Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Masakan Zionel


__ADS_3

Zionel menatap semua pakaian milik Stevani sambil menggelengkan kepalanya.


"Ckckck... Pakaian seperti ini mana mungkin akan dipakai untuk menemui keluarga Cruise. Ia akan menjadi bahan tertawaan, aku tidak akan membiarkan orang lain menghinamu." pikir Zionel.


"Lex...!!!" panggil Zionel.


Seketika Alex menghampirinya. "Ya pak Zio."


"Hubungi beberapa butik ternama untuk membawa semua pakaian terbaik mereka kemari, sekarang..." perintah Zionel.


"Baik pak." jawab Alex seraya mengambil ponselnya dan mulai sibuk menghubungi beberapa butik ternama di kota D.


Zionel selesai memakai pakaiannya, tanpa di duga pria itu justru masuk ke dapur dan mulai memasak makan malam. Sejak ia keluar dari rumah Cruise, ia tentu saja belajar memasak dari chef ternama. Pria itu sangat kompeten dalam memasak. Entah kenapa ia ingin sekali Stevani mencicipi masakan buatannya.


Alex menghampirinya setelah selesai mengurus masalah butik.


"Ada yang bisa dibantu pak Zio?"


"Tak perlu."


"Anda pasti lelah, lebih baik kita makan di luar atau memesan saja pak."


"Aku sudah lama tidak memasak, aku juga tidak lelah. Bagaimana dengan butiknya?"


"Mereka akan segera kemari. Pak Zio... jika sudah tidak ada urusan lagi, bolehkah aku kembali ke rumah sekarang?"


"Apa kau tidak ingin mencicipi masakanku?"


Alex langsung menggelengkan kepalanya.


"Mana mungkin aku makan masakan atasanku, lebih baik aku tidak mengganggu mereka." pikir Alex.


"Kau tidak percaya kalau aku bisa memasak?"


"Bukan seperti itu pak Zio, tapi aku ingin mandi dan beristirahat di rumah. Besok pagi aku akan datang kemari."


"Baiklah, bawa saja mobilnya. Besok datanglah jam 9 pagi. Aku akan segera membawa Stevani ke rumah. Terima kasih untuk hari ini Lex."


"Tentu pak Zio, itu sudah menjadi pekerjaanku. Soal butik..."


"Aku bisa mengurusnya." potong Zionel.


Alex pun menganggukkan kepalanya seraya berpamitan. Zionel terus berkutat di dapur hingga masakannya selesai, ia segera menyajikannya di meja makan sambil menunggu Stevani selesai mandi. Suara bel pintu berbunyi, Zionel segera membuka pintunya.


Ternyata butik yang di pesan Alex sudah tiba. Mereka mendorong stand hanger gawang yang sudah tergantung beberapa pakaian cantik dan siap untuk dipilih oleh Stevani. Zionel mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


Stevani akhirnya menyelesaikan mandinya, wanita itu sudah mengganti pakaiannya namun rambutnya tetap basah terurai. Zionel menatapnya, gairahnya seketika timbul saat melihat penampilan wanita itu. Ia berkali kali menelan saliva nya untuk melenyapkan gairahnya sendiri.


"Apa ini?" tanya Stevani.


"Aku tak bisa menunggu sampai besok, pilihlah beberapa pakaian untuk menggantikan semua pakaian yang kau bawa sebelumnya. Jika kau menyukai semuanya, maka ambillah tanpa ragu." jawab Zionel.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Pakaianku semuanya masih ada, aku tak biasa memakai pakaian seperti ini."


Zionel mendekati Stevani. "Apa aku harus berkali-kali mengingatkan isi kontrak itu nona. Salah satunya adalah kau tak bisa membantah ucapanku. Lakukan dengan cepat lalu kita makan malam." bisiknya.


Stevani menggertakkan giginya, ia harus menahan diri di depan wanita wanita yang membawa pakaian itu. Dengan kesal Stevani menunjuk beberapa pakaian tanpa memilihnya lagi.


"Ini... ini... ini... yang ini... ini juga..." ucap Stevani.


Zionel terkekeh geli melihatnya. "Jangan memilih asal asalan, kau harus mencobanya."


"Tidak perlu, aku hanya perlu menyebutkan ukuran pakaianku kan?" tanya Stevani pada pelayan butik itu.


"Benar nona." jawab mereka.


Stevani menyebutkan ukuran pakaiannya.


"Aku ambil semua dengan ukuran itu." ujar Zionel membuat Stevan terbelalak. "Kirimkan nomor rekening kalian beserta jumlahnya ke asistenku. Ia yang akan mengurusnya." imbuhnya.


"Aku tak butuh sebanyak itu Zio. Kau melakukan pemborosan."


"Kalian boleh keluar setelah selesai, kami akan makan malam." ujar Zionel tanpa menghiraukan ucapan Stevani.


Mereka semua menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan beberapa pakaian yang memiliki ukuran yang sama dengan yang disebutkan Stevani, sedangkan sisanya akan dikirimkan nanti. Mereka pun meninggalkan apartemen Zionel.


Stevani menatap Zionel dengan tajam. "Jika kau berniat untuk membeli semuanya, untuk apa kau menyuruhku memilihnya?"


"Hanya formalitas." jawab Zionel datar.


"Apa tenggorokanmu tidak sakit? Kau terus mengeraskan suaramu saat berbicara denganku." potong Zionel. "Berhentilah berbicara, ayo kita makan. Aku benar benar sudah kelaparan." imbuhnya.


Stevani menghela nafasnya, pria itu benar benar melakukan apapun sesuai keinginannya. Stevani memegang rambutnya yang masih basah.


"Aku harus mengeringkan rambutku. Kau makanlah lebih dulu." ujar Stevani seraya meninggalkan Zionel menuju ruang ganti untuk mengambil hair dryer.


"Kau gunakan hair dryer ku di kamar mandi saja, ada di laci kamar mandi. Aku tak suka ada rambut berjatuhan di dalam ruangan. Kau bisa mengeringkan rambutmu di kamar mandi." teriak Zionel.


Dengan kesal Stevani membalikkan tubuhnya sebelum masuk ke ruang ganti, ia segera menuju kamar mandi kembali. Ia tak tahu jika di kamar mandi Zionel sudah tersedia hair dryer. Tapi pria itu tadi mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuknya.


Zionel terus menunggu Stevani tanpa menyentuh makanannya. Ia ingin wanita itu terbiasa makan bersamanya. Ia juga ingin mengajari Stevani cara makan yang benar saat berhadapan dengan keluarganya nanti. Zionel terus mengetukkan alat makannya di atas meja.


Beberapa menit kemudian, Stevani pun sudah selesai mengeringkan rambutnya.


"Cepatlah makan." pinta Zionel.


Stevani menghampiri meja makan. "Mengapa kau belum menyentuh makanannya?"


"Menunggumu, mulai sekarang kita harus terbiasa makan bersama. Makanlah yang banyak, kau beruntung karena semua ini masakanku." jawab Zionel.


Stevani terkejut mendengarnya. "Ini masakanmu?"


Zionel mengangguk. "Apa kau pikir aku pria kaya yang tak bisa apa apa?"

__ADS_1


"Tidak... hanya saja jarang sekali seorang pria bisa memasak."


"Chef juga banyak seorang pria nona."


"Tapi kau bukan seorang chef."


"Kau bisa memuji masakanku karena rasanya tak berbeda jauh dari masakan seorang chef."


"Ciiiih.... percaya diri sekali."


"Maka cobalah..."


Stevani mulai mencoba makanannya, ia benar benar terkejut saat mencicipi masakan itu.


"Rasanya benar-benar lezat, aku tak menyangka pria seperti ini bisa memasak." pikir Stevani.


"Bagaimana?" tanya Zionel.


"Lumayan." jawab Stevani datar.


"Hanya lumayan? Sepertinya selera makananmu begitu tinggi nona." ejek Zionel.


"Ini enak kok."


Zionel mendengus. "Makanlah yang banyak. Setelah sampai disini, aku hampir lupa menanyakan keadaanmu. Apa kau merasa masih kurang sehat? Jika iya, kita bisa ke rumah sakit."


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku lebih baik setelah mandi."


"Syukurlah... Kau bisa tidur di ranjang itu untuk beristirahat. Aku akan tidur di sofa. Besok persiapkan dirimu untuk bertemu orang tuaku, apa kau sudah memutuskan identitasmu?"


Stevani mengangguk. "Aku akan mengikuti saranmu."


"Mengapa kau berubah pikiran?"


"Alex benar, aku harus melindungi diriku dan juga Zaline."


"Pak Alex... berhentilah memanggil namanya." kata Zionel kesal lagi.


"Oh baiklah, P. A. K pak... Alex..." jawab Stevani menegaskan dengan mulut yang sengaja mengejek.


"Sialan... mengapa aku ingin menciummu?" pikir Zionel saat melihat bibir Stevani seperti itu.


"Ehm... habiskan makanannya. Sepertinya aku tak perlu mengajarimu cara makan yang benar, karena kau sudah melakukannya dengan baik." ujar Zionel.


Stevani kembali menatapnya dengan tajam, ia tidak sekampungan itu. Ia sangat lama bekerja di klub malam. Semua makanan mulai dari yang biasa sampai makanan mewah sudah ia icipi disana, bahkan ia juga belajar cara memakannya dengan benar.


Menyadari tatapan tajam Stevani yang menusuknya, Zionel hanya menyeringai membuat pria itu yang terlihat arogan sebelumnya menjadi lebih tampan. Stevani mengendalikan dirinya, ia tak mau berdebat lagi. Ia pun mulai fokus dengan makan malamnya hingga selesai.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2