
Stevani terus bergeming di tempat duduknya, wanita itu menatap keluar jendela. Sedangkan Zionel kebingungan harus mengatakan apa pada Stevani. Ia tak ingin membuatnya semakin marah saat ini.
Alex terus menatap keduanya lewat kaca mobilnya, pria itu juga ikut kebingungan karena suasana di dalam mobil terasa sangat canggung.
"Sebenarnya apa yang mereka debatkan tadi, aku hanya mendengar perdebatan mereka sekilas, dan aku juga melihat bagaimana tangan nona Stevani melayang ke pipi pak Zio. Melihat kepribadian pak Zio yang selama ini aku kenal, ia cukup bisa mengendalikan diri sekarang. Seharusnya saat ini bisa saja pak Zio murka. Tapi wajahnya justru terlihat sangat tenang duduk di samping nona Stevani." pikir Alex.
"Turunkan aku disini." pinta Stevani tiba tiba.
"Kau mau kemana? Ini masih jauh dari kontrakanmu." ujar Zionel.
"Bukan urusanmu." jawab Stevani datar.
Zionel menggertakkan giginya menahan emosi. "Ini sudah larut, aku akan tenang jika sudah mengantarmu pulang."
"Kau tak perlu khawatir, aku sudah terbiasa keluar di jam seperti ini. Aku adalah pekerja klub malam. Tuan Alex... aku bilang hentikan mobilnya." bentak Stevani.
Seketika Alex menepikan mobilnya di pinggir jalan tersebut.
Zionel menahan tangan Stevani saat wanita itu siap keluar dari mobil. "Jalan Lex, kita antarkan ia sampai ke kontrakannya." perintahnya.
"Apa yang kau inginkan hah? Lepaskan tanganku...!" bentak Stevani.
"Lex aku bilang jalan sekarang." teriak Zionel tak menghiraukan ucapan Stevani.
"Baik pak Zio." jawab Alex seraya kembali melanjutkan perjalanan.
Stevani melepaskan tangannya dengan kasar. "Mengapa kau mulai mengaturku." bentaknya lagi.
Zionel mengambil berkas perjanjian nikah mereka lalu memberikannya pada Stevani. "Bacalah lalu tanda tangani, lebih cepat lebih baik."
"Brengsek... apa hanya ini yang kau pikirkan hah?"
"Tak bisakah kau mengecilkan suaramu, gendang telingaku nyaris pecah saat ini." ujar Zionel.
Stevani mengangkat tangannya untuk memukul Zionel, tapi kali ini tangannya segera ditangkap oleh pria itu.
"Jika kau berani memukulku lagi, maka aku akan membuatmu menyesal." ancam Zionel.
Stevani tertawa dengan sinis. "Kau pikir aku takut, aku tidak takut padamu tuan Zionel Cruise."
"Lex fokus ke depan." kata Zionel seraya menarik kepala Stevani lalu menciumnya.
Stevani terbelalak, ia berusaha melepaskan diri namun Zionel justru memerangkapnya semakin kuat. Wanita itu terus memberontak namun tak berdaya, ia pun akhirnya menggigit bibir Zionel dengan kuat. Zionel pun akhirnya melepaskannya seraya mengumpat.
Wajah Zionel terlihat menakutkan membuat Stevani bergidik, tapi ia juga menyesali perbuatannya saat melihat darah yang terus mengalir dari bibir pria itu. Zionel mengambil tisu dengan kasar lalu mengelap bibirnya.
__ADS_1
"Brengsek..." umpat Zionel sambil terus menahan rasa sakit.
"Aku..."
"Diamlah..." bentak Zionel.
Seketika Stevani diam, benar benar menakutkan saat melihat pria itu murka. Ia tak mau menatap Zionel lagi, ia pun kembali memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil.
Sedangkan Alex justru tersenyum, ia nyaris tak bisa menahan tawanya saat mengintip kejadian itu sesaat. Atasannya benar benar menginginkan wanita itu namun caranya memang tak biasa.
Tiga puluh menit telah berlalu, sejak perdebatan itu, suasana tiba tiba menjadi hening. Alex menghentikan mobilnya saat sudah sampai di daerah tempat tinggal Stevani.
"Kita sudah sampai pak." ujar Alex.
"Aku tahu... Lihatlah wanita ini, setelah apa yang ia lakukan padaku, ia masih sempat tertidur." gerutu Zionel.
Alex terkekeh. "Apa anda perlu ke dokter?"
Pertanyaan itu justru terdengar seperti ejekan bagi Zionel.
"Sialan... diamlah Lex." bentaknya.
Alex kembali terkekeh geli. "Anda harus membangunkannya pak Zio."
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian, mengapa aku tadi melihat nona Stevani menampar wajah anda di depan klub?"
"Ia akhirnya tahu jika akulah yang tidur dengannya."
"Hah? Lalu?"
"Lalu apalagi Lex, tentu saja ia murka padaku karena menyentuhnya. Tapi aku sudah bilang kalau itu bukan hanya kesalahanku, tapi ia justru menamparku."
Alex tertawa terbahak bahak hingga Stevani akhirnya terbangun membuat Zionel kesal lalu memukulnya dengan berkas perjanjian nikah itu.
"Kau sudah bangun, kita sudah sampai. Beristirahatlah lalu siapkan semuanya. Kita akan berangkat ke kota D besok siang." ujar Zionel.
Stevani membuka pintu mobilnya tanpa mengatakan apapun pada Zionel, wanita itu pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Wanita yang keras kepala." kata Zionel.
"Aku mengerti perasaan nona Stevani, anda lah yang keras kepala pak Zio."
"Berani sekali kau mengatakan aku keras kepala."
"Pak Zio... Bagaimanapun nona Stevani sangat dirugikan, ia wanita yang masih suci. Dalam semalam ia kehilangan kesuciannya itu tanpa ia sadari. Dan yang lebih aneh lagi, pria yang mengambil kesuciannya tidak mengucapkan kata maaf justru pria itu menyalahkannya. Jika aku jadi nona Stevani, maka aku bukan hanya menampar anda, aku pasti akan menusuk anda berkali kali dengan pisau." ejek Alex.
__ADS_1
"Tapi itulah kenyataannya, ia yang memintaku untuk melakukannya. Aku juga baru pertama kali melakukannya Lex." jawab Zionel keras kepala.
"Berarti memang anda lah yang keras kepala. Pria dan wanita itu berbeda pak Zio."
"Apa bedanya, kami sama sama melakukannya untuk pertama kali. Kami sama sama dirugikan. Ah sudahlah, cepat jalan Lex... aku sangat lelah."
Alex menggelengkan kepalanya lalu menyalakan mobilnya lagi, ia pun memutar mobilnya untuk kembali ke hotel.
"Anda yakin tidak ingin ke rumah sakit pak?"
"Apa aku harus mengatakan pada dokter jika aku digigit seekor anj*ng? Apa kau sudah gila Lex?"
Alex terkekeh. "Kalau begitu aku akan mampir ke apotek untuk membelikan obat luka."
"Itulah yang harus kau lakukan sejak tadi, wanita itu benar benar seperti seekor anj*ng. Bagaimana ia bisa melakukan hal ini." gerutu Zionel.
"Anda terlalu menginginkannya." goda Alex.
"Siapa bilang aku menginginkannya, aku hanya memberi hukuman pada wanita yang keras kepala itu."
"Baiklah pak Zio, anda selalu benar." jawab Alex.
Keduanya pun terdiam sampai akhirnya Alex menepikan mobilnya di depan sebuah apotek 24 jam. Pria itu langsung turun tanpa berkata apapun untuk membeli obat luka.
Zionel hanya menatap Alex yang pergi meninggalkannya. Pikirannya mulai berkecamuk.
"Apakah kata maaf itu sangat penting bagi wanita itu? Tapi untuk apa aku minta maaf, bukan hanya aku yang bersalah. Dan juga bukankah ia berterima kasih padaku karena aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan. Pria lain mungkin mencari kesempatan untuk lari dari masalah ini. Tapi seorang Cruise tidak akan pernah lari." pikir Zionel.
Ia pun memejamkan matanya sambil menunggu Alex kembali, ia meringis kesakitan saat luka di bibirnya mulai berdenyut. Zionel mengangkat tangannya lalu menyentuh bibirnya sendiri.
"Benar benar sial..." gumamnya.
Alex pun akhirnya kembali lalu memberikan obat tersebut pada Zionel. Pria itu tertawa saat melihat bibir atasannya mulai membengkak.
"Teruslah mengejekku Lex."
"Maaf pak Zio. Oh ya disitu juga ada obat anti rabies, aku bingung harus menjawab luka apa pada penjaga apotek saat ia bertanya. Aku dengan asal menjawab hal yang sama seperti yang anda katakan tadi bahwa lukanya akibat gigitan seekor anj*ng."
"Ya Tuhan... ingin sekali aku memukulmu dengan keras Lex." kata Zionel kesal.
Alex terus tertawa, ia senang sekali karena kali ini bisa mengejek dan menggoda atasannya dengan puas. Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke hotel.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1