Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kejutan Yang Dilakukan Stevani


__ADS_3

"Jadi kau lulusan Harvard jurusan desaign. Wah hebat ya, keponakan kami memang tidak salah pilih." ujar Nile adik dari Nicolas Cruise.


Stevani hanya tersenyum padanya.


"Berarti kau pintar bahasa Inggris dan juga menggambar, benarkan?" sahut Cecil putri dari Nile yang terkenal sombong.


"Ah... i... i... iya." jawab Stevani gugup.


"Oh ayolah, kita sedang menikmati makanan ini. Tak bisakah kalian melepaskan kekasihku sebentar." sahut Zionel.


"Miss Stevani, where do you live in America?" tanya Cecil.


"Ia tinggal di asrama selama kuliah di Harvard. Iya kan sayang?" ujar Zionel.


Stevani menganggukkan kepalanya.


"Then where do your parents live?" tanya Cecil lagi. "This time i want her to answer." imbuhnya.


"Zio... biarkan Cecil berbicara dengan Stevani." sahut Nile.


"Kalian membuat kekasihku..."


"My parents live in Boston, not far from University Harvard." potong Stevani membuat Zionel terbelalak.


Pria itu seketika menatap Stevani, ia terkejut mendengar ucapan wanita itu menggunakan bahasa Inggris dengan aksen yang tepat.


"There's something else you want to ask miss Cecil? But it's better if we use Indonesian. Bukankah kita memang sedang tinggal di Indonesia." lanjut Stevani.


Ucapan Stevani membuat semuanya tercengang, Cecil menggertakkan giginya menahan amarah karena kalah dari wanita yang ada di depannya.


"Untung saja tamu di klub banyak orang asing, aku selama bertahun tahun belajar bahasa Inggris dari mereka, ini juga salah satu tuntutan pekerjaanku selama di klub. Aku tak menyangka akan menggunakan bahasa ini di dalam keluarga Cruise. Bukan hanya bahasa Inggris yang aku kuasai, aku juga masih bisa bahasa negara lain karena tamu klub benar benar bermacam macam orang asing." pikir Stevani.


"Baiklah... aku rasa aku mulai lapar." jawab Cecil.


Zionel menyunggingkan senyumnya, ia sangat bangga dengan Stevani. Tanpa di duga wanita yang ada di sebelahnya benar benar bisa berbahasa Inggris dengan lancar sedangkan ia sekolah dasar pun tak tamat.


"Sudah sudah, kita hentikan bicaranya. Sudah saatnya kita makan. Stevani bersantailah, kami akan menjadi keluargamu." ujar Nicolas sambil tersenyum.


"Terima kasih om." jawab Stevani.


Cecil kembali menatap Stevani dengan tatapan tidak suka apalagi saat Zionel terus memperhatikannya dan memberinya beberapa makanan di atas piring wanita itu. Keduanya berakting sangat baik, hingga siapapun tak bisa melihat kepalsuan dari hubungan mereka.


"Oh ya, kebetulan aku juga membawa sebuah buku. Setelah tante Falera bilang jika calon menantunya adalah seorang desainer, aku ingin melihat salah satu desainnya. Bolehkah bang Zio?" tanya Cecil.

__ADS_1


"Ya Tuhan Cecil, mengapa hari ini kau begitu cerewet?" tanya Falera.


"Ayolah tante, aku hanya ingin melihat bagaimana calon istri sepupuku. Apakah ia benar benar pantas masuk dalam keluarga Cruise?"


"Tidak sekarang, kita sedang makan." jawab Zionel. "Dan ini pertemuan keluarga kita pertama kali, kalian sudah membuat kekasihku tidak nyaman." imbuhnya.


"Aku rasa kak Vani tidak keberatan." sahut Roxy.


"Kapan aku mengizinkanmu memanggilnya kakak." celetuk Zionel.


"Lalu apakah aku boleh memanggilnya sayang?" ejek Roxy.


"Boleh... tapi kau tidak akan keluar dari rumah ini dengan kakimu yang utuh." ancam Roxy.


"Pi... mi... lihatlah bang Zio yang posesif ini."


Kedua orang tua Roxy tertawa diikuti dengan tawa yang lain.


"Cecil... berhentilah membuat sepupu iparmu tidak nyaman. Kau jangan keterlaluan." ujar Gilbran suami Nile dan tentu saja ayah Cecil.


"Maaf Van... keluarga Cruise memang seperti ini." sahut Falera.


Stevani tersenyum. "Tidak masalah tante, aku senang karena menjadi lebih ramai."


Stevani menatap Zionel, ia memang bukan seorang desainer, tapi ia cukup cakap dalam menggambar. Apalagi Zaline suka sekali memintanya untuk menyelesaikan tugas gambarnya di sekolah. Stevani mendekati Zionel.


"Apa kelemahan dari tubuh Cecil?" bisik Stevani.


Zionel membalas bisikannya. "Ia memiliki tanda lahir di paha kanan dan kirinya. Warnanya coklat dan sangat besar saat ini. Ia tidak akan pernah menunjukkan tanda itu pada siapapun karena malu. Hanya aku dan kedua orang tuanya yang tahu, bahkan keluargaku yang lain tidak mengetahuinya termasuk mommy dan daddy. Karena tanda lahir itu saat masih bayi hanya sebesar ujung kuku, seiringnya pertumbuhannya tanda lahir itu semakin membesar. Stevani... aku akan mencari alasan agar kau tidak menggambar. Aku..."


"Aku akan melakukannya. Kau tenang saja, sudah saatnya aku memberinya pelajaran." jawab Stevani.


Zionel terbelalak. Pria itu baru sadar apa yang akan akan dilakukan Stevani, ia menahan tawanya.


"Ehm... kau yakin akan menggunakan desainku untuk pakaianmu?" tanya Stevani.


"Tentu saja, jika desainmu benar benar bagus." jawab Cecil.


"Tapi aku punya syarat, aku tidak sembarangan menggambar desainku. Ini aku lakukan karena kau sepupu Zionel. Aku akan menggambarnya, tapi aku akan meminta keluarga yang lain menilainya. Jika kata mereka desainku bagus, kau harus menggunakan desainku untuk pakaianmu dan kau gunakan saat pesta pernikahan kami nanti, bagaimana?" kata Stevani.


"Mengapa bukan aku sendiri yang menilainya?" tanya Cecil.


"Karena aku tidak yakin kau akan menilai desainku dengan adil." jawab Stevani.

__ADS_1


"Kau..."


"Aku rasa ini cukup adil." potong Zionel. "Kau meminta desain mahalnya dengan gratis lalu orang lain yang menilainya dan memberikan padamu. Aku rasa keluargaku juga cukup cakap dalam menilai desain, mereka semua memiliki selera yang tinggi." sambungnya.


"Tentu saja, aku memiliki selera yang tinggi. Walaupun aku seorang pria, tapi aku tahu pakaian mana yang pantas dan tidak pantas digunakan seorang wanita. Dan sekarang pun aku bisa melihat selera kak Vani lebih tinggi dari seleramu Cecil." ejek Roxy.


"Aku akan membunuhmu Roxy." celetuk Cecil.


Mereka semua kembali tertawa, mereka bahkan nyaris melupakan makanan yang ada di depan mereka. Jika makan besar itu sangat resmi, tidak akan ada satupun diantara mereka yang akan bicara saat makan. Tapi karena makan besar kali ini hanya menyambut kedatangan Stevani, mereka mengizinkan siapapun untuk mengungkapkan pendapatnya.


"Walaupun aku tahu kau paling muda dan tidak sopan, tapi aku juga percaya dengan penilaian Roxy." ujar Zionel membuat Roxy bangga.


"Baiklah aku setuju. Sebentar aku akan mengambil buku dan alat tulisnya." ujar Cecil seraya beranjak dari tempat duduknya.


Tak lama wanita itu kembali dan menyerahkan buku dan alat tulis itu pada Stevani. Stevani menerima alat alatnya.


"Om... Tante... Dan semuanya... Maaf jika aku kurang sopan untuk menggambar disaat kita sedang makan. Tapi ini demi memuaskan Cecil." ujar Stevani.


"Tidak apa apa, lakukanlah agar Cecil berhenti mengganggumu." jawab Nicolas.


"Benar Van, lakukan saja untuk memuaskannya." sahut Falera.


Stevani tersenyum, ia tak menyangka kedua orang tua Zionel lebih mudah diajak bicara. Ia pikir kedua orang tuanya akan menakutkan, tapi pada kenyataannya ia justru diganggu oleh keluarga Cruise yang lain. Stevani mulai memegang alat tulisnya. Wanita itu mulai menggoreskannya di atas buku.


Zionel terus mengintip ke arah buku itu, benar apa yang menjadi dugaan Zionel. Wanita itu menggambar desain pakaian yang terbuka di bagian kedua pahanya. Namun yang membuat Zionel lebih tercengang lagi, Stevani benar benar mampu menggambar layaknya seorang desainer ternama.


"Apalagi yang akan kau tunjukkan padaku Stevani, kau terus saja membuatku terkejut. Apakah kau benar benar wanita yang aku kenal di klub malam itu? Atau kau selama ini hanya menutupi kehebatanmu di depan orang lain." pikir Zionel.


Stevani menyelesaikan gambarnya, ia langsung menyerahkan desain itu pada Zionel. Zionel menyerahkan gambar itu yang pertama pada Roxy. Seketika Roxy terbelalak.


"Wow... benar benar luar biasa. Kau beruntung Cecil bisa mendapatkan desain pakaian cantik seperti ini, aku rasa ini memang sangat bagus." ujar Roxy lalu menyerahkan gambar itu pada yang lain.


Mereka semua memberi pendapat yang sama atas desain itu. Cecil sangat penasaran dengan gambar itu. Setelah semuanya menilai termasuk orang tua Zionel. Desain itu akhirnya diserahkan pada Cecil.


Seketika Cecil tersedak saat melihatnya. "I... ii... iiini..."


Mereka semua menatap Cecil penuh tanya.


*****


Happy Reading All...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2