Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Hukuman Untuk Pelaku Penusukan


__ADS_3

Zionel tak menemukan orang tuanya saat ingin keluar dari rumahnya, ia akhirnya pergi tanpa berpamitan. Zionel pergi mengendarai mobilnya sendiri menuju apartemennya, ia tidak ingin bersama supir karena takut keluarganya tahu apa yang ia lakukan bersama Alex.


Perjalanan cukup lama karena jalanan sangat macet menjelang sore hari, tapi Zionel terus bersabar tidak seperti biasanya. Pria itu tentu dalam mood yang baik setelah menikahi Stevani. Dan akhirnya ia pun sampai juga di apartemennya. Zionel melihat mobil Alex masih terparkir disana.


"Kau sangat sabar Lex." gumam Zionel sambil tersenyum.


Zionel memarkirkan mobilnya dan segera turun. Pria itu melangkahkan kakinya segera menuju apartemennya. Alex dan beberapa anak buahnya ternyata menunggunya di depan pintu apartemen. Pria itu segera mendekati Zionel.


"Pak Zio..." sapa Alex.


"Mengapa kau di luar Lex?" tanya Zionel.


"Bosan menghajar pria di dalam. Apakah kemacetan jalan sangat parah?"


"Aku terlambat datang bukan hanya karena macet. Kau mengganggu pekerjaanku di rumah, tentu saja aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu." goda Zionel.


"Ya Tuhan... semoga nona Stevani bisa menghadapi suaminya yang sudah gila ini." ejek Alex.


Seketika Zionel melepaskan tawanya. "Bagaimana kau bisa membawa pria ini tanpa dicurigai siapapun termasuk sekuriti Lex?"


"Tentu saja dengan mengancamnya, ia bersedia tetap diam saat aku membawanya kemari."


"Pekerjaan yang bagus Lex. Aku tidak jadi memotong gaji dan bonusmu." kata Zionel kembali tertawa.


"Tentu saja anda tak jadi memotong gaji dan bonusku, anda tetap melanjutkan pekerjaan rumah setelah aku menghubungi anda. Aku menunggu anda sampai berkarat disini." pikir Alex.


Zionel menatap Alex. "Aku tahu kau sedang berbicara dalam hati Lex. Jika kau berani mengumpatku walaupun hanya dalam hati, aku akan membunuhmu."


Alex terkekeh. "Anda berlebihan pak Zio, aku tidak berani mengumpat anda."


"Ciiiih..."


Zionel membuka pintu apartemennya, pria itu masuk diikuti oleh Alex. Keduanya menatap pelaku penusukan yang terikat di sofa. Zionel langsung mendekati pria itu. Tersangka langsung menatap mereka.


"Apa yang kau lakukan Lex? Lihatlah wajahnya yang babak belur ini." kata Zionel.


"Tidak mengakui perbuatannya bahkan berusaha melawan, itu hanya hukuman yang ringan untuknya. Seharusnya aku mematahkan tangannya karena berani melukai anda." jawab Alex.


Zionel terkekeh seraya membuka lakban yang ada di mulut pelaku.


"Lepaskan aku...!" teriak pelaku.


"Berani berteriak lagi, maka aku akan melemparmu dari gedung ini." bentak Zionel.


Seketika pelaku terdiam.


"Kau ingat aku?" tanya Zionel.

__ADS_1


Pelaku menggelengkan kepalanya. Zionel membuka kemejanya lalu menunjukkan bekas luka tusukan di perutnya.


"Apa sekarang kau ingat?" tanya Zionel lagi.


Pelaku terbelalak. "Aku hanya menerima bayaran untuk membunuh wanita itu, aku tidak berniat menusuk anda."


Zionel menggertakkan giginya lalu memegang pipi pelaku dengan satu tangannya. Pria itu menekan pipi pelaku dengan kuat.


"Jika kau berhasil membunuh wanita itu, sama saja kau membunuhku. Wanita yang ingin kau bunuh itu istriku." ucap Zionel geram. "Apa kau tahu alasanku tidak membawamu ke kantor polisi? Itu karena aku ingin menusuk perutmu agar kau bisa merasakan rasa sakit yang aku alami." imbuhnya seraya melepaskan pipi pelaku.


"Maaf tuan, ampuni aku... jangan membunuhku... aku terpaksa mencari uang dengan cara seperti ini karena putriku sedang sakit keras. Aku tak punya pekerjaan tetap, tolong lepaskan aku tuan." pinta pelaku.


Tentu saja Zionel tidak benar benar ingin menusuk pria itu, ucapannya hanya ancaman belaka.


"Kau takut mati karena memikirkan keluargamu, lalu apakah kau memikirkan korban yang ingin kau tusuk? Apa mereka juga tidak memiliki keluarga?" bentak Zionel.


Pelaku menundukkan kepalanya. "Aku janji tidak akan melakukan pekerjaan seperti ini lagi tuan, tolong ampuni aku."


Zionel melepaskan tawanya. "Lex... mungkinkah penjahat sepertinya bisa bertobat?"


Alex menggelengkan kepalanya seraya menyerahkan berkas catatan kejahatan pelaku yang ia dapatkan dari anak buahnya. Zionel menerima berkas itu lalu membacanya.


"Kita bisa menyerahkannya ke kantor polisi dengan kasus lain pak Zio." ujar Alex.


"Tolong tuan, jangan serahkan aku ke kantor polisi. Aku tidak mau masuk penjara." pinta pelaku lagi.


"Baik pak." jawab Alex.


Alex pun segera melepaskan pria itu dari ikatannya di sofa. Namun Alex segera menahan kedua tangannya di belakang dan membantunya berdiri.


"Aku melepaskanmu dari kasus penusukan ini, tapi setidaknya kau merasakan sedikit sakitnya." ujar Zionel seraya melayangkan tinjunya tepat ke arah perutnya dengan keras hingga pria itu merintih kesakitan dan terbatuk batuk.


"Aku belum puas sampai kau mengeluarkan darah sama seperti aku yang nyaris kehabisan darah." imbuh Zionel seraya kembali memukul perutnya lagi dengan keras.


Dan benar saja pelaku pun kembali terbatuk batuk sambil memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


"Lex... serahkan pria ini ke kantor polisi dengan kasus pembegalan atau perampokan." perintah Zionel.


Alex mengangguk sambil menyeret pelaku. Pelaku tak berdaya setelah menerima dua pukulan dari Zionel, pria itu sama sekali tidak bisa melawan lagi.


"Anak yang sakit parah, kau pikir aku tidak menyuruh Alex menyelidiki identitasmu. Kau pria yang suka mabuk dan sepertinya kau pengguna obat obatan terlarang. Uang hasil kejahatanmu hanya kau gunakan untuk bersenang-senang saja, dasar brengsek..." umpat Zionel.


Zionel menatap tangannya yang berdenyut setelah memukul pelaku. Ia segera menuju dapur untuk mengambil handuk kecil dan es batu. Ia segera mengompres tangannya, bukan karena kesakitan tapi ia takut keluarganya tahu terutama Stevani.


Beberapa menit kemudian, Alex kembali masuk menemui Zionel lagi.


"Pak Zio... sudah beres, pelaku sudah diamankan polisi." ujar Alex.

__ADS_1


Zionel menghampiri Alex seraya duduk di sofa. "Duduklah Lex."


Alex pun ikut duduk di depannya.


"Bagaimana perusahaan?" tanya Zionel.


"Dua minggu lagi klien dari Jepang akan datang pak Zio, ini mengenai proyek pembangunan di kota Soha. Mereka sangat tertarik dengan pekerjaan konstruksi perusahaan Cruise." jawab Alex.


"Dua minggu lagi? Semoga saja tidak bersamaan dengan kepindahan Zaline."


"Nona Zaline sudah ingin dipindahkan?"


Zionel mengangguk. "Dokter Mark mengatakan Zaline semakin membaik, perawatan bisa dilanjutkan di rumah sakit kota ini."


"Ya Tuhan, syukurlah. Anda tak perlu khawatir pak Zio, jika saat itu tiba bersamaan dengan klien dari Jepang, maka aku yang akan mengurusnya. Tapi klien anda tak mau diwakilkan, ia hanya ingin bertemu dengan anda." ujar Alex.


"Aku mengerti Lex, aku percaya kau bisa membantuku tapi aku tak ingin membuat Stevani kecewa."


"Nona Stevani adalah wanita yang sangat pengertian pak Zio. Ia tak mungkin kecewa dengan anda, anda sudah membantunya sejauh ini. Ia pasti akan mengerti keadaan anda, anda hanya tak bisa menyambut nona Zaline. Tapi setelah anda selesai dengan klien, anda bisa langsung ke rumah sakit."


"Kau benar, tapi aku tetap berharap pertemuan klien dengan jadwal pemindahan Zaline tidak sama. Usahakan jadwal itu berbeda Lex. Aku hanya ingin menemani istriku menyambut kedatangan Zaline di bandara."


"Tentu pak."


"Kau sudah bekerja keras akhir akhir ini Lex, sekarang pulanglah untuk beristirahat. Aku juga harus kembali ke rumah Cruise sebelum makan malam."


"Tangan anda..."


"Akan segera membaik setelah di kompres sebentar. Dan biarkan pelayan yang membereskan kekacauan disini."


"Baik pak Zio, jika anda tak bisa mengemudi, aku bisa mengantarkan anda pulang." ujar Alex.


"Tidak perlu Lex. Tertusuk saja aku bisa menahannya, apalagi hanya seperti ini. Untung saja aku bisa menahan diri, jika sekali lagi aku memukul pria itu kemungkinan aku bisa membunuhnya." jawab Zionel seraya tertawa.


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak akan membiarkan anda menjadi seorang pembunuh pak Zio, tapi jika itu terjadi justru menjadi kebahagiaan untukku."


"Apa maksudmu?" tanya Zionel.


Alex beranjak dari tempat duduknya lalu bersiap siap untuk keluar dari apartemen. Pria itu belum menjawab pertanyaan Zionel, ia segera mendekati pintu keluar kamar lalu membukanya.


"Karena jika anda masuk penjara, maka nona Stevani menjadi milikku." jawab Alex seraya keluar kamar sebelum mendapat pukulan, cacian dan makian dari atasannya.


Suara barang mengenai pintu terdengar oleh Alex membuat pria itu tertawa seraya meninggalkan Zionel begitu saja.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2