
Rumah Besar Cruise
Setelah Falera kembali dari rumah sakit, ia dan suaminya mengumumkan soal pernikahan Zionel yang akan dilakukan 5 hari lagi. Semua keluarga yang sedang menjenguknya tentu saja sangat terkejut dengan keputusan itu karena sebelumnya, Falera maupun Nicholas Cruise tidak menyetujui permintaan Zionel. Dan yang lebih mengejutkan adalah sikap Nile Cruise, setelah mendengar pengumuman itu, wanita itu langsung berpamitan pada mereka.
Falera berbaring di kamarnya, ia masih ditemani suaminya setelah saudara saudaranya sudah pulang meninggalkan rumah besar Cruise.
"Dad... apa kau tak melihat sikap kak Nile?" tanya Falera.
"Sikap yang mana sayang?" tanya Nicholas.
"Ia langsung pergi setelah mendengar kita menyetujui pernikahan Zio."
Nicholas menyeringai. "Bukankah ia memang selalu seperti itu mom. Nile lebih sibuk daripada wanita karir, pergaulannya masih seperti anak anak muda. Tidak ada yang terlihat aneh. Beristirahatlah, sebentar lagi bibi akan mengantarkan buburnya."
"Mungkin aku memang terlalu banyak berpikir, bagaimana pekerjaan Zio?"
"Aku sudah menandatangani berkas pembangunan hotel bagian barat. Tapi Zio menyerahkan kontruksi pada kepala kontruktor bukan pada paman pamannya. Aku rasa ada pertimbangan tersendiri darinya."
"Apa mereka tidak mempersulit Zio karena kecewa dad?"
"Jangan terlalu banyak berpikir sayang, adik adikku tidak mungkin mempermasalahkan hal ini. Jabatan mereka di perusahaan sudah cukup membuat mereka sibuk, mana mungkin masih sempat kecewa karena masalah proyek hotel." jawab Nicholas.
Falera menghela nafas panjang. "Hanya kak Ram yang tak mau tahu soal perusahaan. Aku berharap keluarga kita tidak ada masalah karena Cruise Grup. Sejak papa mu menyerahkan hak waris pada keluarga kita, sejujurnya aku sangat takut dan setelah saham terbesar diberikan pada putri kecil kita, aku semakin takut. Namun Haena tiba tiba menghilang, walaupun hubungan keluarga Cruise sangat damai sampai sekarang, aku masih tetap memikirkan kemungkinan itu dad."
"Kita sudah pernah membahas soal ini mom, mana mungkin adik adikku tega seperti itu. Kita sudah menyelidiki kasus hilangnya Hae dengan teliti, semuanya nihil. Jika keluarga Cruise benar benar terlibat dalam kasus ini, mana mungkin tidak ada bukti sama sekali, mana mungkin mereka ikut sibuk selama 5 tahun mencari Hae. Tolong hentikan pikiranmu itu, Cruise memiliki martabat, hal serendah itu mana mungkin dilakukan mereka." ujar Nicholas.
"Jika Hae diculik, mana mungkin penculik tidak meminta tebusan. Jika Hae dibunuh, kita tidak memiliki musuh selama ini dan dimana jasad putri kita. Jika Hae melarikan diri dari rumah, apa alasannya dad? Kita semua sangat menyayanginya, semua yang ia inginkan selalu kita penuhi. Itulah yang selalu membuatku berpikir..."
Falera menghentikan ucapannya, ia justru terisak saat mengingat putrinya lagi. Nicholas mendekati istrinya lalu kembali menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kita hanya bisa berusaha, tetapi tetap Tuhan yang menentukannya. Satu satunya cara agar kita tahu dibalik hilangnya Hae adalah dengan menemukannya. Kita tidak akan pernah menyerah mom, percayalah Tuhan akan menjawab semua usaha kita. Tenangkan dirimu, kau tak pernah berhenti menangis setiap memikirkan putri kita. Itu akan membuat kesehatanmu memburuk." pinta Nicholas sambil mengelus punggung istrinya.
"Sejak Hae menghilang, kita juga kehilangan Zio. Sebelumnya Zio menolak siapapun wanita yang mendekatinya apalagi untuk menikah itu tidak akan terjadi jika Hae belum kembali. Aku masih mengingat ucapan Zio dad. Tapi kali ini ia bahkan terburu buru menikah dengan wanita yang baru ia kenal, ia melupakan kata katanya dad. Aku hanya khawatir ia melupakan adiknya setelah bersama wanita itu."
"Kau terlalu banyak berpikir, Zio adalah putra kita yang sangat bertanggung jawab mom. Kita menanamkan rasa tanggung jawab itu sejak ia kecil. Keputusannya kali ini memang sudah benar, kita tidak bisa membiarkan cucu kita terlahir dengan status anak haram."
__ADS_1
Falera melepaskan pelukannya. "Seharusnya ia tidak kehilangan kendali, bagaimana ia bisa bersama wanita itu dalam satu kamar sedangkan ia sangat menjauhi wanita. Mungkin saja ini jebakan dari wanita itu untuk mendapatkan harta saja."
"Kau salah tentang hal ini." jawab Nicholas seraya beranjak dari tepi ranjang.
Nicholas berjalan mendekati jendela kamar, pria itu mulai menceritakan apa yang ia dengar dari Alex pada istrinya. Mengulas setiap kata dari Alex tanpa terlewat sedikitpun.
"Begitulah yang sebenarnya terjadi mom. Kesalahan ini benar benar dibuat oleh putra kita." ujar Nicholas di akhir ceritanya.
"Ya Tuhan..." hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Falera karena masih tak mempercayai semuanya.
"Kita sudah sepakat untuk mengalah, kau juga sudah memberikan restu untuk mereka. Berhentilah berpikir jelek tentang Stevani. Wanita itu hancur karena ulah putra kita mom. Ia pasti berat menjalani semua ini, kita harus membantunya bahagia bersama Zio, bukan terus menyalahkannya."
"Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Mengapa mereka tak bisa menghadiri pernikahan putrinya sendiri. Ini adalah pernikahan dad, bukan acara main main."
"Alasan terbesarnya adalah adik Stevani. Wanita itu tidak ingin kedua orang tuanya tahu soal keadaan adiknya yang sedang koma. Sedangkan Zio terus memaksa Stevani untuk menikah karena masalah janin yang dikandungnya." jawab Nicholas.
"Inikah yang daddy dengar dari Zio?"
Nicholas menganggukkan kepalanya.
Suara ketukan pintu kamar terdengar.
"Tuan, nyonya... ada tamu." ujar seorang pelayan. "Bibi juga bawa bubur buat nyonya." imbuhnya.
Nicholas mendekati pintu kamar lalu membukanya. "Tamu? Siapa bi?"
"Katanya pemilik PT. Yudistira Pesen." jawab bibi Kukum.
Seketika Nicholas tertawa. "Fashion bi bukan pesen."
"Ya gitulah tuan, bibi tidak bisa ngomongnya." jawab bi Kukum.
Nicholas menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melihat istrinya. "Masalahmu sudah datang mom, kali ini Varisa datang bersama orang tuanya. Makanlah buburnya, aku yang akan menemui mereka terlebih dahulu."
Falera menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya dan membiarkan suaminya keluar dari kamar. Sedangkan bi Kukum masuk untuk memberikan bubur itu.
__ADS_1
"Tadi bibi bilang PT apa?" ejek Falera.
"Sudah toh nyonya jangan diejek lagi, bibi tidak bisa nyebut pepes apa pesen."
Falera tergelak. "Terima kasih bi sudah menghibur."
"Bibi suapi ya nyonya."
Falera menggeleng. "Aku tidak stroke, aku masih bisa makan sendiri."
"Tapi bibi senang merawat nyonya."
"Aku tahu itu, bibi sangat setia bersama kami selama 20 tahun lebih. Menjaga Hae sejak lahir..."
Air mata Falera kembali tumpah.
"Ya Allah nyonya, sabar... nona kecil pasti kembali." ujar bi Kukum.
"Aku merindukannya bi, aku ingin memeluk putriku." ujar Falera sambil terisak. "Apakah Hae hidup dengan baik, makan dengan baik? Apakah ia sehat bi? Apakah Hae merindukan aku?"
Bi Kukum tidak bisa menahan air matanya, ia ikut menangis melihat Falera selalu seperti itu jika merindukan Haena.
"Nyonya tenang saja, bibi yakin nona kecil sehat. Ia pasti merindukan nyonya, tapi ada alasan yang membuatnya tidak bisa kembali. Tenang nyonya, jika tuan melihat nyonya seperti ini lagi, tuan bisa jatuh sakit karena terlalu memikirkannya."
"Rasanya sakit bi, hatiku tersayat jika mengingat Haena. Mengapa Tuhan memisahkan kami? Apa kesalahanku? Aku tak pernah menyakiti siapapun, tapi mengapa aku harus kehilangan putri kesayanganku bi? Kenapa...?" ucapan itu terdengar memilukan dari seorang ibu.
Bi Kukum mendekati Falera lalu memeluk wanita itu. "Bibi sangat tahu apa yang dirasakan nyonya, bibi pun merasakan hal yang sama nyonya. Kita terus berdoa kepada Tuhan agar nona kecil segera ditemukan dan berkumpul kembali seperti dulu, membawa keceriaan dalam keluarga ini."
Falera terus terisak di pelukan pelayannya. Bi Kukum berusaha menenangkan wanita itu yang selalu menangis saat mengingat putrinya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk tuannya yang sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri selama lebih dari 20 tahun.
*****
Bawang oh bawang... bukan papa bawang, bukan bawang goreng, bukan bawang bombai, bukan bawang merah atau putih... Tapi entah kenapa part ini membuat air mataku tumpah.
Happy Reading All...
__ADS_1