
"Zio... aaarrrgghhh..." Stevani terus mengerang kenikmatan saat sentuhan sentuhan itu semakin menggila.
Zionel terus menyarangkan lidahnya disana, mencicipi manisnya bagian itu tanpa henti. Pria itu semakin membuka lebar kedua kaki Stevani, ia ingin menikmati seluruh milik istrinya yang mulai basah. Stevani menarik rambut Zionel, matanya terpejam, tubuhnya panas dan nafasnya memburu karena hasrat yang menggebu-gebu.
Setelah puas, Zionel menghentikan sentuhannya. Pria itu kembali berdiri di depan Stevani. Ia mengecup kening istrinya sambil menyenderkan tubuh Stevani ke dinding kamar mandi. Zionel kembali menci um bibir Stevani, mengangkat sebelah kaki wanita itu dan segera menyarangkan rudal keras miliknya.
Desa han keduanya bersahutan. Zionel berhenti sejenak dan menatap wajah Stevani dengan penuh kasih sayang.
"Apa posisi ini menyakitimu sayang?" tanya Zionel dengan suara paraunya.
Stevani menggelengkan kepalanya. "Sangat nyaman." jawabnya dengan nafas yang masih memburu.
Zionel kembali menci umnya dan mendorong miliknya semakin dalam.
"Aaarrrgghhh..." de sahan Stevani kembali keluar.
Zionel mulai bermain, ia menarik dan mendorong miliknya dengan perlahan. "Baby aku menjengukmu." ucap Zionel sambil terus bermain pelan.
Keduanya saling mende sah, melenguh, merintih. Zionel tiba tiba mengangkat tubuh Stevani tanpa melepaskan rudalnya. Pria itu membawa istrinya menuju bathtub. Perlahan Zionel duduk sambil membawa Stevani diatasnya. Kini posisi itu berubah, Stevani tepat berada di atas Zionel.
Zionel meremas kedua payu dara Stevani dan kembali menghisap puncaknya. Wanita itu kembali melenguh, melengkungkan punggungnya dan mulai menggoyangkan pinggulnya disana.
"Oh... sayang... ini gila..." ucap Zionel disela isapannya.
Keduanya saling berpartisipasi, keringat mereka mulai mengucur walaupun mereka berada di ruangan sedingin kamar mandi. Zionel semakin menekan pinggul Stevani, rudalnya yang keras hampir menyemburkan lahar panas.
"Sayang... aku mencintaimu... aaarrrgghhh..." ujar Zionel sambil mempercepat permainannya.
Stevani memeluk tubuh Zionel dengan erat. "Aku juga mencintaimu Zio... aaarrrgghhh..."
"Aku tak sanggup lagi... aaarrrgghhh... Vani... aaarrrgghhh..."
Teriakan Zionel keluar bersamaan dengan lahar yang menyembur dari rudal miliknya ke dalam milik istrinya. Saat Stevani merasakan kehangatan itu, miliknya mulai berkedut.
"Zio... aaarrrgghhh..." teriakan Stevani pun keluar, tubuhnya bergetar hebat di pelukan suaminya.
Nafas keduanya terengah-engah dan masih saling memeluk.
"Bagaimana bisa aku menahan kegilaan ini sayang. Tubuhmu benar benar membuatku candu." ucap Zionel.
"Sentuhanmu membuatku melupakan segalanya Zio. Seharusnya kita tidak melakukan ini di saat..."
"Ssstttt..." Zionel menghentikan ucapan Stevani. "Aku terlalu menginginkanmu." imbuhnya seraya mengecup kening Stevani.
Perlahan lahan mereka saling melepaskan diri, Zionel membantu istrinya bangun dari bathub dan segera membawanya menuju shower. Keduanya saling membantu untuk membersihkan diri mereka.
*****
Zionel dan Stevani turun bersama sama untuk menemui Nicholas dan Falera. Kedua orang tua Zionel tersenyum lebar saat melihat keduanya akhirnya keluar dari kamar mereka.
"Maaf mom, dad membuat kalian menunggu." ujar Zionel.
"Kami pernah muda Zio." goda Nicholas sambil terkekeh.
Wajah Stevani seketika memerah karena malu.
"Berhentilah menggoda mereka dad. Beberapa hari terakhir mereka memang jarang bertemu." ujar Falera. "Tapi Zio, berhentilah membuat istrimu kelelahan, kondisi kandungannya sangat lemah. Ia masih saja memuntahkan makanannya." imbuhnya.
Zionel tersenyum sambil memeluk pundak Stevani. "Aku akan lebih berhati-hati. Lebih baik kita bicara sambil makan malam."
__ADS_1
Mereka semua setuju seraya menuju ruang makan. Stevani mulai menutup mulutnya saat melihat hidangan di meja makan. Ia justru merasa mual saat melihat hidangan yang begitu banyak itu.
"Sayang... kau baik baik saja kan?" tanya Zionel panik.
Stevani menganggukkan kepalanya. "Tapi sepertinya aku tidak ingin makan."
"Mom..." Zionel meminta bantuan ibunya karena belum memahami kondisi istrinya.
"Vani, kau harus makan walaupun sedikit. Jika kau terus seperti ini, terpaksa kami akan memaksamu untuk dirawat." ujar Falera.
Stevani kembali mual, ia segera beranjak dari tempat duduknya, ia sedikit berlari menuju kamar mandi dekat dapur. Zionel segera berlari mengejarnya.
"Oh ya Tuhan..." kata Zionel sambil membantu istrinya yang mual dan muntah namun tak mengeluarkan apapun dari mulutnya.
Wajah Stevani memucat membuat Zionel ketakutan.
"Kita ke rumah sakit sekarang." ujar Zionel.
Stevani menggeleng. "Aku tidak apa apa. Hanya saja aku tak ingin melihat makanan yang banyak diatas meja makan itu."
"Jangan keras kepala sayang, kondisimu semakin memburuk. Sebelumnya kau tidak separah ini, kau harus dirawat agar ada asupan makanan dalam tubuhmu."
Stevani kembali menggelengkan kepalanya. "Aku hanya perlu minum obat saja. Zio... aku ingin bertemu Zaline."
Zionel memijat keningnya yang mulai berdenyut, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Stevani. Tapi ia tak bisa melarang istrinya lagi, itu akan membuatnya semakin stres.
"Baiklah, kita akan menemui Zaline tapi dengan satu syarat."
"Zio..."
"Kau harus setuju dengan syaratku ini Vani."
"Apa yang kau inginkan?"
"Bagaimana kondisi Vani?" tanya Falera menghampiri mereka.
"Mom... kalian lanjutkan makan malamnya, aku akan membawa Vani ke kamar. Setelah itu kita segera berangkat ke rumah sakit." jawab Zionel.
Zionel mendekati telinga ibunya. "Menemui Haena dan merawat Stevani." bisiknya.
Falera menganggukkan kepalanya. "Mommy akan menyuruh pelayan mengantarkan susu untuk Vani. Kami akan segera menyelesaikan makan malam dan memanggil kalian. Zio... kau makanlah walaupun sedikit."
Zionel menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa makan jika istriku pun tidak bisa makan."
"Zio kau harus makan, aku bisa sendiri ke kamar." ujar Stevani.
"Berhentilah berdebat denganku sayang." jawab Zionel seraya mengangkat tubuh Stevani.
"Zio turunkan aku, ada mommy. Aku bisa jalan sendiri." rengek Stevani.
Falera tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Zionel tak memperdulikan rengekan Stevani, ia terus membawa istrinya menuju kamar mereka.
"Zio... kau membuatku malu." ucap Stevani.
"Aku sedang mengkhawatirkan kondisimu. Aku tak tahu jika kehamilanmu semakin sulit seperti ini. Diamlah jika tidak ingin aku marah."
Seketika Stevani menutup mulutnya, ia membenamkan wajahnya di dada Zionel. Setelah sampai di kamar mereka, Zionel langsung menidurkan Stevani di ranjang.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Zionel sambil menatap wajah Stevani yang tidak lagi memucat.
__ADS_1
"Demi Tuhan aku baik baik saja. Kondisi ini wajar untuk ibu hamil."
Zionel mencubit kedua pipi Stevani pelan. "Ingin sekali aku memukul boko ngmu sayang. Sudah seperti ini masih saja bilang baik baik saja."
"Kau terlalu memanjakan aku."
"Karena aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Demi Tuhan aku sangat takut saat ini Vani. Maaf aku terlalu sibuk sampai tak tahu kondisimu semakin..."
"Cup..." Stevani menghentikan ucapan suaminya dengan menci um pria itu.
"Aku tahu kau sangat khawatir padaku, aku akan mengikuti keinginanmu. Aku tidak ingin membuatmu terus mengkhawatirkanku." ujar Stevani.
Zionel menarik tubuh Stevani ke dalam pelukannya. "Kau setuju untuk dirawat sampai kondisimu stabil?"
Stevani menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sayang. Masalah Zaline akan segera berakhir, jadi fokuslah dengan kesehatanmu dan bayi kita. Oke..."
Stevani kembali mengangguk. "Tapi aku ingin kau makan sekarang. Aku akan menunggumu disini."
"Bagaimana aku bisa makan jika kau..."
"Zio... please..."
Zionel melepaskan pelukannya lalu menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin meninggalkanmu saat ini."
"Please..." pinta Stevani dengan wajah yang memelas.
"Kau benar benar membuatku gila jika sedang menunjukkan wajah imut seperti itu."
Stevani terkekeh.
Pintu kamar diketuk, seorang pelayan mengantarkan susu ibu hamil untuk Stevani.
"Aku akan makan jika kau meminum susunya." ujar Zionel.
"Kita selalu saja melakukan kesepakatan."
"Itu demi kebaikan istriku."
"Ck... baiklah..." jawab Stevani seraya mengambil gelasnya.
Wanita itu mulai meminum susunya namun hanya setengah gelas.
"Habiskan sayang."
"Aku bisa memuntahkannya lagi."
Zionel menghela nafasnya lalu mengambil gelas itu dari tangan Stevani. "Beristirahatlah sebentar. Aku akan kembali setelah selesai makan. Jika kau merasa tidak mual lagi, habiskan susunya."
"Siap bos." jawab Stevani.
"Jangan seperti Alex sayang. Tapi kau lebih menggemaskan."
Stevani melepaskan tawanya. Zionel mengecup kening istrinya seraya meninggalkan Stevani dengan langkah yang berat.
*****
Maaf atas keterlambatan up...
__ADS_1
Inginnya crazy lebih dari 5 eps... Tapi jempol Miss You sudah bengkak🤣🤣🤣
Happy Reading All...