
Malam semakin larut...
Setelah pertengkaran yang terjadi siang tadi, sampai saat ini Zionel masih belum kembali. Stevani merasa tenang, karena tidak bertemu dengan Zionel secepatnya. Namun wanita itu tetap bertanya tanya dimana keberadaan Zionel saat ini. Ia bahkan makan malam sendirian.
"Mengapa ia belum juga pulang? Bukankah seharusnya yang masih marah adalah aku. Tapi kenapa ia yang justru belum kembali. Apa terjadi sesuatu padanya? Ia mengendarai mobilnya kencang sekali. Ah... tidak mungkin... jika terjadi sesuatu padanya, tentu saja Alex sudah menghubungiku. Sudahlah biarkan saja, mungkin saja ia sedang sibuk dengan pekerjaannya." pikir Stevani.
Stevani terus bergulat dengan pikirannya sendiri, namun ia terus saja menguap karena mengantuk. Ia pun naik ke atas sofa, menarik selimutnya hingga akhirnya tertidur dengan lelap.
Tepat pukul satu malam, Zionel baru kembali ke apartemennya. Baru saja masuk, ia sudah disuguhi pemandangan yang indah di atas sofa. Zionel tersenyum lalu perlahan mendekati Stevani.
Zionel terus menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu sambil tersenyum. Beberapa helai rambut Stevani yang menutupi wajahnya, perlahan Zionel singkirkan dengan sentuhan yang lembut.
"Mengapa kau tidak memahami isi kontrak itu sampai tangisanmu terdengar memilukan Van. Mana mungkin aku akan memisahkan seorang ibu dari anaknya sendiri. Aku semakin berharap kau benar benar mengandung anakku saat ini. Aku semakin menyadari perasaanku, aku tidak ingin kehilanganmu. Seharian ini aku memikirkan semua hal tentangmu. Dan aku harus mengakuinya, kalau aku benar benar jatuh cinta padamu. Aku terus menggunakan cara egois untuk mengikatmu disisiku, dengan alasan adikmu, dengan alasan uang, tapi yang sebenarnya bukan itu, aku semakin takut berpisah denganmu. Maaf, aku membuatmu menangis seperti itu." pikir Zionel.
Zionel mendekati wajah Stevani lalu mengecup keningnya dengan lembut. Pria itu perlahan mengangkat tubuh Stevani dan memindahkannya ke atas ranjang. Beruntung, Stevani terlalu lelah hingga wanita itu tetap tenang dalam tidurnya.
Setelah selesai memindahkan Stevani ke dalam kamar, ia pun segera membersihkan dirinya, setelah selesai Zionel kembali menghampiri Stevani lalu menyelimuti wanita itu.
"Selamat malam sayang." ucap Zionel lalu keluar dari kamar menuju sofa.
Zionel sangat lelah, ia pun naik ke atas sofa lalu tidur disana.
*****
Di rumah sakit...
"Bagaimana ini dad? Zio tetap membawa wanita itu memilih gaun pengantin." ujar Falera pada suaminya.
"Orang suruhanku sama sekali tidak menemukan apapun tentang wanita itu. Aku rasa kita harus mengalah mom. Sepertinya kali ini Zio tidak main main, ia sangat mencintai Stevani." jawab Nicholas.
"Lalu bagaimana dengan Varisa? Kurang apa wanita itu dad?"
"Oh ayolah sayang, perasaan tidak bisa dipaksakan. Jangan terus mengganggu putramu dengan permintaanmu itu. Kita sudah kehilangan Haena, jangan sampai kita kehilangan Zionel juga."
"Kita tidak kehilangan Haena, kita akan menemukannya." ujar Falera.
__ADS_1
Seketika wanita itu menangis, Nicholas langsung mendekati istrinya dan memeluknya.
"Kita akan menemukannya, kita akan terus mencarinya. Jangan menangis lagi mom, aku mohon." pinta Nicholas.
Falera menganggukkan kepalanya di dalam pelukan suaminya.
"Dan satu lagi, berhentilah berpura-pura untuk mendapatkan simpati dari putra kita. Ia sudah dewasa sayang, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya." imbuh Nicholas.
Falera melepaskan pelukannya. "Aku pingsan karena syok bukan pura pura dad. Dan apa benar wanita itu hamil?"
"Aku sudah bertanya pada Alex. Dan sepertinya benar, sebelum Zionel memutuskan untuk menikahinya, keduanya sempat bersama di hotel."
"Oh ya Tuhan... mengapa Zio kehilangan kendali dad?"
"Itu sudah jelas mom, Zio benar benar mencintai wanita itu. Jadi bagaimana jika kali ini kita mengalah dan mendukungnya untuk menikah. Bagaimanapun kita akan memiliki seorang cucu dan ia ahli waris keluarga Cruise."
Falera sangat enggan menyetujuinya, ia masih berharap Varisa lah yang akan menjadi menantu keluarga Cruise.
"Mom... berhentilah berpikir. Kita hanya perlu mendukung keputusan Zio. Dengan begitu kita tidak akan kehilangannya. Jika Stevani berbuat macam macam, maka kita baru bertindak. Bagaimana sayang?"
"Apa yang harus aku katakan pada Varisa dad. Aku tak ingin membuatnya kecewa."
"Ya Tuhan... mengapa jadi seperti ini. Zio benar benar membuatku pusing."
"Zio sudah bekerja keras selama ini untuk mencari Haena, ia juga menjadi lebih pendiam setelah kehilangan adiknya. Ia tak memiliki gairah untuk hidup mom. Tapi saat ia kembali dari kota X, apa kau tidak melihat seperti apa Zio. Ia seperti kembali ke masa lalu saat masih bersama Haena."
"Jadi maksud daddy sekarang Zio melupakan adiknya karena bertemu wanita itu? Tidak... aku tidak akan membiarkan Zio melupakan Hae dad."
"Ya Tuhan... bukan itu maksudku. Kau berpikir terlalu berlebihan sayang. Maksudku, setidaknya Stevani mengembalikan semangat Zio, hanya itu sayang."
"Perkataanmu membuatku semakin tidak menyukai wanita itu."
"Sudahlah, malam semakin larut. Beristirahatlah mom, besok kita keluar dari rumah sakit. Aku akan tetap disini menjagamu."
"Daddy jika ingin pulang tidak masalah, aku akan baik baik saja disini."
__ADS_1
"Cerewet sekali, tidurlah." pinta Nicholas.
Falera menghela nafas panjang, ia pun mengikuti keinginan suaminya dan mulai merebahkan tubuhnya lagi. Nicholas beranjak dari sana menuju sofa setelah melihat istrinya sudah memejamkan matanya.
*****
Di tengah malam, Stevani terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Ia seketika terkesiap saat menyadari keberadaan dirinya di atas ranjang. Namun setelah tidak menemukan Zionel di sampingnya, ia pun merasa lega.
Stevani turun dari ranjangnya, perlahan lahan ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Namun baru setengah perjalanan, ia kembali terkejut saat melihat kaki seseorang melewati panjangnya sofa.
Stevani mendekati sofa tersebut dan mendapati Zionel sedang tertidur pulas disana. Wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Apa aku pindah ke kamar sendiri dan membuat Zio tidur di sofa? Tapi mengapa aku sama sekali tidak mengingatnya? Apa sekarang aku tidur berjalan?" pikir Stevani.
Stevani bergidik, ia merasa tak mungkin memiliki penyakit tidur sambil berjalan. Namun ia masih kebingungan karena bisa berada di atas ranjang Zionel. Ia pun menghela nafasnya karena tak ingin memikirkan lebih lanjut lagi. Tenggorokannya semakin terasa kering, ia pun segera beranjak dari sana menuju dapur untuk mengambil minum.
Stevani terus berdeham setelah meminum air putihnya, namun tenggorokannya masih terasa kering dan sakit.
"Ehm... ehm... mengapa masih sakit juga." gumam Stevani.
"Apanya yang sakit?" tanya Zionel.
Tentu saja ucapan Zionel membuat Stevani terkesiap, ia menjatuhkan gelasnya ke lantai hingga menimbulkan bunyi dentangan keras. Gelas tersebut jatuh hingga hancur berkeping keping tepat di kakinya.
Zionel terkejut, pria itu tanpa sadar langsung mengangkat tubuh Stevani menjauhi tempat pecahan gelas itu. Lalu menurunkannya di tempat yang lebih aman.
"Mengapa kau tidak hati-hati Van?" tanya Zionel.
"Ingin sekali aku memukulmu. Bukankah kau yang membuatku terkejut?"
"Baiklah aku yang salah, maafkan aku." jawab Zionel.
Stevani terbelalak, ini pertama kalinya pria itu meminta maaf padanya. Ia menepuk pipinya sendiri untuk meyakinkan dirinya jika itu bukanlah sebuah mimpi.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...
Next again...