
Stevani terbangun dari tidurnya, ia merasakan kantuk berat setelah meminum obat yang diberikan Zionel. Wanita itu mengambil ponselnya untuk melihat jam disana, seketika Stevani bangun karena terkejut.
"Aku tidur atau pingsan, mengapa aku bangun sudah jam 11 siang. Oh ya ampun, memalukan sekali." gumam Stevani.
Wanita itu berdeham berkali-kali untuk merasakan tenggorokannya yang semalam sangat sakit. Dan obat yang diberikan Zionel benar benar bekerja dengan baik, sakit yang ia rasakan menghilang dengan cepat. Stevani turun dari ranjangnya lalu mencari keberadaan Zionel namun ia tak menemukan pria itu.
Suara bel pintu berbunyi, Stevani sedikit takut karena ia yakin bukan Zionel yang ada di balik pintu itu. Jika Zionel, tentu saja pria itu akan masuk tanpa menekan bel pintu apartemen.
Perlahan lahan Stevani melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu melihat layar yang menghubungkan cctv pintu apartemen Zionel. Seorang wanita dengan berpakaian kantoran berdiri disana.
"Jangan katakan jika wanita ini adalah salah satu selingkuhan Zio. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Stevani.
Bel pintu kembali ditekan, Stevani merapikan penampilannya dan terpaksa membuka pintu itu. Seketika wanita itu terkejut saat Stevani muncul di depannya.
"Apakah ini apartemen pak Zio?" tanya Gina.
"Benar, tapi Zio tidak ada di dalam." jawab Stevani.
"Oh... ini nona... pak Alex memintaku membelikan bubur ini. Tapi aku pikir pak Zio yang memintanya, kemungkinan pak Zio menyuruh andalah yang memakannya." ujar Gina.
Wanita itu terlihat kecewa dan mulai menilai penampilan Stevani. Ia menyodorkan bungkusan ditangannya dengan kasar. Stevani segera mengambilnya dari tangan Gina.
"Terima..."
Belum selesai mengucapkan kata terima kasih, wanita itu sudah berbalik meninggalkan Stevani.
"Apa orang orang di kota ini punya sikap seperti itu? Benar benar mengerikan." gumam Stevani seraya menutup pintunya.
Ia meletakkan bungkusan itu di meja makan lalu melihat isi didalamnya. Semuanya benar benar bubur ayam, setidaknya ada 4 kotak di dalamnya.
"Sebenarnya untuk siapa semua ini?"
Baru saja Stevani memikirkannya, ponselnya berdering. Terlihat dengan jelas siapa yang memanggilnya Pria Arogan. Itulah nama Zionel yang tersimpan di ponsel Stevani.
Stevani mengangkat telepon itu. "Halo..."
"Apa kau sudah bangun? Apa sarapannya sudah sampai?" tanya Zionel.
"Aku baru saja bangun, maaf Zio aku kesiangan. Apa yang kau maksud bubur ini?"
"Baguslah jika buburnya sudah sampai, kau harus memakannya sampai habis. Untuk sementara jangan memakan makanan yang keras Vani. Tenggorokanmu masih radang." perintah Zionel.
"Ini bukan waktunya sarapan, dan aku sudah lebih baik sekarang." jawab Stevani.
__ADS_1
"Jangan membantah, aku masih banyak pekerjaan. Kau harus memakannya, aku akan melihat cctv lewat ponselku untuk memastikannya."
"Kau tidak bisa melakukan itu, kau tidak boleh..."
Tut... tut... tut...
Panggilan itu seketika terputus membuat Stevani geram.
"Dasar pria sombong dan arogan." keluh Stevani.
Tapi apa yang dikatakan Zionel tidak akan bisa ia bantah, dan tentu saja pria itu serius dengan perkataannya untuk memastikan ia makan bubur tersebut. Wanita itu segera beranjak dari sana menunju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian...
Stevani menuju ruang makan, ia mulai perlahan lahan menikmati bubur tersebut. Tenggorokannya benar benar merasa lebih nyaman saat mengkonsumsi bubur tersebut. Dan rasa bubur itu sangat enak hingga Stevani mampu memakan setidaknya dua kotak bubur.
*****
Saat berjalannya meeting, Zionel justru sama sekali tidak memperhatikan pekerjaan. Ia justru berkali kali tersenyum sambil menatap laptopnya.
"Jadi seperti itulah rencana selanjutnya pak Zio. Bagaimana menurut anda?" tanya pak Ishak.
Mereka semua yang sedang hadir dalam meeting tersebut menatap Zionel. Namun Zionel terus terhanyut dengan dunianya sendiri, ia tersenyum dan terkekeh membuat yang lain mengerutkan keningnya kebingungan.
"Ah... lakukan saja jika itu yang terbaik." jawab Zionel tanpa berpikir.
Alex langsung memberikan berkasnya pada Zionel agar memeriksanya sebelum mengambil keputusan. Zionel menutup laptopnya lalu mulai membaca berkas tersebut.
"Sudah aku katakan untuk melakukannya. Aku rasa rencana ini sudah baik. Pak Ishak, tanggung jawab proyek ini aku serahkan pada anda. Jangan mengecewakan Cruise Grup. Ini salah satu proyek terbesar perusahaan. Meeting selesai sampai disini, kita akan bertemu dua minggu ke depan setelah proyek ini berjalan." ujar Zionel.
"Baik pak Zio." jawab pak Ishak.
Mereka mulai meninggalkan ruangan meeting satu per satu, sedangkan Zionel kembali membuka laptopnya. Matanya kembali tertuju pada Stevani yang sedang menikmati makanan yang ada di depannya. Pria itu kembali tersenyum saat melihat gerakan tangan Stevani mengelus perutnya karena kekenyangan.
Sikap Zionel membuat Alex penasaran, pria itu perlahan berjalan di belakang Zionel lalu menghela nafas panjang.
"Ternyata nona Stevani yang membuat anda tidak berkonsentrasi." ujar Alex.
Seketika Zionel menutup laptopnya lagi. "Siapa yang menyuruhmu melihatnya Lex? Kau sudah bosan bersamaku?"
"Bukankah proyek ini sangat penting pak Zio, mengapa anda mengabaikan meeting karena melihat nona Stevani. Apakah dunia anda mulai dipengaruhi wanita itu?"
Zionel memutar kursinya lalu mengahadapi Alex. "Aku jatuh cinta padanya."
__ADS_1
Pengakuan Zionel membuat Alex terbelalak. Namun satu menit kemudian, Alex justru tertawa terbahak-bahak.
"Kau ingat dua bulan lagi kita akan mengadakan penggalangan dana untuk pembangunan panti asuhan karya bakti. Biaya operasional akan dipotong dari bonusmu." ujar Zionel.
Seketika Alex menghentikan tawanya. "Anda tidak bisa melakukan itu pak Zio."
"Mengapa tidak? Bukankah kau sangat senang mengejekku?"
Alex segera menggelengkan kepalanya. "Hanya saja aku ikut senang karena aku memenangkan taruhan ini."
Zionel menautkan kedua alisnya. "Berani sekali kau jadikan aku bahan taruhan, katakan dengan siapa kau mulai pertaruhan ini. Aku akan membunuhmu Lex karena berani melawan atasanmu ini."
Alex kembali tertawa. "Aku bertaruh dengan diriku sendiri pak Zio, tidak ada orang lain lagi."
"Sepertinya kau mulai gila Lex, sejak kapan orang bertaruh dengan dirinya sendiri."
"Hanya aku pak, karena aku lebih senang mengeluarkan uang untuk diriku sendiri." jawab Alex kembali tertawa.
Zionel beranjak dari tempat duduknya. "Sepertinya bonus tahunanmu juga bisa disumbangkan untuk panti tersebut." ancam Zionel seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting.
Alex segera mengejar Zionel keluar dari ruangan meeting. "Jangan lakukan itu pak." pintanya.
"Kau berani mengejek atasanmu, kau bahkan berani bertaruh dengan dirimu sendiri. Bagaimanapun aku tetap menjadi bahan taruhan."
"Oh ya ampun pak Zio, aku hanya bercanda."
Zionel menahan senyumnya sambil terus melangkahkan kakinya menuju kantor. Sedangkan Alex terus mengekor pada Zionel sambil terus merayu Zionel agar bonusnya tidak dipotong. Zionel selalu senang menggoda bawahannya seperti itu. Padahal ia mana mungkin mengambil hak karyawan perusahaan hanya karena masalah pribadi.
Zionel menghentikan langkahnya membuat Alex menabrak tubuhnya.
"Maaf pak." ujar Alex.
"Kau cerewet sekali Lex. Jika satu kata saja keluar dari mulutmu sekarang, jangan salahkan aku benar benar meminta administrasi melakukannya." ancam Zionel.
Tentu saja Alex langsung menutup mulutnya, ia hanya menganggukkan kepalanya sambil kembali mengikuti Zionel kembali ke kantornya.
*****
Uluh uluh Readerku, sudah lelah jempolku...
Cukup 10 episode dulu ya untuk mengobati kerinduan kalian pada kebucinan Zionel Cruise, hehe...
See you next episode...
__ADS_1
Happy Reading All...