nicholas.
"Baiklah... kami pulang duluan. Jika sempat, besok akan menjenguk kembali Zio." kata Ramirez.
"Titip salam buat tante Ama, Mili dan Jinki." ujar Zionel.
Ramirez menganggukkan kepalanya lalu berpamitan, begitu juga dengan orang tua Roxy. Setelah mereka keluar ruangan, Nicholas mendekati mereka kembali.
"Besok kami akan menghadiri pemakaman tuan Yudistira. Apa nyonya Rumi tidak akan menyalahkan kita dan merasa terganggu dengan kehadiran kami Zio?" tanya Nicholas.
Zionel mengambil ponselnya lalu menghubungi Alex. "Masuk..." pintanya lalu menutup telepon.
Alex masuk ke dalam ruangan. "Pak Presdir, bu Presdir..." sapanya. "Ada apa pak Zio?" tanyanya.
"Kami menutup kasus ini karena banyak sekali pertimbangan. Cecil akan ke Amerika sebagai hukumannya, sedangkan masalah Varisa kami hentikan karena ia sudah cukup menerima hukuman dari Tuhan. Istri tuan Yudistira belum tahu dengan keputusan ini, kau urus semuanya Lex sebelum kedua orang tuaku menghadiri pemakaman. Jadi kau bisa tahu bagaimana reaksi nyonya Rumi." ujar Zionel.
__ADS_1
"Baik pak, aku mengerti." jawab Alex.
"Terima kasih Lex, maaf telah mengganggumu kembali padahal kau baru saja pulang ke rumah."
Alex menatap Zionel sambil mengerutkan keningnya.
"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Zionel.
"Demi Tuhan... anda lebih baik tidak mengucapkan kata maaf padaku karena itu membuatku merinding pak."
Seketika Zionel mengumpat membuat semuanya tertawa. Ini memang pertama kalinya Zionel mengucapkan kata maaf pada Alex. Sebelum mengenal Stevani, apapun kesalahan yang ia perbuat justru akan dilimpahkan pada Alex. Tapi pria itu benar benar berubah semenjak ia jatuh cinta pada Stevani.
"Kalian berhentilah mengejekku." kata Zionel. "Dad... mom... apa kalian sudah puas dengan tugas yang aku berikan pada Alex? Kalian tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Seharusnya nyonya Rumi bersyukur karena aku mencabut kasus ini. Setelah kalian menerima kabar dari Alex, barulah kalian bisa memutuskan untuk menghadiri pemakaman atau tidak." imbuhnya.
Nicholas dan Falera sama sama menganggukkan kepalanya.
"Lex... Antar orang tuaku sampai ke parkiran dan kau juga boleh pulang sekarang." pinta Zionel.
"Baik pak." jawab Alex kembali.
"Kalian hanya berdua saja disini apakah aman?" tanya Falera.
"Kami dikelilingi tim medis mom." jawab Zionel.
"Ck... bukan itu."
"Percayalah kami akan baik baik saja. Sudah saatnya Stevani juga beristirahat."
Falera menghela nafasnya. "Hem... Baiklah."
"Jangan khawatir mom, Zio bukan anak kecil lagi. Ia bisa menjaga calon istrinya dengan baik dan Zio benar disini banyak tim medis, mereka pasti akan baik baik saja." kata Nicholas. "Zio... Stevani... kalian banyak beristirahat. Pernikahan kalian tinggal 2 hari lagi. Terutama kau Stevani, semoga kau bisa berjalan dengan baik saat hari itu tiba." imbuhnya.
"Tentu dad. Jika Stevani belum bisa berjalan, maka aku akan menggendongnya menuju altar." goda Zionel membuat Stevani kembali mencubit lengannya.
Falera tersenyum melihat kebahagiaan putranya yang selama ini hilang sejak kehilangan adiknya. Tapi rasa khawatir Falera masih ada, karena sejak kehadiran Stevani, Zionel tidak pernah membahas masalah Haena lagi. Ia masih takut jika Zionel melupakan pencarian adiknya.
Wajah murung Falera terlihat dengan jelas oleh Zionel. Pria itu seketika membuat ibunya terkejut dengan ucapannya.
"Mommy tenang saja. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali fokus mencari Haena. Ia tetap menjadi prioritas utamaku." ujar Zionel.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1