Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Setelah makan malam berakhir, Zionel tak ingin menunda lagi untuk pulang ke rumah mereka. Pria itu langsung berpamitan pada keluarganya untuk membawa istrinya pulang. Orang tuanya juga Zaline tidak melarang mereka pulang, mereka semua sangat pengertian.


Pelayan langsung menyambut kepulangan mereka, tapi Zionel langsung membawa istrinya masuk ke dalam kamar mereka. Baru saja membuka pintu kamar, Zionel langsung memerangkap tubuh Stevani ke dinding.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Stevani.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Zionel.


"Tentu saja aku merindukanmu sayang. Mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Jika kau merindukanku, untuk apa bertanya apa yang ingin aku lakukan?"


Stevani terkekeh. "Jadi apa?"


Zionel mengecup keningnya, lalu beralih ke pipinya, ia beralih kembali ke hidungnya, lalu kembali ke mata istrinya. Tak ada satupun yang terlewati oleh kecupan pria itu membuat Stevani memejamkan matanya.


"Aku merindukan semua yang ada di wajahmu." ujar Zionel.


Stevani membuka matanya, ia melakukan hal yang sama yang dilakukan Zionel padanya.


"Aku juga merindukan wajah suamiku yang tampan." jawab Stevani.


Zionel menundukkan tubuhnya, ia mengecup perut Stevani yang mulai membesar.


"Baby Zeze... papa merindukanmu." ucap Zionel.


Stevani tersenyum melihat sikap suaminya yang begitu menyayanginya. Seketika Zionel mengangkat tubuh Stevani dan membawanya ke atas ranjang.


"Aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku merindukan seluruh tubuhmu sayang." ujar Zionel.


Stevani kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, ia mengizinkan suaminya untuk menyentuh seluruh tubuhnya. Zionel perlahan lahan membuka pakaian Stevani, ia juga melakukan hal yang sama hingga keduanya sama sama tak mengenakan pakaian sehelai pun.


"Kau sangat cantik." ucap Zionel.


"Bukankah bentuk tubuhku menjadi aneh?"


"Bagian mana yang aneh?"


"Semuanya... Aku mulai membengkak seperti..."


"Ssstttt... tidak..." potong Zionel. "Kau benar benar cantik dan aku semakin menginginkanmu." imbuhnya.


Stevani tersenyum bahagia, ia kembali menganggukkan kepalanya. Zionel pun mulai menyentuhnya dengan kecupan lembut di seluruh wajahnya dan terus beralih ke lehernya. Pria itu berlama lama disana membuat nafas Stevani mulai memburu.


Zionel beralih ke dad* istrinya, ia mulai meremas kedua gunung kembar milik Stevani, dan langsung melahap puncaknya. Stevani mulai merintih, ia mengeluarkan suara suara indah yang sudah dua hari ini tidak Zionel dengarkan.


Stevani melengkungkan punggungnya, meremas seprai dengan erat sambil memejamkan matanya. Kenikmatan itu terus ia rasakan, hangatnya mulut Zionel semakin terasa dan membuatnya menggila.

__ADS_1


"Semakin indah dan berisi sayang, aku semakin menyukainya." ucap Zionel dengan suara paraunya.


Tangan Zionel mengelus perut Stevani, pria itu terus menelusuri perut itu hingga ke bagian inti Stevani. Dengan mahir ia membuka kedua kaki istrinya, setelah itu ia langsung mengelus milik Stevani dengan lembut. Tak ada yang terlewati oleh jarinya yang mahir, ia terus mengelus bagian itu sampai akhirnya menemukan lubang goa istrinya.


Mulut Zionel bersamaan dengan jarinya mulai seirama memainkan tubuh Stevani.


"Sayang..." rintih Stevani saat jari suaminya mulai bersarang disana.


Pria itu menarik jarinya keluar masuk dengan lembut. Tubuh Stevani mulai meremang karena panas. Miliknya mulai terasa basah karena sentuhan suaminya. Berkali kali suara des*han kenikmatan itu lolos dari bibir Stevani.


Zionel meninggalkan gunung kembar istrinya dan segera mengikuti jarinya berada. Pria itu menarik jarinya dari sana dan langsung mengganti dengan lidahnya. Stevani semakin melenguh saat Zionel menggila disana.


"Zio... aku tidak sanggup lagi... aku menginginkanmu." teriak Stevani sambil meremas rambut Zionel.


Zionel belum puas, ia ingin membuat istrinya mencapai puncak pertamanya. Pria itu semakin menggila, lidah dan jarinya sangat mahir memainkan milik Stevani bersamaan. Stevani terus melenguh, ia bahkan semakin lebar membuka kedua kakinya.


"Suamiku... aku..." ucap Stevani tak tahan lagi.


Hawa panas yang timbul di perutnya mulai menjalar ke bagian intinya. Stevani ingin meledak, ia berteriak dan tubuhnya bergetar hebat saat mencapai puncaknya.


Stevani terkulai, ia mengatur nafasnya yang memburu. Zionel meninggalkan milik istrinya, ia berbaring tepat di belakang Stevani. Zionel memiringkan tubuh istrinya dan mengarahkan rudalnya dari samping belakang, ia memasukkan rudal keras miliknya sambil meremas kedua gunung kembar wanita itu. Posisi itu membuat Stevani lebih nyaman berhubungan saat kondisi perutnya semakin besar.


"Aaa***gghhh..." rintih keduanya saat Zionel menyarangkan rudalnya dan menekannya pelan.


Zionel mulai menarik dan mendorongnya dengan lembut hingga hasr*t keduanya kembali meletup-letup bak buih air yang baru saja mendidih.


"Ini... benar benar nyaman suamiku, aaa***gghhh..." sahut Stevani.


Zionel menambah ritme permainannya, ia mulai mempercepat tarik dorong itu hingga membuat keduanya semakin menggila. Zionel terus mempercepatnya, ia hampir meledak.


"Vani... Ini gila sayang..." setelah mengucapkan itu, Zionel pun langsung menarik rudalnya dan mengeluarkan lahar panas itu di luar.


Jari Zionel segera menggantikan rudalnya agar istrinya mencapai puncaknya lagi. Dan benar saja, wanita itu mengedutkan miliknya dan kembali bergetar hebat saat ia melepaskan puncak keduanya.


Keduanya masih berpelukan dalam posisi itu, sambil mengatur nafas mereka yang masih memburu. Berkali-kali Zionel mengecup pundak Stevani dengan lembut.


"Bagaimana aku bisa jauh darimu sayang? Kau membuatku menggila." ujar Zionel.


Stevani membalikkan tubuhnya, keduanya kini saling bertatapan. "Apa kau nyaman mengeluarkannya di luar?"


Zionel mengangguk. "Aku harus menjaga bayi kita. Usia kandunganmu tidak baik menerima cairan ini. Aku akan mengikuti saran dokter walaupun aku tetap tidak bisa menahan hasr*tku."


Stevani mengecup bibir suaminya dengan lembut. "Kau selalu membuatku puas Zio. Terima kasih sayang."


"Ck... itu tugasku sebagai seorang suami. Membahagiakanmu, menjagamu dan membuatmu puas, itu kewajibanku sayang. Jangan ucapkan kata terima kasih untuk itu semua."


Stevani menganggukkan kepalanya. "Zio... apa yang kau katakan pada Zaline?"

__ADS_1


"Apa kau masih penasaran?"


"Tentu saja."


Zionel menarik selimutnya hingga menutupi tubuh mereka berdua.


"Besok saja aku ceritakan, lebih baik kita tidur sekarang. Aku tak yakin akan berhenti melakukannya malam ini. Jadi kumpulkan tenagamu nyonya muda Cruise." ujar Zionel.


"Berhentilah me sum. Aku sangat penasaran."


Zionel terkekeh. "Aku membohongi gadis kecil itu."


"Hah? Kau tidak boleh..."


"Ini demi kebaikan kita. Oh ayolah sayang, aku berbohong tapi tidak keterlaluan."


"Kebohongan apa yang kau katakan padanya?" tanya Stevani semakin penasaran.


"Em... aku menggunakan namamu dalam mencari alasan."


"Aku? Ya Tuhan... kau membuatku penasaran."


Zionel tertawa. "Aku bilang kau setiap malam menangis karena ingin aku mengelus perutmu."


Stevani terbelalak. "Kau gila, kapan aku seperti itu?"


Zionel menarik Stevani semakin dekat lalu memeluknya dengan erat. "Hanya itu yang bisa aku lakukan sayang. Aku tak tahan lagi dipisahkan darimu walaupun satu detik. Aku mengarang cerita demi kebaikan kita. Aku bilang padanya, kau tidak ingin ia tahu apa yang kau rasakan setiap malam karena terlalu menyayanginya."


"Kau menggunakan kasih sayang Zaline untuk mendapatkan keuntungan Zio. Kau jahat sekali. Apa kau juga yang memintanya untuk tidak mengatakan apapun padaku? Karena setelah ia menerima telepon darimu, ia terus menghindari pertanyaanku." ujar Stevani.


"Tentu saja sayang, jika ia mengadu padamu, maka aku tidak akan bisa bertemu denganmu malam ini. Kau pasti tidak tega melihatnya, lalu mengatakan aku sedang membohonginya. Jika ia tahu aku berbohong, bukankah bisa jadi hukumanku bertambah satu bulan?"


"Ya Tuhan... kau benar benar jahat suamiku."


"Oke aku mengaku salah, tapi kau pikirkan aku Vani. Aku benar benar tidak bisa bekerja saat hati dan pikiranku terus merindukan istriku. Ini semua aku lakukan agar ia mencabut hukumannya."


"Ciiiih... kau berlebihan. Kita baru 2 hari dipisahkan, dan kau selalu menghubungiku."


"Semakin aku mendengar suaramu, semakin aku ingat suara desa hanmu." goda Zionel.


"Ya Tuhan... apa isi dalam kepalamu ini?" tanya Stevani.


Zionel mulai mengangkat jarinya. "Ini, ini, ini..."


Pria itu terus menunjukkan semua yang ada di tubuh istrinya, mulai dari wajahnya hingga ke bagian inti milik Stevani. Lalu hasr*t itu pun kembali muncul, keduanya saling bertatapan. Zionel langsung ******* bibir Stevani lalu memasukkan rudalnya kembali dalam posisi berhadapan. Mereka pun kembali melakukan hubungan untuk melepaskan kerinduannya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2