Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Pikiran Falera dan Nicholas Sama


__ADS_3

Stevani terus menatap Zionel setelah kedua orang tua Zionel dan Alex meninggalkan mereka.


"Tidurlah sayang, malam semakin larut. Jika kau terus menatapku seperti itu bisa bisa tubuhku berlubang." ejek Zionel.


"Aku hanya penasaran, mengapa kau bisa tahu apa yang dipikirkan ibumu?" tanya Stevani.


Zionel menyeringai. "Aku putranya, tentu saja tahu." jawabnya.


Zionel menatap Stevani lalu kembali tersenyum karena wajah penasaran kekasihnya masih terlihat dengan jelas.


"Inilah kekhawatiran mommy saat aku tiba tiba ingin menikah. Ia hanya takut aku melupakan Haena setelah kau hadir dalam hidupku Vani. Ia masih berharap bisa menemukan Haena secepat mungkin, tapi saat aku membawamu dalam keluarga, seketika mommy ketakutan."


"Mana mungkin aku memintamu melupakan adikmu. Aku bukan wanita yang akan memisahkanmu dari keluarga."


"Aku tahu itu sayang. Hanya saja mommy belum mengenalmu sepenuhnya. Seiring berjalannya waktu, ia pasti akan semakin menyayangimu."


"Zio... mengapa kau tak jujur saja soal identitasku dan soal kehamilanku?"


"Aku akan bicara perlahan tentang identitasmu tapi aku lakukan setelah kita menikah. Jika mereka murka, setidaknya aku sudah menikahimu."


"Ciiiih... kau seperti pria licik."


Zionel melepaskan tawanya. "Demi kebaikan apa salahnya?"


"Kebaikan untuk siapa?"


"Tentu saja untukku. Aku tak ingin kehilangan wanita yang aku cintai. Dan soal kehamilan, apa kau yakin tidak hamil setelah malam itu? Apa kita harus memeriksa ke dokter kandungan?" tanya Zionel.


Wajah Stevani memerah, belum satu bulan sejak kejadian itu dan tanggal kebiasaan datang bulannya masih seminggu lagi. Jadi ia sendiri tidak yakin apakah sudah ada benih di dalam perutnya atau belum.


Zionel mendekati telinganya. "Atau kita coba lagi malam ini." bisiknya.


Seketika Stevani terbelalak lalu mendorong tubuh Zionel dan menggeser tubuhnya menjauh. "Dasar mes*m... Bisa bisanya kau berkata seperti itu."


Zionel menarik tubuh Stevani agar mendekat lagi. "Tidak disini sayang, kita mencobanya saat pulang ke apartemen." godanya.


"Jangan harap tuan Zionel Cruise."


"Kau tidak akan menolak, percayalah..."


"Kau..."

__ADS_1


Zionel terkekeh lalu memeluk Stevani dengan erat sambil memejamkan matanya. "Demi Tuhan sayang, aku menginginkanmu."


"Berhentilah menggodaku Zio, lepaskan pelukanmu, aku hampir tak bisa nafas." pinta Stevani.


Zionel mengendurkan pelukannya. "Tidurlah..."


"Tunggu Zio... lihatlah kekacauan yang kau buat dengan ruangan ini. Saat kau marah benar benar menakutkan. Jangan pernah marah denganku seperti itu, aku bisa lari dan bersembunyi." ujar Stevani.


Zionel membuka matanya lalu menatap meja yang terbalik dengan kaca yang terbelah dan pecah. "Alex sudah meminta petugas untuk membersihkannya besok pagi. Dan soal emosiku, aku benar benar minta maaf karena menunjukkannya padamu. Tapi aku janji tidak akan seperti itu saat marah atau kesal denganmu. Aku tak ingin kau lari dan bersembunyi dariku. Jika aku marah dan kesal padamu, justru aku akan membuatmu tak bisa lari dan bersembunyi. Hukuman yang aku lakukan akan berbeda dan itu akan membuatmu..."


Seketika Stevani menutup mulutnya dengan tangan. "Jangan teruskan lagi, aku tahu pikiran mes*mmu."


Zionel melepaskan tangan Stevani dari mulutnya. "Seharusnya jika kau ingin menghentikan ucapanku seperti ini..."


Zionel menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Stevani sekilas.


"Ck... itu sih memang maumu tuan muda Cruise."


"Apa kau tidak menginginkannya?" tanya Zionel.


Wajah Stevani kembali memerah. "Aku..."


Zionel kembali menundukkan kepalanya, dengan lembut bibirnya menyapu bibir kekasihnya. Stevani memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut itu. Keduanya saling memanggut, saling membalas. Panas tubuh mereka mulai menjalar, tanpa sadar Stevani meraba dada Zionel.


Stevani sangat malu, ia menarik dirinya namun tak dibiarkan oleh Zionel. Pria itu kembali menarik lehernya dan menciumnya, kali ini lebih menggebu gebu. Bibir Zionel terus memanggut bibirnya. Lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam mulut wanita itu. Stevani terkesiap saat lidahnya ditarik oleh mulut Zionel. Suara lenguhan seketika keluar dari mulut wanita itu.


"Oh ya Tuhan... aku tak tahan lagi. Kita pulang besok saja." ujar Zionel setelah menarik dirinya.


"Kau boleh melakukannya setelah kita menikah. Walaupun kita pulang besok, aku takkan mengizinkannya." jawab Stevani malu.


"Jangan menyiksaku sayang, bukankah kau juga menginginkannya."


Stevani bergeming, ia memang sangat menginginkannya. Sentuhan lembut Zionel membuatnya menggila dan bisa melupakan kesadarannya. Namun ia tak ingin mengulangi kesalahannya. Ia tak ingin melakukan hubungan di luar batas sebelum menikah.


Zionel memeluknya lagi. "Baiklah sayang, aku akan menahan diriku sampai hari pernikahan nanti. Tapi setelah kita menikah, jangan harap kau bisa keluar dari kamar."


"Zio... kau membuatku malu."


Zionel terkekeh, ia mengecup puncak kepala Stevani. "Tidurlah istriku, kita harus segera sembuh jika ingin pernikahan kita tepat waktu."


Stevani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, entah kenapa kata "istriku" yang keluar dari mulut Zionel membuatnya sangat bahagia. Wanita itu memeluk Zionel lalu mulai memejamkan matanya. Keduanya pun terlelap dalam posisi saling memeluk.

__ADS_1


*****


Nicholas dan Falera masih dalam perjalanan pulang, namun wajah Falera kembali muram membuat suaminya kebingungan.


"Apa yang sedang kau pikirkan mom?" tanya Nicholas.


Falera langsung terisak, ia menyenderkan kepalanya ke pundak suaminya.


"Seandainya Haena ada, ia pasti senang akan menghadiri pernikahan abangnya. Dad... apakah Hae tidak akan menyalahkan kita karena kita terlalu lama membiarkannya menderita di luaran sana?"


"Kau terlalu banyak berpikir sayang, putri kita tidak akan menderita. Percayalah pada Tuhan, Haena baik baik saja dan hidup dengan bahagia. Hanya saja ia tak tahu jalan pulang, ia masih anak anak saat menghilang."


"Sebenarnya sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa putri kita meninggalkan rumah. Aku gagal menjadi seorang ibu, aku..."


"Ssstttt... siapa bilang kau gagal. Kau adalah istri dan seorang ibu yang luar biasa. Aku sudah sering mengatakannya mom. Tanpamu, hidupku sama sekali tidak ada artinya. Tenangkan dirimu, kau sudah mendengar ucapan Zionel. Ia sama sekali tidak melupakan adiknya, ia dan kita semua akan terus mencarinya. Kita harus tetap yakin akan berkumpul dan kembali bahagia. Selama ini kau sudah cukup menderita karena kehilangan putri kita, berbahagialah sedikit demi kami yang masih ada di sampingmu. Kehadiran Stevani memang tidak akan pernah menggantikan posisi Haena, tapi ia akan menjadi anggota keluarga Cruise yang baru. Ditambah dengan kehamilan wanita itu, cucu kita akan segera hadir." ujar Nicholas sambil menggenggam tangan istrinya.


"Daddy benar, tapi kehadiran Stevani justru membuatku terus berpikir seandainya Haena juga ada. Mengapa sulit sekali menemukan putri kita dad? Mengapa koneksi keluarga Cruise tidak bisa membantu sama sekali?"


"Aku pun memikirkan hal yang sama mom. Semua masalah yang pernah kita hadapi akan segera selesai, tapi entah kenapa masalah Haena sangat sulit diatasi."


"Dad... mungkinkah hilangnya Hae ada hubungannya dengan keluarga kita?"


"Hah... apa maksudmu sayang?"


Falera menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja, aku hanya bicara sembarangan."


Nicholas justru berpikir dengan keras, pikirannya memflashback ulang setiap kejadian bertahun-tahun yang lalu.


"Apakah kau berpikiran yang sama denganku?" tanya Nicholas membuat Falera terkejut.


Falera mengangkat kepalanya dari pundak suaminya, keduanya saling bertatapan.


"Saham." ujar keduanya bersamaan lalu mengangguk.


"Aku akan mulai menyelidiki masalah ini lagi. Mom... jika ini memang berkaitan dengan keluarga Cruise, maka kau tak perlu khawatir, aku tidak akan melepaskan mereka sekalipun keluargaku sendiri. Seharusnya aku melakukannya dari awal, tapi..."


"Aku mengerti perasaanmu dad, mana mungkin kau mencurigai keluargamu sendiri. Sebenarnya aku sudah lama memikirkan hal ini, namun aku tak berani mengatakannya. Jika saja aku tahu pikiranmu sama denganku, mungkin kita bisa menyelidiki masalah ini sejak lama." potong Falera.


Nicholas memeluk pundak istrinya. "Kau istriku, seharusnya kau katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu. Sekarang tenangkan dirimu, kita mulai dari awal lagi. Aku tidak perduli reputasi keluarga Cruise, jika ini berhubungan dengan hilangnya Haena."


Falera menganggukkan kepalanya, akhirnya ada kelegaan dalam hatinya setelah pikirannya ternyata sama dengan suaminya.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2