
Stevani terbelalak saat pelayan restoran memenuhi meja mereka. Ia menatap Zionel penuh tanya.
"Apa kau pikir aku seekor babi yang bisa menghabiskan semua makanan ini." ujar Stevani setelah pelayan meninggalkan mereka.
Zionel tergelak. "Bukan seperti itu, hanya saja aku asal memesan makanan utama restoran ini. Siapa sangka, ini benar benar banyak."
"Ciiiih... pintar sekali mencari alasan." gerutu Stevani.
"Makanlah semampumu, aku tidak memaksamu untuk menghabiskan semuanya."
"Tapi kau terlalu boros tuan, kau pikir saja seberapa sulitnya mereka di luaran sana yang tak bisa membeli makanan."
"Ya Tuhan, tak bisakah kau tak merusak suasana makan malam ini nona. Apa kau ingin aku membeli semua makanan disini dan membagikannya agar kau puas."
Stevani memalingkan wajahnya keluar jendela, ia menatap pemandangan malam yang indah dari gedung tersebut. Pandangannya seketika muram saat mengingat Zaline yang tidak berada disisinya saat ini.
"Kau tenang saja, saat adikmu sembuh nanti, aku akan membawa kalian ke tempat seperti ini lagi." ujar Zionel.
Stevani menatapnya dengan terkejut, Zionel seperti seorang paranormal yang bisa membaca pikirannya.
"Kau jangan bingung seperti itu, aku tahu sejak tadi apa yang kau pikirkan. Berhentilah banyak berpikir, nikmatilah makan malammu. Bukankah akan lebih sia sia jika kau tidak menyentuhnya." sambung Zionel.
"Maaf..." jawab Stevani.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Ayolah kita makan, nanti bisa kemalaman saat berkeliling kota."
Stevani pun menganggukkan kepalanya. Keduanya mulai menikmati makan malam mereka. Zionel terus mengajak Stevani berbicara agar wajah murung wanita itu berubah. Dan akhirnya usaha Zionel berhasil, Stevani mulai menceritakan pekerjaannya selama di klub malam.
"Jadi mengapa kau tak pernah memiliki kekasih? Aku rasa saat bertemu denganmu di klub, banyak sekali pria yang mengejarmu." kata Zionel.
"Aku tak ingin membuang waktuku." jawab Stevani datar.
"Dan aku amat bersyukur karena akulah orang yang pertama dan tentu saja terakhir untukmu." pikir Zionel sambil menarik sudut bibirnya.
"Sepertinya kau hanya fokus pada adikmu. Kau benar benar kakak yang luar biasa."
"Aku hanya memiliki Zaline dalam hidupku, aku tak pernah menginginkan yang lain sampai kau datang dalam hidupku."
"Bukankah aku menjadi berkah untukmu." goda Zionel.
"Ciiiih... percaya diri sekali. Tapi ya setengah setengah."
"Apa maksudmu nona dengan setengah setengah?"
"Bukankah tak perlu aku menjawabnya, kau pikir saja sendiri." jawab Stevani.
"Menyebalkan sekali." gerutu Zionel membuat Stevani akhirnya tergelak.
__ADS_1
"Aku seharusnya memang berterima kasih padamu Zio. Soal mas Dani dan Zaline, di luar kesepakatan kita sebenarnya kau memang lebih banyak membantuku. Terima kasih." ucap Stevani.
"Aku tidak butuh hanya sekedar ucapan saja, aku ingin kau berterima kasih dengan cara lain." ujar Zionel.
"Dasar... dikasih hati minta jantung." celetuk Stevani.
"Kau salah nona, yang aku inginkan ini." jawab Zionel seraya beranjak dari tempat duduknya.
Zionel mencondongkan tubuhnya ke arah Stevani lalu mengecup bibir wanita itu. Tentu saja Stevani terbelalak lalu mendorong tubuh Zionel.
"Apa kau sudah gila, ini di tempat umum." bentak Stevani.
"Oooo jadi jika di rumah, aku bebas melakukannya." goda Zionel seraya membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. "Rasa steak ini lebih lezat dari bibirmu." imbuhnya.
"Dasar pria mes*m gila."
Zionel melepaskan tawanya membuat beberapa tamu restoran melihat ke arah mereka, namun pria itu tidak memperdulikannya.
"Apa kau sudah kenyang? Sudah saatnya kita mencari udara segar." kata Zionel.
Stevani masih merasa kesal namun pria yang ada di depannya seolah-olah tidak melakukan apa apa. Ia terlihat tenang dan semakin menyebalkan bagi Stevani.
"Sialan... aku semakin sulit menahan diri di depan wanita ini. Lama lama aku bisa menela*jangi wanita ini di depan umum." pikir Zionel.
Stevani menatap makanan yang ada di depannya, semua makanan itu masih banyak.
"Dasar orang kaya, bisa bisanya membuang uang seperti ini." pikir Stevani.
"Kau mau membuatku berubah menjadi seekor gajah. Mana mungkin aku bisa menghabiskan semua ini." jawab Stevani.
"Tadi seekor babi, sekarang seekor gajah. Mengapa kau tidak berteman saja dengan mereka?" ejek Zionel.
"Demi Tuhan kau menyebalkan sekali tuan Cruise."
Zionel kembali melepaskan tawanya. "Lebih baik kita keluar sekarang, bisa bisa aku diseret keluar karena terus tertawa."
"Aku berharap kau dilempar keluar dari jendela ini." celetuk Stevani.
"Aku takut kau merindukanku, jika aku mati mengenaskan." jawab Zionel.
"Haisssss... benar benar menyebalkan."
Zionel menarik nafas dalam-dalam agar tidak tertawa lagi. "Ayo...!!" ajaknya lagi.
Stevani menghela nafas panjang, ia akhirnya mengikuti Zionel meninggalkan restoran walaupun dalam hatinya masih menyayangkan makanan mahal yang terbuang sia sia tersebut.
*****
__ADS_1
Zionel terus memutari kota D agar Stevani bisa melihat pemandangan indah di kota tersebut. Suasana hati wanita itu benar benar berubah seketika. Stevani lebih cerewet dari biasanya, ia terus saja bertanya ini itu pada Zionel. Dengan sabar Zionel pun menjawab semua keingintahuan wanita itu.
Setelah lelah berkeliling, Zionel membawa Stevani ke sebuah taman kota yang cukup ramai dikunjungi warga sekitar. Lagi lagi wanita itu mengagumi keindahan disana.
Zionel terus tersenyum bahagia saat melihat sisi lain dari seorang Yunsu. Wanita itu terus berlari kesana-kemari seperti anak kecil yang sedang bermain di sebuah taman.
"Jangan terus berlari, kau bisa terjatuh." teriak Zionel.
"Terima kasih Zio, kau benar benar membawaku melihat keindahan ini." jawab teriak Stevani.
Zionel menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu melihat seorang pedagang bunga di tepi taman. Ia menghampiri pedagang tersebut dan membeli beberapa tangkai bunga mawar disana.
"Aku yakin Stevani menyukainya." gumam Zionel setelah membeli bunganya.
Zionel segera mencari keberadaan wanita itu, ia kembali tersenyum saat melihat Stevani sedang berdiri menatap langit yang dipenuhi bintang. Namun senyuman Zionel tiba tiba lenyap saat melihat seorang pria yang mencurigakan terus menatap wanita itu.
Zionel terbelalak lebar saat melihat pria itu ternyata memegang sebuah pisau. Merasa tidak beres, seketika Zionel berlari ke arah Stevani.
"Vani... awas...!!!" teriak Zionel sambil mendorong tubuh wanita itu hingga Stevani terjatuh.
Namun naas bagi Zionel, pisau tersebut justru menusuk tepat di perut kanannya. Dan pelaku penusukan langsung kabur dari sana. Zionel meringis kesakitan sambil memegang perutnya, sedangkan Stevani masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
Stevani melihat kesana-kemari, ia baru sadar saat melihat darah mengalir dari tangan kanan Zionel yang memegangi perutnya.
"Zio...!!!" teriak Stevani.
Wanita itu bangun dan menyadari kakinya terkilir, namun ia tidak memperdulikannya, ia terus berlari ke arah Zionel dan menangkap tubuh pria itu yang nyaris terjatuh.
"Zio... apa yang terjadi? Zio... kau dengar aku kan? Bertahanlah Zio..." teriak Stevani lagi seraya menangis sekeras-kerasnya. "Tolong...!!!" teriaknya lagi.
"Zio aku mohon bertahanlah, jangan tinggalkan aku. Aku mohon Zio...!!!"
Zionel tersenyum, tangan kirinya mengusap pipi Stevani yang dipenuhi air mata.
"A... aku... baik... ja... jangan me... nangis Vani. Aku tidak apa apa." ujar Zionel.
Stevani justru semakin menangis, dengan tangan gemetar ia mengambil ponselnya lalu segera menghubungi ambulance.
"A...pa kau tahu... kau su...dah dua kali me... nangis hari ini. A... aku... minta maaf selalu... mem... buatmu menangis."
"Kau diamlah Zio, jangan bicara lagi. Bertahanlah... sebentar lagi ambulance akan datang. Aku mohon bertahanlah, aku tak mau kehilanganmu." ujar Stevani terus terisak.
"A... aku... ba... hagia bisa mengenal... wa... nita sepertimu Van... A... ku... tidak ingin me...nyesal se... umur hidupku se... belum mengatakannya. Se... benarnya... aku... men... cin..."
Seketika Zionel jatuh pingsan karena terlalu kehilangan banyak darah. Stevani histeris sambil memeluk pria itu. Warga sekitar hanya bisa mengerumuni mereka namun tak ada satupun yang berani membantu. Suara sirine ambulance terdengar, Stevani langsung berteriak meminta bantuan saat mobil tersebut sudah berhenti di dekat mereka.
Zionel segera diangkat ke dalam ambulance diikuti Stevani. Wanita itu terus menggenggam tangan Zionel sambil terus terisak. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia tak memiliki nomor telepon keluarga Zionel. Ia akhirnya teringat pada Alex, wanita itu segera menghubungi Alex dan memberi kabar soal penusukan tersebut.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...