
Alex menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar tangisan Falera dan Stevani dari balik teleponnya.
"Ya Tuhan... aku sama sekali tidak menyukai situasi seperti ini." pikir Alex.
"Pak Presdir, mungkin detailnya akan dikatakan oleh pak Zio. Tapi saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan dokter." ujar Alex.
"Terima kasih Lex. Kami akan sabar menunggu disini." jawab Nicholas dengan suara yang mulai gemetar.
"Baiklah pak, anda dan keluarga harus lebih tenang. Ini bukan kesedihan tapi kebahagiaan untuk keluarga Cruise."
"Kau benar Lex, ini kebahagiaan, kami tak bisa menahan kebahagiaan itu hingga menangis."
"Sampai jumpa pak." jawab Alex seraya menutup teleponnya.
Alex kembali mendekati Zionel.
"Bagaimana Lex?" tanya Zionel.
"Banjir." jawab Alex.
"Hah?"
Alex menahan tawanya. "Aku sudah memberi mereka kabar pak."
"Kau mau mati Lex..."
"Tidak pak, aku masih lajang. Aku hanya berusaha menghibur anda."
"Ciiiih... cara menghiburmu itu sama persis seperti mengejek."
Alex akhirnya terkekeh. "Pak Zio... selama bertahun-tahun aku bekerja dengan anda, demi Tuhan hari ini aku sangat terkejut melihat emosi anda. Aku pikir pria seperti anda tidak akan memiliki emosi cengeng seperti itu, tapi ternyata..."
"Cengeng? Kau benar benar mau mati Lex." potong Zionel seraya menatapnya tajam.
"Ah maksudku..."
Ucapan Alex terpotong saat pintu ruang perawatan terbuka. Seketika Zionel menghampiri dokter dan menanyakan kondisi Zaline.
"Anda tak perlu khawatir tuan Zio, kondisi pasien sangat baik. Melihat dari data medisnya dan juga pengobatan terbaik di rumah sakit ini, aku bisa memastikan nona Zaline akan segera kembali sadar." ujar dokter Herman.
"Puji Tuhan... terima kasih dok. Apa anda bisa memastikan kapan kiranya adikku bisa sadar?"
"Paling lambat seminggu, aku bisa memastikan hal itu. Tetaplah memberinya motivasi untuk sembuh. Karena pasien sudah bisa mendengar ucapan orang orang di sekitarnya. Beri ia rasa aman dan nyaman untuk mempercepat pemulihannya."
__ADS_1
"Terima kasih banyak dok." jawab Zionel.
Dokter Herman menganggukkan kepalanya seraya meninggalkan mereka. Zionel dan Alex segera masuk ke dalam ruangan, Zionel kembali mendekati Zaline seraya mengecup keningnya dengan lembut.
"Aku belum sempat mengatakannya padamu Hae, selamat datang kembali di kota ini, selamat datang kembali ke dalam keluargamu. Tapi sepertinya kau sangat senang dengan nama barumu yang diberikan Stevani, aku mengizinkanmu menggunakan nama cantik itu, Zaline." ujar Zionel.
Benar saja, Zaline kembali merespon dengan menggerakkan jarinya membuat Zionel tersenyum.
"Apa kau masih ingat pak Alex? Aku bersamanya saat ini." imbuh Zionel.
Alex mendekati ranjang Zaline. "Selamat datang kembali nona Hae, mungkin aku juga harus memanggilmu nona Zaline."
Zaline kembali menggerakkan jarinya.
"Lihatlah Lex, adikku mendengarkan kita. Ia akan baik baik saja."
"Tentu pak Zio, nona Hae... ah maksudku nona Zaline akan segera sehat kembali."
"Zaline, setelah keadaanmu sehat kembali. Aku janji akan membawa mommy, daddy dan Stevani kemari. Tapi aku mohon kau kembali memaafkan abangmu ini, abang memisahkan kalian sedikit lebih lama lagi untuk mencari kebenaran atas hilangnya kau 5 tahun yang lalu. Abang hanya ingin melindungi kalian saat ini, abang tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti saat kehilanganmu. Bersabarlah sedikit lagi sayang, abang akan mengembalikan situasi ini. Sekarang beristirahatlah, abang akan kembali nanti malam. Lex... apakah kau sudah menghubungi anak buahmu untuk menjaga ruangan ini?"
"Sudah pak, mereka mungkin sekarang sudah berdiri di depan." jawab Alex.
"Kita pergi sekarang, ada yang ingin aku katakan padamu." ujar Zionel.
Alex mengangguk. Zionel kembali mengecup kening Zaline seraya keluar dari ruangan bersama Alex. Benar saja, anak buah Alex sudah berdiri di kanan kiri pintu ruangan. Zionel menghentikan langkahnya.
"Baik tuan." jawab keduanya bersamaan.
Zionel dan Alex kembali melanjutkan langkahnya, mereka segera menunju mobil. Alex mulai mengendarai mobil tersebut.
"Lex... mulailah menyelidiki keluarga Cruise dari dalam perusahaan." ujar Zionel.
"Pak Gilbran dan pak Andreaz?" tanya Alex.
"Keduanya... aku dan orang tuaku sudah mendiskusikan ini beberapa hari. Hilangnya Haena mungkin ada hubungannya dengan masalah saham perusahaan yang ia miliki. Selidiki sekecil apapun tentang pekerjaan mereka dan siapa saja yang berhubungan dengan keduanya. Aku akan menyelidiki om Ram secara terpisah."
"Baik pak." jawab Alex. "Apa kita ke rumah sakit sekarang?" tanyanya.
Zionel mengangguk. "Mereka pasti menunggu kedatanganku. Ya Tuhan... aku harus bersiap menghadapi tangisan mereka."
"Anda bersiap ikut bergabung dengan mereka." ejek Alex.
Seketika Zionel memukul kepala Alex dengan majalah yang ada di dalam mobil. "Berani kau bahas lagi, aku akan..."
__ADS_1
"Memotong semua gaji dan bonusku. Maka aku akan menarik anak buahku." ancam Alex balik.
Zionel terbelalak. "Kau berani mengancam atasanmu? Kau benar benar bosan hidup Lex."
Alex menggelengkan kepalanya. "Tadi hanya bercanda pak Zio, aku tidak serius. Aku tidak akan mengejek anda lagi."
Zionel akhirnya tertawa, itulah yang sebenarnya diinginkan Alex. Ia mencoba menghibur atasannya, namun nyaris dibunuh pria itu. Alex ikut tertawa, keduanya saling terkekeh geli. Ada perasaan lega setelah menemukan Haena.
"Terima kasih atas apa yang kau lakukan selama ini Lex." ujar Zionel.
"Anda membuatku merinding. Aku hanya ingin anda seperti dulu lagi, tidak pernah meminta maaf atau berterima kasih. Terdengar aneh dan mengerikan jika anda melakukannya."
"Sialan..." umpat Zionel membuat Alex kembali tertawa.
"Aku harus tetap melakukannya, aku akan mengubah sikap aroganku yang dulu."
"Apa ini karena anda takut dengan nona Stevani?" tanya Alex dengan nada mengejek.
"Jangan berpikir yang bukan bukan, aku bukan suami yang takut istri. Aku hanya menghargai istriku itu dan semua ini karena aku sangat mencintainya."
"Benarkah?"
"Tutup mulutmu Lex. Bukankah kau bilang tidak akan mengejekku lagi?"
"Aku percaya pada anda pak Zio, anda tidak takut istri, anda hanya menghargainya. Tentu saja itu maksudku." jawab Alex sambil menahan tawanya.
"Seperti itulah seharusnya." ujar Zionel.
Zionel memejamkan matanya, Alex menatap kaca spion sambil menyunggingkan senyumnya.
"Anda memang pria yang baik pak Zio, dibalik sikap keras dan arogan anda, sebenarnya anda memiliki sisi yang sangat lembut melebihi seorang wanita saat anda berhadapan dengan orang yang anda cintai dan sayangi. Aku janji akan terus membantu anda terutama mengungkapkan kebenaran atas hilangnya nona Haena. Aku akan mengembalikan kebahagiaan anda yang sempat menghilang. Kehadiran nona Stevani memang cukup membuat anda bahagia, tapi kebenaran ini akan menambah kebahagiaan itu. Anda pernah menyelamatkan hidupku, kini saatnya aku menyelamatkan anda." pikir Alex.
Alex kembali fokus ke jalanan, ia membiarkan Zionel beristirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya.
"Pak Gilbran dan pak Andreaz, sebenarnya siapa diantara kalian yang serakah dan menjadi pelaku dibalik semua ini? Bukankah nona Haena itu keponakan kalian, jika diantara kalian benar benar pelakunya, bukankah ini terlalu kejam pada saudara sendiri karena harta."
Alex terus berpikir dengan keras sambil mengetukkan jarinya di stir mobilnya.
"Bisakah kau tenang sedikit Lex?" tanya Zionel masih memejamkan matanya.
"Ah... iya pak maaf." jawab Alex.
Alex tidak sadar jika suara ketukan jarinya itu menimbulkan suara berisik. Pria itu kembali tenang sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Stevani di rawat.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...