Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Stevani menceritakan semuanya pada Cia, mengapa ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan pindah dari kota X. Cerita yang ia sampaikan tidak berbeda dari cerita yang ia katakan pada Juana. Hanya bagian tidur bersama pria yang tidak ia katakan, walaupun Cia teman yang paling dekat dengannya, tapi ia tak mau membuat wanita itu murka.


"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Cia.


Stevani mengangguk, "demi Zaline."


"Aku tak bisa mengatakan apapun lagi jika menyangkut kesehatan Zaline. Tapi pria itu benar benar membantumu tanpa imbalan apapun kan?"


Stevani ragu untuk menjawabnya, ia tak mungkin mengungkit soal pernikahan kontrak pada Cia.


"Menurutmu apakah ada seseorang yang ingin membantu tanpa imbalan apapun?" tanya Stevani balik.


"Jangan memutar pertanyaanku Van, katakan padaku."


Stevani menghela nafasnya. "Aku akan menikahinya."


"Apa???" teriak Cia tak percaya. "Kau hanya bercanda kan, mana mungkin kau menikah dengan pria yang tidak kau kenal." imbuhnya.


"Itulah yang akan terjadi Cia, aku tak bisa membayar hutangku. Setidaknya ia tampan dan tak memiliki tunangan."


"Apa kau diancam olehnya?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Akulah yang mengajukan pernikahan ini Cia, aku tak sanggup membayar uang sebesar itu. Hanya pernikahan yang aku ajukan." katanya berbohong.


"Apa kau sudah gila Van, bagaimana mungkin kau bisa terjerat dengan pernikahan tanpa cinta. Kau terlalu banyak berkorban untuk Zaline. Kapan kau merasakan kebahagiaan untukmu sendiri."


"Kebahagiaanku ada bersama Zaline, jika ia sehat maka aku akan bahagia. Hanya itu yang aku ingin di dunia ini Cia."


"Sejak awal aku berteman denganmu, aku sudah tahu kau sangat menderita. Setelah kau bertemu Zaline, Tuhan kembali mencoba hidupmu karena penyakitnya. Van... aku ingin kau bahagia."


"Tentu saja Cia, aku berjanji akan hidup bahagia. Kau masih ingat pria sombong yang aku ceritakan waktu itu?"


Cia menganggukkan kepalanya. "Ada apa dengan pria itu?"


"Pria itulah yang akan aku nikahi."


"Haaaaahhh... ya Tuhan... takdir macam apa yang kau miliki Van."


Stevani tertawa. "Pria itu juga yang membuatku minum satu botol wiski Cia."


"Ya Tuhan... kalau begitu mungkin saja kartu ATM itu ia ambil kembali, sekarang ia sedang memanfaatkanmu Van. Kau harus bertanya padanya."


"Lupakan saja, sekarang yang penting aku bisa mengobati Zaline dengan tenang tanpa memikirkan biaya Cia. Aku harus pulang sekarang untuk membereskan barang barangku dan juga milik Zaline. Cia... aku pasti akan merindukanmu." ujar Stevani lalu memeluk Cia.


Cia pun membalas pelukan Stevani. "Aku akan kehilangan teman sepertimu, seringlah datang ke kota ini dan menemuiku Van."


Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku akan menemui pak Huber lalu berpamitan dengan kak Angga."


"Aku yakin Angga akan menahanmu lebih lama."


"Ia tidak bisa menahanku, ini sudah keputusanku Cia. Sudah sana lanjut kerja, aku takut kemalaman pulang ke rumah."

__ADS_1


"Baiklah... oh ya kapan kau akan pergi?"


Stevani menggeleng. "Aku akan menghubungimu jika akan berangkat."


"Semoga saja aku bisa mengantarmu, tetap hubungi aku Van, aku janji tidak akan mengganti nomor ponselku."


Stevani kembali memeluk Cia lalu meninggalkannya begitu saja untuk menemui Huber.


*****


"Pak Zio... Anda tidak lapar?" tanya Alex.


Zionel membuka matanya. "Wanita itu belum keluar juga?"


Alex menggelengkan kepalanya.


"Apa yang wanita itu lakukan di dalam, ia tak mungkin melanjutkan pekerjaannya kan?" gerutu Zionel.


"Aku rasa nona Vani sedang berpamitan dengan teman temannya pak."


"Kau pergilah makan, aku akan menunggunya disini."


"Tapi pak Zio..."


"Keluarlah Lex..."


Alex menghela nafas panjang. "Anda tak ingin makan apapun?"


"Baik pak Zio, kalau begitu aku tinggal sebentar."


Zionel menganggukkan kepalanya. Alex pun keluar dari mobilnya, ia melihat di seberang jalan ada pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Pria itu sangat sulit menahan perut laparnya, ia pun menuju pedagang tenda tersebut.


Zionel sudah cukup memejamkan matanya, kali ini ia yang berjaga dan terus menatap pintu keluar masuk klub.


Satu jam telah berlalu...


Alex masih juga belum kembali, Stevani juga belum keluar dari klub. Zionel terus mengumpat dalam hati, ia sangat kesal namun penasaran dengan apa yang dilakukan Stevani begitu lama di dalam klub. Zionel keluar dari mobilnya, baru saja ia keluar, wanita yang ia tunggu akhirnya muncul disana.


Seketika Zionel menghampirinya membuat Stevani terkejut.


"Apa yang kau lakukan begitu lama di dalam klub?" tanya Zionel.


Stevani menatapnya tajam. "Kau... kau yang membawaku kemarin malam. Jadi kau..."


Air mata Stevani tumpah, ia terkejut saat bertemu Huber. Huber memberitahu semuanya pada Stevani jika ia dibawa Zionel dan asistennya keluar dari klub.


"Kau sudah mengingat semuanya?" tanya Zionel.


"Tidak... aku bahkan berharap melupakan semuanya. Apa kau yang telah..."


"Itu bukan salahku, kau lah yang memulainya." ujar Zionel tanpa memikirkan perasaan wanita itu.

__ADS_1


Sontak saja Stevani tersulut api kemarahan, ia yang telah kehilangan kesuciannya, tapi ia juga yang dituduh bersalah oleh pria yang ada di depannya saat ini. Stevani mengangkat tangannya, lalu...


plaaaakkkk.......


Suara tamparan keras melayang di pipi Zionel membuat pria itu terkejut.


"Berani sekali kau menamparku." bentak Zionel.


"Tamparan itu tidak cukup untuk menebus semuanya. Aku pingsan, aku mabuk berat, bagaimana kau bisa memanfaatkan keadaanku saat itu. Kau telah merusak segalanya, dan kau justru berpura pura tak bersalah dengan datang ke rumah sakit sebagai pahlawan kesiangan. Kau kembali memanfaatkan keadaanku. Kau lebih rendah dari mas Dani." teriak Stevani.


"Jangan samakan aku dengan pria itu." bentak Zionel. "Aku lebih terhormat darinya, aku mencarimu karena berniat untuk bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan." imbuhnya.


Stevani tertawa di sela tangisannya. "Bertanggung jawab katamu. Kau mengancamku dengan nama adikku, kau memintaku menikah diatas kertas selama satu tahun. Apa itu yang kau katakan tanggung jawab? Aku tahu, aku tidak sederajat denganmu, aku wanita dari kalangan bawah dan tak pantas bersama pria terhormat sepertimu, tapi aku juga punya harga diri."


"Cukup Stevani... ucapanmu semakin melantur. Aku bukan pria yang kau tuduhkan seperti itu."


"Kau tenang saja, aku tidak akan membatalkan perjanjian yang sudah kita sepakati. Aku akan tetap menikah kontrak denganmu, dan kau akan tetap membantu pengobatan adikku. Tapi aku akan menambahkan syarat dalam kontrak itu, jika aku bisa mengembalikan uangmu sebelum satu tahun, maka perjanjian kita batal. Kau bisa melepaskan aku dan juga adikku."


Stevani melangkahkan kakinya, seketika Zionel menahan tangannya.


"Tunggu... apa maksudmu?" tanya Zionel.


"Aku sudah kotor, aku bukan wanita baik baik. Tentu saja aku bisa mencari uang dengan cara kotor juga untuk mengembalikan uangmu." jawab Stevani.


"Kau pikir aku akan membiarkannya, saat kau menandatangani kontrak itu. Maka kau harus menjadi istri seorang Cruise yang terhormat. Kau hanya akan menjadi nyonya muda di rumahku."


"Lepaskan... jangan ikut campur urusan masing masing, itu syarat yang sudah kita sepakati."


"Ini menyangkut kehormatan keluarga Cruise, aku memilihmu sebagai istriku dan membawamu ke dalam rumahku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu..."


"Kalau begitu lupakan pernikahan itu dan beri aku waktu untuk mencari uangnya." sergah Stevani.


"Ya Tuhan... tidakkah kau berpikir bagaimana jika sekarang ada anakku di dalam perutmu. Apa kau akan membiarkan anakku terlahir sebagai anak haram?"


Bak petir yang menyambar di siang hari, kata kata Zionel langsung menancap di hati Stevani. Anak... mungkinkah ia sekarang hamil karena malam itu... mengapa ia begitu bodoh sehingga terjebak dalam situasi seperti ini.


Stevani menangis dengan keras, ia memukul dada Zionel berkali kali. Pria itu membiarkannya begitu saja, ia hanya bisa menahan pukulan wanita itu.


"Mengapa kau berbuat seperti itu, mengapa kau lakukan ini padaku, mengapa kau tidak pakai pengaman, mengapa kau biarkan aku terjebak, aku bahkan tidak mengenalmu, mengapa kau tidur denganku...!!!" teriak Stevani sambil terisak.


Zionel menahan tangannya. "Cukup Stevani Yunsu... kita pulang sekarang."


Zionel menarik tangannya lalu masuk ke dalam mobil, ternyata Alex juga sudah kembali dan menunggu mereka di dalam mobil. Tentu saja pria itu menyaksikan keributan antara Zionel dan Stevani disana.


"Lex... jalan sekarang." perintah Zionel.


Alex menganggukkan kepalanya, lalu menyalakan mobilnya dan membawa mereka kembali ke kontrakan Stevani.


*****


To Be Continue...

__ADS_1


jangan minta up lagi yeeee... besok lagi dilanjutkan...🤣🤣🤣🤫🤫🤫


__ADS_2