
Zionel tidak lagi menyuruh Zaline meneruskan ceritanya, ia justru menyuruh adiknya untuk beristirahat. Ia akan segera bertemu dengan orang tuanya dan juga Stevani, itu janji Zionel. Tapi Zaline menolak untuk beristirahat, setelah ia kembali tenang, ia ingin kembali menceritakan kejadian itu pada kakaknya.
"Kau yakin bisa mengatakannya?" tanya Zionel.
Zaline menganggukkan kepalanya. "Aku akan lebih lega jika sudah menceritakan semuanya pada abang."
"Baiklah kau boleh melanjutkan, tapi jika kau tidak sanggup, kau boleh menghentikannya. Karena cerita ini akan diulang saat tim penyidikan kasus meminta keterangan sayang."
"Jika aku berani mengatakannya sekali, maka aku akan lebih berani mengatakan untuk kedua kalinya." jawab Zaline.
Zionel mengerutkan keningnya. "Kau bahkan tidak menceritakan hal ini pada kak Vani?"
Zaline menggeleng. "Bagaimana mungkin aku bercerita pada kak Vani, aku saat itu memilih bungkam bahkan tidak ingin menyebut namaku."
"Jadi ini penyebab Stevani tidak melanjutkan laporannya ke kantor polisi dan mencari tahu soal identitas Haena. Ia benar benar melindungi adikku dengan baik, ya Tuhan terima kasih telah mengirimkan wanita baik itu pada keluarga kami." pikir Zionel.
"Saat di dalam gudang aku mendengar suara om Gilbran. Ia berbicara dengan beberapa orang di luar, sepertinya itu orang suruhan mereka." kata Zaline.
"Apa yang kau dengar sayang?" tanya Zionel.
"Om Gilbran menyuruh mereka menyingkirkan aku sejauh mungkin dari kota D, bila perlu mereka juga boleh membunuhku tapi..."
Zaline meremat seprai, ia memejamkan matanya lalu keluarlah ucapan yang bahkan tidak mungkin membuat Zionel melepaskan pria itu.
"Tapi mereka boleh menyingkirkan aku setelah ia selesai memperkosaku."
Itulah ucapan Zaline, Zionel terbelalak dan wajahnya seketika merah padam. Pria itu seketika mengumpat dan memaki Gilbran. Zionel berteriak dan melemparkan sebuah gelas yang ada di meja samping ranjang Zaline.
Zaline berteriak ketakutan saat suara pecahan gelas itu terdengar dengan keras. Seketika Alex masuk ke dalam ruangan, menahan tubuh Zionel yang nyaris menghancurkan ruangan itu.
"Pak Zio tenanglah, anda membuat nona ketakutan." teriak Alex membuat Zionel sadar.
Zaline menangis dengan keras, tubuhnya bergetar karena isakannya. Zionel merosot ke lantai, ia memukul kepalanya sendiri membuat Alex terus menahannya.
"Bang Zi..." panggil Zaline sambil terisak. "Aku baik baik saja bang, aku berhasil kabur dari om Gilbran. Bang..." imbuhnya.
Zionel kembali melepaskan tangisannya, ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi adiknya. Dengan lemah Zionel bangun, Alex segera membantunya. Zionel mendekati Zaline lagi seraya memeluk adiknya dan terus mengucapkan kata maaf yang tiada habisnya.
"Aku akan menghancurkannya, aku akan menghancurkannya Zaline. Aku tidak akan membiarkan pria sialan itu hidup dengan baik, ia akan menderita." ucap Zionel.
"Lex... segera kirimkan berkas berkas itu ke kantor polisi, saat rapat pemegang saham dilakukan, saat itulah kita akan menangkapnya dan mempermalukannya seumur hidup. Aku akan membuatnya menyesal karena melakukan ini pada adikku." geram Zionel.
"Baik pak." jawab Alex.
"Now..." teriak Zionel lagi.
Alex segera keluar dari ruangan, ia juga ketakutan melihat kemarahan atasannya saat ini.
__ADS_1
Zionel memeriksa tubuh Zaline. "Kau yakin baik baik saja? Ia benar benar tidak sempat melakukannya?"
Zaline mengangguk. "Sebelum om Gilbran..."
"Jangan panggil dia om..." bentak Zionel.
"Bang Zi..."
Zionel menarik nafas dalam-dalam. "Maaf aku tak bermaksud membentakmu. Jangan panggil pria itu om, ia bukan manusia lagi Zaline."
Zaline menganggukkan kepalanya. "Sebelum pria itu masuk gudang, aku berhasil melepaskan ikatan tangan dan kakiku. Aku mengambil sebuah batang besi dan menyembunyikannya di belakang. Aku berpura pura masih tak sadarkan diri dan ketika ia mendekat, aku langsung memukul kepalanya dengan keras lalu lari dari dalam gudang. Sempat dikejar orang orang itu, tapi aku berhasil naik ke sebuah truk tangki minyak. Aku bersembunyi di belakang jok mobil itu dan berakhir di kota X."
Zionel mengingat kejadian 5 tahun yang lalu saat pertemuan kolega bisnis, Dahi Gilbran di perban. Saat keluarga besar Cruise bertanya, ia mengatakan tertimpa material bangunan saat melihat lokasi kontruksi. Zionel benar benar merasa dibodohi karena langsung percaya dengan cerita pria itu.
"Zaline... sekarang kau sudah aman. Aku akan melindungimu seumur hidupku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi." ujar Zionel.
"Aku percaya bang Zio bisa menjagaku. Tapi bang mengapa abang tidak marah dengan namaku?"
"Mengapa aku harus marah? Nama itu sangat cantik untukmu."
"Aku ingin bertemu daddy mommy dan kak Vani."
"Tentu saja, aku akan mencari waktu yang tepat agar pertemuan kalian tidak diketahui siapapun. Zaline, setelah ini kita akan menghadapi penjahat itu bersama sama. Kau tidak boleh takut di depannya, kau harus berani karena ada kami disisimu. Kita harus memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka. Mulai detik ini, mereka bukan keluarga Cruise lagi."
Zaline mengangguk.
Zionel kembali memeluk adiknya. "Ya Tuhan... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu sayang."
"Jika kau saat itu kau jujur pada kak Vani, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi Zaline, aku bahkan tidak akan bisa bersama Vani." ucap Zionel tanpa sadar.
Zaline melepaskan pelukannya. "Bang Zi... apa yang abang katakan barusan?"
"Ah... maksudnya..."
"Jangan berdalih dan mencari alasan. Katakan apa hubungan abang dengan kak Vani?"
"Zaline... Abang..."
"Abang menyukai kak Vani ya?" goda Zaline.
Zionel mengerutkan keningnya. "Apa kau tidak marah jika aku menyukainya?"
"Tentu saja tidak, aku pernah berpikir untuk menjodohkan kalian jika Tuhan mempertemukan kita lagi. Dan sepertinya keinginanku akan segera terwujud." jawab Zaline.
"Ehm... keinginanmu bukan segera terwujud nona kecil tapi sudah terwujud."
Zaline terbelalak. "Kalian..."
__ADS_1
"Sebelumnya aku ketakutan jika harus jujur padamu. Tapi karena kau mendukungnya maka akan aku katakan sejujurnya. Aku dan Vani sudah menikah, dan kau akan segera memiliki keponakan." ujar Zionel.
Mulut Zaline menganga, ia terkejut dengan kabar bahagia sekaligus mengesalkan untuknya karena tak bisa menjadi pendamping pengantin untuk Stevani.
"Apa yang abang lakukan pada kak Vani? Abang pasti mengancamnya kan untuk menikah dengan abang?"
Tepat sasaran, Zionel beranjak dari ranjang itu sebelum dipukul adiknya habis habisan.
"Bang Zio..."
"Oke... aku jujur padamu. Sebuah kesalahan besar telah aku lakukan. Aku memang memaksanya tapi Zaline... sekarang kami saling mencintai. Demi Tuhan... awal yang buruk itu menjadi hal yang baik sekarang. Kau jangan marah... kakakmu akan menjelaskan semuanya."
Zaline mengambil bantalnya lalu melemparkannya pada Zionel.
"Jika abang berani menyakiti kak Vani, aku akan menghukum abang." ancam Zaline.
Zionel menahan tawanya, ia mengangkat kedua jarinya pada Zaline.
"Abang akan melindunginya sampai kapanpun. Kau boleh menghukumku dengan berat jika aku mengingkarinya." ucap Zionel.
"Satu luka kak Vani, aku akan membuat lima luka untuk abang."
"Sepuluh luka pun aku terima jika aku menyakitinya."
"Bang Zio janji akan baik dan mencintainya selamanya, bang Zio janji tidak akan menyakitinya?"
Zionel kembali mendekati Zaline sambil membawa bantal yang tadi dilemparkan adiknya.
"Aku sudah bersumpah dihadapan Tuhan, dan kini aku akan bersumpah dihadapanmu. Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku itu, aku akan mencintainya, menyayanginya, menjaganya, melindunginya. Aku tidak akan pernah menyakitinya sepanjang hidupku." ujar Zionel.
"Terima kasih bang. Kak Vani pantas menerima semua itu. Ia wanita luar biasa yang pernah aku temui dalam hidupku."
"Aku tahu itu." jawab Zionel.
Keduanya kembali berpelukan.
"Beristirahatlah... Aku akan memberitahu kabar baik ini dan mengatur pertemuan kalian pada daddy mommy dan kakakmu."
"Jangan lupa panggil cleaning service, lihat kekacauan yang abang lakukan." ucap Zaline.
"Ya Tuhan... sepertinya aku akan dikelilingi dengan wanita yang tukang perintah." keluh Zionel.
Zaline akhirnya tertawa, inilah kebahagiaan yang selama ini hilang darinya. Ia benar benar merindukan Zionel saat bercanda seperti ini. Kakaknya bisa marah dengan menakutkan tapi saat bercanda kakaknya akan berubah seperti anak anak. Zaline bersyukur setelah lima tahun lebih mereka tidak bertemu, tidak ada yang berubah pada sikap Zionel.
*****
Hayooo... dari 3 episode ini siapa yang terus menangis...🤣🤣🤣
__ADS_1
Nantikan air mata selanjutnya saat mereka semua bertemu...
Happy Reading All...