
Sepanjang perjalanan, Stevani terus menatap keluar jendela mobil. Ia melihat pemandangan kota X yang akan ia tinggalkan sebentar lagi. Sekali sekali ia masih terisak, ia menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangannya.
"Apa ada tempat yang mau nona kunjungi sebelum pergi?" tanya Alex.
"Tidak... jika aku turun lagi, mungkin aku akan merubah pikiranku." jawab Stevani.
"Nona... anda mungkin akan menghadapi masalah baru saat sampai di kota D. Keluarga pak Zio adalah keluarga terkaya di kota itu, kemungkinan jika anda tetap mempertahankan identitas asli anda, anda akan menemui banyak masalah. Aku tidak memaksa atau menyarankan anda untuk berbohong, namun sepertinya selama satu tahun kontrak anda, tidak ada salahnya anda memakai identitas baru yang sudah disiapkan oleh pak Zio. Di samping anda ada sebuah berkas, anda bisa membacanya jika berminat."
"Apa keluarga Cruise sangat sulit dihadapi?"
"Keluarga Cruise sebenarnya keluarga yang sangat baik, namun karena kehormatan mereka yang begitu terkenal di kota D. Mereka tidak mungkin membiarkan orang sembarangan masuk ke dalam rumah mereka. Pak Zio hanya ingin melindungi anda dari keluarganya, maka dari itu pak Zio menyarankan anda memalsukan identitas anda nona."
"Aku ingin menjadi diriku sendiri apa adanya tanpa adanya kepalsuan, namun karena pernikahan nanti pun atas dasar kebohongan, mungkin aku akan mempertimbangkannya." jawab Stevani seraya mengambil berkas yang ada di sampingnya.
"Dan aku rasa bagi pak Zio pernikahan ini sungguhan nona Vani. Pak Zio tidak akan menikahi seorang wanita untuk membohongi keluarganya begitu mudah. Pak Zio sangat tertarik pada anda, atas dasar tanggung jawab yang ia perbuat dan untuk menutupi harga dirinya, ia meminta anda menikah kontrak. Ia bisa saja menyewa wanita yang lebih baik dari anda, tapi yang ia lakukan justru memilih anda. Dan kesalahan yang kalian perbuat saat mabuk, itu bukan hanya sekedar kesalahan. Pak Zio benar benar menginginkan anda, hingga melakukannya. Aku masih bertaruh dengan diriku sendiri bahwa penilaianku ini benar, aku tidak akan membiarkan namaku berubah menjadi Alexa." pikir Alex sambil tersenyum.
Stevani terus membaca berkasnya, wanita itu berkali-kali terlihat membelalakkan matanya.
"Ini sangat berlebihan." gerutu Stevani.
"Itulah standar keluarga Cruise nona." jawab Stevani.
"Sepertinya jika aku memakai identitas sebenarnya, maka aku akan hidup di neraka." celetuk Stevani.
Alex tertawa mendengarnya.
"Boleh aku bertanya Lex?"
"Silahkan nona."
"Mengapa Zionel menolak perjodohan yang selalu diatur oleh ibunya?"
"Heeeem... ceritanya sangat panjang. Tapi anda harus tahu, jika pak Zio sebenarnya memiliki adik perempuan yang sangat ia sayangi. Tapi... nona Haena Cruise menghilang entah kemana."
"Apa? Menghilang?"
Stevani sungguh terkejut mendengar fakta baru tentang Zionel Cruise.
"Lalu kalian tidak mencarinya?" tanya Stevani.
Alex menyunggingkan senyumnya. "Mungkinkah keluarga Cruise yang memiliki banyak uang akan diam saja jika keluarganya menghilang? Tentu saja mereka sudah bertahun tahun mencari keberadaan nona kecil itu. Tapi segala upaya yang dilakukan keluarga Cruise tidak membuahkan hasil."
"Lalu apa hubungannya dengan perjodohan Zionel Cruise?"
"Pak Zio memutuskan untuk hidup melajang sampai ia bisa menemukan adiknya. Ia bahkan keluar dari rumah besar Cruise dan tinggal di sebuah apartemen untuk melupakan kenangan indah bersama adiknya."
"Jadi seperti itu, sepertinya Zionel sangat menyayangi adiknya."
"Sangat... ia mungkin akan bersedia menukar nyawanya jika itu harus dilakukan untuk menemukan nona Haena."
"Jadi aku benar benar sebuah tameng untuk menghentikan ibunya melakukan perjodohan." gumam Stevani sedih.
__ADS_1
"Nona Vani bilang apa?" tanya Alex.
"Ah... tidak... Kita sekarang ingin kemana?"
"Kemungkinan pak Zio saat ini sedang berpamitan di perusahaannya, kita menjemputnya disana."
"Baiklah..."
"Apa nona Vani sudah sarapan?"
Stevani menganggukkan kepalanya.
"Mungkin kita akan makan siang di dekat bandara." imbuh Alex.
"Aku lebih baik tidak makan terlalu banyak sebelum melakukan perjalanan jauh. Aku tak ingin mabuk perjalanan." jawab Stevani.
"Apa anda suka mabuk?"
"Entahlah... aku tak pernah berpergian jauh. Oh ya, sebenarnya aku sangat malu menanyakan hal ini. Bagaimana dengan keadaan Zionel? Maksudku lukanya... itu..."
Alex kembali tertawa. "Tenang saja, ia bahkan kuat jika tertusuk pisau." candanya.
"Sungguh memalukan, aku bahkan melakukan hal itu."
"Jangan sampaikan ucapanku ini pada pak Zio nona, aku masih ingin bekerja dengannya tapi ia memang pantas mendapatkannya." ujar Alex seraya tertawa.
Stevani akhirnya ikut tertawa, semakin lama ia semakin nyaman berbicara dengan Alex. Pria itu ternyata sangat suka bercanda. Kesedihannya tadi akhirnya bisa berubah karena mendapat hiburan dari pria itu.
Alex memasuki jalan menuju perusahaan. Stevani terkejut saat melihat gedung perusahaan yang berdiri sangat megah itu.
Alex menyeringai. "Anda bukan tidak bergaul, mungkin terlalu sibuk bekerja nona."
"Terima kasih menghiburku Lex."
Alex menepikan mobilnya dengan cantik di parkiran perusahaan. Ia menatap jam tangannya.
"Sepertinya kita masih punya waktu beberapa jam sebelum ke bandara. Lebih baik kita menunggunya di dalam nona." ujar Alex.
Stevani menggelengkan kepalanya. "Lebih baik aku tetap disini. Aku tidak percaya diri untuk masuk ke sebuah perusahaan besar."
"Anda sebentar lagi akan menjadi nyonya muda Cruise. Anda harus membiasakan diri keluar masuk di tempat seperti ini."
"Aku mohon berikan aku waktu untuk melakukan hal itu. Aku tetap disini saja."
"Anda yakin? Tempat ini sangat panas, walaupun aku tetap membiarkan mobil ini menyala, kemungkinan anda tetap seperti sedang terpanggang."
"Tidak apa apa Lex, jika aku jenuh aku akan berjalan jalan kesana." jawab Stevani sambil menunjuk sebuah taman perusahaan.
Alex menghela nafasnya. "Baiklah, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku saja."
"Tentu, terima kasih Lex."
__ADS_1
Alex tersenyum lalu keluar dari mobilnya. Pria itu meninggalkan Stevani masuk ke dalam perusahaan. Sedangkan Stevani dengan keras kepala tetap menunggu mereka di dalam mobilnya.
*****
Stevani sudah menunggu mereka hampir dua jam, namun keduanya masih juga belum keluar dari perusahaan. Ia mulai jenuh duduk di dalam mobil itu. Benar kata Alex, panas hari ini sangat menyengat. Ia pun segera keluar dari mobilnya.
"Sudah waktunya aku menghubungi dokter Mark." gumam Stevani.
Wanita itu mengambil ponselnya sambil berjalan menuju taman perusahaan. Ia sangat bersyukur mendengar perkembangan Zaline dari dokter Mark. Namun ia tetap tak bisa berpamitan dengan adiknya karena masih belum bisa menemuinya secara langsung.
"Terima kasih dok, tolong jaga adikku dan sampaikan pesanku kalau aku menunggunya sadar kembali." ujar Stevani.
"Tentu nona Stevani, semoga perjalanan anda selamat sampai tujuan. Jika perkembangan nona Zaline semakin bagus, maka kepindahannya akan segera dilakukan." jawab dokter Mark.
"Baik dok, sekali lagi terima kasih banyak."
Stevani menutup teleponnya lalu duduk di taman itu, ia tak membaca larangan untuk tidak menginjak tanaman disana. Apa yang ia lakukan ternyata sudah diperhatikan penjaga taman. Seorang pria menghampirinya lalu memarahinya membuat Stevani terkejut.
"Maaf... maaf pak..." ujar Stevani.
"Sepertinya kau bukan karyawan perusahaan, apa kau ingin mencuri disini?" bentak pria itu kasar.
"Ah... tentu saja tidak. Aku sedang menunggu seseorang."
"Pencuri mana ada mengaku, ayo ikut..."
Stevani terkejut saat tangannya ditarik dengan kasar oleh pria itu.
"Lepaskan aku... aku bukan pencuri..." teriak Stevani.
Namun ia tetap ditarik dengan kasar dan dibawa ke pos keamanan. Dengan kasar pria itu mendorong Stevani disana hingga terjatuh. Wanita itu meringis saat lengannya terbentur ujung meja.
"Ini pencuri bunga di taman pak, selama ini kita kehilangan bunga ternyata wanita ini pelakunya." ujar pria itu pada sekuriti.
"Aku bukan pencuri, aku benar benar sedang menunggu orang." jawab Stevani.
Sekuriti itu membantu Stevani berdiri. "Duduklah nona, lalu siapa yang kau tunggu disini?"
"Tuan Zio dan Alex." jawab Stevani.
Keduanya menatap Stevani, justru mereka tertawa dengan keras.
"Bagaimana kau bisa tahu nama pemilik perusahaan ini? Mana mungkin wanita sepertimu menunggu mereka, apa kau ingin merampok mereka?"
Stevani terbelalak, tadi ia dituduh pencuri, sekarang ia dituduh perampok.
"Apa penampilanku benar benar tak pantas untuk bertemu mereka?" pikir Stevani sambil menatap penampilannya sendiri.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1
No Bonus...
See you next time...