Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kedatangan Angga


__ADS_3

Sepertinya baru saja Stevani tertidur saat pintu kontrakannya kembali diketuk. Namun kali ini ketukan itu bukan seperti biasanya. Ketukan yang awalnya pelan menjadi gedoran keras dan teriakan seorang pria samar samar terdengar disana.


"Keluarlah Van... Keluar..." teriak pria itu.


Stevani berusaha mengumpulkan nyawanya karena terkejut. Ia bangun lalu berusaha mengenali suara pria itu. Matanya terbuka lebar saat akhirnya tahu siapa yang ada di luar. Stevani melihat jam di ponselnya, baru pukul 4 pagi.


"Van... aku mohon keluarlah..." teriak pria itu lagi.


Stevani menghela nafasnya lalu turun dari tempat tidurnya menuju pintu. Ia membuka pintunya dan terkesiap saat melihat Angga datang dengan mabuk berat tergeletak di lantai.


"Kak... apa yang kau lakukan disini?" tanya Stevani.


Angga menyeringai dengan bodoh. "Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."


"Ya Tuhan kak Angga. Bangunlah..." pinta Stevani seraya mengangkat tubuh Angga yang berat.


Seketika pria itu justru memeluknya membuat Stevani terkejut.


"Aku mencintaimu Van, aku tak mau kehilanganmu. Aku akan menjual semua milikku asal kau mau menikah denganku, aku akan merawat adikmu. Aku janji akan membantumu melewati semua cobaan hidupmu. Tetaplah bersamaku, jangan kemana mana Van."


"Kak Angga lepaskan aku... ini tidak benar kak." pinta Stevani.


Alih-alih melepaskan Stevani, Angga justru memeluknya semakin erat. Tanpa di duga warga di sekitar tempat itu mulai beraktivitas dan melihat keduanya berpelukan saat melewati kontrakan Stevani.


Beberapa warga menatapnya penuh cemooh.


"Kalau mau berzinah jangan disini, dasar wanita murahan." teriak salah satu warga yang melintas.


Stevani hanya bisa menahan amarahnya karena hinaan itu. Ia sejak dulu memang tak pernah menanggapi ucapan mereka.


"Kak lepaskan aku... kau membuat mereka salah paham." pinta Stevani sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Angga.


Dengan kuat Stevani mendorong tubuh Angga hingga akhirnya pria itu justru terjungkal ke belakang.


"Oh Tuhan... maafkan aku kak." ujar Stevani.


"Van... aku mohon jangan tinggalkan aku." ujar Angga lagi.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan dengan pria mabuk ini. Kedatangannya akan membuat warga semakin merendahkan aku." pikir Stevani.


Dengan cepat Stevani masuk kembali ke dalam meninggalkan Angga untuk mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi Lukas teman Angga di bar. Untung saja ia menyimpan nomor ponsel pria itu. Beberapa kali deringan akhirnya telepon itu diangkat.


"Halo Lukas, apa aku mengganggumu? Ini aku Stevani."


"Aku tahu ini kau Van, ada apa kau menghubungiku pagi pagi seperti ini. Aku baru saja sampai di rumah." jawab Lukas.


"Bisakah aku minta bantuan, kak Angga datang kesini dengan mabuk berat."

__ADS_1


"Astaga, kapan ia minum alkohol. Tadi saat kami selesai bekerja, aku belum melihatnya minum Van."


"Aku tak tahu, yang jelas ia mulai meracau. Kedatangannya membuat warga berpikiran jelek Lukas, tolong bantu aku menjemputnya kemari."


"Kirimkan lokasimu tinggal Van, aku belum tahu dimana kau tinggal. Aku akan segera kesana."


"Terima kasih bantuannya Lukas, aku akan segera mengirimkan lokasinya." jawab Stevani lalu menutup teleponnya.


Stevani menghela nafas panjang, ia mengirimkan lokasinya pada Lukas lalu kembali keluar. Ia menatap Angga yang ternyata sudah tertidur di lantai. Wanita itu mendekati Angga.


"Maafkan aku kak, aku tak bisa membalas perasaanmu. Selain aku tidak menyukaimu, kita juga berbeda keyakinan. Kau pasti akan mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku. Aku sudah kotor kak, aku tak pantas untukmu." gumam Stevani.


Stevani duduk di kursi depan, ia menunggu kedatangan Lukas sambil mengawasi Angga. Berkali kali ia menguap karena masih mengantuk. Ia benar-benar sulit tertidur semalaman, dan ketika baru saja tertidur, Angga justru datang secara tiba-tiba dengan keadaan seperti ini.


Stevani menyenderkan kepalanya ke dinding kontrakan, tak terasa ia justru ikut tertidur disana.


*****


Beberapa jam kemudian...


Suara dering ponsel membuat Stevani terkesiap. Ia terkejut saat melihat hari sudah semakin terang. Angga masih tergeletak di lantai, ia bahkan ikut tertidur di luar selama dua jam. Ia menatap layar ponselnya ternyata itu dari Lukas.


Stevani segera mengangkat teleponnya. "Halo..."


"Aku sudah sampai di titik lokasi yang kau kirimkan Van, tapi aku tak tahu lebih tepatnya dimana kontrakanmu."


Stevani beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya melewati Angga. Pria itu tiba tiba terbangun lalu memeluk kaki Stevani.


"Kak Angga, sadarlah..."


"Jangan pergi..." pinta Angga.


"Ya Tuhan..." Stevani akhirnya kesal, ia pun dengan kasar melepaskan tangan Angga.


Ternyata Angga hanya mengigau, setelah berhasil melepaskan dirinya, ia segera berlari ke arah gang kecil. Ia mencari cari keberadaan Lukas.


"Lukas, cepatlah..." teriak Stevani setelah melihat pria itu.


Lukas menatapnya terkejut, ini pertama kalinya Lukas melihat Stevani hanya memakai piyama tidur dengan wajah yang polos. Wanita itu justru terlihat sangat cantik dengan wajah alaminya.


"Mengapa kau malah menatapku? Cepatlah..." ujar Stevani.


Lukas membuyarkan lamunannya lalu mengangguk dan mengikuti Stevani menuju kontrakannya.


"Kak Angga...!" panggil Lukas saat ia sudah sampai di kontrakan itu.


Lukas segera membangunkan Angga dengan susah payah lalu memapahnya.

__ADS_1


"Aku mohon bawalah ia pulang Lukas, ini pertemuan terakhir kita. Aku akan berangkat nanti siang, aku mohon berilah pengertian pada kak Angga." pinta Stevani.


Lukas menganggukkan kepalanya. "Berhati-hatilah Van, semoga di kota lain kau lebih bahagia."


"Terima kasih."


Lukas memaksa Angga berjalan meninggalkan Stevani. Stevani menghela nafas lega saat akhirnya Angga di bawa pulang oleh Lukas. Stevani masuk ke dalam lagi, kali ini ia tak bisa bersantai lagi, ia harus membersihkan dirinya lalu segera mengajak bu Yoyoh ke sekolahan Zaline untuk mengurus kepindahan sekolah adiknya itu.


*****


Alex mengetuk pintu kamar Zionel, pria itu akhirnya membuka kamarnya setelah Alex mengetuk pintu cukup lama.


"Kau mengganggu tidurku Lex." gerutu Zionel setelah membuka pintu.


Zionel terlihat masih sulit membuka matanya, bahkan berkali kali Alex melihatnya menguap.


"Maaf pak Zio, aku ingin menemui nona Stevani, tapi bukankah aku harus mengantarkan anda ke perusahaan terlebih dahulu untuk berpamitan?"


"Kau pergilah ke rumah wanita itu, aku bisa naik taksi ke perusahaan Lex."


"Anda sudah makan? Sejak semalam..."


"Kau bawel seperti mommy." potong Zionel.


"Aku hanya mengkhawatirkan anda pak Zio, jika terjadi sesuatu pada anda maka nyawaku menjadi taruhannya."


"Kau berlebihan Lex. Sudah sana pergi, biarkan aku tidur satu atau dua jam lagi."


"Ah baiklah pak Zio, tapi anda benar benar harus mengisi perut anda sebelum berangkat ke perusahaan. Dan sepertinya luka di bibir anda mulai membaik."


Zionel menganggukkan kepalanya dan langsung menutup pintunya membuat Alex menggelengkan kepalanya.


"Akhir akhir ini aku terbebas dari telepon nyonya Falera Cruise, tapi aku terganggu dengan tingkah Zionel Cruise. Apa bedanya? Mereka sama sama merepotkan." gerutu Alex.


Alex pun segera menuju meja resepsionis, sebelum ia ke kontrakan Stevani, ia justru melakukan check out. Ia sangat yakin, jika Stevani akan menandatangani kontraknya dan segera ikut bersama mereka ke kota D.


"Nanti siang." ujar Alex pada resepsionis itu.


"Baik pak."


Setelah mengurus check out selesai, Alex pun meninggalkan hotel untuk mengunjungi Stevani. Pria itu dengan rasa percaya diri akan menyelesaikan tugas yang diberikan Zionel.


******


Mengikuti permintaan para Reader, ini episode bonus...


Jangan minta lagi...🤫🤫🤫

__ADS_1


__ADS_2