
Zionel tersenyum lebar, ia akhirnya berhasil membujuk adiknya setelah mengatakan beberapa kebohongan pada gadis kecil itu. Malam ini, ia bisa menjemput istrinya di rumah besar Cruise.
Saat berbicara di telepon sebelumnya...
"Ada apa bang?" tanya Zaline.
"Menjauhlah dari kakakmu, ada yang ingin aku katakan." jawab Zionel.
Zaline tentu saja menjauhi Stevani dan berdiri di tepi kolam renang.
"Kau ingin memberi nama Zeze kan pada ponakanmu?"
"Sudah ada kesepakatan, aku berbaik hati mengurangi hukuman abang."
"Biarkan aku menjemput kakakmu malam ini." pinta Zionel.
"Tidak... kau tidak mau ada tawar menawar lagi." jawab Zaline kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Zaline dengarkan abang. Ini bukan karena abang tak tahan jauh dari kakakmu. Tapi apa kau tahu kak Vani tadi bilang apa padaku?"
"Oh ayolah... aku tidak ingin mendengarkan abang."
"Baiklah, jika kau tidak ingin tahu tidak apa apa. Terus saja memisahkan kami dan membuat kakakmu bersedih setiap malam."
"Apa maksud bang Zio?"
"Tadi kakakmu bilang padaku, sebenarnya ia ingin sekali aku mengelus perutnya setiap malam. Itu bisa membuatnya nyaman saat ingin tidur. Tapi karena ia sangat menyayangimu dan tak ingin membuatmu kecewa, ia berusaha menahan diri. Tapi saat kau sudah tertidur ia sering sekali menangis karena keinginannya itu tidak terwujud."
"Ciiiih... abang membohongiku."
"Ya sudah jika kau tidak percaya. Jangan katakan ini padanya, saat ia mengatakannya padaku tadi, ia ingin aku merahasiakannya darimu. Ia hanya ingin membuatmu senang dengan keusilanmu padaku. Aku masih bisa bertahan sehari atau dua hari lagi. Oh ya, Zeze adalah nama yang lucu, abang menyukainya. Abang masih banyak pekerjaan, abang tutup teleponnya."
"Tunggu bang." ujar Zaline seraya melihat Stevani dari kejauhan. "Itu benar benar yang diceritakan kak Vani kepada abang kan?"
"Tentu saja."
"Baiklah... aku tidak ingin membuatnya tersiksa karena keusilanku. Hukuman abang aku cabut, tapi kalau sampai abang menyakiti kakak lagi, aku tidak akan mengampuni bang Zi. Jemputlah kakak saat makan malam."
"Abang janji tidak akan menyakiti kakakmu lagi. Aku sangat menyayanginya Zaline. Aku akan datang saat makan malam. Tapi ingat, jangan kau katakan pada kakakmu tentang pembicaraan kita."
"Oke oke." jawab Zaline seraya menutup teleponnya.
Begitulah percakapan yang sebenarnya terjadi, dengan ide yang bagus akhirnya Zionel berhasil mencabut hukumannya. Zionel terus tersenyum sampai tak sadar Alex masuk ke dalam ruangannya sambil menatapnya penuh tanya.
"Tadi siang penuh amarah, kali ini penuh senyuman. Jika anda bukan seorang CEO mungkin anda dikira orang gila." ejek Alex membuyarkan senyuman Zionel.
"Sejak kapan kau masuk tanpa mengetuk pintu?"
"Aku hampir setengah jam mengetuknya pak Zio, tapi anda tidak juga menjawab. Aku pikir setelah dua hari tidak bisa bertemu dengan istri anda, anda bunuh diri. Aku masuk karena terlalu khawatir." ejek Alex lagi.
"Sialan...!!! Kau membuat moodku kembali buruk Lex."
Alex tertawa seraya menyerahkan berkas yang harus ditandatangani Zionel.
"Apa yang membuat anda senang seperti itu?" tanya Alex penasaran.
"Bukankah aku bilang, terlalu ingin tahu itu akan memperpendek umurmu."
__ADS_1
"Ya Tuhan... amit amit..."
Zionel kini terkekeh. "Tapi karena aku senang, aku akan membagi kebahagiaanku padamu. Aku berhasil meyakinkan Zaline, dan malam ini aku akan menjemput istriku. Haaaah... akhirnya aku akan memeluknya saat tidur."
Alex bergidik mendengarnya, Zionel benar benar bertekuk lutut pada seorang wanita. Alex berpikir bagaimana cara Zionel meyakinkan adiknya, padahal ia masih senang melihat atasannya yang terus uring uringan tidak jelas. Zionel menatap Alex yang terus diam.
"Mengapa kau terlihat tidak senang Lex. Apa kau berharap hukumanku masih terus berlanjut?" tanya Zionel kesal.
"Ah... tentu tidak pak Zio. Aku ikut senang mendengarnya."
"Bagus..." jawab Zionel seraya menandatangani berkasnya lalu menyerahkannya pada Alex.
Alex mengambil berkasnya dari tangan Zionel. "Tapi sejujurnya pak Zio, kegalauan anda adalah hiburan terbesar untukku."
Setelah mengatakan itu Alex langsung berlari keluar ruangan. Lagi lagi Zionel mengumpat dengan keras membuat Alex kembali tertawa sambil meninggalkan kantor Zionel.
*****
Makan malam telah tiba. Meja makan dipenuhi berbagai masakan yang dibuat oleh Stevani. Keluarga Cruise sudah memasuki ruang makan dan terkejut saat melihat hidangan yang tersedia di meja.
"Wow... ini makanan buatanmu semua Vani?" tanya Falera.
"Dibantu bu Tika juga mom." jawab Stevani seraya tersenyum.
"Tidak... ibu hanya bantu memotong motong saja. Semuanya dilakukan nona Stevani nyonya." jawab bu Tika sambil membantu menyiapkan semua hidangannya.
"Ini masakan rumahan yang aku rindukan." ujar Zaline seraya duduk disana.
"Kejutan baru lagi darimu Vani. Kau benar benar istri sempurna untuk putraku." kata Nicholas.
"Daddy berlebihan... bukankah seorang wanita memang harus bisa memasak." ujar Stevani.
"Haisssss... kenapa jadi aku?" tanya Falera.
"Tapi kau tetap sempurna untukku sayang." jawab Nicholas.
"Uhukkk... uhukkk..." goda Zaline. "Aku sudah lapar..." imbuhnya.
"Baiklah... kita makan sekarang." jawab Falera sambil tersenyum.
"Tunggu dulu, walaupun aku sudah lapar tapi belum datang satu orang lagi." kata Zaline.
Mereka semua menatap Zaline penuh tanya.
"Kalian akan tahu setelah ia datang." imbuh Zaline sebelum mereka bertanya.
Suara langkah kaki terdengar dari ruang tamu, hingga lama kelamaan semakin mendekati mereka.
"Itu pasti dia." ucap Zaline.
Saat sosok pria muncul memasuki ruang makan, semuanya terkejut sampai Stevani beranjak dari tempat duduknya.
"Zio... bagaimana kau..."
Zionel langsung memeluk istrinya seolah-olah mereka tidak bertemu selama 2 tahun. Pria itu terus memeluk Stevani dengan erat tanpa memperdulikan keluarganya yang mulai tertawa.
"Ya ampun... baru juga dua hari." ejek Zaline.
__ADS_1
"Kau sungguh kejam Zaline, dua hari itu bagaikan dua abad untukku." jawab Zionel membuat semuanya semakin tertawa.
"Tunggu tunggu... bagaimana ia bisa kemari?" tanya Stevani.
"Mengapa kau tidak menyambutku sayang? Apa kau tidak merindukanku?" tanya Zionel.
"Bukan begitu, hanya saja..." Stevani menatap Zaline.
"Aku mencabut hukumannya, kalian bisa bersama sesuka kalian." jawab Zaline.
"Terima kasih gadis kecil yang cantik." ucap Zionel. "Kita pulang sekarang, aku benar benar merindukanmu." bisiknya pada Stevani.
"Apa yang kau katakan pada Zaline saat di telepon?" balas bisik Stevani.
"Aku akan menceritakannya saat pulang ke rumah." jawab Zionel.
"Berhentilah bermesraan seperti itu. Aku kelaparan." ujar Zaline.
"Bolehkah kami pulang sekarang?" tanya Zionel.
"Tidak...!!!" jawab yang lain bersamaan.
Zionel dan Stevani tertawa, tentu saja itu hanya sebuah candaan mereka. Mana mungkin mereka pulang ke rumah sebelum makan malam.
Mereka pun mulai makan malam itu, tak henti-hentinya kedua orang tua Zionel memuji masakan Stevani. Bahkan semua hidangan yang ada di meja nyaris tanpa sisa. Zionel semakin bangga memiliki istri seperti Stevani. Pria itu tanpa segan berkali-kali mencium pipi istrinya.
Zaline terus menatap keduanya, ia semakin yakin akan perasaan mereka.
"Terima kasih Tuhan, karena Mu kakak bisa bahagia sekarang. Semoga penderitaannya yang lalu tidak akan pernah terulang lagi. Ia adalah wanita yang paling baik yang pernah aku temui." pikir Zaline.
Gadis kecil itu tak menyadari air matanya yang menetes saat mengingat bagaimana kehidupan Stevani sebelumnya. Keluarganya terkejut melihatnya menangis.
"Ada apa sayang?" tanya Falera.
Zaline mengeluarkan air matanya. "Masakan kakak terlalu enak." ucapnya sambil terisak.
Tentu saja mendengar ucapan Zaline semuanya tertawa. Namun berbeda dengan Stevani, wanita itu menggenggam tangan Zaline seraya mengecup pipi gadis kecil itu karena berada duduk tepat berdampingan dengannya.
"Kakak bahagia sayang, kakak bahagia bisa bersamamu." ucap Stevani.
Seketika Zaline memeluk kakaknya dan kembali melepaskan tangisannya. Stevani mengusap usap punggung gadis kecil itu. Yang lain menghentikan tawanya lalu menatap keduanya.
"Oh ayolah... masakan ini bisa menjadi asin karena air mata kalian." goda Zionel.
Stevani dan Zaline akhirnya terkekeh, mereka melepaskan pelukannya.
"Tidak akan ada lagi air mata untuk keluarga Cruise, aku akan memastikan itu kecuali air mata kebahagiaan." imbuh Zionel seraya menatap Stevani dan Zaline bergantian.
"Daddy dan mommy mendukung ucapan Zio." sahut Nicholas.
Falera menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan suaminya.
"Zaline menyayangi kalian semua." ucapnya.
"Tentu saja kami juga menyayangimu." jawab yang lain bersamaan seperti sudah diatur (oleh penulis eh...🤣)
*****
__ADS_1
Happy Reading All...