
Dua hari kemudian...
Luka tusukan di perut Zionel benar benar mengering dan nyaris sembuh. Begitu juga dengan kaki bengkak Stevani yang mulai sembuh setelah perbannya dilepaskan. Keduanya benar-benar mendengarkan ucapan dokter Julius hingga mereka bisa keluar dari rumah sakit.
Namun Stevani harus tetap berhati-hati dengan kakinya, ia tetap dilarang menggunakan kakinya untuk berjalan lebih lama sampai benar-benar sembuh hingga membuat Zionel sering menggendongnya tiap kali melakukan sesuatu. Walaupun Stevani sering kesal karena khawatir dengan lukanya, namun pria itu tidak pernah mendengarkannya.
Masalah demi masalah mereka lewati. Tanpa diduga keluarga Yudistira terutama Rumi justru bersyukur karena keluarga Cruise menarik semua tuntutan atas perbuatan putrinya. Ia tidak ada dendam sama sekali pada keluarga Cruise tentang kematian suaminya. Justru ia yang menyalahkan dirinya sendiri karena tak tahu jika suaminya sudah mengidap penyakit jantung sejak lama.
Selama ini ternyata Yudistira melakukan pengobatan secara diam diam tanpa diketahui keluarganya. Dokter pun sudah menjelaskan detail penyakit jantung yang diidap oleh Yudistira saat Rumi mengurus jenazah suaminya.
Dan saat Varisa tersadar, wanita itu langsung histeris ketika Rumi mengabarkan tentang kematian ayahnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, itulah takdir yang harus diterima keluarga Yudistira. Rumi dan Varisa memutuskan untuk pindah ke luar negeri agar bisa melupakan segalanya.
Kepergian Cecil ke Amerika pun sudah dilakukan. Dendam Nile dan Gilbran semakin dalam saat mengantar putrinya ke bandara dan berpisah disana. Mereka kembali merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendam mereka.
*****
"Cepatlah... Kita bisa terlambat mom...!" teriak Nicholas.
Mereka bersiap-siap menuju hotel dimana putra mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Haisssss daddy cerewet sekali. Aku sudah siap, ayo kita berangkat." jawab Falera sambil berjalan mendekati suaminya.
"Wow... mommy tetap cantik seperti dulu." goda Nicholas.
Falera tersenyum lalu membetulkan posisi dasi suaminya. "Daddy juga tetap tampan seperti pertama kali kita bertemu."
Cup...
Seketika Nicholas mengecup bibir istrinya membuat Falera terkejut.
"Ck... kau merusak lipstikku dad."
"Aku hanya minta sedikit, pelit sekali."
Falera tertawa. "Ayo...!" ajaknya.
Nicholas mengangguk, keduanya pun keluar dari rumah menuju mobil mereka. Supir membawa keduanya menuju hotel.
*****
Stevani dan Zionel sudah berada di hotel. Mereka sudah terpisah karena Stevani harus merias dirinya secantik mungkin sebagai mempelai wanita. Sedangkan Zionel sudah mulai sibuk menyambut tamu bersama Alex.
Yang merias wajah Stevani semakin kesal karena wanita itu selalu merusak makeup dengan air matanya.
"Demi Tuhan nona, tak bisakah anda berhenti menangis. Makeup anda selalu rusak."
"Maaf..."
"Apa anda dipaksa menikah?"
__ADS_1
Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku mencintainya."
"Lalu mengapa anda terus menangis?"
"Aku hanya merindukan keluargaku. Maaf..."
Perias pengantin itu terkejut. "Anda menikah tanpa kehadiran keluarga? Mereka tak menyetujui pernikahan kalian?"
Stevani kembali menggelengkan kepalanya. "Adikku masih koma setelah melakukan operasi jantung. Jadi aku merindukannya dan sangat menyesal karena ia tak bisa menghadiri pernikahanku."
"Ya Tuhan... pantas saja anda terus menangis. Tenangkan diri anda nona, acara pernikahan akan segera dimulai. Dandanan anda yang cantik ini tidak boleh luntur." pinta sang perias.
Stevani menganggukkan kepalanya. "Terima kasih."
Di sisi lain, Zionel terus sibuk bersama Alex. Ucapan demi ucapan selamat terus diterima Zionel, pria itu mulai mengeluh dan menyalahkan Alex karena kelelahan.
"Aku bisa pingsan sebelum melakukan sumpah pernikahan Lex. Apa kau mengubah daftar tamu undanganku?" keluh Zionel.
Alex seketika menggelengkan kepalanya. "Tanya pada bu Presdir." jawabnya.
Zionel menghela nafas panjang. "Sudah kuduga, ini tidak akan mudah jika mommy mulai turun tangan. Pantas saja tamu undangan ini sangat banyak."
"Anda adalah penerus grup Cruise. Pernikahan anda tidak bisa sederhana pak. Dan satu lagi, anda tidak bisa kembali ke apartemen setelah menikah pak Zio."
"Hah... kenapa?" tanya Zionel terkejut.
"Sialan..." potong Zionel. "Mengapa semuanya berubah?" tanyanya.
"Demi Tuhan pak Zio, jangan memarahi aku. Aku sudah nyaris mati karena mendengar omelan bu Presdir. Semua rencana yang anda serahkan padaku dan Kirana berubah 50%." jawab Alex.
Zionel kembali mengumpat. "Ini berbeda dengan keinginanku Lex. Aku ingin ketenangan saat malam pengantin kami. Hanya apartemenku yang nyaman dan tenang. Setelah itu baru kami akan merencanakan bulan madu."
"Anda tidak bisa menolak pak Zio. Keputusan bu Presdir tak bisa ditolak sama persis seperti anda." ejek Alex.
Zionel mengangkat tangannya ingin memukul Alex, namun terhenti saat beberapa tamu datang lagi.
"Aku akan tetap membawa istriku pulang ke apartemen. Bukankah Kirana sudah mulai menghiasnya setelah kami pergi." ucap Zionel.
"Pikiran macam apa itu Zio? Kau ingin membawa pengantinmu ke apartemen jelek itu." sahut Falera.
Zionel dan Alex berbalik dan melihat kedua orang tuanya berjalan mendekati mereka.
"Mom... Dad... kalian sudah sampai." ujar Zionel.
Keduanya mengangguk.
"Apa yang dikatakan mommy benar Zio. Mengapa kau berpikir membawa pulang pengantinmu ke apartemen. Kau harus memperlakukan pengantinmu dengan berbeda. Dan ini..." kata Nicholas seraya menyerahkan berkas pada Zionel. "Itu hadiah pernikahan dari kami untuk istrimu." imbuhnya.
Zionel membuka berkasnya, disana terdapat surat kepemilikan rumah atas nama Stevani di komplek yang sama dengan rumah besar Cruise.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Zionel.
"Bukankah kau putra kami yang cerdas, mengapa kau tak bisa membacanya." ejek Falera.
"Aku memang bisa membacanya mom. Kalian membeli rumah atas nama istriku sebagai hadiah pernikahan. Tapi yang aku tanyakan apa ini? Mengapa harus disini?"
Alex penasaran, Zionel langsung menyerahkan berkasnya pada Alex. Pria itu justru tertawa setelah melihatnya membuat Zionel kesal.
"Mommy tahu kau dan Stevani akan menolak untuk tinggal bersama kami. Untuk itu, mommy dan daddy membeli rumah tak jauh dari rumah besar Cruise. Zio... setidaknya mommy akan sering melihat kalian jika tempat tinggal kalian dekat." kata Falera.
Zionel menghela nafasnya. "Mommy sudah tahu alasan aku mengapa meninggalkan rumah dan komplek itu. Jadi... aku menolaknya."
"Zio... Mommy mu sangat kesepian. Jika kau dan Stevani dekat, kalian bisa menemani mommy." ujar Nicholas.
Alex melihat jam tangannya. "Pak Zio... sudah waktunya." bisiknya menghentikan perdebatan mereka.
Zionel kembali menatap kedua orang tuanya. "Aku akan membahasnya nanti. Acara akan segera dimulai. Lex... bawa mommy dan daddy."
"Baik pak." jawab Alex seraya membimbing kedua orang tua Zionel menuju tempat duduknya.
*****
Acara pun segera dimulai. Zionel sudah berdiri menunggu pengantin datang. Pembawa acara mulai berbicara dan saatnya Stevani hadir disana. Ayah Roxy yang menjadi pendamping pengantin wanita. Semua mata tertuju pada kecantikan mempelai wanita yang mulai hadir di tengah tengah mereka. Keduanya terus melangkahkan kakinya mendekati Zionel.
Zionel menyambut kedatangan Stevani seraya langsung berbisik. "Bagaimana dengan kakimu?"
"Tidak masalah." jawab Stevani pelan. "Bagaimana dengan lukamu?" tanya Stevani balik.
"Sudah sembuh total sayang dan siap menghabiskan malam pengantin kita." jawab Zionel seraya menyeringai.
"Pria menyebalkan." gumam Stevani.
Zionel menahan tawanya. Keduanya mulai dibimbing untuk mengucapkan sumpah pernikahan. Saat giliran Stevani, wanita itu terus terisak saat mulai mengucapkan sumpah dan janjinya di hadapan Tuhan. Ia tak bisa menahan air matanya saat mengingat penderitaan yang ia alami sebelumnya, ia juga tentu saja sangat merindukan adiknya.
Isakan disela ucapannya membuat semua yang mendengarnya ikut terharu. Zionel terus berusaha menenangkan istrinya sambil menggenggam tangan wanita itu. Setelah keduanya selesai mengucapkan sumpah dan janji mereka. Kini saatnya Zionel membuka veil atau tudung pengantinnya. Keduanya pun saling bertatapan.
Zionel mengusap air mata Stevani yang terus mengalir sambil menggelengkan kepalanya. "Berhentilah menangis istriku, itu membuat hatiku sangat sakit sayang." pinta Zionel pelan.
"Aku merindukan Zaline, aku merindukan orang tuaku." jawab Stevani lirih.
Zionel mencium keningnya. "Zaline akan segera dipindahkan dan kalian akan segera bertemu. Dan suatu saat kita akan kembali ke kota X untuk mengunjungi makam orang tuamu. Aku juga ingin menyapa mertuaku."
Stevani menganggukkan kepalanya. Keduanya pun dipersilahkan untuk saling berciuman. Tentu saja Zionel langsung menarik leher Stevani dan mencium wanita itu. Tangis haru serta suara tepuk tangan yang riuh pun terdengar. Sah lah mereka menjadi suami istri.
*****
SELAMAT ATAS PERNIKAHAN ZIONEL DAN STEVANI...💏💏💏
Happy Reading All...
__ADS_1