
Stevani keluar dari kamar mandi, seketika ia terkejut saat melihat 2 koper besar sudah berdiri di samping sofa. Wanita itu mengerutkan keningnya.
"Ini..."
Zionel menoleh dan menatap istrinya. "Lebih baik kita pulang saja sayang. Aku tak tenang setelah Varisa datang kemari."
Stevani hanya mengangguk. Ia segera mengambil pakaian yang sudah disiapkan suaminya di atas ranjang. Wanita itu segera memakai pakaiannya tanpa malu lagi di depan suaminya.
"Kau tahu aku tak kuat jika melihat tubuhmu, mengapa kau sengaja sekali melakukannya." kata Zionel seraya memeluk Stevani dari belakang.
Sontak Stevani terkesiap dan menghentikan gerakannya memakai bajunya.
"Zio... berhentilah berpikiran mes um tuan. Aku hanya memakai pakaian, dan jangan buat aku mandi lagi, aku sudah dua kali mandi hari ini."
Zionel mengecup pundak istrinya lalu membalikkan tubuh wanita itu. Pria itu membelai wajah Stevani dengan lembut.
"Aku sebenarnya ingin tenang bersamamu disini, menghabiskan waktu kita hanya di atas ranjang. Tapi sepertinya situasi ini belum juga aman. Aku memutuskan untuk kita tinggal sementara di rumah besar Cruise. Setelah masalah ini selesai, kita baru bisa pindah ke rumah baru. Apa kau keberatan dengan keputusanku?" tanya Zionel.
"Kenapa tidak ke apartemenmu saja? Aku kurang nyaman berada diantara daddy dan mommy. Apalagi kita belum mengatakan yang sebenarnya tentang identitas asliku."
"Apa bedanya hotel ini dengan apartemenku sayang? Justru aku membawamu ke rumah besar Cruise karena disana ada daddy dan mommy. Kau lebih aman karena kehadiran mereka. Aku hanya mengkhawatirkanmu Vani. Aku masih banyak pekerjaan yang harus diurus bersama Alex, aku tidak tenang jika meninggalkanmu seorang diri di apartemen. Dan soal identitasmu, bagaimana jika kita mengatakannya setelah Zaline berada disini. Mungkin saja kehadiran adikmu mampu menahan kemarahan keluargaku, karena setelah aku pikirkan usia Zaline sama seperti Haena." ujar Zionel.
"Kau yakin usia Zaline sama dengan Haena?" tanya Stevani.
Zionel menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan... mengapa perasaanku tiba tiba aneh. Zaline dan Haena... mungkinkah... Tidak tidak... aku berharap mereka berbeda." pikir Stevani.
"Hei... mengapa kau melamun Vani?"
Stevani menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Biarkan aku memakai pakaianku, aku setuju untuk tinggal di rumah orang tuamu."
"Aku lebih suka kau tanpa pakaian." goda Zionel.
"Zio... kau sudah gila."
Zionel menyeringai seraya melepaskan Stevani. Wanita itu pun segera memakai pakaiannya. Setelah selesai Stevani mengambil ponselnya.
"Ya Tuhan..." ujar Stevani membuat Zionel terkejut.
"Ada apa sayang?" tanya Zionel.
__ADS_1
Stevani terkekeh karena membuat suaminya terkejut. "Ponselku mati, bagaimana aku bisa menghubungi bu Yoyoh."
Zionel menghela nafasnya. "Kau mengejutkan saja. Sebentar lagi supir akan menjemput kita. Lebih baik kita check out sekarang."
Stevani menganggukkan kepalanya. Mereka bersiap-siap lalu keluar dari kamar. Keduanya melakukan check-out dari hotel lalu menunggu supir datang menjemput di lobi hotel.
Zionel terus menatap Stevani sambil menunggu kedatangan supir mereka.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Stevani.
Zionel tersenyum. "Semakin lama aku menatapmu, aku semakin menginginkanmu."
"Astaga pria yang menjadi suamiku lebih mes um dari pria penggoda," ejek Stevani.
"Aku hanya berkata jujur. Aku benar benar menyesal karena baru bertemu denganmu sekarang."
"Jangan salahkan waktu Zio, setidaknya aku bersamamu sekarang."
"Dan tidak akan pernah aku lepaskan."
"Ciiiih... setelah menikah kau sudah kerasukan."
"Kerasukan?" tanya Zionel.
Zionel mendekati Stevani, pria itu duduk di samping istrinya tanpa ada jarak sedikit pun diantara mereka.
"Zio... apa yang kau lakukan? Ini tempat umum." bisik Stevani.
"Jadi seperti apa aku sebelumnya?" tanya Zionel.
"Em... dingin, kasar, arogan, tidak mau mengalah, tidak pernah memuji orang lain lalu..."
"Jika kau melanjutkan ucapanmu, aku akan membuka pakaianmu disini." ancam Zionel.
Seketika Stevani menutup mulutnya. Ia tak ingin menantang Zionel karena pria yang ada di sampingnya bisa nekat dan melakukan seperti ucapannya saat ini.
Zionel tertawa kecil saat berhasil membuat istrinya terdiam. "Percuma kau menutup mulutmu saat ini, karena aku tetap akan memberimu hukuman setelah sampai di rumah besar Cruise."
"Zio... berhentilah berpikiran kotor seperti itu."
Zionel menahan tawanya, ia kembali duduk sedikit jauh dari istrinya. "Kau harus bersyukur, pikiran kotorku hanya saat bersamamu."
__ADS_1
"Ck... menyebalkan..."
Zionel memberikan ponselnya pada Stevani. "Di ponselku ada nomor bu Yoyoh, Alex yang memberikan nomor itu saat masih berada di kota X. Hubungi bu Yoyoh dan berikan kabar pernikahan kita padanya."
Stevani segera mengambil ponsel Zionel. "Apa tidak apa apa aku menggunakan ponselmu?"
"Kau sekarang istriku Vani, semua milikku adalah milikmu, begitu juga sebaliknya. Pertanyaan macam apa itu."
Stevani tersenyum, ia segera mencari nomor telepon bu Yoyoh lalu menghubungi wanita itu. Dengan sabar wanita itu menunggu jawaban tapi wajahnya seketika murung saat teleponnya tidak juga diangkat.
"Ada apa sayang?" tanya Zionel.
"Tidak ada yang menjawab teleponnya." jawab Stevani sedih.
"Mungkin saja bu Yoyoh sibuk dengan rumah makan barunya, di rumah mungkin tak ada orang. Berhentilah bersedih sayang."
"Rumah makan baru?" tanya Stevani.
"Aku memberikan banyak uang padanya sebelum pulang ke kota D. Dan Alex juga sudah menyuruh salah satu staf perusahaan disana untuk mencari tempat baru untuk rumah makan bu Yoyoh. Semua yang aku lakukan ini karena sangat berterima kasih pada bu Yoyoh atas apa yang ia lakukan untukmu dan Zaline. Maaf aku baru mengatakannya sekarang." jawab Zionel.
"Untuk apa kau minta maaf Zio, aku justru sangat berterima kasih padamu. Kau bahkan memikirkan bu Yoyoh yang selama ini sudah sangat baik padaku dan Zaline. Aku tak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikanmu ini."
Zionel menghela nafas panjang. "Ucapanmu seolah-olah aku masih orang lain sayang. Aku hanya ingin kau tetap berada disisiku dalam keadaan apapun. Dan ranjang panas tentu saja lebih menarik dari apapun, itu sudah cukup membalas semua yang aku lakukan untukmu."
"Kau benar benar sulit diajak serius, pikiranmu terus saja kotor tuan Zionel Cruise."
"Wajahmu merona nona, ucapanmu berbeda dengan hatimu." goda Zionel.
"Ya Tuhan Zio... jika saja isi kepalamu bisa aku cuci dengan deterjen, maka aku akan mencucinya sampai bersih."
Sontak Zionel tak bisa lagi menahan tawanya. Pria itu tertawa terbahak-bahak membuat para tamu hotel menatapnya penuh tanya. Seketika Stevani membungkam mulutnya dengan tangan agar suaminya mau berhenti tertawa. Tapi bukan Zionel namanya jika tidak berhasil menggoda istrinya, pria itu justru mencium telapak tangan Stevani bahkan beberapa kali mengeluarkan lidahnya. Stevani menarik tangannya dengan cepat.
"Pria mes um." gumam Stevani.
"Pria mes um itu suamimu." bisik Zionel.
"Hah... sayangnya ia memang suamiku."
Zionel kembali terkekeh geli, keduanya pun akhirnya berhenti bicara dan saling menggoda saat supir mereka akhirnya datang menjemput. Keduanya meninggalkan hotel menuju rumah besar Cruise.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...