Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Selamat Datang Di Kota D


__ADS_3

Sebelum pesawat landing, Zionel meminta dokter untuk memeriksa keadaan Stevani untuk terakhir kalinya. Walaupun wanita itu sempat menolaknya, namun apa yang diinginkan Zionel tidak bisa dibantah. Setelah melakukan pemeriksaan kembali dan dokter memastikan Stevani benar benar baik baik saja, Zionel akhirnya bisa bernafas lega.


Pesawat pun akhirnya mendarat dengan selamat. Seluruh penumpang satu per satu turun dari pesawat. Begitu juga dengan Zionel, Alex dan juga Stevani. Saat keluar dari pesawat, Stevani bisa melihat dengan jelas tulisan di bandara tersebut "SELAMAT DATANG DI KOTA D".


Stevani menatap kota besar itu dengan begitu terpesona. Zionel dan Alex terus memperhatikan wanita itu yang sedang mengagumi kota mereka.


"Selamat datang di kota kelahiranku, selamat datang di dunia yang akan mengubah hidupmu Stevani Yunsu." ujar Zionel.


Kata kata Zionel seketika membuat wajah Stevani berubah. Wanita itu kembali murung, ia juga kembali takut akan menghadapi keluarga Cruise nanti.


"Apa kau sakit lagi?" tanya Zionel saat melihat perubahan wajahnya.


"Apa kau yakin akan membawaku ke keluargamu?" tanya Stevani.


Zionel menyunggingkan senyumnya. "Kau tidak bisa berubah pikiran nona Stevani Yunsu. Setelah kau menginjakkan kakimu di kota ini, maka kau akan memasuki dunia Cruise. Lex... bawa kami ke apartemen saja."


"Baik pak." jawab Alex.


Alex segera keluar untuk mengambil mobil mewah milik Zionel Cruise yang terparkir di bandara. Sedangkan Zionel menarik tangan Stevani dan membawanya keluar dari bandara sambil menunggu Alex.


"Jadi apa keputusanmu?" tanya Zionel.


"Keputusan apa?"


"Ck... identitasmu nona."


"Bolehkah aku memikirkannya setelah beristirahat? Kepalaku masih pusing."


Zionel menghela nafasnya. "Sudah sampai disini pun kau masih berpikir. Baiklah..."


Alex berhenti tepat di depan mereka lalu keluar dari pintu pengemudi untuk membukakan pintu mobil untuk Zionel dan Stevani. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Alex yang kembali menjadi pengemudi untuk mereka. Ketiganya meninggalkan bandara menuju apartemen Zionel.


"Lex... apa mommy tak tahu jika aku kembali hari ini?"


"Mana mungkin pak Zio, nyonya Falera Cruise selalu tahu anda. Walaupun aku tak mengatakan apapun, bu Presdir selalu akan tahu yang akan anda lakukan." jawab Alex.


"Ia begitu penasaran dengan kekasih yang aku bawa, bukankah seharusnya mommy menjemputku di bandara."


Alex terkekeh. "Sepertinya anda lupa jika hari ini adalah jadwal tuan Nicolas Cruise ke rumah sakit."


"Oh ya Tuhan... aku melupakan itu. Beruntung sekali, setidaknya Stevani bisa beristirahat sebelum dihardik oleh nyonya besar."


Alex kembali terkekeh, sedangkan Stevani terus mengepalkan kedua tangannya. Lagi lagi Zionel memberanikan diri untuk memegang tangan Stevani.


"Tenangkan dirimu, semua akan baik baik saja."


"Seperti apa orang tuamu?"


"Emm... seperti layaknya orang tua yang lain, mereka sangat menyayangi anaknya."


"Bukan itu maksudku." kata Stevani kesal seraya menarik tangannya.

__ADS_1


Zionel tertawa. "Lalu apa maksudmu nona?"


Stevani menghela nafas panjang, alih alih menjawab, ia justru memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil. Tak mendapat jawaban dari wanita itu, Zionel mulai membicarakan orang tuanya.


"Aku memanggil ibuku mommy, namanya adalah Falera Cruise, sedangkan aku memanggil ayahku daddy, namanya Nicolas Cruise. Keduanya sangat menyayangi anak anaknya. Daddy lebih pendiam, ia akan mengikuti semua ucapan mommy. Mommy sangat cerewet, ia akan terus berbicara sampai mendapatkan jawaban yang membuatnya puas. Jadi kau harus menyiapkan diri untuk mendengar pertanyaan pertanyaannya. Kau tak perlu khawatir, walaupun mommy seperti itu, aku tak pernah melihatnya memakan orang." ujar Zionel.


"Jadi aku akan menghadapi mertua cerewet, selama ini aku tak pernah mendapat omelan kecuali dari pak Huber. Kali ini mungkin aku akan menghadapi pengganti pak Huber disini." pikir Stevani.


"Dan satu hal yang mungkin harus kau hadapi adalah keluarga besar Cruise. Mereka akan bersikap merendahkan orang lain jika orang tersebut tak memiliki pendidikan apalagi berasal dari keluarga tak jelas. Jadi itulah mengapa aku..."


"Maksudmu aku dari keluarga tak jelas." bentak Stevani sambil melototkan matanya.


"Oh ya Tuhan, bukan itu maksudku. Mengertilah, aku hanya ingin melindungimu dari mereka."


"Aku memang tak berpendidikan, tapi keluargaku sangat jelas. Mereka memang miskin, tapi kami tidak pernah meminta minta pada orang lain. Bahkan saat mereka sudah tiada, aku pun tak pernah mengemis. Aku bekerja dengan keras untuk hidupku sendiri."


"Berdebat lagi, berkelahi lagi. Keduanya mirip sekali Tom and Jerry. Mengapa pak Zio selalu saja salah bicara, dan saat kesalahan itu ia lakukan, ia tak akan pernah meminta maaf. Turunkan harga dirimu pak Zio, jangan terus membuat wanita itu marah." pikir Alex.


"Oke baiklah, aku lelah berdebat. Kendalikan emosimu, keadaanmu masih belum stabil." ujar Zionel.


"Apa kau pikir aku mau berdebat denganmu." celetuk Stevani seraya kembali memalingkan wajahnya.


"Ya Tuhan... apakah setelah kami menikah akan terus perang dingin seperti ini? Wanita ini benar benar sangat keras. Sikapku yang sebelumnya keras pada orang lain, justru dikalahkan oleh sikapnya. Tapi entah mengapa dalam hatiku selalu ingin mengalah dengannya." pikir Zionel.


"Pak Zio... apa sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu?" tanya Alex.


Zionel melihat jam tangannya. "Masih ada waktu, aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Dan sepertinya..."


"Lanjutkan saja perjalanan Lex. Aku lelah." imbuh Zionel.


"Baik pak Zio." jawab Alex.


Stevani mengambil ponselnya, ia mengumpat saat tahu ponselnya dalam kondisi mati.


"Ehm... Alex bisakah kau meminjamkan ponselmu?" pinta Stevani.


"Panggil ia pak Alex, jika kau masih keras kepala aku akan membuatmu menyesal Stevani. Dan jika kau membutuhkan sesuatu, akulah orang yang pertama yang harus kau cari. Ini..." kata Zionel seraya menyerahkan ponselnya.


"Benar nona, mulai sekarang lebih baik anda memanggilku pak Alex. Aku tak ingin kehilangan pekerjaanku." sahut Alex.


Stevani menekuk wajahnya, tapi ia butuh menghubungi bu Yoyoh agar wanita itu tahu jika ia sudah sampai dengan selamat. Jika menunggu sampai ponselnya hidup kembali, kemungkinan bu Yoyoh sudah tertidur. Dengan terpaksa Stevani mengambil ponsel Zionel. Untung saja ia bisa mengingat nomor telepon bu Yoyoh.


Stevani segera menghubungi bu Yoyoh, namun teleponnya tidak dijawab.


"Apa ada perbedaan waktu kota ini dengan kota X?"


Zionel maupun Alex sama sama terdiam.


"Aku sedang bertanya." ujar Stevani.


"Aku tahu kau sedang bertanya, tapi aku tak tahu siapa yang kau tanyakan." kata Zionel.

__ADS_1


"Bukankah kau yang bilang, kau orang yang pertama jika aku membutuhkan sesuatu."


"Oh jadi kau bertanya padaku." ejek Zionel.


"Lupakan saja." kata Stevani kesal.


Zionel menarik sudut bibirnya. "Hanya satu jam."


"Aku bilang lupakan saja."


"Oh ya ampun, ada apa denganmu? Mengapa kau terus saja marah padaku?"


"Benar kata Zionel, ada apa denganku? Mengapa aku terus saja terbawa emosi. Sepertinya perjalanan ini benar benar membuatku lelah dan juga aku terlalu memikirkan Zaline di kota X." pikir Stevani.


Stevani terus bergeming, ia kembali menghubungi bu Yoyoh. Kali ini teleponnya dijawab.


"Halo..." suara seorang pria di balik teleponnya.


"Halo... apa ini benar nomor bu Yoyoh?" tanya Stevani.


"Iya benar, aku anaknya."


"Oh aa' Rudy, ini Stevani a'. Bu Yoyoh ada?"


"Oh neng Vani, ibu kan masih di rumah sakit buat jaga neng Zaline."


"Tapi... bukankah disana tak bisa menjenguk Zaline a'. Dengan siapa bu Yoyoh kesana a'?"


"Ibu tetap keras kepala ingin kesana, tadi naik ojek sih sendirian. Mungkin sebentar lagi juga pulang. Ada pesan neng?"


"Tolong katakan kalau aku sudah sampai dengan selamat. Sampaikan juga ucapan terima kasihku a'."


"Oh ya baiklah pasti aku sampaikan."


"Sekali lagi terima kasih a'."


Stevani menghela nafas panjang lalu menyerahkan ponselnya pada Zionel. "Terima kasih."


"Siapa yang kau panggil aa'? Mesra sekali." kata Zionel.


"Bukankah kau juga mendengarkan, ia anak bu Yoyoh." jawab Stevani.


"Oh..."


Hanya kata itu yang terdengar di akhir pembicaraan mereka, suasana kembali hening hingga sampai juga di kawasan apartemen elite di kota D. Tepatnya apartemen yang ditinggali oleh Zionel Cruise.


*****


Happy Reading All...


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2