Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Menceritakan Tentang Zaline


__ADS_3

Ramirez dan Nicholas terlihat sangat murung setelah menemui Nile. Tentu saja mereka tetap merasakan kesedihan, karena bagaimanapun Nile memang adik kandung mereka. Zionel melihat ponselnya dan mendapati beberapa pesan dari istrinya. Ia segera menjauhi Nicholas dan Ramirez lalu menghubungi Stevani.


"Ya Tuhan Zio... akhirnya kau menghubungiku. Kau membuatku gila disini." ujar Stevani saat menerima telepon dari Zionel.


"Maafkan aku sayang, aku tak sempat menghubungimu. Aku masih di kantor polisi."


"Zaline...?"


"Apa mommy belum menemuimu?"


"Belum ada siapapun yang kemari, hanya Roxy yang aku kerjai sejak tadi untuk melihat keluar rumah sakit, apakah kau sudah kembali."


"Tenanglah sayang, Zaline baik baik saja. Mungkin sekarang sudah dirawat lagi. Mungkin mommy masih di ruangannya sayang. Kau baik baik saja kan?"


"Hanya kram perut saja, tapi sekarang sudah membaik. Mungkin karena pikiranku tidak tenang hingga bayi kita ikut tegang."


"Ya Tuhan... aku akan segera ke rumah sakit. Jangan banyak berpikir sayang, kita sudah melewati semua masalah ini. Apa kau menginginkan sesuatu?"


"Tidak ada, aku hanya ingin menemui Zaline."


"Jangan coba coba pergi dari sana jika tidak ingin aku marah. Tetaplah di ruanganmu Vani, aku akan segera menemuimu."


"Tapi aku mengkhawatirkan kondisi Zaline."


"Aku tahu itu sayang, tapi demi Tuhan Zaline baik baik saja saat ini. Tunggulah sampai aku kembali oke." pinta Zionel.


"Baiklah, aku akan menunggumu kembali. Zio... aku belum mengatakannya pada Roxy soal Zaline. Bukankah seharusnya ia sudah diberitahu dan segera menemui sepupunya yang lama menghilang?"


"Kau yakin bisa mengatakannya sendiri? Jika kau bisa, aku mengizinkannya karena masalah ini sudah ditangani polisi. Gilbran dan Nile sudah ditangkap."


"Aku akan mengatakannya pada Roxy."


"Eh tunggu sebentar sayang. Jika kau mengatakannya sekarang, ia akan segera menemui Zaline lalu bagaimana denganmu? Aku tidak ingin kau sendirian disana. Tidak, tidak... lebih baik kau tunggu aku kembali saja."

__ADS_1


"Ya ampun aku baik baik saja."


"Tidak sayang, jangan berdebat lagi. Aku akan segera kembali, tetaplah diam tanpa melakukan apapun disana. Jika kau keras kepala, aku benar benar akan marah padamu Vani."


"Ck... oke oke... aku akan diam dan tetap disini."


"Itu baru istriku, aku mencintaimu Stevani."


"Aku juga."


"Sampai nanti."


Zionel menutup teleponnya seraya menghela nafasnya. Ia kembali melihat ayah dan pamannya yang masih duduk di depan kantor polisi sambil berbincang. Zionel mendekati mereka karena ingin segera kembali ke rumah sakit.


"Dad... om... aku harus ke rumah sakit. Stevani sendirian disana." ujar Zionel.


Nicholas menganggukkan kepalanya sedangkan Ramirez kebingungan.


"Ada apalagi dengan istrimu? Ia baik baik saja kan?" tanya Ramirez.


"Ya Tuhan... sebenarnya ada apa ini? Mengapa aku semakin seperti orang bodoh saja?"


"Ikutlah bersama kami om. Kami akan menceritakannya perlahan." sahut Zionel.


"Baiklah... kalian harus menceritakannya sedetail mungkin agar tidak membuatku seperti orang bodoh. Aku juga akan menghubungi Ama. Ia pasti senang mendapat kabar Haena ditemukan terutama Mila dan Jinki yang sangat kehilangan Haena." jawab Ramirez.


Mereka menganggukkan kepalanya. Nicholas dan Ramirez kembali menatap kantor polisi itu sebelum meninggalkannya. Mereka pun segera beranjak dari sana menuju rumah sakit.


*****


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Zionel dan Nicholas saling menceritakan bagaimana mereka bisa menemukan Haena. Berkali-kali Ramirez terkejut mendengar cerita mereka, bahkan pria itu merasa kejadian yang adiknya alami seperti drama yang sudah diatur oleh penulis.


"Ini benar benar suatu kebetulan yang luar biasa, ini takdirmu Zio. Kau menemukan wanita yang sangat kau cintai, dan ternyata wanita itu adalah orang yang menyelamatkan adikmu sendiri. Sungguh mendengar cerita kalian, aku masih tak bisa mempercayainya karena jalan cerita ini benar benar seperti sudah diatur oleh Tuhan." ujar Ramirez.

__ADS_1


"Om benar, aku pun merasa ini semua masih seperti mimpi. Aku menemukan wanita yang aku cintai sekaligus adikku yang menghilang selama lima tahun lebih. Aku bersyukur karena Stevani merawat Hae dengan baik dengan segala kekurangannya. Ia sangat menyayangi Hae sama seperti adiknya sendiri. Ia berjuang untuk mengobati penyakit Hae yang begitu parah dengan berjuang habis habisan. Aku benar benar bersyukur bisa mendapatkan istri seperti Stevani om." jawab Zionel.


"Bukan hanya Zio yang bersyukur atas kejadian ini, tapi kami juga sangat sangat berterima kasih karena Stevani merawat Haena dengan baik." sahut Nicholas.


"Nicho, bagaimana Haena bisa terkena penyakit jantung di usianya yang masih muda? Walaupun papa meninggal karena penyakit yang sama, tapi usianya sangat berbeda." ujar Ramirez.


Nicholas menggelengkan kepalanya. "Menurut hasil pemeriksaan sejak ia divonis hingga melakukan operasi, ada penyumbatan darah pada jantungnya hingga menimbulkan rusaknya beberapa sistem kerja jantungnya. Namun pemeriksaan terakhir setelah ia menjalani operasi, semuanya sudah kembali normal, hanya saja ia baru sadarkan diri dan perlu perawatan intensif saat ini."


"Kalian memang gila, dalam keadaan Hae yang seperti itu, kalian justru membawanya keluar dari rumah sakit untuk datang ke rapat pemegang saham."


"Hanya kehadirannya yang bisa menghentikan semuanya om. Para pemegang saham tak mungkin percaya jika Hae masih hidup sebelum melihatnya langsung. Kami juga bertindak bukan tidak ada persiapan, om lihat sendiri ia dijaga oleh tim medis yang ahli."


"Tetap saja Zio, resikonya terlalu besar. Untung saja ia hanya syok, jika sampai terjadi sesuatu yang lebih beresiko, kalian bisa menyesal seumur hidup."


"Putriku bukan gadis kecil yang dulu kak. Ia lebih dewasa dari usianya saat ini. Pemikirannya lebih hebat dari gadis seusianya. Hae lah yang ingin hadir dan menyelesaikan masalah ini. Jika Hae tidak setuju atau ketakutan, mana mungkin kami memaksanya." jawab Nicholas.


"Ya Tuhan... aku ikut bangga mendengarnya." ujar Ramirez.


"Tapi mulai sekarang panggil namanya Zaline om. Ia lebih menyukai nama pemberian Stevani. Daddy juga sudah sepakat mengganti namanya, lebih tepatnya menambahkan namanya lebih panjang menjadi Zaline Haena Cruise." kata Zionel.


"Zaline Haena Cruise? Nama itu terdengar seperti sudah menyatu sejak lama, benar benar terdengar cantik. Aku benar benar ingin melihat kedekatan Stevani dan Haena, ehm... maksudku Zaline."


"Kedekatan mereka melebihi kedekatan kami kak. Aku bahkan terkejut melihatnya, keduanya benar-benar seperti kakak beradik kandung." jawab Nicholas seraya tertawa.


"Artinya Stevani benar benar tulus menyayangi Zaline. Kau benar benar beruntung Zio."


"Om benar, aku memang merasa beruntung bisa mendapatkan wanita seperti Stevani Yunsu."


"Dan keberuntungan itu akan semakin lengkap dengan kehadiran cucuku nanti."


"Itu juga akan menjadi cucuku." sahut Ramirez.


Mereka tertawa bersama, ada kebahagiaan di balik semua masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka berharap setelah semua ini berakhir, tidak akan adalagi masalah yang akan timbul dalam keluarga besar Cruise lagi.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2