
Saat dalam perjalanan menuju rumah besar Cruise, Stevani kembali mencoba menghubungi bu Yoyoh. Dan akhirnya telepon itu dijawab.
"Halo... siapa ini?" suara bu Yoyoh terdengar dari balik telepon.
Stevani sangat mengenali suara itu, ia justru terisak mendengarnya. Ia merasakan kerinduan yang mendalam pada wanita paruh baya itu. Zionel hanya bisa memeluk pundak istrinya agar wanita itu tenang.
"Bu... ini Vani." jawab Stevani dengan suara bergetar.
Tentu saja bu Yoyoh terkejut, wanita paruh baya itu langsung menangis di balik teleponnya.
"Ya Allah... ini neng Vani?"
"Iya bu, ini aku. Maaf baru bisa menghubungi bu Yoyoh sekarang."
"Tidak apa apa neng, bu Yoyoh mengerti. Neng... bagaimana kabarnya disana?"
"Puji Tuhan sangat baik bu, bagaimana kabar bu Yoyoh?"
"Alhamdulillah ibu juga baik neng. Neng Zaline kata dokter mulai sadar, tapi ibu belum boleh menemuinya, apa neng Zaline sebentar lagi dibawa kesana?"
"Kurang lebih dua minggu lagi bu. Terima kasih sudah menjaga Zaline dengan baik."
"Ibu yang sangat berterima kasih neng. Tolong sampaikan pada tuan Zio, ia sangat membantu ibu disini. Usaha ibu semakin lancar disini. Neng Vani bagaimana dengan tuan Zio?"
"Zio ada di sampingku bu. Aku menghubungi ibu karena ingin menyampaikan sesuatu. Kemarin aku dan Zio menikah bu."
Rasa syukur terus terucap dari mulut bu Yoyoh, wanita paruh baya itu kembali menangis karena sangat bahagia mendengar kabar pernikahan Stevani dan Zionel.
"Selamat neng, semoga kalian bahagia, segera diberi momongan dan selalu diberkati oleh Tuhan."
"Aamiin... Maafkan aku bu karena tidak memberitahu ibu sebelumnya dan tidak mengundang bu Yoyoh untuk datang ke pernikahan kami. Pernikahan kami sejak awal memang sangat cepat dipersiapkan. Banyak sekali yang terjadi saat berada disini, jadi..."
"Neng jangan khawatir, ibu diundang juga belum tentu datang neng. Ibu tidak mau meninggalkan neng Zaline." potong bu Yoyoh.
"Terima kasih atas pengertiannya bu. Jika Zaline sudah dipindahkan ke kota ini, segalanya berjalan dengan baik, dan Zaline sembuh total, maka kami semua akan mengunjungi ibu."
"Iya neng, ibu berdoa selalu untuk kebahagiaan kalian."
__ADS_1
"Bu... selamat atas rumah makan barunya. Semoga usaha ibu semakin lancar dan mendapatkan pelanggan yang lebih banyak."
"Aamiin... terima kasih neng."
Stevani menghela nafas panjang. "Baiklah... jika aku ada waktu, pasti aku akan menghubungi ibu lagi. Bu Yoyoh jaga kesehatan disana."
"Neng Vani juga, sehat selalu neng."
"Terima kasih bu."
Setelah mengucapkan kata itu, Stevani pun menutup ponselnya.
Stevani menatap Zionel, pria itu langsung menyeringai seraya mengecup keningnya. Stevani menyerahkan ponselnya pada Zionel.
"Bagaimana perasaanmu sekarang setelah menghubungi bu Yoyoh?" tanya Zionel seraya mengambil ponselnya.
"Aku sangat merindukannya, tapi ia terdengar sangat baik dan bersemangat karena rumah makan barunya. Zio... terima kasih atas apa yang kau lakukan untuk bu Yoyoh."
"Berhentilah berterima kasih pada suamimu sendiri. Aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apapun untukmu sayang. Aku mohon berhentilah terus mengeluarkan air matamu. Kau sangat menyiksaku."
Stevani mengangguk, ia merebahkan kepalanya di pundak Zionel. Zionel kembali mengecup puncak kepalanya seraya menghubungi orang tuanya untuk memberi kabar tentang kepulangan mereka.
*****
"Dasar wanita bodoh...! Aku sudah berbaik hati memberikan informasi dimana Zio dan istrinya menginap. Kau justru menyerah begitu saja karena tak ingin berurusan lagi, kau takut dengan ancaman Zio. Apa kau tak berpikir, bahwa mereka yang menyebabkan ayahmu meninggal dan membuatmu harus tinggal di luar negeri." teriak Nile begitu kesal.
"Kau memang tidak pantas bersama Zio, kau wanita pengecut. Pergi saja sana, pergi ke neraka sekalian." teriak Nile lagi seraya kembali melempar barang barangnya.
Gilbran pulang dari perusahaan, pria itu langsung diberitahu oleh pelayannya apa yang terjadi pada Nile Cruise. Seketika Gilbran mempercepat langkahnya menuju kamar utama. Pria itu terbelalak saat melihat kekacauan di dalam kamar tersebut.
"Ya Tuhan... apa ini ma?"
Nile menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya dengan kesal.
Gilbran melangkah masuk mendekati istrinya. "Bersabarlah sedikit, kau tidak bisa seperti ini ma."
"Sampai kapan aku harus bersabar, kau lihatlah keluargaku, tak ada satupun dari mereka yang memberi perhatian padaku. Aku kehilangan putriku satu satunya, aku sangat sedih tapi mereka sedang bahagia diatas penderitaanku." ucap Nile.
__ADS_1
"Kita tidak kehilangan Cecil, ia sedang melanjutkan pendidikannya ma. Jika kau terus melakukan kebodohan seperti ini, maka semua yang kita lakukan akan sia sia saja. Aku sedang mencari celah untuk membuat Cecil kembali secepatnya, dan aku juga sedang berusaha mengambil alih perusahaan Cruise. Kau tidak akan merasa ditindas seperti ini lagi jika segalanya sudah berada di tangan kita. Lihatlah yang kau lakukan saat ini, apa ada gunanya dengan kau menghancurkan kamar ini?"
"Varisa... wanita bodoh itu bahkan tidak bisa membalaskan dendamnya pada Zio dan istrinya. Ia sangat mudah menyerah karena takut."
"Varisa? Ya Tuhan... kau menambah masalah baru dengan melakukan hal ini ma. Apa yang kau lakukan dengannya?"
"Aku hanya memberitahu dimana Zio menginap."
Gilbran menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hanya keluarga Cruise yang tahu dimana Zio menginap, dan kau justru memberitahu Varisa. Kau pikir Zionel itu bodoh? Ia pasti mulai mencari tahu siapa yang memberi informasi dimana ia menginap. Dan tentu saja kecurigaannya semakin kuat pada kita, setelah sikapmu terakhir kali pada mereka juga masalah Cecil. Ya Tuhan... kau membuatku semakin pusing saja. Jika semuanya terbongkar termasuk masalah hilangnya Haena, habislah kita. Kita bukan akan diusir ke luar negeri, tapi kita akan membusuk di dalam penjara."
"Aku hanya berharap Varisa bisa membantuku. Aku ingin wanita itu lebih cerdas dan bisa merayu Zionel. Tapi semuanya sia sia saja, ia ketakutan dan pergi begitu saja ke luar negeri bersama ibunya. Aku sudah tidak sabar menunggumu pa, aku lelah terus bersabar seperti ini."
"Seharusnya kau percaya padaku, aku tidak diam saja dengan masalah ini ma. Aku juga sangat marah karena Cecil harus jauh dari kita. Tapi ini juga karena kecerobohannya, jika kak Ram tidak turun tangan, bukankah putri kita akan berakhir di dalam penjara? Apa kau ingin Cecil seperti itu?"
Nile akhirnya terdiam, ia duduk di tepi ranjangnya. Gilbran pun kembali mendekati istrinya, pria itu menepuk pundak Nile dengan lembut.
"Kita tidak akan kalah lagi sayang, kali ini aku dan beberapa pemegang saham akan bersatu untuk menurunkan jabatan Nicholas dan Zionel. Jika aku menyatukan nilai saham itu, maka mereka tentu akan kalah. Kecuali..."
"Masih ada kata kecuali?" tanya Nile.
Gilbran menghela nafasnya. "Saham terbesar perusahaan adalah milik Haena. Jika anak itu masih hidup, maka kita akan kalah telak. Tapi jika Haena sudah tiada, maka saham itu akan menjadi milik yayasan yang artinya tidak ada kekuatan Nicholas untuk terus menjadi Presdir. Itu masalah yang masih menghalangi jalan kita."
"Sudah lebih dari 5 tahun pa, Haena tidak mungkin kembali. Anak itu entah masih hidup atau tidak." ujar Nile.
"Ini semua karena kebodohan anak buahku. Jika saja anak itu tidak kabur, mungkin kita bisa menyingkirkannya sejauh mungkin. Sekarang kita sama sekali tidak tahu, kemana anak itu pergi. Walaupun sudah lebih dari 5 tahun, tapi kemungkinan besar untuknya kembali masih ada ma."
"Hanya ada satu cara." ucap Nile.
Gilbran menatap istrinya. "Apa itu?"
"Jika Haena kembali lagi, kita harus menyingkirkannya lagi. Tapi kali ini kita singkirkan sampai tuntas."
"Membunuhnya?"
Nile menganggukkan kepalanya. "Kita sudah sejauh ini pa, aku tidak perduli lagi."
"Jika kau yakin kita harus bertindak sejauh ini, maka aku akan mendukungmu." jawab Gilbran.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...