Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Disalahkan


__ADS_3

Alex justru mendatangi lokasi kejadian, dugaannya benar pihak kepolisian masih menyelidiki tempat tersebut dan meminta keterangan beberapa saksi disana. Setelah mengurus tempat kejadian perkara, Alex segera menghubungi keluarga Zionel. Tentu saja kabar penusukan itu membuat Falera Cruise jatuh pingsan di rumahnya.


Alex pun meyakinkan Nicholas Cruise agar tetap tenang, ia sedang membantu kepolisian menyelidiki kasus tersebut. Setelah ikut membantu kepolisian, Alex segera menuju rumah sakit.


Di rumah sakit, Stevani terus terisak. Ia terus mondar-mandir di depan ruang operasi tanpa memperdulikan kakinya yang semakin membengkak. Wanita itu tak memperdulikan dirinya sendiri saat ini.


Sudah satu jam Zionel berada di ruang operasi, akhirnya kedua orang tua Zionel pun datang ke rumah sakit. Keluarga besar Cruise bahkan ikut bersama mereka. Falera terlihat sangat marah sambil berjalan ke arah Stevani.


Plaaaaakkkk...


Suara tamparan keras mendarat di pipi Stevani hingga wanita itu jatuh ke lantai.


"Mom... tenanglah..." ujar Nicholas sambil menahan istrinya.


"Dasar wanita pembawa sial. Sejak kau datang ke keluarga kami, kami tidak merasa tenang. Sekarang kau buat putraku tertusuk. Jika terjadi sesuatu pada Zio, kau juga harus membayar dengan nyawamu." teriak Falera.


"Tenangkan dirimu sayang, ini rumah sakit." pinta Nicholas.


Stevani kembali menangis, ia mendekati kaki Falera Cruise dan memegangnya dengan erat.


"Aku minta maaf tante, ini semua memang salahku. Jika Zio tidak menolongku, mungkin akulah yang tertusuk. Aku mohon maafkan aku." pinta Stevani sambil terisak.


"Aku tahu kau memang sejak awal akan membawa sial untuk keluarga Cruise. Dasar wanita tak tahu malu." ujar Cecil.


"Diamlah Cecil, jangan menambah bumbu dalam masalah ini." bentak Nicholas.


"Tapi om..."


"Stevani bangunlah nak, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri." ujar Nicholas memotong ucapan Cecil.


"Daddy jangan membela wanita ini lagi, ia yang membuat Zio kita dalam bahaya." kata Falera sambil melepaskan kakinya dengan kasar dari pelukan Stevani.


Alex tiba di rumah sakit, ia terbelalak saat melihat Stevani berada di lantai. Pria itu segera berlari ke arah Stevani dan membantu wanita itu bangun dari sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Alex.


"Lex bawa wanita ini pergi, aku tidak ingin melihatnya." bentak Falera.


"Pihak kepolisian sedang menyelidiki masalah ini, bu Presdir harap tenang. Anda tidak bisa menyalahkan Stevani karena bisa saja pelaku penusukan adalah saingan berat perusahaan." ujar Alex.


"Aku tidak perduli, seharusnya dia lah yang tertusuk bukan putraku." teriak Falera.


"Ya Tuhan mom, tenanglah... bukan saatnya kita seperti ini, Zio masih di ruang operasi. Lex... lebih baik bawa Stevani pulang terlebih dahulu, pakaiannya dipenuhi darah." pinta Nicholas.


"Baik pak Presdir." jawab Alex.


Namun Stevani langsung menolak dengan keras. Ia ingin tahu keadaan Zionel setelah operasi.


"Nona Vani, lebih baik anda bersihkan diri terlebih dahulu." pinta Alex.

__ADS_1


"Tidak pak Alex, aku tidak ingin kemanapun." jawab Stevani.


"Baiklah, tapi setidaknya kita menjauh dari keluarga Cruise." bisik Alex.


Stevani menganggukkan kepalanya, walaupun ia tak bisa mendekati Zionel, tapi setidaknya ia tetap berada di rumah sakit sambil menunggu kabar Zionel. Alex kembali terkejut saat melihat Stevani berjalan dengan tertatih. Pria itu melihat kaki Stevani yang membengkak.


"Apa yang terjadi dengan kakimu? Kau terluka, kau harus mengobati kakimu." ujar Alex sambil membantu Stevani melangkah menjauhi keluarga Cruise.


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku baik baik saja. Ini hanya terkilir."


"Kakimu sangat bengkak Van, jika terjadi sesuatu padamu maka pak Zio akan memecatku. Lebih baik kau obati lukamu terlebih dahulu." pinta Alex lagi namun Stevani tetap keras kepala.


Wanita itu tidak ingin meninggalkan Zionel sampai ada kabar baik dari dokter. Alex tak bisa berbuat apa-apa, ia tak mungkin memaksa wanita itu karena ia bukan anak kecil lagi yang harus dipaksa.


*****


Dua jam telah berlalu...


Lampu operasi padam, operasi telah selesai dilakukan. Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang operasi. Semua keluarga Cruise mendekati dokter tersebut.


"Bagaimana putra kami dok?" tanya Falera dan Nicholas bersamaan.


"Syukurlah operasi berjalan dengan lancar, tuan muda sudah melewati masa kritisnya, setelah beberapa jam ia akan tersadar dan dibawa ke ruang perawatan. Tuan Cruise tak perlu khawatir sekarang." jawab dokter.


Mendengar jawaban dokter tersebut membuat semuanya merasa lega termasuk Stevani. Namun wanita itu akhirnya jatuh pingsan karena sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di kakinya.


Seketika Alex langsung meminta bantuan dokter, mereka segera membawa Stevani ke ruang perawatan.


*****


Stevani mengerjapkan matanya berkali-kali dan akhirnya tersadar. Ia terkejut saat sudah berada di ruang perawatan.


"Nona sudah sadar, hampir saja kaki nona diamputasi." ujar seorang perawat.


"Lukaku tidak separah itu sus." jawab Stevani.


"Siapa bilang, nona terlalu lama membiarkan kaki terkilir seperti itu. Anda bisa kehilangan kaki jika dibiarkan satu jam lagi. Sementara nona jangan menggunakan kaki itu sampai benar benar sembuh, jika masih bandel, maka dokter akan benar benar memotong kaki nona." ancam suster.


"Yang dikatakan suster benar Van, kau hampir membuat kakimu membusuk. Aku baru saja menemui dokter yang menangani kakimu. Kau benar benar wanita yang tangguh sampai bisa menahan rasa sakit seperti itu." sahut Alex sambil melangkahkan kakinya mendekati Stevani.


"Bagaimana keadaan Zio?" tanya Stevani.


"Ckckck... kau hanya memperdulikan orang lain."


"Lex..."


"Zio sudah sadarkan diri, namun karena pengaruh obat, ia kembali tertidur. Ia membuat nyonya Cruise menggila, karena baru membuka mata langsung mencari keberadaanmu." jawab Alex.


"Tapi ia tidak tahu aku disini kan, aku mohon jangan katakan apapun padanya." pinta Stevani.

__ADS_1


"Belum ada yang sempat menjawab saat ia kembali tertidur."


"Ya Tuhan terima kasih telah menyelamatkan Zio."


"Di luar pihak kepolisian sudah menunggu, apa kau sudah siap untuk dimintai keterangan?"


Stevani menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan mengizinkan mereka masuk. Katakan semua detail kejadiannya Van, agar mereka segera menemukan pelaku penusukan."


"Aku akan mengatakan semua yang aku ketahui." jawab Stevani.


"Baiklah... tunggu sebentar."


Alex mempersilahkan pihak kepolisian meminta keterangan kepada Stevani, wanita itu menceritakan detail kejadiannya. Namun Stevani tak bisa membantu banyak karena saat kejadian, ia sama sekali tak melihat pelaku. Setelah polisi selesai, mereka pun meninggalkan Stevani.


"Kau sama sekali tak melihat pelaku?" tanya Alex setelah polisi keluar.


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mendengar teriakan Zionel lalu ia mendorongku hingga terjatuh. Setelah itu aku bingung apa yang terjadi, tapi ternyata Zio sudah tertusuk."


"Tidak apa-apa, mereka pasti segera menangkap pelaku. Ada beberapa cctv yang mengarah ke taman kota. Mudah mudahan penyelidikan segera menemukan hasil."


"Aku berharap seperti itu. Tapi sepertinya target pelaku adalah aku. Tapi aku baru saja datang ke kota ini Lex, aku tak mengenal siapapun disini apalagi punya musuh."


"Bisa saja itu dendam pribadi pada pak Zio, ia melukaimu karena tahu kau dekat dengannya. Sejak perusahaan Cruise semakin maju, pesaing bisnis semakin banyak Van."


"Demi Tuhan aku sangat takut saat melihat darah yang begitu banyak keluar dari perut Zio. Beruntung Tuhan masih menyelamatkannya, jika tidak..."


"Tidak ada kata jika tidak Van... Pak Zio sekarang benar-benar baik baik saja."


"Lex... apa keluarga Cruise masih di ruang perawatan Zio? Aku ingin melihatnya sebentar." pinta Stevani.


"Sayangnya walaupun mereka sudah tidak ada, kau tetap tidak boleh turun dari ranjang. Kau benar benar bisa kehilangan kakimu Van."


"Aku baik baik saja. Tidak separah itu, aku bisa... aw..."


"Apanya yang baik baik saja... kau bergerak sedikit saja meringis." ejek Alex. "Menurutlah sedikit, aku yakin jika pak Zio tahu keadaanmu, akulah yang akan ia salahkan." imbuhnya.


"Ini tidak ada hubungannya denganmu Lex."


"Tentu saja ada, tugasku menjaga calon istrinya jika ia tidak bisa menjagamu. Oh ayolah nona, jangan mempersulit pekerjaanku. Lebih baik kau istirahat lagi, aku akan memberi kabar tentang pak Zio padamu."


Stevani menghela nafasnya. "Baiklah, terima kasih Lex."


"Tak perlu sungkan, itu sudah menjadi tugasku." jawab Alex.


Stevani tersenyum, ia kembali memejamkan matanya karena ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan kakinya saat ini.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


Bersambung...


__ADS_2