Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Mengurus Kepulangan Stevani


__ADS_3

Setelah cukup lama Zionel berbicara dengan kedua orang tuanya, pria itu meminta kedua orang tuanya agar kembali ke rumah mereka. Zionel hanya tak ingin menimbulkan kecurigaan pada keluarga besar Cruise jika mereka tetap berada di rumah sakit bersama Stevani.


"Tapi Zio, Stevani butuh teman." ujar Falera.


"Aku akan melihat kondisinya, jika memungkinkan, aku akan meminta keluar dari rumah sakit ini. Aku lebih nyaman jika Stevani kembali ke rumah." jawab Zionel.


"Zio benar mom, jika kita berlama lama di rumah sakit, akan mengundang keluarga besar Cruise untuk datang kemari. Aku hanya khawatir kita tak bisa menutupi penemuan Haena." sahut Nicholas.


"Baiklah, kami akan pulang. Tapi Zio, jika memang Stevani sudah bisa keluar dari rumah sakit, bagaimana jika sementara ia tinggal bersama kami. Kau pasti akan semakin sibuk dan sering meninggalkan istrimu."


"Apa yang dikatakan mommy ada benarnya Zio, istrimu diawasi oleh kami langsung itu lebih baik."


"Itu memang lebih baik, tapi aku tidak bisa memutuskan sendiri. Aku harus bertanya pada Stevani terlebih dahulu, aku hanya tidak ingin membuatnya tidak nyaman mom, dad."


"Kau benar juga, kau harus bertanya terlebih dahulu padanya. Zio... mommy ingin kau secepatnya mencari tahu soal ini, demi Tuhan nak, mommy ingin sekali menemui Hae saat ini."


"Aku tahu itu mom, aku mengerti perasaanmu. Aku janji akan segera menyelesaikannya. Dad... jika ini ada kaitannya dengan keluarga besar Cruise..."


"Lakukan apapun Zio, masalah Hae harus diselesaikan dengan adil. Daddy sudah tidak perduli lagi, daddy menyerahkan semua ini padamu." jawab Nicholas.


Zionel bisa bernafas lega jika sudah ada ucapan seperti itu dari ayahnya, artinya tindakan yang akan ia lakukan tidak akan diganggu lagi.


"Aku sudah menghubungi supir, kemungkinan ia sudah menunggu di depan. Mom... jangan banyak berpikir karena mommy sudah berkali-kali pingsan, daddy juga harus tenang agar kesehatan kalian tetap terjaga. Aku akan menghubungi kalian setelah bertanya pada dokter dan Stevani." ujar Zionel.


Kedua orang tuanya mengangguk, mereka pun akhirnya berpamitan pada Zionel untuk pulang ke rumah. Zionel menghela nafas panjang saat kedua orang tuanya sudah pergi, ia pun segera masuk ke dalam ruangan. Pria itu mendekati ranjang dimana istrinya terbaring. Zionel menatap istrinya cukup lama sambil menggenggam tangannya.


"Kau sudah bekerja keras sayang, terima kasih atas segalanya. Aku tak ingin melihatmu terus menangis, demi Tuhan Vani... air matamu adalah kelemahan terbesarku saat ini. Aku akan mempertemukan kalian lagi jika masalah ini benar benar sudah selesai. Aku tahu apa yang aku lakukan ini sangat membuatmu sakit, tapi mengertilah keadaan ini sayang." ucap Zionel pelan.


Zionel memegang perut istrinya yang masih rata, ia mengelusnya pelan sambil tersenyum.


"Jangan membuat mamamu kesusahan Zio junior, kelak kau harus menjadi anak kami yang cerdas. Kau harus melindungi mamamu dengan baik, saat ini mamamu butuh dukungan terbesar darimu. Kau juga kekuatan baru untuk papa."


"Apa yang kau lakukan Zio?" tanya Stevani membuat Zionel terkejut.

__ADS_1


"Apa suaraku mengganggu tidurmu?"


"Sudah waktunya aku bangun, aku sering sekali tidur."


Zionel membantu istrinya untuk duduk bersandar di bantal.


"Kau memang harus banyak beristirahat untuk memulihkan tubuhmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Zionel.


"Sudah lebih baik Zio, dimana mommy dan daddy?"


"Aku menyuruh mereka pulang ke rumah, apa kau membutuhkan sesuatu?"


Stevani menggelengkan kepalanya.


"Sayang... mungkin aku akan lebih sibuk nanti. Jadi..."


Zionel menghentikan ucapannya, ia ragu meminta istrinya tinggal di rumah orang tuanya karena Stevani pernah mengatakan tidak nyaman tinggal bersama mereka karena terasa canggung, tapi ia juga tak ingin membiarkan Stevani sendirian di rumah dalam keadaan hamil saat ini, pelayannya tidak cukup menjaganya.


"Ada apa Zio?" tanya Stevani.


"Aku setuju." potong Stevani. "Aku akan tinggal bersama mereka Zio." imbuhnya.


Zionel terbelalak. "Kau yakin?"


Stevani menganggukkan kepalanya. Seketika Zionel mendekati Stevani seraya memeluk wanita itu.


"Ya Tuhan... aku sangat lega mendengarnya. Aku akan lebih tenang saat bekerja dan meninggalkanmu nanti. Kau memang istri yang terbaik Vani."


Stevani terkekeh. "Kau berlebihan Zio, akhir akhir ini aku kenyang mendengar pujianmu."


"Aku memujimu karena itu kenyataan sayang, kau memang wanita yang luar biasa. Jika aku tak bisa mendapatkan wanita sepertimu, mungkin aku bisa menjadi pria yang bodoh dan akan terus melajang di dunia ini."


"Kau mulai berlebihan lagi, itu menggelikan Zionel Cruise." ejek Stevani.

__ADS_1


"Jangan mengejekku, setiap ejekan yang keluar dari mulut manismu ini selalu membuatku ingin tidur denganmu."


"Ciiiih... kau mulai mes um lagi." ucap Stevani seraya terkekeh. "Em... Zio... Bagaimana Zaline saat ini?"


Seketika wajah Stevani kembali bersedih.


"Jangan menunjukkan wajah seperti ini lagi sayang, berhentilah bersedih. Zaline benar benar sehat, ia merespon setiap ucapanku. Ia akan segera sadar dan kembali pada kita."


"Apa ia akan menyalahkanku?" tanya Stevani.


"Bukankah sudah kukatakan padamu, apa yang kau lakukan ini sudah benar walaupun kita harus bertemu setelah 5 tahun. Vani... setiap kejadian selalu ada hikmahnya, dan saat ini akulah yang mengambil hikmah dari kejadian ini. Aku bisa menemukan adikku sekaligus seorang istri yang luar biasa sepertimu."


"Aku juga mendapat balasan dari Tuhan, aku merawat gadis kecil yang ternyata kakaknya adalah jodohku."


Zionel mengecup kening Stevani dengan lembut. "Akulah yang lebih beruntung sayang. Aku akan menemui dokter Julius, jika keadaanmu sudah lebih baik, keluar dari rumah sakit pilihan yang tepat saat ini."


"Pergilah..." ucap Stevani sambil mengangguk.


Zionel menatap ruangan, ia tak ingin meninggalkan istrinya sendirian.


"Zio..."


"Walaupun anak buah Alex masih berjaga, tapi aku masih ragu meninggalkanmu. Lebih baik aku panggil dokter Julius saja kemari."


Stevani menghentikan suaminya yang akan menekan tombol panggilan darurat. Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Walaupun kau memiliki saham di rumah sakit ini, kau cukup dihormati disini, tapi memanggil dokter hanya untuk bertanya seperti itu tidak sopan Zio. Mereka akan panik saat masuk ke dalam sini, sedangkan kau hanya ingin bertanya. Pergilah... aku akan baik baik saja disini. Bukankah kau bilang masih ada penjaga di luar, aku akan aman sayang." ujar Stevani.


Zionel menyunggingkan senyumnya. "Untung saja kau memanggilku dengan mesra, aku akan menurutimu. Jika ada yang tidak beres, segera tekan tombolnya. Aku akan segera kembali."


Stevani menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati Zionel kembali meninggalkan ruangan untuk menemui dokter Julius. Akan lebih aman bagi Zionel dan keluarganya jika Stevani berada di bawah pengawasan mereka. Ia tak ingin penjahat terselubung dalam keluarganya bisa melukai Stevani. Dengan langkah cepat, Zionel menunju ruangan dokter Julius. Beruntung baginya, dokter tersebut memang masih berada di dalam ruangannya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2