Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kedewasaan Zaline


__ADS_3

Zionel terus menatap adiknya membuat Zaline semakin canggung.


"Berhentilah menatapku bang." ucap Zaline.


"Biarkan aku melihat adikku yang menghilang lama sekali."


"Bukankah aku masih sama, aku tetap imut seperti dulu."


"Ciiiih... tapi ucapanmu semakin dewasa sayang."


"Tentu saja, aku bukan Haena yang berusia 7 tahun lagi. Aku sudah hampir 13 tahun sekarang."


"Dimataku kau tetap Haena berusia 7 tahun."


"Ck... mana mungkin."


"Mengapa tidak mungkin? Aku melewati 5 tahun lebih tanpamu nona, jadi aku tidak ingin kau menjadi lebih dewasa dari sebelumnya."


Zaline terkekeh. "Bang... coba ceritakan lagi bagaimana kau bertemu kak Vani?"


"Kau akan menyalahkan dirimu sendiri jika aku ceritakan semuanya. Tunggu kakakmu yang menjelaskan semuanya."


"Oh ayolah... aku bisa mati penasaran."


"Stop it... Jangan pernah ucapkan kata kematian. Kau harus menghargai perjuangan kakakmu untuk menyelamatkan nyawamu Zaline."


"Tapi aku hanya..."


"Tidak ada kata tapi." potong Zionel. "Zaline, abang ingin tahu sejak kapan kau merasakan ada yang aneh pada tubuhmu? Bukankah selama kau masih bersama kami, kau sama sekali tidak pernah merasakan sakit." imbuhnya.


"Aku tidak tahu bang. Saat pertama kali aku merasakan dadaku sakit itu saat kabur dari gudang. Sejak saat itu aku sering merasakan sakit dan selalu pingsan saat melakukan olahraga berat di sekolah. Penyakit itu diketahui saat aku baru memasuki usia 8 tahun. Sejak saat itu kak Vani lebih ketat menjagaku, ia tidak memperbolehkan aku keluar untuk bermain, setiap ia mendapatkan gaji di klub, ia selalu membawaku check up ke rumah sakit. Ia terkadang mengambil shift penuh untuk mendapatkan uang lebih. Tapi ia tak pernah minum alkohol, ia benar benar wanita baik baik. Jadi jika abang menyakitinya..."


"Sudah sudah... aku tahu... bawel sekali. Aku tidak akan pernah menyakiti malaikat penolongmu karena aku sangat mencintainya."


"Cinta pertama." ejek Zaline.


"Sok tahu."


"Jadi abang pernah berpacaran setelah aku menghilang?"


"Aku sibuk."


"Berarti aku benar, kak Vani cinta pertama abang."


"Berhentilah mengejekku, ini semua karena ulahmu."


"Kenapa aku?"

__ADS_1


"Apa aku bisa memikirkan hal lain setelah kau menghilang Zaline? Sejak kau menghilang aku selalu bermimpi buruk, aku menggila mencarimu kemana mana. Aku frustasi karena kehilanganmu."


"Bang... maaf..."


"Sudahlah... ini bukan salahmu. Aku bisa menemukanmu sekarang. Setidaknya kau sudah baik baik saja dan tidak melupakanku."


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan abang. Hanya abang satu satunya pria tertampan di kota ini."


"Ciiiih... menggelikan nona." ucap Zionel seraya tertawa.


Pintu ruangan di ketuk. Zionel tahu jika itu adalah Alex, karena hanya pria itu satu satunya yang tahu keberadaan mereka.


"Sepertinya Alex sudah kembali. Zaline, abang tinggal sebentar oke."


"Bang... apa mereka benar benar harus dipenjara? Mereka itu om dan tante kita."


"Harus... Dan aku tidak ingin kau memanggil mereka om dan tante lagi, mereka tidak pantas untuk panggilan keluarga seperti itu karena mereka juga tidak menganggapmu keluarga." jawab Zionel seraya beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Zaline keluar dari ruangan.


*****


Alex menunggu Zionel keluar dari ruangan, beberapa menit kemudian Zionel akhirnya menemuinya.


"Bagaimana Lex?" tanya Zionel saat baru keluar dari ruangan.


Pria itu tak mau berbasa-basi lagi dan ingin segera menyelesaikannya.


"Semua laporan sudah masuk ke kantor polisi. Seperti permintaan anda pak, kasus ini akan langsung ditangani kepala kepolisian. Tinggal menunggu keputusan anda untuk mereka bertindak." jawab Alex.


"Lalu kapan anda akan bertindak?"


"Aku harus mempertemukan Zaline dengan mommy daddy dan Stevani terlebih dahulu. Lex... aku harus kembali ke rumah, bisakah aku percayakan adikku saat ini padamu?"


"Tentu saja pak Zio, aku akan..."


Dering ponsel Zionel menghentikan ucapan Alex. Zionel segera mengambil ponselnya dan menatap layar. Pria itu segera mengangkat teleponnya.


"Ada apa Kirana?" tanya Zionel.


"Pak Zio... tiba tiba pak Gilbran akan mengadakan rapat pemegang saham besok."


"Apa...??? Brengsek..." umpat Zionel. "Sepertinya ia sudah tidak sabar lagi untuk menyingkirkan Presdir dan juga aku. Baiklah, aku akan mengurus masalah besok. Bertindaklah seperti biasa Kirana." imbuhnya seraya menutup teleponnya.


"Ada apa dengan perusahaan?" tanya Alex.


"Pria sialan itu sudah tidak sabar. Ia akan melakukan rapat pemegang saham besok pagi." jawab Zionel.


Alex terbelalak lalu ikut mengumpat. "Apa yang harus kita lakukan pak Zio?"

__ADS_1


Zionel duduk di kursi, ia memegang kepalanya yang mulai berdenyut.


"Sialan..." umpatnya lagi. "Ini terlalu cepat dari dugaanku Lex. Walaupun Zaline sudah sadar, tapi aku masih belum yakin dengan kondisinya saat ini. Tapi cara menghentikan pria itu hanyalah dengan menghadirkan Zaline saat rapat pemegang saham besok. Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Anda harus berbicara dengan dokter soal kondisi nona Zaline pak Zio. Kita tidak ada cara lain lagi. Mungkin ia berhasil membeli saham saham itu, tanpa nona Zaline anda dan pak Presdir tidak bisa mengalahkannya."


"Tidak bisa Lex... aku tidak bisa membuat Zaline terkejut. Ia baru saja sadar dari koma, jika ia mendapat tekanan takutnya..."


"Aku bersedia hadir untuk menghentikannya bang." potong Zaline sambil membuka pintu ruangan.


Zionel terbelalak, seketika pria itu beranjak dari tempat duduknya, mendekati Zaline dan mengangkat tubuh gadis kecil itu dan kembali membawanya masuk. Alex pun ikut masuk ke dalam ruangan.


"Apa kau sudah gila?" bentak Zionel sambil menurunkan tubuh adiknya ke ranjangnya. "Siapa yang menyuruhmu turun dari ranjang ini dan menguping pembicaraan kami." imbuhnya.


"Aku hanya penasaran dengan apa yang kalian bicarakan. Dan kalian membutuhkan aku bang. Aku sudah baik baik saja, aku tidak ingin menjadi beban kalian lagi, sudah saatnya aku ikut bertindak."


"Omong kosong. Kau masih belum cukup umur untuk mengatasi masalah seperti ini." ujar Zionel.


"Tapi benar kata pak Alex, tidak ada cara lain kecuali aku hadir dan memperkuat saham milikku untuk menyelamatkan kalian dari pria serakah itu. Bang... aku pernah bersembunyi karena takut, tapi kali ini aku tidak takut lagi karena ada kalian di sampingku."


"Ya Tuhan Zaline, entah apa yang telah diajarkan Stevani Yunsu padamu. Keberanianmu membuatku takut."


"Panggil dokter untuk memeriksa kondisiku bang. Jika dokter mengatakan kondisiku baik, maka aku harus ikut ke perusahaan besok. Tapi jika sebaliknya, maka aku akan tetap disini. Aku janji akan menepati ucapanku."


"Zaline dengarkan abang. Kau akan bertemu dengan pria yang hampir..."


"Aku tidak takut lagi. Ia harus dihukum." potong Zaline.


"Zaline... jika Stevani tahu, aku akan dibunuhnya. Mengertilah sayang, tindakanmu akan membuat semuanya khawatir."


"Tapi pak Zio, kita benar benar tidak ada pilihan lain." sahut Alex.


"Diamlah Lex." bentak Zionel.


"Pak Alex... bisakah kau bantu aku panggil dokter?" pinta Zaline.


Alex melihat Zionel yang sedang menatapnya tajam. Lalu ia beralih pada Zaline yang sedang memohon padanya.


"Baiklah." jawab Alex seraya membalikkan tubuhnya.


"Berhenti Lex atau aku akan memecatmu." ujar Zionel membuat langkah Alex seketika terhenti.


"Bang Zi, please..." ujar Zaline.


Zionel menghela nafas panjang. "Aku akan memikirkan cara lain. Jangan berdebat lagi Zaline. Aku ingin pulang sebentar, kau akan dijaga Alex disini."


Zionel langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meninggalkan Zaline dan Alex.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2