Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Ia Adalah Wanitaku


__ADS_3

"Jadi katakan yang sebenarnya sebelum kami melaporkan anda ke polisi, apa yang anda lakukan disini?" tanya sekuriti itu lagi.


"Ya Tuhan... aku sudah mengatakannya kepada kalian, aku sedang menunggu mereka." jawab Stevani.


"Ya ampun lihatlah penampilanmu, mana mungkin pemilik perusahaan ini ingin menemui wanita sepertimu." sahut penjaga taman.


"Beri aku waktu untuk menghubungi Alex." pinta Stevani.


"Silahkan... jika benar yang anda katakan itu, maka aku siap diberhentikan." ujar sekuriti itu menantang.


Stevani menghela nafas panjang, ia segera menghubungi Alex.


"Halo Lex..."


"Iya nona, kami akan segera keluar dari perusahaan." jawab Alex.


"Aku ditahan di pos keamanan."


"Apa??? Apa yang terjadi? Tunggu... nona jangan takut." ujar Alex terkejut seraya menutup teleponnya.


Stevani menatap sekuriti dan penjaga taman itu.


"Ia akan segera kemari." ujar Stevani pada mereka.


Seketika wajah keduanya memucat, jika itu benar benar Alex asisten pemilik perusahaan dari kota D, maka tamatlah riwayat mereka. Tapi keduanya menatap penampilan Stevani yang biasa itu, mereka kembali tidak percaya pada wanita itu.


"Tidak mungkin kan kau teman dari pak Alex. Pak Alex itu baru saja datang ke kota ini bersama pemilik perusahaan." kata sekuriti.


"Mungkin saja Alex yang lain." sahut penjaga taman.


Sekuriti itu tertawa. "Aku baru ingat jika ada office boy yang bernama Alex. Jadi maksud nona, Alex yang itu ya? Walaupun nona teman Alex, tapi nona tak bisa sembarangan masuk kesini apalagi menginjak injak taman."


"Haisssss pak Bambang ini, jangan percaya sama wanita ini. Aku yakin ia mau mengambil bunga bunga di taman itu." imbuh penjaga taman.


Stevani bergeming, ia tak ingin mengomentari ucapan mereka. Ia sudah lelah selalu direndahkan oleh orang lain. Kali ini ia hanya bisa menunggu kedatangan Alex agar mereka tahu kalau ia bukanlah seorang pencuri atau perampok.


*****


"Ada apa Lex?" tanya Zionel sambil terus melangkahkan kakinya menuju lift.


"Entah apa yang sedang terjadi, nona Stevani berada di pos keamanan. Dari suaranya, sepertinya ini tidak baik pak Zio." jawab Alex.


"Pos keamanan? Apa yang mereka lakukan pada Stevani? Jika mereka berani menyakiti wanita itu, aku tidak akan mengampuni mereka." ujar Zionel.


Alex hanya menggelengkan kepalanya. Pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


"Aku tidak banyak tanya, tapi aku akan segera melihat keadaannya." jawab Alex.

__ADS_1


Pintu lift pun terbuka, keduanya segera melangkahkan kaki mereka keluar dari perusahaan.


"Pak Zio... Anda tunggu saja disini, biar aku..."


Alex belum menyelesaikan ucapannya, tapi ia sudah ditinggalkan Zionel begitu saja. Pria itu mempercepat langkah kakinya menuju pos keamanan di samping perusahaan. Alex menghela nafas panjang seraya mengejar Zionel.


Keduanya pun akhirnya sampai di pos keamanan. Tanpa ada kata sapa, Zionel langsung menerobos masuk ke dalam pos. Tatapannya hanya tertuju pada Stevani yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Kedatangannya tentu saja membuat penjaga taman juga sekuriti itu terkejut setengah mati.


"Apa yang terjadi? Kau tidak apa apa kan?" tanya Zionel seraya menghampiri Stevani.


Stevani mendongakkan kepalanya lalu menggeleng. Zionel tanpa ucapan apapun ia segera membangunkan Stevani, pria itu memeriksa keadaan tubuh Stevani dan terkejut saat Stevani meringis kesakitan saat ia memegang lengannya.


Stevani segera menarik diri agar Zionel tak bertanya, namun bukan Zionel namanya jika tidak ingin tahu, pria itu segera menarik tangan Stevani dan membuka lengan bajunya. Matanya terbelalak saat melihat lengan wanita itu lebam dan membiru.


Sontak mata Zionel berkilat penuh amarah, ia menatap kedua pria yang berani menyentuh Stevani dengan tajam.


"Ia adalah wanitaku, berani sekali kalian menyentuhnya. Siapa yang melakukannya?" bentak Zionel.


Keduanya terkesiap dan ketakutan melihat kemarahan pemilik perusahaan. Mereka benar benar melakukan kesalahan karena menyentuh wanita itu.


"Tenang pak Zio, kita harus bertanya dengan tenang." ujar Alex.


"Aku tidak apa apa, aku tak sengaja terjatuh. Justru mereka membantuku lalu dibawa kemari. Karena mereka melakukan pekerjaan dengan baik, makanya mereka menahanku disini sampai kalian datang untuk meyakinkan mereka kalau aku benar benar kenal kalian. Hanya itu..." kata Stevani berbohong demi kebaikan kedua karyawan itu.


Zionel menatap Stevani, ia melihat wajah wanita itu mencari kebenaran. Stevani justru tersenyum membuat jantung Zionel tiba tiba berdebar kencang.


Keduanya saling bertatapan lalu menatap Stevani, mereka tak menyangka wanita yang mereka tuduh pencuri dan perampok adalah wanita yang sangat baik yang justru melindungi mereka.


"Iya benar, sudah jangan diperpanjang lagi. Bukankah kita bisa ketinggalan pesawat jika terus berada disini." jawab Stevani.


"Anda benar nona. Pak Zio, kita harus berangkat sekarang." ujar Alex.


Zionel mengendalikan detak jantungnya yang tidak beraturan seraya menganggukkan kepalanya. Ia kembali menatap kedua karyawan perusahaan itu.


"Aku tidak akan mencari tahu lebih banyak lagi karena nona Stevani sudah mengatakannya. Untuk kedepannya kalian bisa lebih menghormatinya karena wanita ini adalah calon istriku." ujar Zionel seraya menarik tangan Stevani keluar dari pos keamanan.


Alex menatap keduanya sebelum ikut keluar. "Aku yakin bukan itu yang terjadi sebenarnya, tapi kalian beruntung karena diselamatkan oleh wanita baik seperti nona Stevani." ujarnya seraya ikut keluar meninggalkan mereka yang masih terkejut.


Ketiganya melangkahkan kaki mereka menuju parkiran, namun Zionel tiba tiba menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


"Lex... apa di mobil ada kotak obat?" tanya Zionel.


Alex menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kau tahu apa yang harus dilakukan." kata Zionel.


"Baik pak Zio, aku akan mengambil kotak P3K di kantor." jawab Alex seraya berlari ke arah perusahaan lagi.

__ADS_1


Sedangkan Zionel kembali menarik tangan Stevani menuju mobilnya. Sesampainya di mobil, pria itu membukakan pintu mobil untuk Stevani.


"Kau tak perlu seperti ini, aku tidak apa apa." ujar Stevani.


Wanita itu merasa tidak nyaman atas apa yang dilakukan Zionel sekarang.


"Masuklah..." perintah Zionel.


Stevani pun menuruti permintaan Zionel, ia segera masuk ke dalam mobilnya. Setelah Zionel menutup pintunya, pria tersebut memutari mobil dan ikut masuk ke dalam. Keduanya sama sama terdiam sampai akhirnya Alex kembali.


Alex hanya menyerahkan kantung kompres berisi es batu pada Zionel, sebelum Zionel mengomentari lebih lanjut, Alex langsung menyalakan mobilnya karena akan terlambat ke bandara jika menunda perjalanan mereka lagi.


Zionel ingin sekali menghardik banyak pertanyaan pada Alex, namun ia mengurungkan niatnya. Ia menerima kompresan itu sambil menghela nafas panjang membuat Alex menahan tawanya.


Zionel menatap Stevani, lalu menarik tangannya lagi dan kembali menaikkan lengan baju wanita itu. Seketika Stevani menarik tangannya.


"Aku bisa melakukannya sendiri." ujar Stevani.


Tatapan Zionel berubah menjadi tajam membuat wanita itu ketakutan. Stevani sontak menundukkan kepalanya, ia tak ingin melihat kemarahan pria itu lagi.


"Apa kau anak anak umur 5 tahun yang bisa terjatuh hingga seperti ini?" tanya Zionel seraya mulai mengompres memar itu.


"Aku hanya tersandung." jawab Stevani.


"Kakimu yang tersandung tapi lenganmu yang memar." ejek Zionel.


"Bukankah itu normal, kau tak perlu memberikan perhatian palsu padaku."


Ucapan Stevani akhirnya menyulut emosi Zionel. Pria itu seketika melemparkan kompresannya tepat di pangkuan Stevani.


"Kalau begitu lakukanlah sendiri. Bahkan aku juga mengobati lukaku sendiri akibat ulahmu." bentak Zionel.


Wajah Stevani seketika memerah karena diingatkan hal itu, ia mendongakkan wajahnya lalu melihat bibir Zionel yang masih ada bekas luka gigitannya. Stevani segera mengalihkan wajahnya lalu mulai mengompres memarnya sendiri.


"Sejak awal juga aku sudah bilang bisa melakukannya sendiri. Dasar pria arogan, kasar dan mau menang sendiri saja. Kau bahkan mengatakan aku wanitamu, kapan aku setuju akan hal itu, ciiiih...!" pikir Stevani.


"Dasar wanita tak tahu terima kasih, aku sudah membantumu tapi kau bilang aku hanya pura pura perhatian. Aku bahkan sangat mengkhawatirkanmu." pikir Zionel.


"Ehem..." Alex berdeham untuk mengalihkan mereka. "Pak Zio, kita masih sempat ke restoran jika anda ingin makan siang." imbuhnya.


"Restoran paling dekat dengan bandara agar tidak terlalu terlambat." pinta Zionel.


"Baik pak." jawab Alex.


Mereka pun kembali terdiam, keheningan di dalam mobil terasa semakin canggung. Dengan berani Alex menyalakan musik, beruntung kedua orang yang ada di belakangnya tidak ada yang merasa keberatan.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2