Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Pikiran Yang Licik


__ADS_3

Tawa Zionel semakin keras, bahkan suara tawanya hingga terdengar oleh kedua orang tuanya saat kembali ke rumah. Mereka tak menyadari Nicholas dan Falera pulang ke rumah.


Nicholas dan Falera saling bertatapan, mereka sangat terkejut mendengar suara tawa Zionel yang begitu bahagia. Terakhir mereka bisa mendengarkan suara tawa itu saat Zionel sedang menggoda Haena. Falera tak sadar mengeluarkan air matanya karena begitu senangnya, Nicholas langsung memeluk pundak istrinya.


"Putra kita menemukan kebahagiaannya kembali sayang." ujar Nicholas.


Falera menganggukkan kepalanya. "Aku bersalah karena pernah menyakiti Stevani."


"Kesalahan itu bisa diperbaiki, aku yakin Tuhan sedang mengembalikan kebahagiaan keluarga Cruise lagi. Semoga Haena bisa berkumpul bersama kita untuk menambah kebahagiaan ini." jawab Nicholas.


Falera menghapus air matanya lalu kembali mengangguk. "Aku sudah lapar."


Nicholas terkekeh. "Tentu sayang, kita makan sekarang. Mereka pasti belum menyelesaikan makannya."


Keduanya pun melanjutkan langkah mereka menuju ruang makan, kedatangan mereka membuat Zionel seketika menghentikan tawanya.


"Mom... Dad... Kalian sudah kembali?" ujar Zionel.


Stevani menoleh ke belakang lalu berdiri. "Mom... Dad..." ujarnya pelan.


"Duduklah Van tak perlu sungkan. Kalian sangat asyik bersenda gurau sampai tak mendengar kedatangan kami." jawab Falera.


Wajah Stevani memerah karena malu.


"Ini mom... jadi menantu mommy berniat memotong..."


"Zio... stop it..." potong Stevani kesal seraya menatap Zionel dengan tajam.


"Berhentilah menggoda istrimu Zio. Kau seperti anak kecil saja." ujar Nicholas.


Zionel tergelak. "Baiklah... tentu saja aku akan disalahkan, kalian mulai berpihak pada istriku."


Falera akhirnya tertawa. "Bolehkah kami ikut bergabung? Kebetulan kami belum makan malam."


"Tentu mom." jawab Stevani.


"Kalian lagi lagi pergi tanpa bilang." sahut Zionel.


Nicholas dan Falera duduk disana, seketika pelayan masuk ke ruang makan dan mulai menyiapkan alat makan untuk keduanya.


"Harusnya kami yang marah Zio. Bukankah kau juga pergi tanpa bilang, apa yang kau lakukan di luar sampai meninggalkan istrimu sendirian?" tanya Falera.


"Bukankah kau sedang ambil cuti dari perusahaan." sahut Nicholas.


Zionel menelan saliva nya, ia menatap Stevani meminta bantuan pada istrinya.


"Maaf mom, dad... sebenarnya ini salahku." jawab Stevani. "Ada barangku yang tertinggal di apartemen dan aku membutuhkannya, aku menyuruh Zio untuk mengambilnya." imbuhnya.

__ADS_1


Stevani terpaksa berbohong lagi untuk membantu suaminya agar kedua orang tuanya tidak khawatir. Falera dan Nicholas menatap Stevani, mereka lalu terkekeh.


"Astaga... aku tidak menyalahkanmu Vani. Mommy pikir Zio pergi bekerja dan meninggalkanmu. Jika kau yang menyuruhnya tidak masalah. Lain kali pergilah dengan supir Zio, jangan membuat kami terus khawatir." ujar Falera.


"Aku hanya pergi sebentar, aku tak ingin mengganggu kalian beristirahat makanya aku pergi diam diam. Bukankah putra kalian sudah terbiasa sendirian. Tapi kalian juga selalu ke rumah sakit tanpaku, bagaimana kesehatan daddy kata dokter?" tanya Zionel.


"Keadaan sekarang belum aman Zio, kau harus pergi dengan supir atau Alex. Dan soal kesehatan daddy, kau tak perlu khawatir, daddy sangat sehat, sebenarnya tidak perlu lagi melakukan check up lanjutan. Tapi mommy mu sangat cerewet." jawab Nicholas.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu dad." ucap Falera.


"Apa yang dilakukan mommy sudah benar. Sakit atau sehat, daddy harus melakukan check up rutin. Ini demi menjaga kesehatan daddy, tapi sekarang mommy juga harus mulai memeriksakan kesehatan rutin seperti yang daddy lakukan." kata Zionel.


"Anak dan ibu sama saja. Tapi dengarkan kata Zio mom. Kau juga harus ikut memeriksakan kesehatanmu."


"Aku akan melakukannya, sudah jangan bicara lagi. Kita belum menyentuh makanan ini. Jangan membuat Vani juga bingung dengan perdebatan kita."


"Vani akan terbiasa, iyakan sayang?" tanya Zionel.


Stevani hanya menganggukkan kepalanya.


"Seperti inilah kehidupan orang kaya, mereka bahkan harus ke rumah sakit membuang buang uang hanya untuk menjaga kesehatan mereka. Sedangkan aku sangat kesulitan mencari uang untuk memeriksakan kesehatan Zaline yang jelas jelas sedang sakit parah. Kini aku berada di tengah tengah keluarga yang memiliki banyak uang itu." pikir Stevani sedih.


Zionel memperhatikan wajah Stevani yang berubah menjadi murung.


"Sayang... apa makanannya kurang enak?" tanya Zionel membuat kedua orang tuanya ikut menatapnya.


"Ah tidak... Ini semua sangat enak." jawab Stevani cepat.


"Benar Vani, ini juga sangat baik untuk janin yang ada di dalam kandunganmu." sahut Falera.


Zionel dan Stevani sama sama terkejut. Mereka melupakan hal itu.


"I... i... iya mom..." jawab Stevani gugup seraya menatap Zionel lagi.


Zionel hanya menyunggingkan senyumnya, karena ia yakin Stevani akan segera hamil. Ia sudah cukup banyak menanamkan benihnya setelah pernikahan mereka.


*****


Gilbran memiliki kesempatan menghubungi beberapa pemegang saham saat Nicholas dan Zionel tidak berada di perusahaan. Pria itu terus berusaha mendapatkan saham saham yang lain untuk memperkuat sahamnya di dalam perusahaan dan menurunkan jabatan Nicholas dan Zionel.


Beberapa pemegang saham sangat mempercayainya, mereka mau menggabungkan saham mereka dengan Gilbran karena pria itu menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi. Mereka juga setuju agar pria itulah yang menjadi Presdir di perusahaan Cruise Grup tersebut.


Setelah ia berhasil meyakinkan beberapa pemegang saham, ia pun kembali ke rumahnya dalam keadaan mabuk.


"Pa... apa yang terjadi? Mengapa kau minum begitu banyak?" tanya Nile kesal.


"Inilah pengorbananku... untukmu ma. Aku... harus minum... bersama tua tua bangka itu... untuk mendapatkan... kepercayaan mereka." jawab Gilbran dengan suara mabuknya.

__ADS_1


"Lalu apa hasilnya?" tanya Nile dengan wajah berseri-seri.


"Kita... tentu saja... mendapatkan saham itu. Bukan Gilbran namanya jika... tidak... berhasil..."


"Kau benar benar mabuk berat, ayo kita ke kamar dulu. Aku akan mengambil obat anti mabuknya."


"Aku tidak mabuk... aku... baik... baik... saja... Sebentar lagi... perusahaan jadi milik... kita..."


"Iya iya aku percaya padamu. Ayo... bangunlah... Bu... bantu aku..." teriak Nile pada pelayannya.


Pelayan segera menghampiri mereka dan membantu Gilbran bangun. Mereka memapah pria mabuk itu menuju kamarnya.


"Ma... aku akan... menjadi Presdir... dan Cecil... akan menjadi... CEO di perusahaan Cruise Grup. Apa kau puas ma..."


"Aku butuh bukti bukan hanya ucapan saja." jawab Nile.


"Sayang... hanya menunggu waktu... rapat pemegang saham akan segera dilakukan. Saat itu..."


"Sudah diamlah... Bu ambilkan obat anti mabuk dan air madu."


"Baik nyonya."


Pelayan itu segera meninggalkan kamar mereka, tapi sepanjang langkahnya wanita itu terus menggelengkan kepalanya.


"Sudah kaya saja masih kurang puas. Bahkan ingin menghancurkan keluarganya sendiri. Apa yang mereka pikirkan sih, kalau saja aku tak butuh pekerjaan, aku sudah pergi dari rumah ini. Setiap hari mereka hanya bisa saling berteriak, memaki dan membahas harta yang tidak ada habisnya." gumam pelayan itu sambil mengambil kotak obatnya.


Pelayan itu segera membuat air madu. Namun ia terus saja bergumam. "Non Cecil jadi jahat itu gara gara orang tuanya juga, mendidik anak kok suruh serakah. Harta selalu saja membuat orang buta."


"Bu... lama sekali...!!!" teriak Nile.


"Iya nyonya sebentar." jawab pelayan itu segera kembali ke kamar mereka.


Pelayan itu menyerahkan air madu, air putih dan obatnya pada Nile.


"Ingat ya bu, semua yang ibu dengar di dalam rumah ini jangan sampai keluar. Jika ibu melanggar, aku akan bertindak pada keluarga ibu." ancam Nile.


"Iya nyonya..."


"Sudah keluar sana." usir Nile.


Pelayan itu kembali meninggalkan kamar mereka.


"Mulutmu tidak bisa dijaga saat mabuk pa. Cepatlah minum obatnya." kata Nile setelah pelayannya keluar.


Wanita itu membantu suaminya bangun dan meminumkan obatnya. Gilbran kembali tertidur setelah meminum air madu dan obatnya.


"Saat rapat pemegang saham, aku ingin sekali melihat keluarga kak Nicho terkejut. Ini semua karena kakak tidak berlaku adil padaku. Aku terpaksa melakukannya, menyerah saja kak. Kau juga sudah sakit sakitan, serahkan perusahaan ayah pada kami. Kami akan menjaga perusahaan Cruise dengan baik. Dan kalian terus saja fokus mencari Haena yang tidak akan pernah kalian temukan." pikir Nile licik.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2