
Stevani terus mengepalkan tangannya sambil menatap keluar jendela. Rasa malu, canggung dan kemarahan pada dirinya sendiri bercampur aduk.
"Apa yang ia katakan jika aku yang memulainya adalah benar, mengapa aku kehilangan kendali saat sedang mabuk? Aku bisa mengingat semuanya dan benar benar memalukan. Aku bahkan ingat saat aku memintanya melakukan lagi dan lagi. Aku benar benar wanita murahan, mengapa aku seperti itu Tuhan. Pantas saja ia tak ingin meminta maaf atas kejadian malam itu padaku, itu karena akulah yang menginginkannya." pikir Stevani sedih.
"Ehm... Van... Aku..."
Stevani menoleh lalu menatap Zionel. "Kau tidak perlu bertanggung jawab atas kejadian malam itu. Kau benar, akulah yang menginginkannya terlebih dahulu."
Zionel terbelalak. "Kau sudah mengingatnya?"
"Aku akan mencari pekerjaan untuk mengembalikan uangmu. Kau tak perlu menikahiku Zio."
Zionel seketika menepikan mobilnya, ia menatap tajam Stevani.
"Apa maksudmu? Apa kau lupa isi kontrak yang kau tanda tangani? Perjanjian itu sudah berlaku sejak kau menandatanganinya. Apa kau bisa mengembalikan uangnya beserta ganti rugi pemutusan kontrak. Apa kau ingin aku menghentikan bantuanku untuk pengobatan adikmu saat ini?" bentak Zionel.
Seketika Stevani menunduk dan menangis membuat Zionel terkejut.
"A... aku... tidak bermaksud membentakmu Van. Tapi kau benar benar tidak masuk akal, aku menginginkan pernikahan ini karena aku tetap bertanggung jawab atas malam itu. Jika kau yakin tidak hamil, setidaknya aku ingin melihatmu selama satu tahun ke depan. Dan bukankah aku juga meminta bantuanmu untuk melepaskan aku dari perjodohan yang selalu mommy atur untukku, dan kau juga sudah menyetujuinya."
"Aku menginginkan pernikahan dengan pria yang mencintaiku. Aku ingin pernikahanku nyata bukan hanya sandiwara." jawab Stevani sambil terisak.
"Ya Tuhan... pernikahan kita memang nyata. Ini bukan sandiwara Van. Bedanya kita membatasi pernikahan ini dengan waktu, tapi aku mengatur segalanya dengan nyata. Aku menikahimu di hadapan Tuhan. Aku mempersiapkan segalanya tanpa ada kekurangan sedikit pun. Besok kita akan mencari gaun pengantin sesuai keinginanmu. Apalagi yang kau inginkan?" tanya Zionel.
"Cinta... kau sama sekali tidak mencintaiku. Aku ingin pernikahan ini dilandasi dengan cinta. Walaupun hanya setahun, tapi aku tetap menginginkan cinta. Sedangkan kau, kau hanya menikahiku atas dasar tanggung jawab dan meminta bantuan. Aku tidak menginginkan pernikahan dalam hidupku seperti ini. Bagaimana aku bisa menikahi pria yang tidak mencintaiku dan hanya berpura pura bersumpah di hadapan Tuhan." pikir Stevani sedih.
"Berhentilah menolak pernikahan ini, kita sudah melakukannya sejauh ini. Kau akan menjadi pengantinku minggu depan. Dan berhentilah menangis, aku tak ingin menjadi pria jahat di depanmu. Aku akan menjadi suami yang baik walaupun hanya sebatas kontrak. Aku juga ingin membantumu untuk mengobati Zaline. Lebih baik kau hubungi dokter Mark sekarang, kau belum mendengar kabar adikmu hari ini." imbuh Zionel.
Stevani mengusap air matanya, ia memang tak bisa mundur lagi. Ia harus menjalani semua ini demi Zaline. Ia juga hampir melupakan dokter Mark. Zionel kembali mengendarai mobilnya sedangkan Stevani mulai menghubungi dokter Mark setelah ia mulai tenang.
Setelah wanita itu berbicara dengan dokter Mark, ia kembali menangis membuat Zionel kembali terkejut.
"Ya Tuhan... kali ini ada apalagi Van? Zaline baik baik saja kan?" tanya Zionel.
"Dokter Mark bilang tidak ada perubahan pada keadaan Zaline, ia masih tetap sama seperti kemarin."
__ADS_1
"Setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi, berhentilah bersedih."
"Aku sangat merindukannya." ujar Stevani kembali terisak.
"Aku mengerti perasaanmu, aku tidak bermaksud untuk memisahkanmu dengan Zaline. Tapi walaupun kau ada disana, kau tetap tidak bisa menemuinya. Aku janji akan segera membawanya ke kota ini jika dokter Mark sudah setuju. Berhentilah menyiksa dirimu dengan kesedihan, jika kau sakit maka adikmu akan ikut bersedih."
Stevani menganggukkan kepalanya. "Terima kasih."
"Tak perlu kau mengatakan itu karena aku juga mendapat bantuan darimu. Oh ya, sejak di rumahku, aku benar benar sangat penasaran padamu. Mengapa kau bisa sangat fasih berbahasa Inggris, bukankah kau hanya..."
Zionel menghentikan ucapannya, ia tak ingin menyinggung wanita itu yang masih bersedih. Namun siapa sangka, Stevani mau mengatakan semuanya pada Zionel membuat rasa penasaran pria itu terobati.
"Aku bekerja di klub malam lebih dari 8 tahun. Klub Golden Dragon adalah klub berbintang satu satunya di kota X. Hanya klub itu yang menerima tamu asing dari berbagai negara. Bahasa Inggris sudah terbiasa di dengar di dalam klub, karena seringnya banyak tamu asing, kami dituntut bisa belajar bahasa itu walaupun hanya sedikit. Kebiasaan mendengar dan belajar sudah aku lakukan selama bertahun tahun, bukan hanya bahasa Inggris saja, aku juga menguasai bahasa asing lain." jawab Stevani.
Zionel menyunggingkan senyumnya. "Sepertinya kau wanita yang cerdas, pendidikan seseorang tidak bisa mengukur kecerdasannya. Bahkan banyak yang berpendidikan lebih tinggi darimu namun mereka tetap tidak bisa berbahasa asing. Lalu bagaimana dengan mendesain?"
Stevani tersenyum. "Itu kebiasaanku membantu Zaline menyelesaikan tugas sekolah. Saat Zaline belum mulai bersekolah, aku sering membuatnya senang dengan gambar gambar barbie dan pakaian pestanya. Itu hanya kebetulan saja. Ya Tuhan... aku benar benar merindukan Zaline."
"Wow..." kata Zionel sambil mengangguk anggukkan kepalanya. "Kau tenang saja, aku akan membantu Zaline mendapatkan dokter terbaik disini sehingga kau bisa secepatnya bertemu adikmu. Apa ada niatmu untuk melanjutkan pendidikan atau mendesain? Aku rasa sangat disayangkan menyia-nyiakan bakatmu." imbuhnya.
Stevani menggelengkan kepalanya. "Fokusku saat ini hanya Zaline."
"Pekerjaanku tetap halal, aku tidak seperti yang lainnya. Klub itu sudah membantuku dan Zaline bertahan hidup selama ini."
"Aku sudah membuktikannya." celetuk Zionel. "Ah... maksudku... aku pikir kau memang wanita yang baik." ujarnya dengan cepat sebelum Stevani salah paham.
"Ciiiih... aku masih ingat kau memandangku dengan rendah saat pertama kali bertemu." ejek Stevani.
"Aku tidak terbiasa bergaul dengan wanita di tempat seperti itu. Aku sering ke klub malam bersama Alex, dan semua pelayannya memang seperti itu. Sangat jarang pengantar minuman tidak pernah minum alkohol sepertimu. Pengendalian dirimu sangat baik nona."
"Dan semua itu hancur karena kebodohanku sendiri. Aku tidur dengan pria yang tidak aku kenal, mungkin saja jika bukan kau Zio, aku sudah ditinggalkan begitu saja di dalam hotel persis seperti wanita yang biasa menjual tubuhnya." pikir Stevani.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Zionel.
Stevani menggelengkan kepalanya. "Apa yang harus aku lakukan sampai minggu depan?" tanyanya.
__ADS_1
"Tetap duduk manis menunggu perintahku, hanya itu yang harus kau lakukan." jawab Zionel.
"Arogan sekali..." gumam Stevani.
"Hah...?" tanya Zionel
"Tidak apa apa... Aku terbiasa bekerja, jadi bisakah kau tidak memanggil pelayan. Aku akan mengerjakan pekerjaan rumah di apartemenmu." pinta Stevani.
"Aku tidak akan membiarkan wanitaku menjadi seorang pelayan."
"Kapan aku setuju menjadi wanitamu?"
"Sudah sering kau tanyakan dan jawabanku tetap sama. Selama satu tahun, suka atau tidak kau akan menjadi wanitaku."
"Aku hanya meminta itu saja, biarkan aku melakukan kegiatan untuk mengisi hari hariku. Aku mohon..." pinta Stevani dengan wajah memelas.
Zionel menatapnya sekilas lalu menghela nafas panjang. "Baiklah... Tapi kau harus berhenti jika itu membuatmu lelah. Apartemenku tidak perlu kau bersihkan setiap hari, aku menjaganya dengan baik selama ini. Dan kau harus menjadi istriku dengan elegan di depan semua orang, bukan terlihat seperti seorang pelayan."
Stevani terkekeh. "Kau tenang saja, aku masih bisa membedakan saat menjadi seorang pelayan dan saat harus berpura pura menjadi istrimu."
"Kau harus menggarisbawahi kata berpura pura menjadi istri itu. Karena aku tegaskan sekali lagi, pernikahan kita itu nyata." tegas Zionel.
"Oh baiklah..." jawab Stevani datar.
Akhirnya keduanya pun sampai di apartemen. Zionel tidak menuju parkiran, pria itu justru langsung berhenti tepat di depan pintu masuk gedung. Zionel menyerahkan kartu kunci pintu apartemen pada Stevani.
"Masuklah, aku akan ke perusahaan sebentar. Aku akan kembali sebelum makan malam." ujar Zionel.
Stevani terkejut, ia pikir Zionel akan ikut masuk ke apartemen. Stevani menerima kartu itu lalu menganggukkan kepalanya. Ia pun keluar dari mobil Zionel. Zionel membuka kaca mobilnya.
"Hati hati di jalan." ujar Stevani.
"Masuklah..." perintah Zionel.
Stevani mengikuti keinginan Zionel, ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk apartemen. Deru knalpot mobil Zionel terdengar saat ia sudah masuk ke dalam gedung itu.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...