
Setelah berkonsultasi dengan dokter, sebenarnya dokter Julius menyarankan Stevani untuk tinggal sehari lagi. Namun dengan berbagai alasan yang diungkapkan Zionel, membuat dokter tersebut menyerah. Zionel berjanji akan merawat istrinya dengan baik di rumah.
Dokter Julius akhirnya menyetujuinya, dokter itu membantu Zionel mengurus prosedur kepulangan pasien. Setelah selesai mengurus semuanya, Zionel kembali ke dalam ruangan. Ia bersyukur saat memasuki ruangan karena istrinya masih dalam keadaan sehat seperti sebelumnya. Zionel tersenyum lebar pada Stevani sambil mendekatinya.
"Melihat senyummu, sepertinya dokter Julius setuju." ujar Stevani.
"Kau benar benar bisa menebak pikiranku nona cantik, kita bisa pulang sore ini. Tapi dengan syarat, kau harus menghabiskan bubur yang sebentar lagi akan dibawakan perawat kemari."
Stevani mengerutkan keningnya. "Sepertinya itu alasan yang kau buat sendiri tuan tampan."
Zionel tertawa, ia kembali memegang perut Stevani. "Aku mohon sayang, ini demi anak kita."
"Aku sih mau saja, tapi justru anak kita yang menolaknya."
Zionel menundukkan kepalanya di dekat perut Stevani. "Zio junior, papa akan menghukummu jika kau tak mau makan."
Stevani terkekeh geli. "Kau gila Zio, ia belum bisa mendengarnya. Usia kandunganku masih sangat muda."
Zionel menghela nafas panjang, ia kembali menatap Stevani. "Usahakan kau makan lebih banyak sayang, aku sangat mengkhawatirkan kondisi tubuhmu."
Stevani mengangguk. "Sebenarnya kau tak perlu terlalu khawatir, aku memiliki banyak teman yang sudah menikah saat bekerja, aku tahu bawaan orang hamil itu beda beda. Kondisiku memang sedikit sulit, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi anak kita."
"Stevani Yunsu, bukan hanya untuk anak kita, tapi untuk tubuhmu juga. Kau pikir aku hanya mengkhawatirkan anak kita saja, aku juga mengkhawatirkan istriku."
Stevani memegang pipi Zionel dengan kedua tangannya. "Aku tahu suamiku, aku juga akan menjaga tubuhku."
"Jika saja kau tidak sakit, aku sudah menelanja..."
Stevani mengecup bibir suaminya sekilas untuk menghentikan ucapan me sumnya. Zionel akhirnya kembali melepaskan tawanya.
"Jangan salahkan aku, tapi salahkan tubuhmu yang terus menggodaku." ucap Zionel.
"Ciiiih... Kaulah pria penggoda itu."
Keduanya kembali tertawa, Zionel berhasil menghibur Stevani hingga membuat istrinya bisa melupakan tentang Zaline sejenak.
*****
Zionel sangat bersyukur, walaupun Stevani tidak menghabiskan makanannya namun setidaknya setengah mangkuk buburnya ia telan tanpa memuntahkannya.
Kini keduanya bersiap siap untuk keluar dari rumah sakit. Dokter Julius memeriksa keadaan tubuh Stevani untuk yang terakhir kalinya, memberikan resep obat dan vitamin pada Zionel sebelum mereka keluar dari rumah sakit. Beberapa saran juga diberikan oleh dokter tersebut agar Stevani tetap bisa menjaga kondisi tubuhnya.
Mungkin sedikit sulit untuk membuat pikiran Stevani tenang saat ini, tapi Zionel berjanji pada dokter Julius, ia akan menjaga kondisi istrinya dengan baik. Setelah semuanya selesai, mereka pun akhirnya bisa kembali pulang. Alex sudah menunggu mereka di depan rumah sakit membuat Stevani terkejut.
"Bagaimana pak Alex bisa menjemput kita? Aku tidak mendengarmu menghubunginya." ujar Stevani.
Zionel menyeringai. "Aku cukup mengirimkan telepati padanya sayang." godanya.
"Serius lah sedikit tuan muda Cruise."
__ADS_1
"Ya Tuhan Vani, setelah aku menemui dokter Julius, aku langsung menghubunginya sebelum masuk ke ruanganmu."
"Kau selalu membuatnya repot, kita bisa naik taksi."
"Naik taksi? Kau harus bermimpi sayang. Setelah aku tahu kau hamil, kau tidak diperkenankan naik taksi, kau hanya boleh pergi denganku, titik."
"Posesif sekali."
"Ini demi kebaikanmu."
"Oke baiklah, aku mengerti."
Alex mendekati mereka, ia membantu Zionel mengambil barang bawaannya lalu meletakkannya di bagasi mobil. Sebelum Alex membuka pintu mobilnya, ia menatap Stevani lalu tersenyum.
"Aku belum sempat mengatakan ini nona Stevani, selamat atas kehamilan anda." ujar Alex.
"Terima kasih pak Alex." jawab Stevani.
Zionel menatap Alex tajam saat pria itu masih saja menatap istrinya. "Satu detik lagi kau menatap istriku, aku akan membuat matamu buta Lex." ancamnya.
"Ya Tuhan... membuatku merinding." ejek Alex seraya membuka pintu mobilnya untuk mereka.
Zionel dan Stevani masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Alex yang menjadi pengemudi mereka. Alex mulai mengendarai mobilnya menuju rumah besar Cruise.
"Kau tidak boleh berkata sembarangan saat aku hamil Zio." ucap Stevani.
"Kata kataku yang mana yang sembarangan sayang?"
Alex melepaskan tawanya membuat Zionel kesal seraya menendang jok mobilnya.
"Aku serius Zio, saat istrimu hamil, kau harus menjaga sikapmu." kata Stevani lagi.
"Oke sayang, maaf jika aku salah." jawab Zionel.
Alex terus terkekeh geli tapi Zionel menahan umpatannya daripada tidak diizinkan masuk ke dalam kamarnya.
"Fokuslah ke jalan Lex." bentak Zionel.
Alex seketika menghentikan tawanya, jika ia terus mengejek atasannya, maka gajinya bisa bisa dipotong selama 10 tahun. Tapi disinilah Alex bisa melihat seperti apa seorang Zionel Cruise yang bertekuk lutut pada seorang wanita. Atasannya benar benar sangat mencintai Stevani, itu membuatnya ikut bahagia.
Suasana menjadi hening, ternyata Stevani memejamkan matanya di pundak Zionel.
"Anda kalah telak pak Zio." ucap Alex pelan.
"Ssstttt... diamlah... tunggu pembalasanku." jawab Zionel.
"Aku akan mengadukannya pada istri anda."
Zionel kembali menendang jok mobil Alex. Mereka pun kembali tenang agar Stevani tidak terganggu hingga akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Cruise.
__ADS_1
Nicholas dan Falera menyambut kedatangan mereka, namun saat melihat Zionel menggendong tubuh Stevani, mereka langsung membantu Zionel tanpa bersuara. Falera yang langsung membantu Zionel membuka pintu kamar mereka.
"Ia baik baik saja kan?" tanya Falera pelan.
Zionel meletakkan tubuh istrinya perlahan diatas ranjangnya lalu menarik selimut untuk wanita itu.
"Sebelum keluar dari rumah sakit, dokter Julius kembali menyuntiknya. Mungkin itu yang membuatnya tertidur dan sepertinya memang bawaan kandungannya mom." jawab Zionel.
"Biarkan ia banyak beristirahat, lebih baik kita jangan mengganggunya." ujar Falera.
Zionel menganggukkan kepalanya, keduanya pun meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar itu perlahan.
"Bawaan bayi beda beda Zio, mudah lelah salah satu yang dialami istrimu. Kurangilah aktivitas kalian di atas ranjang untuk menjaga kondisi tubuhnya." ujar Falera sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
"Mommy sama saja membunuhku jika hal itu dilarang."
"Dasar pria nakal, kau harus mengikuti saranku jika menyayangi istrimu."
Zionel terkekeh. "Mommy pikir aku pria yang tidak waras, aku tentu saja akan lebih berhati hati dan mengendalikan hasratku."
"Satu lagi, sebagai seorang suami kau harus menjaga ucapanmu dan sikapmu selama istrimu hamil."
"Ya Tuhan... Mengapa ucapan mommy sama saja dengan istriku? Aku harus menahan diri mengumpat Alex yang terus mengejekku."
Falera tertawa. "Berhentilah jahat pada Alex, ia sangat banyak membantumu."
"Aku juga tidak terlalu serius mom, itu hanya hiburan buatku saat suasana hatiku sedang buruk."
"Setelah mendapatkan istri seperti Stevani dan menemukan Haena, apa suasana hatimu masih saja buruk Zio? Jangan banyak alasan, hentikan semua itu dan lebih menjaga sikapmu."
"Suasana hatiku masih akan buruk sebelum aku menangkap pelaku sebenarnya." ucap Zionel.
Falera menghentikan langkahnya membuat Zionel nyaris menabraknya. Falera membalikkan tubuhnya seraya menepuk pundak putranya.
"Mommy percaya padamu Zio, kau pasti bisa menyelesaikan semua ini secepatnya."
"Memang harus mom, aku ingin kalian segera bertemu dengan Haena."
Falera menganggukkan kepalanya, mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu dimana Alex dan Nicholas sedang berbicara dengan serius.
"Apa kau sudah menemukan hal yang ganjil Lex?" tanya Zionel sambil mendekati mereka.
"Ini masih dugaan saja pak Zio." jawab Alex.
"Dad, mom... lebih baik kita bicara di ruang kerja saja, itu lebih aman daripada disini." ujar Zionel.
Nicholas dan Falera menganggukkan kepala mereka, begitu juga dengan Alex. Mereka akhirnya beranjak dari ruang tamu menuju ruang kerja.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...