Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kemarahan Stevani


__ADS_3

Zionel terus menatap wajah istrinya sambil menunggu jawaban dari wanita itu. Ia tahu Stevani sangat tidak senang saat ini, tapi mau tidak mau ia harus mengatakan tentang semua ini pada istrinya.


"Apa kau sudah gila?" ujar Stevani setelah bungkam begitu lama.


Suaranya membuat Zaline akhirnya terbangun. Gadis kecil itu mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Stevani dan Zionel bergantian.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Mengapa wajah kalian terlihat aneh?" tanya Zaline.


"Maaf Zaline suaraku membangunkanmu." jawab Stevani.


"Ada apa bang?"


"Maaf Zaline, bang Zio sedang membicarakan soal kehadiranmu di perusahaan besok. Dan sepertinya kakakmu sangat tidak senang."


"Apa aku harus tertawa setelah mendengar ucapanmu? Apa kalian sama sekali tidak memikirkan kesehatan Zaline?"


"Kakak... hanya itu yang bisa menghentikan perbuatan mereka. Jadi..."


"Jadi kau harus keluar dari rumah sakit setelah baru sadar dari koma? Apa kau juga sudah gila." bentak Stevani.


"Sayang... aku tahu kau sangat marah dengan keputusan kami. Tapi..."


"Apakah tidak bisa mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?" potong Stevani seraya melepaskan selang infus di tangannya dengan kasar.


"Vani..." "Kakak..." ujar Zionel dan Zaline bersamaan.


"Kalian bahkan tidak memikirkan perasaanku. Aku mati matian mencari cara untuk menyelamatkan Zaline, aku tersiksa dan tak bisa tenang memikirkan adikku yang tak sadarkan diri. Setelah Zaline terbangun, kalian ingin membawanya keluar dari rumah sakit hanya untuk menyelamatkan perusahaan. Apakah perusahaan lebih penting dari nyawanya? Ia baru sadar dari koma, ia baru saja melewati jalan antara hidup dan mati. Ia bahkan belum bisa berjalan dengan baik tanpa alat bantu. Zaline bahkan masih dibawah umur, ia tak pantas ikut menyelesaikan masalah berat seperti ini."


"Sayang... tenanglah..." pinta Zionel.


"Kakak... ini bukan salah abang. Akulah yang ingin menyelesaikan masalah ini. Aku hanya tak ingin membiarkan orang jahat itu memegang kendali keluarga Cruise. Kakak... jika aku diam saja disini, maka keadilan yang aku inginkan pupus sudah. Aku terbuang dan keluargaku kalah. Kakak lihatlah keadaanku, aku baik baik saja saat ini. Aku hanya muncul sebentar untuk memperkuat kepemilikan sahamku dan membantu daddy, bang Zio dan keluarga Cruise yang lain."


Stevani memaksakan diri turun dari tempat tidur membuat Zionel segera mencegahnya.


"Lepaskan aku..."


"Vani... ingat anak kita."

__ADS_1


"Heh... aku tidak mengerti orang orang kaya seperti kalian. Lepaskan aku Zio..."


"Sayang... aku tahu kau sangat marah, tapi pikirkan tubuhmu, pikirkan kandunganmu. Kita bisa bicara baik baik kan?"


"Kakak... Jangan seperti ini... Jangan membuatku sedih kak." sahut Zaline seraya terisak.


"Ya Tuhan... apa yang kalian ributkan malam malam begini?" Falera terbangun dari tidurnya.


Mereka semua menatap Falera. Wanita itu terbelalak saat melihat darah yang menetes dari tangan Stevani.


"Zio... panggil suster..." teriak Falera sambil mendekati mereka.


Melihat kepanikan Falera, yang lain baru menyadari jika tangan Stevani berdarah akibat ia menarik jarum infusnya sendiri. Zionel langsung menekan tombol panggilan darurat seraya menekan darah yang keluar dari tangan istrinya.


"Kau ingin membunuhku hah? Mengapa kau selalu saja melakukan kebodohan?" bentak Zionel.


Dengan keras kepala Stevani menarik tangannya. "Kalian berlebihan... ini hanya..."


Dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.


"Ada apa tuan, nyonya?"


Mereka melihat tangan Stevani yang berdarah lalu segera membersihkan darah itu. Saat perawat yang lain ingin memasangkan infus lagi, seketika Stevani menolaknya. Dengan kesal Zionel menarik tangannya dengan kuat.


"Kau menyakitiku." ujar Stevani.


Zionel melepaskan tangannya, pria itu mengumpat seraya keluar dari ruangan dengan penuh amarah.


*****


Stevani akhirnya bisa lebih tenang setelah Falera berbicara, wanita itu bahkan sudah diinfus kembali.


"Maaf..." kata Stevani sambil terisak.


"Kami juga sangat menyayangi Zaline, apakah mungkin kami akan mengorbankan anak kami hanya karena masalah perusahaan Vani? Kami sudah memikirkan semua ini dengan baik, bahkan Zaline akan ditemani tim medis saat ke perusahaan. Ia hanya muncul untuk menguatkan kepemilikan sahamnya saja, perusahaan ini kelak menjadi milik Zaline. Ia harus menyelamatkan perusahaannya sendiri dari orang orang serakah yang hampir membunuhnya. Kami juga terpaksa melakukan ini karena tidak ada jalan lain yang bisa kami siapkan hanya dalam satu hari. Kau jangan marah pada Zio, karena suamimu pun sebenarnya tidak menyetujui ini. Daddy lah yang mengambil keputusan." ujar Falera.


"Dan aku sendiri yang bersedia melakukannya." sahut Zaline. "Tadi siang bang Zio sangat marah dengan permintaanku ini kak. Tapi aku harus menyelesaikan semua ini dengan cepat sebelum mereka bertindak lebih gila lagi. Aku janji akan baik baik saja dan kembali kemari untuk melakukan perawatan lagi." imbuhnya.

__ADS_1


Stevani menatap pintu dengan sedih, sudah cukup lama Zionel keluar ruangan dengan marah. Ia memang sangat keras kepala karena terlalu mengkhawatirkan kondisi tubuh Zaline.


"Aku terlalu mengkhawatirkan kondisi Zaline mom. Cukup berat untukku berjuang untuk menyelamatkannya. Aku tak bisa menahan emosiku saat tahu Zaline akan keluar dari rumah sakit hanya untuk ke perusahaan. Zaline... maafkan kakak. Kakak selalu menjadi gila menyangkut dirimu."


Zaline memeluk Stevani seraya terisak. "Aku tahu kakak sangat menyayangiku, aku tahu apa yang kakak rasakan. Maaf Zaline selalu membuat kakak kesulitan."


"Jangan berkata seperti itu, kau adalah peri kecil yang hadir dalam hidupku. Tanpa kehadiranmu, aku tidak mungkin bisa bertahan."


Falera menghela nafas panjang, kedekatan Stevani dengan Zaline melebihi kedekatannya sendiri. Falera meninggalkan mereka untuk menemui Zionel. Karena wanita itu tahu, Stevani sangat menyesal telah membuat suaminya marah seperti tadi.


*****


Di luar ruangan, Falera melihat putranya sedang menundukkan kepalanya dengan sedih. Wanita itu mendekati Zionel seraya menepuk pundaknya. Zionel seketika mengangkat kepalanya.


"Mom... Bagaimana?"


"Kau seharusnya lebih sabar menghadapi istrimu Zio. Ia seperti itu karena sangat mengkhawatirkan Zaline. Dan kau juga harus ingat, wanita hamil sangat mudah melow dan sangat sensitif."


"Aku keluar ruangan bukan karena marah mom, tapi aku tak bisa melihatnya seperti itu. Kekeraskepalaannya membahayakan dirinya sendiri, aku bisa gila menghadapinya. Aku tahu ia sangat mengkhawatirkan Zaline, tapi ia seharusnya memikirkan kondisinya juga. Aku benar benar lemah dihadapannya. Aku lemah mom..."


Falera tersenyum. "Kau sangat mencintainya Zio, itulah mengapa kau menjadi lemah. Vani sudah bisa menerima keputusan ini, ia sudah tahu jika Zaline akan ditemani tim medis. Tenangkan dirimu dan temui Vani, ia terus saja menatap pintu ini. Kau harus lebih kuat saat menghadapinya."


Zionel menganggukkan kepalanya. "Lebih baik mommy pulang saja, tidur disini tidak baik untuk kesehatan mommy. Daddy juga butuh mommy di rumah."


"Mommy tidak ingin meninggalkan mereka, tapi kau juga benar jika daddy membutuhkan mommy. Baiklah mommy pulang saja, besok mommy akan ikut daddy ke perusahaan."


Zionel kembali menganggukkan kepalanya, ia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi supir untuk menjemput ibunya.


"Aku akan masuk setelah mengantarkan mommy keluar dari sini, mungkin supir akan tiba setengah jam lagi. Apa mommy lapar?"


Falera menggelengkan kepalanya. "Mommy lebih baik berpamitan pada Vani dan Zaline."


"Baiklah, aku tunggu disini."


Falera kembali masuk ke dalam ruangan untuk berpamitan, tak lama wanita itu kembali keluar menemui Zionel lagi. Keduanya pun beranjak dari sana menuju lift rumah sakit. Zionel mengantarkan ibunya sampai ke depan rumah sakit. Walaupun cukup lama mereka menunggu disana, akhirnya supir keluarga Cruise pun tiba dan membawa Falera pulang ke rumah.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2