Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Hareudang 3


__ADS_3

Nile Cruise terus melamun, ia mengaduk-aduk sarapannya tanpa memakannya sedikitpun. Gilbran sebagai suami yang baik terus memperhatikan istrinya.


"Ma... kau bisa membuat rotimu menjadi bubur." ucap Gilbran.


"Apakah kita harus diam saja?" tanya Nile.


"Apa maksudmu ma? Seharusnya semalam kau tidak menunjukkan sikap tidak sukamu di depan mereka. Bersabarlah sedikit."


"Bersabar? Apakah aku harus berpura-pura tersenyum dan tertawa bahagia seperti mereka semua sedangkan putriku di buang ke negara yang jauh?"


"Ya Tuhan ma... kau harus mengambil sisi positifnya untuk Cecil. Ia melanjutkan pendidikannya disana, aku sudah mengatur semua fasilitas yang terbaik untuknya. Kau tak perlu mengkhawatirkan Cecil. Ini juga berguna untuknya, jika perusahaan Cruise Grup jatuh ke tangan kita, Cecil akan menjadi pewaris utama."


"Kapan itu terjadi pa? Kau hanya berbicara tapi sampai saat ini tidak ada hasilnya. Mereka tetap menjadi pemegang saham utama. Kau selalu menjadi pesuruh di perusahaan."


"Aku tidak diam saja. Tapi semuanya hancur setelah Zio membawa wanita itu. Bantu aku berpikir untuk menyingkirkan wanita itu tanpa harus membunuhnya." ujar Gilbran.


Nile mengumpat. "Bibi..." teriaknya memanggil pelayan.


Seorang pelayan segera menghampiri mereka. "Iya nyonya."


"Bawa kemari gaun milik Cecil." perintah Nile.


"Gaun yang mana nyonya?"


"Gaun yang baru saja datang dua hari yang lalu."


"Oh... baik nyonya." jawab pelayan tersebut lalu segera menuju kamar Cecil.


"Apa yang ingin kau lakukan ma?"


Nile beranjak dari tempat duduknya menuju meja laci, ia mengambil sebuah gunting disana lalu kembali mendekati suaminya.


"Pertama... aku ingin menyingkirkan gaun desain wanita sialan itu. Selanjutnya... aku akan menyingkirkannya." kata Nile geram.


Gilbran terbelalak. "Apa kau lupa, gaun itu dibuat oleh penjahit langganan Falera. Jika kau menghancurkannya, itu akan menjadi masalah besar ma."


"Aku tidak perduli pa. Kebencian Cecil bermula dari gaun jelek itu." jawabnya. "Bi... cepat sedikit...!!!" teriaknya.


"Iya iya nyonya." jawab pelayannya sambil berlari kecil ke arahnya dengan membawa gaun itu.


"Ma..."


"Berhentilah melarangku pa. Kemarahanku sedang meledak saat ini. Bi... pegang yang kuat."


Pelayan itu menganggukkan kepalanya, seketika Nile langsung memotong-motong gaun itu membuat pelayannya terkejut. Gilbran menggelengkan kepalanya, ia mengusap bibirnya dengan serbet lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku berangkat sekarang. Tenangkan dirimu ma." ujar Gilbran seraya meninggalkan istrinya begitu saja.


Nile berhenti, ia membanting guntingnya ke lantai. Dengan kasar ia juga menarik gaun itu, melemparkannya dan menginjak-injaknya penuh kemarahan.


"Brengsek... brengsek... wanita sialan...!!!" teriak Nile.


"Nyonya..."


Nile mengambil gelas yang ada di meja dan kembali melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


"Bakar gaun itu bi." perintah Nile seraya meninggalkan ruang makan dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


Pelayan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia memang sudah biasa melihat kemarahan majikannya seperti itu.


"Dasar orang kaya, kalau marah barang yang menjadi sasaran. Padahal gaun ini cantik sekali, sayang jika harus dibakar." gumam pelayan itu sambil membereskan kekacauan disana.


*****


Zionel dan Stevani sedang menikmati sarapan mereka. Pria itu terus menatap istrinya membuat Stevani semakin canggung.


"Berhentilah menatapku Zio, sarapanmu tidak ada di wajahku." ucap Stevani.


"Kau salah istriku... makananku semua ada pada tubuhmu." goda Zionel.


"Ciiiih... menyebalkan."


"Aku serius sayang. Aku lebih ingin memakanmu daripada sarapan ini."


"Tuan Zionel Cruise... aku lihat ada detergen di kamar mandi. Lebih baik kau cuci otakmu terlebih dahulu agar bersih."


Zionel tergelak. "Ucapanmu sungguh menyakiti hatiku nona Stevani Yunsu. Tapi aku semakin menyukainya."


"Ya Tuhan... sejak menikah, kau semakin gila."


"Kau benar, aku semakin gila saat bersamamu." jawab Zionel seraya beranjak dari tempat duduknya.


Zionel menghampiri istrinya lalu berjongkok di depan wanita itu.


"Zio apa yang kau lakukan?"


Zionel menarik tangan Stevani lalu menggenggamnya. "Apa tubuhmu masih sakit?"


"Apa aku menyakitimu sayang?"


Stevani kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin kemana mana hari ini, aku hanya ingin menghabiskan waktuku berdua saja denganmu. Bermain di atas ranjang hingga puas. Apakah aku terlalu egois jika menginginkan seperti itu?" tanya Zionel.


Wajah Stevani merona. "Zio... berhentilah membuatku malu."


"Untuk apa kau malu, aku suamimu sekarang. Demi Tuhan Stevani, aku tak ingin berhenti melakukannya denganmu. Rasanya semua masalah hilang saat bersamamu."


"Zio..."


"Jadi... apakah aku bisa sarapan denganmu sekarang?"


"Hah... bukankah kita sedang sarapan bersama." jawab Stevani.


Zionel tersenyum nakal, ia bangun lalu seketika mengangkat tubuh Stevani kembali.


"Zio..."


Kali ini Zionel membawa istrinya ke sofa, ia segera memerangkap tubuh Stevani. Pria itu menarik tangan Stevani lalu mengarahkannya ke rudal miliknya yang sudah keras. Tentu saja wanita itu terbelalak.


"Zio... apa yang..."


"Rasakan sayang, ia terus menginginkanmu." potong Zionel.


Stevani memalingkan wajahnya karena benar benar malu. Suaminya benar benar pria yang bernaf su tinggi. Selama ini pria itu mempunyai pengendalian diri yang kuat didepannya, namun ternyata Zionel benar benar memendam dan kini melampiaskannya agar puas.

__ADS_1


Zionel membangunkan Stevani, pria itu langsung mendudukkan istrinya tepat di pangkuannya. Keduanya saling bertatapan cukup lama.


"Apa kau merasakannya?" tanya Zionel.


Tentu saja Stevani merasakannya. Rudal yang mengeras itu tepat berada di bawah inti miliknya. Dengan malu Stevani menganggukkan kepalanya. Seketika Zionel menarik lehernya dan menci um bibir istrinya. Keduanya saling memanggut. Lidah pria itu mulai menerobos masuk ke dalam mulutnya dan menelusuri setiap senti rongganya.


"Aaah..." suara desa han lembut keluar saat Zionel menarik lidahnya.


Dengan mahir Zionel membuka gaun yang dipakai Stevani. Tanpa di duga Stevani pun melakukan hal yang sama, wanita itu membuka kancing kemeja Zionel dan berhasil membukanya. Tangan Stevani meraba setiap senti tubuh suaminya yang berotot.


Setelah puas memainkan mulut Stevani, Zionel menuruni lehernya, bermain disana dan kembali meninggalkan kiss mark pada leher wanita itu. Zionel semakin menggila, bibirnya semakin turun tepat di belahan gunung kembar tersebut. Ia menurunkan tali br a Stevani dan membuat gunung kembar milik istrinya menyembul keluar, seketika pria itu melahapnya secara bergantian.


"Aaarrrgghhh..." rintihan keluar dari mulut Stevani saat suaminya mencicipi puncak gunung itu.


Zionel memainkan lidahnya disana, mengul um dan menggigitnya dengan lembut.


"Ya Tuhan... indah sekali..." gumam Zionel.


Suara pria itu mulai terdengar parau penuh hasrat.


"Zio..." panggil Stevani lembut.


Namun Zionel terus bermain main disana, memuaskan istrinya dengan lidahnya yang mahir. Stevani membuka gesper celana suaminya dan membantu pria itu melepaskan celana panjangnya. Terlihat dengan jelas bagaimana bukti hasrat pria itu di balik celana da lamnya.


Stevani mengingat bagaimana semalam suaminya mencicipi miliknya dengan lidah pria itu. Sontak ia berinisiatif, Stevani turun dari pangkuan Zionel dan memaksa pria itu melepaskan gunung kembarnya. Tanpa di duga Stevani menundukkan kepalanya di depan Zionel, membuka celana da lam pria itu dan cup...


Kecupan lembut mendarat tepat di ujung rudal keras milik Zionel. Pria itu terkejut sesaat, namun saat Stevani memasukkan rudalnya ke dalam mulutnya, rasa hangat seketika menjalar.


"Aaarrrgghhh..." kali ini suara rintihan keluar dari mulut Zionel.


Pria itu memejamkan matanya saat Stevani mulai bermain dengan rudal keras miliknya.


"Ya Tuhan... istriku..."


Stevani tak mendengarkan Zionel, ia terus saja melakukannya sebagai balasan atas apa yang dilakukan suaminya kepadanya. Tapi itu tak berlangsung lama, Zionel tak sanggup menahannya, ia seketika menarik Stevani bangun dan menurunkan celana da lam wanita itu. Zionel kembali membimbing istrinya agar duduk di atasnya, namun kali ini Zionel langsung menyarangkan rudalnya di dalam lubang goa kenikmatan itu.


"Aaarrrgghhh..." desa han keduanya keluar bersamaan.


Mereka melakukannya dalam posisi duduk seperti itu, Zionel mendorong ke atas sedangkan Stevani menggoyangkan pinggulnya.


"Ini gila sayang..." teriak Zionel seraya melahap kembali gunung kembar milik Stevani sambil meremasnya.


Keduanya saling bermain bersama, hanya dalam semalam bisa membuatnya menjadi wanita yang berpengalaman. Suara rintihan, lenguhan, desa han keduanya terus terdengar seirama. Zionel menambah kecepatan permainannya karena nyaris mencapai puncaknya.


"Vani... aaarrrgghhh... aku mencintaimu..." ucap Zionel dengan nafas yang memburu.


"Aaarrrgghhh... Zio... aku juga mencintaimu." sambut Stevani.


Kecepatan itu semakin tinggi, keduanya saling memeluk dan teriakan panjang terdengar dari mulut Zionel saat mengeluarkan lahar panas disana. Begitu juga dengan Stevani, tubuhnya bergetar hebat di atas pangkuan suaminya.


Keduanya mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal. Zionel tersenyum penuh kepuasan, pria itu menciu mi wajah Stevani hingga membuat wanita itu tertawa geli.


*****


Part Hareudang yang terakhir, setelah ini fokus pada masalah mereka yak🤣🤣🤣


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2