Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Bucin


__ADS_3

"Apa itu tadi nona? Kau belajar darimana?" tanya Zionel membahas bagaimana istrinya menyentuh miliknya dengan mulutnya.


Stevani mengerutkan keningnya tak mengerti. Zionel pun berbisik dan mengatakan maksud dari pertanyaannya. Seketika wajah Stevani merona.


"Jangan bertanya, aku tidak sadar melakukannya." jawab Stevani malu.


Zionel terkekeh. "Tapi aku sangat menyukainya. Bagaimana aku tidak tergila-gila padamu sayang."


Stevani hanya terdiam. Perlahan Zionel mengangkat tubuh Stevani. Miliknya masih bersarang disana, namun ia berjalan perlahan menuju ranjang mereka dalam posisi itu. Stevani hanya bisa memeluk leher suaminya dan membenamkan wajahnya di pelukan itu.


Dengan lembut Zionel membaringkan tubuh Stevani di atas ranjangnya dan perlahan melepaskan rudalnya yang bersarang itu. Stevani segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Tingkah wanita itu membuat Zionel terkekeh geli. Wanita pemalu namun berubah menjadi beringas saat kehilangan akal sehatnya karena naf su. Zionel ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut wanita itu.


"Kemarilah..." pinta Zionel agar istrinya mendekatinya.


Stevani seketika memeluk suaminya dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantal kepalanya.


"Tidurlah sebentar untuk memulihkan tenagamu." imbuh Zionel.


"Zio... dokter Mark belum menghubungiku hari ini. Bisakah kau menghubunginya? Aku juga belum memberikan kabar pada bu Yoyoh soal pernikahan kita."


"Tentu saja sayang, aku akan menghubungi dokter Mark dan menanyakan soal Zaline. Tapi soal bu Yoyoh, kau bisa menghubunginya sendiri tapi tidak sekarang, tidurlah sebentar." jawab Zionel.


Stevani menganggukkan kepalanya. "Zio... Apakah Zaline akan marah padaku setelah tahu aku menikah tanpa kehadirannya?"


"Aku akan bertanggungjawab soal itu. Kau jangan banyak berpikir sayang, aku akan membuat adikmu menyukaiku."


"Zaline tidak mudah, ia sangat keras kepala."


"Sama persis sepertimu." ejek Zionel.


Stevani memukul dada Zionel pelan. "Kau juga sama."


Zionel tertawa. "Apakah kita keluarga yang keras kepala?"


Stevani akhirnya ikut tertawa. "Zio... apa yang kau sukai dariku?"


"Emm... setelah semalam hingga tadi yang kita lakukan, sepertinya aku menyukai tubuh indahmu dan juga permainanmu." goda Zionel.


"Zio... Jangan menyebalkan."

__ADS_1


Zionel tergelak. "Aku tidak tahu apa yang aku sukai darimu. Tapi yang aku tahu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Jadi kau adalah segalanya dalam hidupku sayang. Apakah jawabanku cukup memuaskan?"


Stevani menggelengkan kepalanya.


"Jangan memancingku, aku akan mengatakan apa yang aku sukai darimu dengan mempraktekkannya." ujar Zionel.


"Ya Tuhan... mengapa yang ada di dalam otakmu semuanya kotor?"


"Itu semua salahmu karena kau terlalu indah dan cantik untuk dipandang."


"Ciiiih gombal."


"Itu kejujuran bukan gombal. Dan asal kau tahu saja, kemungkinan aku tidak menyadari jika sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di klub malam. Saat kau datang mengantarkan minuman dengan senyumanmu yang sangat cantik, saat kau berbicara dengan lancar menawarkan kartu langganan klub. Semuanya diam diam sudah aku kagumi sayang. Tapi apa yang kau katakan memang benar, aku cukup keras kepala untuk mengakui lebih awal. Bahkan Alex sering mengatakannya bahwa perasaanku sudah tumbuh padamu. Aku tak pernah memperdulikan keberadaan seorang wanita di sekitarku, tapi saat itu aku justru terus ingin ikut campur masalahmu. Secara diam diam dalam hatiku ingin terus melindungimu. Sayangnya harga diri seorang Cruise sangat tinggi, sikapku tetap bertolak belakang dengan hatiku. Pernikahan kontrak sebenarnya hanya alasan untuk mengikatmu disisiku. Begitulah perasaanku padamu sayang, jadi jangan bertanya mengapa aku menyukaimu karena begitu banyak alasan yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu. Sekarang apakah kau puas dengan jawabanku?" tanya Zionel.


Stevani bergeming membuat Zionel menundukkan kepalanya dan melihat istrinya ternyata tertidur dengan lelap.


"Kau benar benar jahat istriku. Aku mengajakmu berbicara bukan sedang membacakan dongeng yang bisa membuatmu tertidur." gumam Zionel seraya mengecup puncak kepalanya.


Zionel menarik lengannya dengan lembut dan perlahan turun dari ranjangnya. Ia berjalan menuju sofa dan mengambil pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat.


Zionel mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.


"Halo pak Zio... mengapa anda menghubungiku pagi pagi seperti ini?" ujar Alex.


"Bagaimana Lex?" tanya Zionel tanpa berbasa-basi lagi.


"Bagaimana? Soal apa pak Zio?"


"Aku membayar upah tinggi untuk assistenku. Apakah pertanyaanku masih harus aku jelaskan sedetail mungkin? Apakah assistenku yang cerdas itu sudah tidak ada?" sindir Zionel.


Alex tertawa. "Jika soal perusahaan, semuanya berjalan dengan lancar pak. Tapi soal pelaku penusukan itu masih belum ditemukan. Bagaimana dengan malam pengantin anda?" goda Alex mengalihkan pembicaraan.


"Apa aku perlu menjelaskan soal itu padamu? Aku tak ingin membuatmu iri dan mati karena cemburu." ejek Zionel.


"Oh ya Tuhan, aku merinding mendengarnya. Anda semakin tergila-gila pada nona Stevani."


"Ciiiih... kau akan merasakan hal yang sama saat menemukan wanita yang kau cintai nanti."


Alex kembali tertawa. "Mungkin saja aku akan seperti anda jika wanita itu sama persis dengan nona Stevani."

__ADS_1


"Mimpi saja Lex. Wanita yang seperti itu sudah tidak ada lagi. Jadi jangan terlalu berharap." ejek Zionel lagi.


"Ckckck... sepertinya nona Stevani memberikan servis yang memuaskan untuk anda." goda Alex.


"Kau berani lewat telepon Lex, coba katakan itu langsung di depanku."


"Aku masih membutuhkan bonusku pak, aku tidak akan berani."


"Sialan..." umpat Zionel.


Alex terkekeh geli, ia berani menggoda atasannya jika Zionel dalam mood yang bagus. "Pak Zio, apakah anda tetap ingin menangkap pelaku penusukan anda? bukankah anda sudah setuju dengan keluarga anda untuk menutup masalah ini."


"Aku menyuruhmu untuk menangkapnya sendiri bukan untuk diserahkan pada kepolisian Lex. Bawa pelaku ke hadapanku. Dan kau pasti tahu apa yang ingin aku lakukan."


"Anda tidak bermaksud menusuknya untuk balas dendam kan?"


"Kurang lebih seperti itu."


"Astaga pak Zio. Anda tidak boleh menjadi pembunuh, kasihanilah nona Stevani jika anda masuk penjara."


"Apa kau kira aku bodoh...!" bentak Zionel, ia lupa jika istrinya sedang tertidur.


Zionel menatap Stevani untuk memastikan wanita itu masih terlelap. Dan ia menghela nafas lega karena suaranya tidak membangunkan istrinya.


"Apa kau baru mengenalku Lex? Aku akan membalasnya dengan caraku sendiri bukan dengan membunuhnya." imbuh Zionel dengan suara yang lebih pelan.


"Anda tenang saja pak Zio, aku akan segera mencari pelaku. Mendengar perubahan dalam suara anda, sepertinya nona Stevani sedang tertidur karena kelelahan." goda Alex.


"Alex Rudiart... Jangan harap kau menerima gajimu bulan ini." ancam Zionel seraya menutup teleponnya.


Zionel melempar ponselnya ke sofa, ia beranjak dari sana kembali mendekati istrinya di ranjang. Ia duduk di tepi ranjang tersebut sambil menatap wajah cantik alami Stevani. Dengan lembut ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya. Jarinya terus membelai pipi wanita itu.


"Aku semakin mencintaimu Stevani Yunsu, entah seberapa besar rasa cinta itu tumbuh dalam hatiku. Tapi yang jelas sejak kau hadir dalam hidupku, kau benar benar memberiku kebahagiaan dan kerinduan yang tidak ada habisnya. Jika suatu saat kau bertanya manakah yang lebih penting dari hidupku dan hidupmu? Maka sangatlah mudah aku menjawab, hidupku lah yang lebih penting. Namun kau tak perlu kecewa dengan jawabanku karena kau harus tahu Stevani, kaulah hidupku." gumam Zionel seraya mencium kening Stevani.


Zionel beranjak dari sana, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu barulah ia akan menghubungi dokter Mark. Ia ingin segera memberikan kebahagiaan untuk Stevani dengan menghadirkan adiknya yang sudah lama tidak ia temui.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2