Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Tangisan Keluarga Besar Cruise


__ADS_3

Stevani menggelengkan kepalanya.


"Caramu menyampaikan kabar tentang Haena membuat orang jantungan Zio." ujar Stevani setelah Roxy meninggalkan mereka.


Zionel menyeringai. "Aku tak mau Roxy banyak bertanya padaku. Cara itu paling cepat untuk mengusirnya. Ia bisa bertanya disana nanti, aku hanya ingin bersama istriku."


Stevani tertawa. "Kau usil sekali tuan muda Cruise. Tapi... aku juga ingin melihat Zaline sekarang."


"Aku akan menemui dokter kandunganmu terlebih dahulu Van. Aku akan menanyakan kondisimu. Jika memang baik baik saja, aku janji akan membawamu menemui Zaline."


"Aku baik baik saja."


"Aku akan percaya ucapanmu jika dokter juga mengatakan hal yang sama padaku."


"Mengapa kau selalu menyebalkan. Aku wanita hamil bukan pasien berpenyakit parah."


"Jika kau terus berdebat denganku, maka aku akan semakin lama menemui dokter. Silahkan terus saja menjawab ucapanku nyonya muda Cruise."


"Haisssss... cepatlah pergi..." usir Stevani.


Zionel menyeringai, ia mengecup kening Stevani dengan lembut. "Tunggulah sebentar, aku akan segera kembali."


Stevani menganggukkan kepalanya dan membiarkan suaminya keluar untuk menemui dokter kandungannya.


*****


Cukup lama Stevani menunggu suaminya dengan gelisah. Ia berharap dokter mengatakan hal baik untuk kondisi kandungannya, sehingga ia bisa segera menemui Zaline dan melihat keadaannya langsung.


Satu jam telah berlalu, akhirnya Zionel pun kembali masuk menemuinya. Stevani segera melihat wajah suaminya untuk melihat ekspresi wajah pria itu. Namun Zionel tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali ekspresi wajahnya yang selalu dingin seperti biasanya.


"Mengapa kau lama sekali? Aku bisa keluar menemui Zaline kan?" tanya Stevani.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Zionel.


"Zio..."


Zionel tersenyum. "Kau sangat tidak sabaran sayang. Dokter bilang..."


"Aku baik baik saja, aku benar benar dalam kondisi baik." potong Stevani.


"Kenapa kau keras kepala sekali sayang? Beristirahatlah hari ini, kau bisa menemui Zaline besok pagi."

__ADS_1


"Zio... ayolah..." pinta Stevani dengan wajah memelas.


Seketika Zionel menarik hidungnya, ia mengambil kursi roda yang ada di ruangan itu. Wajah Stevani berubah menjadi senang. Zionel segera membuka selimut istrinya, lalu mengambil botol infusnya, memindahkannya ke tiang samping kursi roda lalu mengangkat tubuh istrinya.


"Apa yang dikatakan dokter?" tanya Stevani penasaran.


"Kondisi kandunganmu tergantung pada ibunya. Jika kau terus berpikir berlebihan dan membuatmu menjadi stres, itu sangat berpengaruh pada bayi kita. Kau juga harus memaksakan diri untuk makan sayang." jawab Zionel seraya mendorong kursi rodanya.


"Artinya aku bisa keluar dari rumah sakit kan jika aku mengikuti ucapanmu?"


"Setidaknya satu minggu."


"Zio... aku tidak mau disini lagi."


"Jika kau tidak ingin disini, bagaimana kau bisa menemui Zaline?"


"Maksudku setidaknya aku bisa menemaninya di ruangannya, tidak terpisah jauh seperti ini. Aku bukan pasien, aku janji akan menjaga kandunganku ini. Kau jangan takut aku menyakiti anakmu."


Seketika Zionel menghentikan langkahnya. "Apa kau berpikir aku hanya mengkhawatirkan anak kita? Apa yang ada dipikiranmu Vani?"


"Ah... maksudku bukan seperti itu."


Zionel melangkahkan kakinya ke depan Stevani lalu berjongkok di depan wanita itu. Ia menarik tangan Stevani lalu menggenggamnya.


"Jika aku memintamu lompat dari gedung rumah sakit ini, apa kau mau melakukannya?"


"Jika kau benar benar menginginkannya, maka akan aku lakukan. Tapi kau tidak boleh menyesal jika aku..."


Stevani segera membungkam mulut Zionel dengan tangannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, aku percaya padamu. Aku percaya perasaanmu padaku. Jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan aku. Aku tadi hanya asal bicara saja, maafkan aku." ujar Stevani.


Zionel menarik tangan Stevani dari bibirnya, ia tersenyum lebar di depan istrinya. Pria itu memegang pipi Stevani dengan lembut.


"Aku ingin segera membawamu pulang dari sini, aku selalu menginginkan tubuhmu sayang. Aku benar benar gila jika terus menahan hasratku. Semakin kau menunjukkan wajah seperti ini, aku semakin menginginkanmu." kata Zionel.


Stevani menarik wajahnya mundur. "Ya Tuhan, mengapa aku menemukan pria me sum sepertimu. Aku sedang serius, kau justru..."


Zionel terkekeh. "Kau pikir aku sedang bercanda, aku bahkan ingin melakukannya disini."


"Zionel Cruise... aku harap Zaline segera menghukummu."

__ADS_1


Seketika wajah Zionel berubah, pria itu menjadi tegang. "Sayang... Zaline tidak serius untuk memisahkan kita kan?"


"Bagaimana kau bisa tahu jika ia akan melakukannya?"


Zionel mengumpat. "Ini semua karena Alex. Sayang, aku mohon bujuklah Zaline. Bagaimana aku bisa dipisahkan darimu, itu bisa membuatku gila. Aku tidak mau Vani, aku mohon buatlah Zaline mengubah pikirannya."


Stevani menahan tawanya, seorang Zionel Cruise memohon padanya seperti ini justru membuatnya semakin terlihat menggelikan.


"Aku akan memikirkannya, sekarang cepatlah bawa aku menemuinya." jawab Stevani.


Zionel menghela nafas panjang, ia bangun dari sana seraya kembali mendorong kursi rodanya. Namun sepanjang perjalanan menuju ruangan Zaline, Zionel terus merengek seperti anak kecil pada istrinya. Ia terus memohon pada Stevani untuk membujuk Zaline.


*****


Suasana haru kembali menyelimuti ruangan Zaline, Zionel dan Stevani terkejut karena keluarga besar Cruise semuanya sudah berada di ruangan itu kecuali keluarga Nile Cruise. Mereka semua menangis sambil bergantian memeluk Zaline.


Tentu saja mereka menangis bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Haena Cruise yang menghilang sangat lama. Bahkan Mili putri dari Ramirez tak mau melepaskan pelukannya. Gadis cantik itu terus memeluk Zaline dengan erat sambil menangis sesenggukan.


"Ya Tuhan... kalian harus membersihkan ruangan ini dengan kain pel, lihatlah lantainya banjir dengan air mata." goda Zionel sambil mendorong kursi roda Stevani masuk ke dalam ruangan.


Mereka semua melihat kedatangan Zionel dan Stevani. Ami istri Ramirez langsung mendekati Stevani dan memeluknya.


"Terima kasih telah membawa Haena kembali pada kami." ucap wanita itu.


"Aku sudah bisa menebaknya sejak awal pertemuan, kakak ipar memang seorang malaikat." ujar Roxy.


"Stevani... kembalinya Haena adalah kebahagiaan buat kami." kata Aida istri Andreaz.


Stevani mengerjapkan matanya karena tak bisa menahan air matanya, ia menganggukkan kepalanya tanpa bisa berkata apapun pada mereka.


"Kakak..." ucap Zaline sambil terisak.


"Aku... aku sangat menyayanginya. Zaline lah orang yang membuatku bisa bertahan hidup, ia penyemangatku saat aku sedang terpuruk. Bukan aku yang menyelematkannya, tapi ia yang menyelamatkanku." jawab Stevani sesenggukan.


"Kakak... aku juga sangat menyayangi kakak." jawab Zaline.


Mereka semua kembali tak bisa menahan air matanya, Stevani berdiri dibantu oleh Zionel lalu mendekati Zaline. Keduanya kembali berpelukan dan melepaskan tangisan mereka.


"Ya ampun, aku bisa gila berada disini." celetuk Zionel. "Oh ayolah... kalian bisa dituntut pihak rumah sakit jika membuat ruangan ini menjadi banjir." godanya mencairkan suasana.


Tentu saja suara tawa meledak di sela tangisan mereka. Suasana haru bercampur bahagia terjadi pada keluarga Cruise kembali. Mereka semua berharap tidak akan adalagi Haena yang lain yang menjadi korban keserakahan karena harta.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2